Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Pindah Alam Pertama
Sinar fajar menyusup perlahan melalui celah-celah jendela Bus 666 yang terparkir di bawah rimbunan pohon asam tua di pinggir jalan kota. Namun, pendar yang paling terang pagi itu tidak datang dari luar, melainkan memancar tepat dari tengah lorong armada.
Pak Tejo berdiri melayang beberapa senti di atas lantai beludru merah yang berdebu. Wujudnya yang semula pucat, kebiruan, dan memancarkan hawa dingin yang mencekat kini bertransformasi total.
Sosok bapak-bapak berkumis tebal yang tadinya murung itu diselimuti kehangatan cahaya putih keemasan yang berkilau sehalus sutra.
Aura hitam bekas tangisan dan beban kesedihan yang membungkus jiwanya selama lima tahun terakhir menguap habis tanpa bekas, meninggalkan kedamaian murni yang menenangkan.
Damar terpaku menatap momen tersebut. Kertas clipboard di genggamannya perlahan turun. Ini adalah pertama kalinya dia menyaksikan fenomena yang dinamakan Ascension—prosesi kemurnian jiwa saat seorang arwah akhirnya menuntaskan penyesalan terbesar dalam hidupnya.
"Mas Damar ...." Suara Pak Tejo bergema merdu, bebas dari nada getar kesedihan. Beliau melayang mendekati Damar, lalu mengulurkan tangannya. "Terima kasih banyak ya, Mas. Kalau bukan karena kepekaan dan kebaikan hati Mas Damar ... mungkin sampai kapan pun jiwa saya bakal terus terikat di rumah tua itu sebagai penunggu yang malang."
Damar membalas uluran tangan Pak Tejo. Kali ini, sensasi dingin seperti es batu yang biasanya menyengat kulitnya tidak terasa lagi. Telapak tangan Pak Tejo terasa begitu hangat, mirip seperti kehangatan sinar matahari pagi yang menerpa kulit di musim dingin.
"Sama-sama, Pak Tejo," jawab Damar, mengukir senyum tulus dari sudut bibirnya. "Saya cuma bantu nyusun skenario kecil aja, Pak. Selebihnya ... Bapak sendiri yang udah luar biasa karena punya rasa sayang yang begitu besar buat Dimas."
"Semasa hidup, saya ini cukup keras kepala, Mas Damar. Sekarang semuanya udah selesai, saya udah lega. Semoga setelah ini, Mas Damar bisa membantu jiwa-jiwa malang semacam saya." Pak Tejo tersenyum lembut.
"Ah-iya, Pak. Saya akan berusaha semampunya," sahut Damar mengusap tengkuknya.
Pak Tejo menganggukkan kepalanya pelan, lalu beralih menatap Madam Helga yang masih bersedekap di panggung depan. Beliau menundukkan kepalanya dalam-dalam penuh rasa hormat.
"Madam Helga ... terima kasih banyak sudah memberi saya kesempatan lewat agen Last Trip Express ini."
Madam Helga hanya mengangguk pelan dengan raut wajah yang tetap anggun nan terkontrol.
"Itu sudah menjadi hakmu karena tiketmu sah, Tejo. Pergilah dengan tenang. Gerbang Alam Berikutnya sudah menunggumu."
"Baik, Madam. Tapi ... sejujurnya saya sempat sangat putus asa. Saya pikir, saya akan menjadi penumpang abadi di bus ini."
"Waktumu habis, Tejo. Pergilah!"
"Baiklah, Madam. Saya pergi."
Perlahan-lahan, kaki Pak Tejo mulai mengurai menjadi butiran-butiran cahaya keemasan yang berputar halus melayang ke atas. Butiran cahaya itu membumbung tinggi, menembus atap bus hitam yang mendadak melunak seperti ombak air.
Pak Tejo melambaikan tangannya untuk terakhir kali, tersenyum amat cerah sebelum seluruh wujudnya melebur menjadi garis cahaya indah yang melesat menembus langit pagi menuju keabadian.
Keheningan yang khusyuk melingkupi isi bus selama beberapa saat.
Para penumpang hantu lainnya menatap langit-langit di atas sana dengan mata berbinar-binar. Ada rasa iri yang manis di dada mereka, namun dipenuhi pula oleh secercah harapan baru.
"Wah ... indah banget ya," gumam hantu wanita bergaun putih dengan pandangan takjub.
"Iya, ternyata kalau urusan di dunia udah beres, jalannya bisa seterang itu," timpal hantu kakek-kakek sambil perlahan memasang kembali kepalanya di atas leher dengan rapi.
Di panggung depan, Damar masih mematung menatap tempat Pak Tejo baru saja menghilang. Ada gumpalan hangat yang mekar secara perlahan di dalam dadanya—sebuah perasaan lega dan puas yang tak pernah sanggup dibeli dengan uang tagihan mana pun.
Untuk pertama kalinya sejak dia menandatangani kontrak kerja memakai tinta merah gaib yang menakutkan itu, Damar tidak merasa ingin kabur.
Untuk pertama kalinya ... Damar merasa pekerjaannya sebagai pemandu tur gaib ini benar-benar bermakna.
"Ehem."
Suara berdeham yang tajam dan dingin memecah keheningan Damar.
Madam Helga ternyata sudah berdiri tegak di sampingnya. Wanita itu melipat tangannya, menatap Damar dari atas ke bawah dengan pandangan penuh celaan—mulai dari kemeja lusuhnya yang berdebu akibat tiarap di balik sofa, sampai bekas keringat dingin di dahinya.
"Pemandangan yang sangat sentimental, bukan?" ujar Madam Helga dengan nada sarkastik yang kental. "Kamu sampai mau meneteskan air mata begitu, Damar. Sangat tidak profesional sekali untuk ukuran staf tour guide."
Damar dengan cepat mengusap matanya, lalu mendesis pelan.
"Ya elah, Madam ... dikit-dikit dinilai profesionalitasnya. Saya 'kan cuma lagi terharu aja. Lagian, strategi bikin 'kebetulan' di rumah Dimas tadi berhasil 'kan?"
"Berhasil karena kebetulan anaknya tidak memanggil polisi atau dukun untuk meruqyahmu, kalau tidak, sudah habis kamu," cetus Madam Helga seraya menyapukan pandangan ke kertas itinerary di tangan Damar.
"Duh, jangan sampai, Madam." Damar bergidik ngeri meski hanya sekadar membayangkannya saja.
Madam Helga tak lagi menanggapi, matanya berputar sinis dengan sudut bibir terangkat sedikit.
Namun, tepat saat Madam Helga memalingkan wajahnya ke arah jendela untuk memerintahkan sopir menjalankan bus kembali, sudut bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala terangkat sangat tipis.
Sebuah ulasan senyum apresiasi yang amat halus terukir di sana—sebuah pengakuan tersembunyi atas keberhasilan pemuda penakut yang ternyata memiliki empati luar biasa tersebut.
Tentu saja, senyum itu langsung hilang dalam hitungan milidetik sebelum Damar sempat menyadarinya.
"Sopir! Tancap gas," perintah Madam Helga dengan suara tegas membelah armada. "Fase pertama kasus Pak Tejo sudah selesai. Sekarang saatnya kita membawa sisa rombongan ini menuju destinasi berikutnya!"
Tiiiiinnnnnn ...!
"Berangkaaaaat!" seru hantu kakek-kakek sambil mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
Klakson bus nomor 666 itu melengking nyaring. Roda-roda bus mulai berputar melintasi jalanan kota yang perlahan terbangun.
Damar menghela napas panjang, merapikan letak clipboard-nya, lalu mengangkat mikrofon ke dekat bibir. Kali ini, pegangannya pada mikrofon tidak lagi bergetar hebat seperti sebelumnya. Suaranya pun terdengar jauh lebih tenang dan percaya diri.
"Baiklah ... Rekan-Rekan Arwah sekalian," panggil Damar sambil tersenyum ke arah rombongan hantu yang kini menatapnya dengan penuh rasa percaya. "Terima kasih atas kesabarannya selama transit. Mohon bersiap, kita akan melanjutkan perjalanan menuju Destinasi Kedua!"
Sorak-sorai kecil bergema dari barisan belakang. Tawa dan celetukan riang para hantu menyambut pengumuman tersebut.
Satu kasus telah tuntas, namun puluhan kisah penyesalan lainnya masih menanti di sepanjang rute Last Trip Express. Dan untuk pertama kalinya ... Damar siap menghadapinya.
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt