Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.
Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.
Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikepalaku terisi penuh semua tentang dia
Hari hari kedepan nanti tidak akan ada musuh dalam peperangan pagiku. Aku akan merindukan keras kepala dan perhatiannya. Jarak yang membentang jauh akan memisahkan raga kami.
Sore ini kami bergantian memeluk mba Renata, lalu berpamitan pulang. Mba Renata mengikuti kami sampai diparkiran.
Mobil yang kami naiki berlahan menjauh meninggalkan mba Renata yang masih melambaikan tangganya. Hati ini rasanya seperti ada bagian yang telah hilang.
Bayangan mba Renata samar samar menghilang dari pandangan mata.
-
Badan ini rasanya masih capek, pagi ini suasana dirumah sepi tidak seperti biasanya. Enggak ada mba Renata bahkan mas Nandito. Hanya ada Ibu didapur yang sedang membuat sarapan dan Bapak yang sedang membaca surat kabar di ruang tengah.
"Mas Nandito kemana bu? Tumben enggak nungguin ibu masak" Aku berjalan dari kamar menuju kamar mandi membawa handuk dipundak.
"Tadi masuk kekamar lagi, katanya jadwal kuliah siang" jawab ibu sambil tetap melihat kearah masakan.
Aku hanya berlalu saja melewati ibu. Rasanya pagi ini terlalu biasa saja, sepi tanpa ada keributan.
Aku sudah selesai persiapan ke sekolah, dari mandi, makan sampai beberes. Bapak sudah menungguku dihalaman depan memberiku kunci sepeda motor yang sudah disiapkan "Jangan ngebut ngebut ya!"
"Iya, siap bos..."
Aku menyalakan sepeda motor, lalu melaju dengan pelan keluar dari rumah. Pagi ini aku tidak menemukan Aldrian disepanjang perjalanan kesekolah.
Sesampainya aku didepan kelas bertemu Putri yang sudah duduk santai dibangku panjang.
Putri menepuk bangku dengan pergelangan tangannya "Duduk sini Ya! Gimana liburan kemarin, bagus nggak pantainya?"
Aku duduk disebelah Putri, mataku berputar menyapu kelas seberang yang sepertinya terlihat ada yang kurang. "Bagus banget, pasirnya putih bersih, airnya juga, villa nya gede dikelilingi kaca jadi enggak perlu keluar kamar kalau mau menikmati suasana pantai"
"Nyari kak Aldrian ya?"
"Hushh"
"Biasanya bukanya barengan sama kamu"
"Enggak ada tadi sepanjang jalan, kirain udah sampai duluan"
"Entar palingan lagi kesiangan"
"Masak seorang yang perfect kayak gitu bisa kesiangan kesekolah"
"Kenapa? Udah kangen?
"ishhh... "
Bel masuk sudah berbunyi.
Kami masuk ke ke dalam kelas. Sepertinya sedikit ada yang berbeda, suasana ramai tapi seperti ada yang kosong.
Selama jam pelajaran berlangsung entah keberapa kali aku memandang kelas seberang, bangku yang kosong itu rasa rasanya ingin sekali aku bertanya kepadanya "dia lagi dimana?".
Aku menjadi sedikit gelisah, pikiranku selalu tertuju pada Aldrian, dikepalaku terisi penuh semua tentang dia. Jam pelajaran terasa lamban sekali, aku sudah ingin menyudahi lalu berlari ke Arya.
Bel istirahat membuyarkan lamunanku, aku masih sibuk bertanya tanya pada hatiku dimana keberadaanya.
Putri mengajakku keluar "Ayo makan?! Udah enggak usah dipikirin! Entar aku tanyain ke seseorang"
"Siapa mikirin siapa sih? aku cuma lagi capek banget Put, semalem baru pulang. Males keluar, ngantuk pengen tidur"
"Kamu kalau malem tidur jam berapa sih? tiap pagi sering banget ngantuk"
"Kali ini beneran aku capek Put, suerr..."
"Aku keluar duluan ya, kalian berdua aja dulu.. Bye..." Tamiya datang ke meja kami lalu berlari kecil keluar kelas meninggalkan kami.
"Tuh liat, udah duluan dia tuh... Pasti janjian sama anak kelas sebelah"
"Cowok apa cewek"
"Cowok lah, masak janjian sama cewek dia sembunyi sembunyi kabur dari kita"
"Jangan suudzon gitu, sapa tau dia kebelet ke toilet"
"Beneran, hari sabtu kemarin Tamiya mencurigakan banget waktu pulang selesai latihan, dia udah enggak tenang banget. Pas aku udah naik mobil mbaku, aku liat cowok naik motor nyamper Tamiya trus mereka jalan nyalip aku"
"Masa???"
"Beneran itu tuh cowok kelas sebelah, aku masih inget betul cuma enggak tau namanya sapa"
"Oh.. Yaudah ayo keluar aku temenin, kasian kamu sendirian kalau enggak ada aku"
Aku dan Putri berjalan keluar kelas, aku melirik sebentar kearah seberang tetap saja masih sama enggak ada dia.
Sepanjang lorong yang biasa sepi terasa semakin sepi. Arya, aku harus berusaha bertemu dengan Arya tapi bagaimana caranya biar dia tidak tau aku sedang mencari tau keberadaan Aldrian.
"Mau makan apa kita?" Putri melihat seluruh isi kantin
"Aku nitip yang sama kayak kamu, nih uangnya. Aku tunggu ditempat biasa" Aku berjalan ke meja pojokan ditempat seperti biasanya.
Bangku kosong dimeja panjang menjadi pilihanku untuk duduk, kupandangi sekeliling setiap sudut ruangan kantin. Aku mencari cari keberadaan Arya hingga akhirnya aku menemukannya, Arya sudah terlihat, dari kejauhan dia berjalan tersenyum kepadaku, akupun membalas senyumannya.
Putri datang duduk disampingku "Nih, empek empek nya, sebagai ganti Sabtu kemarin. Tadi aku liat kak Arya sama temennya disana"
"Terimakasih, tau aja Put aku masih pengen makan empek empek nya"
"Tadi aku liat lagi dikasih cuko nya kayaknya kok seger banget trus inget Sabtu kemarin kamu pengen banget makan ya udah beli aja skalian"
"Kamu emang the best Put, sayangnya Tamiya enggak ikutan makan. Kira kira keman ya Put? disekitar sini enggak terlihat sama sekali dia"
"Ya enggak mungkin dia terlihat sekitar kita, orang tadi aja udah niat kabur. Dibelakang kali biar enggak ketemu kita, entar kita introgasi aja tuh anak ngilang kemana!"
"Hai Ay... Bagaimana liburan dipantainya?" Arya dan teman temannya yang salah satunya adalah kak Firuly duduk didepanku membawa semangkuk mie beserta segelas es tehnya.
"Menyenangkan" jawabku singkat menikmati empek empek didepanku.
Kami duduk bersama dimeja panjang, biarpun satu meja tapi kami menikmati makanan sambil ngobrol dengan teman teman kami sendiri, aku dengan Putri dan Arya dengan teman temanya. Padahal ingin sekali aku bertanya kepada Arya mengenai keberadaan Aldrian.
Kakak 1 "Kita perlu jengukin apa enggak ini?"
Kak Firuly "Enggak usah, katanya enggak parah kok"
Kakak 1 "Enggak parah kok sampai ke rumah sakit sih?"
Kak Firuly "Cuma cek aja katanya"
Arya "Emangnya Aldrian jatuhnya dimana sampai pergi kerumah sakit?"
Deg, aku menaruh sendok dan garpu di mangkuk. Putri menginjak kakiku dengan kakinya... Seketika ruangan yang sangat ramai menjadi seperti sunyi. Aku hampir saja tidak bisa mengontrol perasaan kawatirku. Dadaku berdetak semakin kencang, banyak pertanyaan berputar putar dikepalaku.
Putri memotong pembicaraan kakak kakak, mencoba mencari informasi "Kak Aldrian memang kenapa kak, hari Sabtu kemarin waktu latihan masih baik baik saja?"
Kak Firuly menghentikan makannya dan tersenyum kearah Putri "Memang baik baik saja, yang bilang nggak baik siapa?"
"Aku tanya betul betul kak Fir"
"Aku juga jawabnya betul betul Putri..."
"Kak Fir..."
"Iya Putri..."
Dikepalaku sudah tersusun banyak sekali pertanyaan yang ingin sekali kutanyakan ke kak Firuly. Antara iya dan tidak, aku berusaha mematahkan keinginanku untuk bertanya tetapi rasa keinginanku untuk mengetahui keberadaanya memberanikan diriku bertanya ke kak Firuly "Ih Apaan sih kalian berdua. Kak Aldrian jatuh kenapa kak?"
Kak Firuly menghembuskan nafas dalam "Katanya terpeleset dirumah, tangannya sedikit cidera"
Badanku seperti lemas, tanganku mulai dingin memjawab demgan sedikit bergetar "Ya... Kan mau ada pertandingan"
"Tenang aja Aya, kamu enggak usah panik! Kan aku bilangnya sedikit, makanya dia langsung cek ke rumah sakit biar langsung dapat penanganan soalnya mau ada pertandingan, begitu kata Aldrian. Ada lagi yang ditanyakan" jawaban kak Firuly yang sangat panjang.
Arya menyudahi makannya lalu memandang ke arahku "Kamu mau aku anterin ke rumah Aldrian??"
Aku sedikit panik tapi tetap mencoba tenang memandang kearah Arya "Kok aku sih Ar?"
Arya menunduk sedikit dengan mata terus melotot ke arahku "Iya kamu, kan kamu yang keliatan banget lagi menghawatirkan Aldrian"
"Aku takut aja barangkali sakit gara gara nolongin aku hari sabtu kemarin, kak Aldrian tanganya kena bola keras banget" kataku sambil menundukkan kepala.
"Iya makanya aku nawarin mau anter kerumahnya, datengin Aldrian liat sendiri keadaanya trus tanya sendiri, waktu kena bola sakit enggak"
"Udahlah... kata Aldrian tadi baik baik aja, dia cuma cek doang biar cepat dapat penanganan. Udah biar dia libur enggak usah diganggu" jawab kak Firuly
Aku mencoba berusaha untuk biasa biasa saja. Hatiku sudah bercampur tak karuan. Bayangannya waktu menangkap bola dengan satu tangan melintas dipikiranku.