NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Ketukan Palu Terakhir

Setelah seluruh pemeriksaan saksi dan bukti selesai dinilai oleh majelis hakim, Hakim ketua memutar pandangannya ke arah meja kuasa hukum korban.

"Sebelum majelis hakim mengambil keputusan akhir dan membacakan vonis. Kepada saudara kuasa hukum korban, apakah dari pihak korban ada hal yang ingin disampaikan di hadapan muka sidang?" ujar Hakim ketua dengan nada serius.

Rayven berdiri anggun, lalu menoleh lembut ke arah Bima di sampingnya. "Untuk korban, ada hal yang ingin mau disampaikan?"

Bima tertegun sejenak. Jemari tangannya yang saling bertaut mendadak gemetaran. Wajah Bima perlahan memerah hebat menahan rasa sakit, amarah dan kerinduan yang mendalam pada almarhum papanya. Namun, dikhianati secara keji oleh ibu tiri dan saudara tirinya sendiri.

"Ada Yang Mulia," bisik Bima dengan suara parau yang sarat emosi.

Bima perlahan berdiri dari kursinya. Rayven memberikan ruang, menepuk baju Bima pelan untuk menyalurkan kekuatan. Di barisan penonton, Rhea dan Zora menatap Bima dengan pandangan berkaca-kaca.

Bima melangkah ke depan, berdiri membelakangi Fadel dan Rika, menghadap langsung ke arah majelis hakim.

"Yang Mulia, sejak ibu kandung saya meninggal, papa adalah satu-satunya pelindung saya. Papa membangun restoran dengan keringat dan air mata, berharap restoran itu bisa jadi tempat kami melayani banyak orang dengan kehangatan," Bima memulai suaranya bergetar hebat kenangan tangis.

Bima mengusap air matanya yang menetes di pipinya, lalu perlahan memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Rika dan Fadel yang duduk lemas di meja terdakwa.

"Saya pernah berpikir hadirnya Ibu Rika dan Mas Fadel di rumah kami bakal melengkapi keluarga kami yang sepi. Tapi saya salah besar. Kalian datang bukan untuk menjadi keluarga... tapi kalian datang sebagai parasit yang menggerogoti hidup papa dan saya," lanjut Bima, matanya menatap tajam Rika yang tak berani menatapnya.

"Mas Fadel, kamu saudara tiri saya. Tapi papa memperlakukan kamu sama persis seperti anak kandungnya sendiri. Tapi kamu balas kebaikan papa dengan menyiksa saya setiap hari demi keluasan ego kamu," seru Bima dengan raut wajah memerah penuh luka batin.

"Dan Ibu Rika, kamu tega memberi racun bertahap berkedok vitamin ke papa. Papa selalu mendoakan kesehatannya, papa menyerahkan seluruh kepercayaan hidupnya pada Ibu, tapi kamu tega membunuhnya hanya demi warisan," Bima menatap Rika dengan pandangan paling dingin.

Rika tertunduk dalam-dalam, menangis histeris tanpa sanggup bersuara.

Bima menghela napas panjang, kembali menghadap majelis hakim. "Saya tidak menuntut dendam, Yang Mulia. Tapi papa saya berhak mendapatkan keadilan. Dan saya berhak atas kedamaian hidup yang sudah mereka rampas selama ini. Terima kasih."

"Hadirin di mohon berdiri. Pembacaan putusan sidang," seru Panitera.

Seluruh hadirin berdiri. Fadel dan ibunya dipapah berdiri oleh petugas dengan wajah yang sudah tak berbentuk lagi.

Hakim ketua membaca lembaran putusan tebal di tangannya dengan nada tegas dan lantang.

"Memperhatikan pasal-pasal pidana yang disangkakan, menyatakan terdakwa I Fadel Sutejo, terdakwa II Rika Sutejo dam saksi Rudi terbukti secara dah dan meyakinkan bersalah melakukan tindakan pidana pemalsuan dokumen, penganiayaan berat berencana, dan pembunuhan berencana bersama-sama," gema suara Hakim ketua memenuhi ruangan.

"Mengadili. Menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa II Rika Sutejo atas peran aktif dalam perencanaan dalam perancangan pembunuhan berencana menggunakan racun bertahap... dengan hukuman penjara seumur hidup."

TOK!

Dentuman palu pertama mendarat telak.

"Nggak! Bohong! Hakim gila, saya gak mau di penjara seumur hidup. Saya istrinya, saya punya hak atas kekayaan suami saya. Bima kamu anak iblis, saya sumpahin kamu hancur," jerit Rika dengan suara melengking.

Rika terus berteriak tidak jelas, memuntahkan makian dan sumpah serapah hingga dadanya naik turun dan tersengal-sengal, sebelum akhirnya lemas dan ia ambruk pingsan di lantai ruang sidang dengan mata setengah terbuka. Petugas kepolisian dengan sigap menyeret tubuhnya yang tak berdaya keluar.

Tanpa memedulikan kegaduhan itu, Hakim ketua kembali mengangkat pandangannya, beralih pada Rudi yang berdiri pasrah.

"Menjatuhkan hukuman pidana kepada saksi Rudi atas iktikad baiknya menjadi saksi kunci serta penyesalan atas tindak penyertaan, dengan hukuman penjara 12 tahun."

TOK!

Dentuman palu kedua bergaung.

Rudi menutup matanya rapat-rapat. Dia menarik dan menghela napas yang terasa sangat berat dari rongga dadanya. Air mata penyesalan menetes di pipinya. Tidak ada rasa marah atau jeritan dari mulutnya. Rudi hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menerima 12 tahun kurungan sebagai harga yang harus dia bayar demi menebus dosa dan kesalahannya pada almarhum Pak Bambang.

Kini, pandangan hakim ketua tertuju pada terdakwa terakhir yang berdiri gemetaran hebat.

"Dan menimbang peran terdakwa I Fadel Sutejo sebagai eksekutor utama penganiayaan fisik secara keji serta dalang pemalsuan berkas, menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa I Fadel Sutejo... dengan hukuman penjara seumur hidup."

TOK!

Tiga ketukan palu terakhir mengunci takdir Fadel secara mutlak.

"Nggak! Ini nggak adil. Pengacara goblok! Lu dibayar mahal tapi gak bisa bebasin gue," teriak Fadel histeris.

Fadel mendadak mendorong pengacaranya sendiri hingga tersungkur, lalu mencoba menerjang maju ke arah meja majelis Hakim dan Rayven.

"Gue bukan eksekutor. Semua ini gara-gara mama, gue cuma nurut mama. Bima, lu jangan seneng dulu. Gue bakal balas lu," racau Fadel.

Fadel meludahi lantai saat empat petugas kepolisian bersenjata melompat dan menekan tubuhnya secara kasar ke lantai.

Dengan posisi tertindih dan kedua tangannya terborgol ke belakang, Fadel terus meraung-raung dan berteriak tidak jelas seraya diseret memaksa keluar dari pintu sidang. Suara teriakan masih terdengar bergaung samar-samar di lorong, sebelum akhirnya pintu kayu ditutup rapat.

Keadilan akhirnya ditegakkan secara mutlak. Bima menangis tersedu-sedu di pelukan Rayven. Rhea dan Zora di belakang tersenyum lega dengan air mata kebahagiaan. Perjuangan merebut warisan restoran dan keadilan Pak Bambang resmi berakhir dengan kemenangan telak.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!