Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Yang Mulai Berwarna
Satu bulan telah berlalu sejak hari ketiga yang mendebarkan itu. Ruang kelas 7-B tidak lagi terasa asing bagi Auren. Bau kain seragam putih-birunya yang kaku kini sudah berganti dengan aroma kehidupan sekolah yang familier: wangi kapur tulis, lantai yang baru dipel setelah jam olahraga, dan riuh tawa yang selalu pecah setiap kali bel istirahat berbunyi.Bagi Auren, satu bulan ini juga mengubah banyak hal, terutama barisan bangku paling belakang tempatnya duduk.Cowok di sebelahnya, Evan, ternyata tidak sedingin atau sekaku dugaan orang-orang. Di balik sifatnya yang santai dan cenderung pendiam di depan guru, Evan adalah teman sebangku yang menyenangkan. Dia sering membagi setengah bekal rotinya saat Auren lupa sarapan, atau dengan sengaja menggambar karikatur lucu guru matematika di sudut buku catatannya hanya untuk membuat Auren menahan tawa setengah mati di tengah pelajaran.Auren mulai terbiasa dengan kehadiran Evan. Ia mulai terbiasa dengan cara Evan memanggil namanya, dan cara cowok itu selalu mengetuk meja dua kali setiap kali ingin meminjam penghapus. Garis-garis canggung di awal pertemuan mereka perlahan mulai terisi oleh warna-warna persahabatan yang hangat.Namun, di mana ada kenyamanan, di situ pula mata Balisya tetap mengawasi.Balisya tidak pernah benar-benar menyerah setelah penolakan di hari pertama itu. Sebagai siswi yang menjabat sebagai wakil ketua kelas sekaligus kesayangan para guru, Balisya selalu punya cara untuk masuk ke dalam radar mereka. Dia sering tiba-tiba muncul di depan meja belakang dengan alasan mengurus absensi, mengumpulkan tugas, atau sekadar menanyakan pendapat Evan tentang kegiatan mading sekolah.Setiap kali Balisya datang dan berbicara dengan suaranya yang santun namun menuntut perhatian, Auren memilih untuk menunduk atau pura-pura sibuk membaca buku. Auren bisa merasakan bagaimana sepasang mata di balik jilbab putih yang selalu rapi itu sesekali melemparkan pandangan menilai ke arahnya—pandangan yang secara tidak langsung memperingatkan Auren bahwa ada jarak yang tidak boleh ia lewati.Hingga suatu hari di hari Selasa, guru kesenian masuk ke kelas dengan membawa selembar kertas besar."Anak-anak, untuk tugas tengah semester, kita akan membuat proyek sketsa pemandangan sekolah. Tugas ini harus dikerjakan secara berpasangan dengan teman sebangku kalian," pengumuman dari guru itu seketika membuat kelas riuh.Auren refleks menoleh ke arah Evan, dan cowok itu sudah menatapnya sambil tersenyum lebar dan mengangkat pensilnya. "Berarti kita sekelompok, Ren."Auren mengangguk dengan perasaan lega yang membuncah. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Dari barisan depan, Balisya tiba-tiba berdiri dari kursinya dan berjalan mantap menuju meja guru di depan kelas.
Auren mengangguk dengan perasaan lega yang membuncah. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Dari barisan depan, Balisya tiba-tiba berdiri dari kursinya. Sambil merapikan jilbab putihnya yang selalu tegak tanpa cela, ia berjalan mantap menuju meja guru di depan kelas."Maaf, Bu," potong Balisya dengan nada suara yang sangat santun namun penuh penekanan. "Bukannya untuk proyek kesenian kali ini sebaiknya pengurus inti kelas memberikan contoh? Karena Evan adalah Ketua Kelas, Auren Sekretaris, dan saya Bendahara, bagaimana kalau tugas kelompoknya disesuaikan dengan koordinasi pengurus saja? Supaya kami juga bisa sekalian membahas agenda kelas setelah jam sekolah selesai."Mendengar usulan itu, guru kesenian tampak mengangguk-angguk setuju, menganggap ide Balisya sangat efisien untuk anak-anak pengurus kelas.Auren yang duduk di barisan belakang langsung merasa badannya kaku. Jantungnya mencelos. Taktik Balisya kali ini benar-benar cerdas dan sulit ditolak. Dengan menggunakan alasan "tanggung jawab pengurus kelas", Balisya punya peluang besar untuk memisahkan posisi kerja Auren dan Evan, atau bahkan memaksa dirinya sendiri untuk berpasangan dengan Evan dalam proyek sketsa ini.Auren melirik ke arah Evan yang duduk di sebelahnya. Sebagai Ketua Kelas, Evan biasanya selalu bersikap santai, tetapi kali ini cowok itu tampak menghela napas pendek. Ia mengetuk-ngetuk pensilnya ke meja, menatap punggung Balisya di depan kelas dengan sorot mata yang sulit dibaca.Di depan kelas, guru kesenian mulai menuliskan sesuatu di buku nilainya. "Usulan yang bagus, Balisya. Kalau begitu, untuk pengurus kelas, Ibu bagi menjadi..."Auren menahan napasnya erat-erat, menunggu kalimat selanjutnya yang akan menentukan apakah sketsa putih-birunya bulan ini akan dilewati dengan penuh tekanan atau tidak.
Sebelum guru kesenian sempat menyelesaikan kalimatnya dan mengetuk ujung pena ke buku nilai, sebuah suara dari barisan paling belakang memotong keheningan kelas."Maaf sebelumnya, Bu," ujar Evan. Suaranya tidak keras, namun terdengar sangat tegas dan tenang, cukup untuk membuat seluruh pasang mata di kelas 7-B—termasuk guru di depan—langsung menoleh ke arahnya.Evan meletakkan pensilnya di atas meja, lalu sedikit menegakkan posisi duduknya sebagai Ketua Kelas. "Usulan Balisya sebenarnya bagus untuk koordinasi. Tapi menurut saya, esensi dari tugas berpasangan dengan teman sebangku ini adalah untuk melatih kerja sama dengan orang yang paling dekat dengan posisi kita saat belajar sehari-hari. Kalau diubah-ubah lagi, nanti teman-teman yang lain malah ikut bingung dan pengin tukar kelompok juga."Evan sempat terdiam satu detik, melirik sekilas ke arah Auren yang duduk mematung di sebelahnya, sebelum kembali menatap lurus ke depan meja guru."Sebagai pengurus kelas, saya, Auren, dan Balisya masih bisa membahas agenda kelas di waktu lain, misalnya pas jam istirahat atau sepulang sekolah. Jadi untuk tugas kesenian ini, saya rasa lebih adil kalau kita semua tetap mengikuti aturan awal dari Ibu, yaitu berpasangan dengan teman sebangku masing-masing. Biar tidak ada kecemburuan sosial di antara anak-anak yang lain," lanjut Evan dengan argumen yang sangat diplomatis dan masuk akal.Mendengar penjelasan yang runut dan penuh tanggung jawab dari sang Ketua Kelas, guru kesenian tampak tersenyum dan mengangguk setuju. "Iya, kamu benar juga, Evan. Sebagai Ketua Kelas, pemikiranmu sangat adil. Baik kalau begitu, keputusan Ibu tetap pada rencana semula: semua mengerjakan tugas ini bersama teman sebangku!"Kalimat penutup dari guru itu laksana angin segar yang membuat rongga dada Auren kembali bisa bernapas lega. Ia tidak bisa menyembunyikan letupan rasa senang yang mendadak membuncah di dalam hatinya.Namun di depan kelas, suasananya berbanding terbalik.Balisya membeku di tempatnya berdiri. Jilbab putihnya yang rapi seolah kontras dengan raut wajahnya yang mendadak menegang. Di depan seluruh anak kelas 7-B, usulannya baru saja ditolak secara halus—dan yang menolaknya adalah Evan sendiri, cowok yang selama ini selalu ingin ia dekati.Balisya memutar tubuhnya, berjalan kembali menuju bangkunya di barisan depan. Saat melangkah melewati lorong meja, sepasang matanya menatap tajam ke arah barisan belakang. Pandangan dingin itu tidak diarahkan kepada Evan, melainkan tertuju lurus kepada Auren—sebuah tatapan penuh sinyal perang yang mengisyaratkan bahwa Balisya tidak akan membiarkan Auren menang semudah ini dalam urusan pengurus kelas, maupun urusan hati.
Keputusan guru kesenian hari itu menaruh bom waktu yang siap meledak di antara mereka bertiga. Sesuai janji Evan, sore harinya setelah bel pulang sekolah berbunyi nyaring dan kelas 7-B mulai sepi, tiga inti pengurus kelas itu harus tinggal di dalam ruangan untuk rapat perdana mereka.Suasana kelas yang biasanya riuh kini terasa begitu lengang dan canggung. Hanya ada suara derit kipas angin gantung yang berputar lambat di langit-langit kelas.Evan menggeser satu kursi kayu dan duduk di dekat meja guru, bertindak sebagai pemimpin rapat. Auren duduk di sebelahnya sambil membuka buku agenda tebal bergaris untuk mencatat, sementara Balisya duduk agak berjarak di hadapan mereka dengan sebuah kalkulator dan buku kas kecil yang sudah siap di atas meja."Oke, makasih udah mau meluangkan waktu sore ini," Evan membuka suara dengan nada santai seperti biasa, memecah keheningan yang sejak tadi terasa mencekik. "Agenda kita hari ini cuma membahas pembagian uang kas bulanan dan jadwal piket kebersihan kelas yang baru."Balisya langsung menegakkan posisi duduknya. Jilbab putihnya yang rapi bergerak seiring dengan helaan napasnya yang sengaja dibuat terdengar berat. Ia mengetuk-ngetukkan ujung pulpennya ke atas meja kas dengan ritme yang konstan, menciptakan suara tok... tok... tok... yang mengusik konsentrasi."Sebagai bendahara, aku mau usul," potong Balisya cepat, suaranya terdengar manis namun ada nada menuntut yang tidak bisa disembunyikan. "Uang kas bulanan dinaikkan jadi sepuluh ribu per minggu. Biar sisa dananya bisa kita pakai buat beli hiasan mading kelas yang bagus."Auren menghentikan gerakan penanya di atas kertas. Ia melirik Balisya dengan ragu, lalu menoleh ke arah Evan. "Balisya, tapi kalau sepuluh ribu per minggu, kayaknya beberapa anak bakal keberatan deh. Di kelas kita kan ada yang uang jajannya ngepas."Mendengar sanggahan dari Auren, Balisya langsung mengalihkan pandangan tajamnya. Ia tersenyum tipis—senyuman formal yang biasa ia gunakan di depan guru. "Auren, kalau kelas kita mau kelihatan rapi dan menang lomba kebersihan sekolah, ya memang harus ada modalnya. Lagipula, sebagai sekretaris, tugas kamu kan cuma mencatat keputusan rapat, bukan memikirkan anggarannya."Kalimat Balisya yang bernada merendahkan itu laksana tamparan kecil bagi Auren. Kamar kelas yang sunyi itu mendadak terasa semakin panas. Auren meremas pulpennya erat-erat, menahan rasa sesak di dadanya karena diserang secara terang-terangan di depan Evan.Namun, sebelum suasana semakin keruh, Evan meletakkan telapak tangannya di atas meja dengan tegas."Balisya," panggil Evan dengan nada suara yang merendah, namun ada ketegasan di dalamnya yang membuat pulpen di jemari Balisya seketika berhenti mengetuk. "Saran Auren itu benar. Sebagai Ketua Kelas, gue gak mau ada murid 7-B yang merasa terbebani cuma karena urusan uang kas. Keputusan pengurus kelas harus memikirkan kondisi semua anak, bukan cuma ego kita yang pengin kelasnya kelihatan paling bagus."Evan kemudian menoleh ke arah Auren, sorot matanya melembut. "Ren, tolong catat. Uang kas tetap lima ribu per minggu. Dan untuk hiasan mading, kita bakal pakai bahan daur ulang yang gak memakan banyak biaya. Gimana?"Auren mengangguk pelan sambil menuliskan keputusan itu ke dalam buku agenda dengan tangan yang sedikit gemetar karena lega. "Iya, Van. Sudah aku catat."
Di seberang meja, Balisya menutup buku kasnya dengan suara gebrakan yang cukup keras hingga menimbulkan gema di dalam kelas yang sepi. Wajahnya menegang, memperlihatkan kekecewaan dan amarah yang luar biasa karena untuk kedua kalinya dalam hari yang sama, pendapatnya dimentahkan begitu saja.Melihat situasi yang mendadak memanas, Putra yang sejak tadi duduk tenang di sebelah Evan akhirnya membuka suara. Sebagai Wakil Ketua Kelas, Putra dikenal sebagai sosok yang santai, netral, dan selalu bisa membaca situasi dengan kepala dingin."Eh, tunggu dulu," potong Putra sambil mengangkat kedua tangannya, mencoba mencairkan suasana yang kaku. "Usul Balisya sebenarnya gak sepenuhnya salah kok, Van. Dia kan pengin kelas kita kelihatan keren pas lomba mading nanti. Tapi, pertimbangan Auren soal uang jajan anak-anak juga nyata banget di lapangan."Putra menoleh ke arah Balisya sambil melemparkan senyum ramah yang menenangkan. "Gimana kalau jalan tengahnya gini, Sya? Uang kas bulanan tetap lima ribu seminggu sesuai catatan Auren. Tapi nanti pas minggu-minggu dekat lomba mading, kita adakan iuran sukarela khusus buat yang mau menyumbang bahan atau dana lebih. Jadi kelas kita tetap bisa dihias bagus tanpa ada anak yang merasa terbebani. Adil, kan?"Mendengar solusi dari Putra, ketegangan di wajah Balisya perlahan sedikit mengendur, meski binar kekesalan di matanya belum sepenuhnya hilang. Sebagai sosok yang selalu ingin terlihat bijaksana di depan orang lain, Balisya akhirnya mengangguk pelan. "Ya sudah, kalau Wakil Ketua Kelas dan Ketua Kelas maunya begitu, aku ikut aja."Evan tampak mengembuskan napas lega lalu menepuk pundak Putra pelan. "Nah, mantap. Makasih solusinya, Put. Ren, tolong tambahkan poin dari Putra tadi di buku agenda, ya.""Iya, sudah aku tambahkan," jawab Auren sambil menggoreskan penanya di atas kertas, merasa sangat bersyukur karena kehadiran Putra sore itu berhasil mencegah konflik yang lebih besar di antara mereka.Rapat perdana pengurus kelas itu akhirnya ditutup setelah mereka menyepakati jadwal piket yang baru. Namun, saat mereka mulai berkemas untuk pulang, riak kecil dari persaingan ini jelas belum benar-benar berakhir.
Balisya langsung berkemas dengan gerakan cepat. Ia memasukkan kalkulator dan buku kasnya ke dalam tas dengan sentakan kasar, berpamitan dengan nada ketus yang kentara, lalu melangkah keluar kelas terlebih dahulu. Jilbab putihnya yang rapi berayun seiring langkah kakinya yang menghentak kaku di lantai koridor.Putra yang menyadari situasi tidak enak itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menatap Evan dan Auren bergantian, lalu mengembuskan napas panjang sambil tersenyum simpul."Kayaknya ada yang ngambek berat nih," bisik Putra setengah bercanda, mencoba mencairkan sisa ketegangan di kubu belakang. "Gue susul Balisya duluan ya, Van, Ren. Mau gue tenangin dulu biar besok pas nagih uang kas gak makin galak. Duluan ya!"Putra segera menyampirkan tasnya di bahu dan berjalan cepat keluar kelas, menyisakan gema langkah kakinya yang bersahutan di koridor lantai dua yang mulai sepi.Kini, ruangan kelas 7-B benar-benar sunyi. Hanya ada suara derit kipas angin gantung yang berputar lambat di langit-langit. Angin sore berembus pelan dari celah jendela yang terbuka, menerbangkan beberapa helai rambut Auren saat ia perlahan menutup buku agenda sekretarisnya yang tebal."Makasih ya, Ren, udah berani bersuara tadi," kata Evan tiba-tiba.Auren mendongak, mendapati Evan yang kini sudah berdiri di samping mejanya sambil menggendong tas ransel di satu bahu. Cowok itu menatap Auren dengan binar mata yang hangat dan senyuman tulus yang membuat detak jantung Auren kembali tak beraturan. "Kalau gak ada pertimbangan dari kamu tadi, mungkin uang kas kita udah naik drastis sore ini dan anak-anak bakal demo ke gue."Auren merasakan pipinya mendadak menghangat. Ia buru-buru merapikan tempat pensilnya agar Evan tidak menyadari kegugupannya. "Aku cuma menyampaikan apa yang bakal dirasain anak-anak lain kok, Van. Lagian, untung ada Putra yang ngasih jalan tengah.""Tetap aja, pemikiran kamu itu keren," puji Evan lagi sambil mengetuk meja Auren dua kali—gestur khasnya yang kini terasa sangat akrab. "Yuk, balik. Udah makin sore, nanti gerbang sekolah dikunci."Auren mengangguk, lalu menyampirkan tasnya. Sore itu, mereka berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang mulai temaram, melewati ruang kelas 7-C tempat Evan dulu bernaung, hingga menuruni anak tangga beton bersama.Saat melangkah keluar dari gerbang sekolah di bawah naungan langit senja yang mulai menguning, Auren sempat menoleh ke belakang, menatap gedung sekolah menengahnya yang menjulang. Ia tahu, kehadiran Balisya dengan segala tatapan sinisnya akan membuat hari-hari ke depan tidak akan mudah. Namun, saat melirik Evan yang berjalan santai di sebelahnya, Auren sadar bahwa garis-garis sketsa putih-birunya kini tidak lagi kosong. Garis itu mulai tegas, mulai memiliki warna, dan perlahan menorehkan babak cerita yang kelak akan menolak untuk dilupakan.