NovelToon NovelToon
Istriku Dan Rahasia Kelahirannya

Istriku Dan Rahasia Kelahirannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Kutukan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.

Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!

"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Cahaya samar keemasan memancar dari sela-sela jari Arumie, nyaris tak terlihat oleh siapa pun. Kepala gadis kecil itu tiba-tiba terasa pening, berputar sejenak. Ia sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja keluar dari tangannya.

Amelin tiba-tiba terdiam. Tangisannya terhenti di tengah jalan. Napasnya tertahan di tenggorokan, matanya terbelalak menatap lututnya sendiri.

Rasa nyeri yang tadi menyiksa—hilang. Lenyap seketika, seolah tidak pernah ada.

Perlahan, dengan tangan gemetar, Amelin menyentuh lututnya. Kulitnya halus, utuh, tanpa jejak luka sedikit pun. Hanya noda darah di sekitarnya dan celana yang robek lebar yang menjadi bukti bahwa baru saja ia terluka parah.

"....!!"

"Arumie..." suaranya tercekat, berbisik nyaris tak terdengar.

Tingali... Dadas na... Leungit!

"Lihat ini... lukanya... hilang!"

Arumie menarik tangannya perlahan, menatap jari-jarinya sendiri dengan bingung. Cahaya itu sudah lenyap, meninggalkan keheningan dan dua pasang mata yang saling berpandangan—satu penuh tanya, satu lagi penuh ketakutan yang belum sepenuhnya dipahami.

Dan tiba-tiba—

Bruk!

"!!!!!"

"Arumie!!"

... ****************...

Suasana di dalam kamar kontrakan yang terletak di samping ruang tengah rumah itu terasa sederhana, namun menyimpan kehangatan tersendiri. Ruangan sempit itu menjadi satu-satunya tempat istirahat bagi Arien, Alan, dan Arumie.

Malam itu, Arien tertidur pulas membelakangi jendela, menghadap lemari pakaian tiga pintu berwarna putih. Lemari besar beserta kasur itu nyaris memenuhi seluruh ruangan, dipaksa masuk ke dalam keterbatasan lahan yang tersedia. Walau terasa sesak, dinding kamar mungil itu tetap menjadi saksi betapa nyamannya mereka menjalani hari-hari bersama.

Arumie kini tumbuh menjadi anak yang lincah, menginjak usia empat tahun menuju lima tahun—usia yang tepat untuk mulai memasuki dunia Taman Kanak-Kanak. Selama masa pertumbuhan putri mereka, Arien dan keluarga menyewa rumah milik Ibu Haji Kokom Komariah, menjalani hari-hari dengan sederhana namun penuh makna.

Namun, malam itu keheningan membawa sisa-sisa ketegangan yang belum usai.

Alan baru saja pergi meninggalkan ruangan dengan langkah berat dan rahang yang mengeras. Pertengkaran kecil yang berujung pada pertanyaan tajam tak terjawab masih menggantung di udara, menuntut kejelasan atas sesuatu yang selama ini mereka berdua hindari. Arien hanya mematung dalam diam, tenggelam dalam ketakutan hebat untuk membuka rahasia kelam yang ia simpan rapat-rapat dari suaminya.

Semalaman ia dihantui bayangan masa lalu—sesuatu yang terasa begitu dekat sejak malam festival, namun tak mampu ia ceritakan. Di tengah gejolak batinnya, satu tekad tumbuh perlahan: Jika suatu saat nanti aku harus bicara, aku akan mengatakan semuanya. Jika memang waktunya sudah tiba, aku akan mengenalkan mereka kepadamu, Sayang.

Kelelahan akhirnya menaklukkan pikirannya yang berisik. Arien terlelap, memeluk guling tipis di sisinya, sementara ponsel di samping kasur terus memutar musik. Lagu-lagu dari kanal Laudys Reaction Gitar mengalun pelan, berganti otomatis dari lagu cinta menjadi nada-nada metal yang keras, namun tak cukup membangunkannya.

Hingga tiba-tiba—

Bam! Bam! Bam!

Suara gedoran pintu terdengar berulang, keras dan mendesak, memecah keheningan malam yang tadinya sunyi senyap.

Neng...!

"Nak..."

Neng Arien...!

"Nak Arien...!"

Panggilan itu disertai ketukan yang semakin cepat, menyiratkan kegelisahan yang tak bisa ditunda lagi.

Sontak Arien terbangun. Matanya masih berat, kesadaran belum sepenuhnya kembali. Ia mengedip beberapa kali, mencoba memastikan apakah suara itu nyata atau hanya sisa mimpi. Namun gedoran berikutnya meyakinkannya—ada sesuatu yang buruk terjadi.

Dengan tubuh masih terasa berat, ia bergegas turun dari kasur dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu depan.

Ah muhun.. sakedap, sareng saha nya?

"Ah iya.. Tunggu sebentar, siapa ya?" tanyanya, napasnya sedikit memburu karena terkejut.

Pintu terbuka, dan wajah Ibu Nonoy tampak di sana—berkeringat, napasnya memburu, matanya memancarkan kepanikan yang tak bisa disembunyikan.

Eh.. Teh Enoy! Mangga teh, mangga lebet!

"Eh.. Kak Nonoy! Ayo Kak, ayo masuk!" Arien membuka pintu lebih lebar, namun Ibu Nonoy tak menyahut ajakan itu. Wanita tua itu justru menggenggam tangan Arien dengan erat.

Neng.. itu, Neng Arumie ujug-ujug panas nyebret, Neng! Nuju ameng sareng Amelin!

"Nak.. Itu, Dede Arumie tiba-tiba panas tinggi, Nak! Lagi main sama Amelin!"

Dunia Arien seakan berhenti berputar seketika. Kata-kata itu menggema di telinganya, namun butuh waktu bagi pikirannya untuk mencerna maknanya. Wajah anaknya yang ceria melintas di benak, dan rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai merayap cepat.

Ia masih mematung, kaku, hingga Ibu Nonoy menarik tangannya kuat.

Neng.. kalahkah calik! Itu Neng Arumie tingali heula, bisi aya naon-naon!

"Nak.. Jangan diam saja! Itu Dede Arumie dilihat dulu, takut ada apa-apa!"

Kekhawatiran dalam nada suara Ibu Nonoy akhirnya membuyarkan lamunan Arien. Kedua lututnya terasa lemas seketika, seolah tak lagi mampu menopang tubuhnya. Namun bayangan Arumie yang sakit mendorongnya untuk bergerak. Ia melangkah keluar, berlari tanpa alas kaki, membiarkan pintu rumahnya terbuka lebar—keamanan harta benda sama sekali tak terlintas di pikirannya.

Neng.. panto na tutupan heula!

"Nak.. Pintunya ditutup dulu!" seru Ibu Nonoy berusaha mengingatkan.

Eh.. Neng! Sendal na!

"Eh.. Nak! Sendalnya!" Ibu Nonoy ikut berlari di belakangnya, membawa sandal yang tertinggal, namun Arien tak menoleh sedikit pun.

Baginya, harta apa pun yang ada di dalam rumah itu tak sebanding dengan satu tarikan napas anaknya. Biar apa pun yang terjadi, yang ia butuhkan saat ini hanya satu—memeluk Arumie dan memastikan anaknya baik-baik saja.

Sesampainya di depan rumah Ibu Nonoy, kerumunan orang sudah berkumpul di sana. Suara bisik-bisik tetangga terdengar samar, namun Arien tak peduli. Matanya hanya tertuju pada satu sosok kecil yang terkulai lemas dalam gendongan suami Ibu Nonoy.

Drap.. drap.. drap..

Langkah kakinya terdengar berat di atas tanah.

Tap.. tap.. tap..

Ia mempercepat langkah, napasnya memburu.

"Hosh.. hosh.. hosh.."

Dada Arien naik turun, jantungnya berpacu liar.

"Dede..!" panggilnya lirih, nyaris tak terdengar.

Begitu tangannya menyentuh tubuh kecil itu, panas yang luar biasa menyambutnya. Arien langsung mendekap putrinya erat, mencoba menyalurkan kehangatan, berusaha menahan gemetar di tubuhnya. Air mata mulai menetes tanpa izin, membasahi rambut Arumie yang lepek karena keringat.

Namun saat pipinya menempel dekat tubuh putrinya, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Hawa hangat tiba-tiba menyelimuti tubuh Arumie—bukan sekadar panas karena demam. Energi itu lembut namun kuat, menguar bersama bau yang sangat familiar. Aroma yang telah lama hilang, yang dikiranya sudah terkubur bersama masa lalu.

Hening.

Waktu seakan berhenti berputar di sekitar mereka. Kerumunan orang di luar sana seolah lenyap, tersedot pergi ke ruang lain, menyisakan hanya dirinya dan sensasi itu. Aroma itu—bau khas kekuatan yang tak boleh diketahui siapa pun.

Darah Arien membeku.

Ingatan lama yang dikunci rapat-rapat di kedalaman pikiran meledak keluar, membanjiri kesadarannya dalam sekejap mata. Semua rahasia, semua ketakutan, semua alasan untuk bersembunyi—semuanya kembali.

Ia menatap kosong ke depan, matanya membelalak, napasnya tercekat.

"Tidak mungkin... ini..." suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

Panas itu bukan demam biasa. Dan Arien tahu betul, apa yang baru saja terbangun di dalam tubuh anaknya.

^^^Bersambung...^^^

1
My_Lucia
oohh arien ini punya kelebihan ya
My_Lucia
emas lagi melambung tinggi emng 😂
tapi ini konteks nya benda sakral .. seharusnya mending di jadiin kalung atau simpen di rumah .. jadi repot kan kalau ilang begini ... beda cerita kalau emng cincinnya yang bisa teleportasi 🤭
My_Lucia
wajar sih, apalagi kalau itu benda penting ... tapi kalau penting mending taro aja di berangkas ga usah di pake.. kan aman 🤭
My_Lucia
saking gelapnya kali ya kekuatan dan auranya sampe orang lain mau napas aja susah ...
Syahira🌹
mereka dijebak nggak sih🤔
⋆˚𝜗𝜚˚⋆Blue_Sea⋆˚𝜗𝜚˚⋆
udah gk bisa ngeles/Slight/
Alia Chans
misterius banget🤭🤭🤭
⋆˚𝜗𝜚˚⋆Blue_Sea⋆˚𝜗𝜚˚⋆
cincin itu jgn jgn cincin pernikahan mrka tpi nyimpan magic di dalamnya?🤔
Mingyu gf😘
fikas, rael sudah tahu tentang cincin itu
Mingyu gf😘
wahh apakah rael sudah mencium aura cincin yang ada pada vano
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
sangat menegangkan
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
mantap ya kalau jadi orang kaya
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kenapa pada punya firasat buruk apa yang sebenarnya akan terjadi?
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Sedahsyat itu energi dari cincin tersebut. Tapi Rael mengenali persis aura itu. Tapi siapa? Dan, ada hubungan apa ya di masa lalu mereka🤔
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
tapi aku juga suka ngemilin lauk jengkol. hehehe. enaak
Arni Arlinawati Pratiwi💃: buset.. gak giung nak? apa atuh bahasa idonesia nya giung.. ah elah, ribet banget! /Curse/
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
nyesel baca novel ini blm makan siang. jdnya krucukan pas baca ini. tanggung jawab mak🤣😄
Arni Arlinawati Pratiwi💃: ha ha ha ha ha.. mamam tu jengkol! /Curse/
total 1 replies
Miranda.
sampai saat ini, kekuatan aura hanya ditunjukkan cuma sekedar "ketegangan yang mencekik" semata. belum ada adu power mereka kuat di bagian mana. hanya... lewat narasi saja yang mengatakan "mereka kuat."

semoga next bab ada adegan baku hantam sampai meninggal
Miranda.: nahh gitu dong
aku suka meninggal
total 2 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
yaampun visualnya itu loh menggugah selera /Shy/
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
cincinnya itu setara dengan kekuatan tanos kah,?
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
impian aku banget /Hey/ bisa diganti aku aja gak pemerannya nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!