Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Bau amis air laut bercampur dengan minyak jelantah dan sampah membusuk memenuhi udara malam yang lembap.
Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip-kedip mati, Sofia merapatkan mantel kusamnya seraya menundukkan kepala dalam-dalam.
Setiap derap langkah kaki di belakangnya membuat dadanya berdebar keras. Sebagai seorang mantan narapidana yang terbiasa hidup di jalanan, insting Sofia mengorbankan seluruh rasa amannya. Ia tahu, dua kubu besar sedang mengerahkan seluruh jaringan mereka untuk melacak keberadaannya.
Di dalam saku bagian dalam mantelnya, terbungkus rapi dalam lipatan plastik kedap air, terletak dokumen resep medis tua asli atas nama Christina Vance, bukti fisik mematikan yang dikeluarkan oleh Dr. Arthur Pendelton sebelas tahun silam.
Sofia meremas saku mantelnya. "Foto digital di ponselku memang telah diretas dan dihapus oleh mereka, tetapi kertas asli ini tidak akan pernah kubiarkan jatuh ke tangan orang-orang Claudia," batin Sofia mantap.
Ia melangkah masuk ke dalam sebuah kedai kopi remang-remang di sudut dermaga. Di meja paling pojok, seorang pria paruh baya berkulit gelap dengan bekas luka tembak di lehernya sedang menyesap kopi hitam.
Pria itu adalah Gerald, rekan lama Sofia sewaktu mereka masih berada di jaringan pekerja kasar pelabuhan.
"Kau terlambat sepuluh menit, Sofia," ujar Gerald tanpa mendongak, suaranya parau dan berat.
Sofia mendudukkan fisiknya di kursi kayu yang berdecit, menatap sekeliling dengan penuh kewaspadaan. "Keadaan di luar sangat berbahaya. Orang-orang berseragam hitam dan para pria berjas rapi terus menyisir area permukiman kumuh sejak kemarin."
Gerald meletakkan cangkir kopinya, menatap Sofia dengan raut wajah prihatin. "Siapa sebenarnya yang kau lawan, Sofia? Mengapa anak buah Ophelia dan para pengawal pribadi dari Vance group sama-sama menyebar imbalan ratusan juta rupiah hanya untuk menemukan keberadaanmu?"
Sofia mengepalkan jemarinya di atas meja kayu yang berminyak. "Saya tidak sedang bertarung demi uang, Gerald. Saya sedang memperjuangkan nyawa sahabat saya, Sienna. Dia terkurung dan hampir tewas dibakar. Hanya lembaran kertas yang saya bawa ini yang mampu membuktikan bahwa dia dan almarhum ayahnya sama sekali tidak bersalah."
Gerald menghela napas panjang, merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan sebuah ponsel tua tanpa akses internet dan dua buah kartu perdana baru.
"Ponsel pintar milikmu sudah tidak aman lagi karena telah diretas oleh jaringan profesional," tutur Gerald seraya menyerahkan ponsel tua itu.
"Gunakan ponsel jadul ini. Frekuensi panggilannya sulit dilacak secara digital. Saya juga sudah menyiapkan tempat persembunyian baru untukmu di bangsal gudang tua dekat pelabuhan peti kemas. Tidak ada kamera CCTV atau jaringan sinyal canggih di sana."
Sofia menerima ponsel tua tersebut dengan tatapan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, Gerald. Saya sangat berutang budi pada Anda."
"Berhati-hatilah, Sofia," peringat Gerald dengan nada sangat serius.
"Orang-orang kaya itu memiliki kekuasaan yang mampu membeli hukum. Jika kau tertangkap sebelum bukti itu sampai ke tangan yang tepat, nyawamu tidak akan ada harganya."
...****************...
Sementara itu, di dalam ruang kerja pribadi mansion perbukitan.
Nicolas Vance berdiri kaku di depan jendela kaca raksasa yang menghadap langsung ke hamparan hutan pinus yang tertutup kabut malam. Di hadapannya, Matteo berdiri dengan dokumen analisis intelijen terbaru.
"Bagaimana perkembangan pencarian wanita bernama Sofia tersebut, Matteo?" tanya Nicolas dengan intonasi rendah dan sangat formal.
Matteo membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum menjawab. "Laporan dari tim lapangan menunjukkan bahwa pencarian mengalami kendala besar, Tuan Nicolas. Sofia terbukti memiliki pengalaman bertahan hidup yang sangat tinggi di area-area yang tidak terjangkau oleh jaringan teknologi. Dia mematikan seluruh perangkat seluler pintarnya dan memutuskan jalur komunikasi dengan kerabat resminya."
Nicolas memutar tubuhnya perlahan. Sepasang mata kelabunya berkilat menakutkan di bawah pendar lampu gantung kristal. "Aku tidak menerima alasan mengenai keterbatasan teknologi, Matteo. Kita memiliki sumber daya finansial dan jaringan informasi yang tak terbatas. Lakukan penyisiran di kawasan-kawasan terpencil."
"Baik, Tuan. Namun ada hal lain yang perlu Anda ketahui," tambah Matteo seraya menyerahkan sebuah berkas analisis sinyal.
"Tim peretas internal kita menemukan fakta bahwa dua hari lalu, sebelum ponsel milik Sofia mati total, terdapat peretasan jarak jauh yang dilakukan oleh pihak ketiga menggunakan server enkripsi tingkat tinggi."
Nicolas menyipitkan matanya. "Peretasan jarak jauh? Dari pihak mana server tersebut berasal?"
"Jejak digitalnya dialihkan melalui beberapa negara, Tuan. Namun, struktur enkripsinya identik dengan sistem keamanan cyber yang digunakan oleh pihak Ophelia Group," pimpin Matteo tegas.
Sebuah hembusan napas dingin keluar dari bibir Nicolas. Garis rahangnya menegang keras. Fakta ini makin memperkuat kebenaran dari pernyataan Sienna.
Jika Claudia Ophelia mengerahkan tim peretas profesional hanya untuk menghapus data di dalam ponsel seorang wanita biasa itu, artinya ada dokumen yang sangat menakutkan bagi Claudia yang tersimpan di sana.
"Apakah itu berarti dokumen resep medis rahasia yang dikatakan oleh Sienna memang benar-benar ada?" bisik Nicolas pada dirinya sendiri, sebuah pertentangan batin yang dahsyat berkecamuk di dalam dadanya.
"Tuan Nicolas," panggil Matteo hati-hati.
"Jika memang benar almarhumah Nyonya Christina diracuni arsenik sebelum malam penembakan sebelas tahun lalu... maka seluruh tuduhan dan dendam yang selama ini dipegang oleh Tuan Besar Sebastian Vance berada di atas kebohongan yang sangat besar."
"Cukup, Matteo," potong Nicolas dengan nada mutlak yang membekukan udara. "Jangan pernah melontarkan kesimpulan sebelum bukti fisik asli berada di dalam genggaman tanganku sendiri."
Nicolas melangkah menuju mejanya, menuangkan cairan whisky ke dalam gelas kristal. "Perketat penjagaan di sekeliling mansion ini. Jangan biarkan Sienna mengetahui perkembangan perburuan ini. Dan pastikan tim kita menemukan Sofia lebih dahulu sebelum orang-orang suruhan Claudia melenyapkannya."
"Dimengerti, Tuan."
Di kamar utama mansion perbukitan.
Malam makin larut, namun Sienna masih belum bisa memejamkan matanya. Tubuhnya yang masih lemah bersandar pada tumpukan bantal empuk.
Meskipun rasa sakit di dada dan tangannya mulai berkurang berkat perawatan intensif dari Maya dan tim dokter pribadi Nicolas, tekanan mental yang menghimpit jiwanya jauh lebih berat.
"Suster Maya bilang Nicolas memindahkan saya ke sini untuk melindungi saya dari kejaran orang-orang Claudia. Tetapi apakah ini murni bentuk perlindungan, ataukah sekadar cara lain baginya untuk mengekang saya dalam sangkar yang baru?" batin Sienna seraya menatap teralis besi di balik jendela kaca.
Klek.
Pintu kamar terbuka pelan. Maya melangkah masuk membawa baki berisi cangkir teh herbal hangat dan obat-obatan malam.
"Selamat malam, Nona Sienna. Apakah Anda merasa lebih baik malam ini?" sapa Maya dengan lembut.
Sienna mengulas senyum tipis yang tampak lemah. "Selamat malam, Suster Maya. Fisik saya sudah jauh lebih stabil. Terima kasih atas perawatan tulus yang Anda berikan kepada saya."
Maya meletakkan baki di atas meja samping ranjang, lalu membantu Sienna mengubah posisi duduknya secara perlahan. "Ini sudah menjadi kewajiban saya, Nona. Tuan Nicolas memberikan instruksi khusus agar seluruh kebutuhan medis dan kenyamanan Anda dipenuhi tanpa ada kekuarangan sedikit pun."
Sienna menatap mata perawat tersebut dengan raut penuh rasa ingin tahu. "Suster Maya... apakah Anda sempat mendengar kabar terbaru mengenai Sofia dari Pak Matteo atau para pengawal di luar?"
Maya sempat ragu sejenak, menundukkan pandangannya sebelum menjawab dengan nada suara berbisik. "Saya tidak berani menanyakan hal tersebut secara langsung, Nona. Namun, dari pembicaraan singkat antara Pak Matteo dan komandan pengawal sore tadi... saya mendengar bahwa Sofia masih berhasil meloloskan diri dari pengepungan."
Sienna menghembuskan napas lega yang teramat panjang. Sebuah titik harapan kembali menyala di dalam dadanya. Sofia masih selamat. Itu artinya, kertas resep medis tua tersebut masih tersimpan aman bersama sahabatnya.
"Suster Maya," panggil Sienna dengan intonasi yang amat serius dan penuh permohonan.
"Jika suatu saat nanti Tuan Nicolas atau orang-orangnya berhasil menemukan Sofia... saya mohon kepada Anda untuk memastikan bahwa Sofia tidak disakiti. Kertas resep yang dipegangnya adalah satu-satunya kunci untuk membersihkan nama almarhum Ayah saya."
Maya menatap Sienna dengan pandangan iba yang mendalam. "Saya memahami penderitaan Anda, Nona Sienna. Saya berjanji akan melakukan apa pun yang berada dalam batas kemampuan saya untuk membantu Anda. Namun, Anda harus tetap bersabar. Tuan Nicolas bukanlah pria yang mudah diyakinkan tanpa adanya bukti nyata."
Sienna mengangguk pelan. Ia tahu betul betapa keras dan dinginnya prinsip yang dipegang oleh Nicolas Vance.
Pria itu dibesarkan dalam bayang-bayang dendam dan dominasi kekuasaan. Mengubah keyakinannya yang telah berakar selama belasan tahun bukanlah perkara yang mudah.
"Saya akan bertahan, Suster," ujar Sienna tegas, sepasang mata cokelatnya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Berapa lama pun saya harus terkurung di dalam mansion ini, saya akan menunggu hingga kebenaran itu terungkap sepenuhnya."
...Bersambung... ...