Johan Pranata, CEO tampan yang belum di karuniahi seorang anak dari pernikahannya yang sudah tujuh tahun. Keadaan sang istri yang tidak memungkinkan untuk mengandung karena penyakit yang di deritanya, membuat Johan harus mencari wanita yang mau mengandung benih anaknya.
Semua itu Johan lakukan hanya karena tuntutan sang Ibu. Karena dia harus melahirkan pewaris dari bisnis dan juga perusahaannya.
Lestari sang Ibu menemukan wanita yang tepat, yaitu Lilian. Karena perusahaan sang ayah mengalami kebangkrutan akhirnya Lilian mau menerima tawaran dari Lestari.
Lilian akhirnya menikah secara diam-diam dan tersembunyi dengan Johan. Tapi semenjak itu hidup Lilian menjadi susah, karena Johan banyak mengatur hidupnya.
Bertemu setiap hari dengan Johan membuat Lilian menaruh rasa kepadanya.Lalu, apakah Johan juga menaruh rasa terhadap Lilian? Atau dia tetap setia dengan istrinya? Simak ya😉😉😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna afrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biyawak Nakal²¹
“Selamat siang Kak,” sapa seorang wanita yang duduk tidak jauh dari ruangan Johan.
“Oh iya, selamat siang,” jawab Lilian ramah.
“Mohon maaf Kak, Pak Johannya sedang ada pertemuan di ruang meeting. Mungkin akan selesai lima belas menit lagi, silahkan tunggu di dalam,” ucap wanita itu lagi.
“Saya di sini saja,” jawab Lilian ragu.
“Em maaf Kak, bukan saya tidak mengizinkan. Tapi saya takut nanti Pak Johan akan memarahi saya, silahkan saya antar ke dalam.” Tangan wanita itu mempersilahkan
kepada Lilian.
“Tidak perlu, saya masuk sendiri saja. Makasih ya Kak,” ucap Lilian ramah.
Dengan malas Lilian melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Johan. Meskipun sudah pernah masuk, tapi Lilian masih tetap kagum dengan ruangan yang cukup besar itu. Desain
dan arsitekturnya sungguh terlihat sangat elegant bagi di mata Lilian.
“Uahh.” Lilian lagi-lagi menguap.
“Ishh,kenapa aku mengantuk sekali. Malam ini aku tidak boleh sampai insomnia lagi, ya
ampun mata aku berat sekali.” Lilian mengerjapkan matanya beberapa kali untuk
mengurangi rasa kantuknya.
“Kenapa sofa ini empuk sekali, ya Tuhan. Aku rasanya ingin berbaring.” Lilian melirik
ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan sekitar. Setelah dirasa aman barulah
Lilian merebahkan tubuhnya di sofa yang lumayan panjang itu.
“Ahh, enak sekali rasanya. Nikmat sekali bisa meluruskan kaki dengan santai seperti ini.” Lilian menggerak-gerakkan kakinya dengan santai di atas sofa.
Sepuluh menit berlalu, mata Lilian sudah semakin sayu. Lima belas menit kemudian Johan belum
juga datang, dan mata Lilianpun sudah terpejam. Tiga puluh menit setelah itu
baru Johan datang, dia terkejut saat membuka pintu kantornya dan mendapati
Lilian yang tertidur dengan pulas di sofa.
“Sejak kapan dia di sini?” tanya Johan lirih.
Johan memang tidak tahu Lilian datang ke kantornya, karena sekertarisnya juga sedang
istriahat jadi tidak ada yang memberitahu kepada Johan.
Johan melangkahkan kakinya mendekati Lilian, dia menatap wajah Lilian yang terlihat polos dengan sangat lekat. Johan berjongkok di depan wajah Lilian, dia
menyibakkan rambut Lilian yang terurai sampai menutupi sebagian wajahnya.
“Kenapa wajahmu polos sekali?” ucap Johan lirih.
Ada desiran-desiran halus di dalam hati Johan saat tangannya mulai membelai lembut
kedua pipi Lilian. Jari telunjuk Johan berhenti di bibir mungil Lilian,
memainkannya sampai sekian detik lamanya. Tanpa Johan sadari, ada sesuatu yang
sudah mengeras di balik celana yang ia pakai.
Tanpa ragu dan tanpa permisi, Johan mendekatkan wajahnya ke wajah Lilian yang masih terlelap. Perlahan tapi pasti Johan mendaratkan bibirnya tepat di bibir Lilian.
Cup.
Sekali kecupan dari Johan tidak membuat Lilian terbangun, tapi kecupan itu berhasil membuat biyawak milik Johan ingin keluar dari sangkarnya.
“Kenapa bibirmu sungguh lembut sekali, apakah bibirmu terbuat dari tepung kanji. Tunggu tapi tepung kanji sedikit kasar, mungkin saja bibirmu terbuat dari susu. Aish, tidak-tidak, bibirmu itu terbuat dari madu. Manis dan memebukkan, bagaikan
candu yang selalu aku rindukan.” Kata-kata panjang itu keluar dengan lirih dari mulut Johan.
Tanpa berfikir panjang lagi, Johan kembali menghujani wajah Lilian dengan banyak ciuman lembut. Untuk sekian menit Lilian tidak terbangun, mungkin karena tidurnya
terlalu pulas dan sentuhan Johan juga tidak terlalu keras.
Karena sudah tidak sadar, Johan memakan lipstik Lilian dengan ganas. Karena ulah Johan itu, Lilian akhirnya membuka matanya. Lilian sangat terkejut melihat Johan yang sudah memposisikan diri tepat di atasnya.
Kedua mata Lilian membulat dengan sempurna merasakan pagutan Johan yang semakin dahsyat. Tanpa menghiraukan respon Lilian, Johan mengangkat tubuh Lilian tanpa melepaskan pagutan mereka. Tanpa disadari oleh Lilian, lama kelamaan bibirnya merespon bibir suaminya.
Johan mengankat tubuh Lilian, membawanya ke tempat tidur rahasia Johan yang hanya di ketahui oleh Dani dan juga Stevia. Salah satu siku tangan Johan menekan tombol otomatis
yang akan membuka pintu rahasia itu.
Lilian terkejut saat melihat ada sebuah kamar tidur yang tidak terlalu luas namun
sangat rapi itu di dalam kantor Johan. Karena menyadari keterkejutan Lilian, Johan langsung membaringkan tubuh Lilian ke atas tempat tidur yang berukuran kecil itu.
“Tidak perlu terkejut, tidurlah di sini dengan nyaman,” ucap Johan membuat wajah
Lilian bersemu merah karena malu.
Tanpa menunggu jawaban dari Lilian, Johan langsung keluar dari kamar itu. Lilian hanya menatap Johan dengan wajah bingung, dia tidak tahu akan arti sikap Johan baru saja.
“Wah kepiting, kebetulan sekali aku sangat lapar,” ucap Johan saat membuka kotak
makan yang Lilian bawa.
Johan memakan makanan itu dengan sangat lahap, dia melirik ke arah pintu tapi tidak
ada pergerakan apapun dari sana. Johan kembali menyantap makanannya, tanpa
memikirkan Lilian yang masih di dalam sana.
Setelah beberapa menit Johan menghabiskan makanan itu, dia kembali menghampiri Lilian yang masih di dalam tempat tidur rahasianya. Saat Johan masuk, ternyata Lilian tidaklah tidur. Kedua mata wanita itu justru terbuka lebar dan memperhatikan Johan yang baru saja masuk.
“Kamu tidak tidur?” tanya Johan.
“Tidak, aku sudah tidak mengantuk,” jawab Lilian.
“Kamu yang masak kepitingnya?” tanya Johan lagi, tapi beberapa saat Lilian terdiam tidak
menjawab.
Ya Tuhan,jadi dia baru saja makan. Setelah dia mengambil celana dalamku, dia enak-enakanmakan. Sedangkan aku di sini merasakan risih dan kedinginan di bagian berharga itu. Ya Tuhan, terbuat dari apa otak laki-laki yang satu ini sebenarnya. Tanpa sadar Lilian menggelengkan kepalanya saat memkirkan hal itu.
“Lalu siapa yang memasak? Stevia?” tanya Johan lagi, karena dia salah paham dengan
gelengan kepala Lilian baru saja.
“Eh bukan, bukan itu maksud aku. Aku memasaknya bersama Stevia tadi,” jawab Lilian dengan senyum tipisnya.
Johan tidak menanggapi jawaban Lilian, dia justru melangkahkan kakinya mendekati tempat
tidur.
“Kamu mau tidur, aku mau pulang saja,” ucap Lilian.
Baru saja Lilian hendak bangun, tapi tangan Johan mencegahnya. Johan naik ke atas tempat tidur lalu memposisikan dirinya di atas tubuh Lilian dan mengunci tubuh Lilian
dengan tangannya.
“Kamu mau apa?” tanya Lilian ragu.
“Aku ingin memakanmu, apa kamu tidak sadar bungaraflesiamu sudah tidak terbungkus?” Lilian rasanya ingin lari dari tampat itu sekencang mungkin karena malu.
“Aku ingin melihatnya.” Lilian hanya terdiam saat tangan Johan mulai menyibakkan dres yang dipakainya.
Di dalam sana terlihat bukit yang bersih dan juga indah, yang bisa membuat semua
laki-laki menjadi gila. Tangan Johan mulai memebelainya, memainkanya dengan
lembut.
Tanpa sadar desahan demi desahan mulai keluar dari mulut Lilian. Mendegar hal itu
justru membuat Johan semakin semangat untuk memanjakan biyawaknya yang nakal
itu sudah tegang dari tadi.
“Nikmatilah, keluarkan suara kenikmatanmu,” bisik Johan di telinga Lilian.