Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 ~ Alat Tes Kehamilan
Pria paruh baya itu menatap wajah Evelyn beberapa saat. Kerutan di dahinya semakin dalam, jelas ia belum memahami maksud pemuda di hadapannya.
Evelyn mengembuskan napas pelan. Tanpa banyak bicara, ia merogoh dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.
Ia menyodorkannya kepada pria itu.
"Pak, anggap saja ini uang sewa kamar untuk satu bulan ke depan," ucap Evelyn pelan. "Saya tidak akan merepotkan Bapak. Saya hanya perlu masuk beberapa menit sampai rekan saya pergi."
Pria itu membelalakkan mata melihat nominal uang yang disodorkan.
"Mas, ini kebanyakan."
"Tolong saja saya, Pak," pinta Evelyn dengan nada memohon. "Setelah mobil itu pergi, saya akan langsung keluar. Bapak tidak akan dirugikan sedikit pun."
Pria paruh baya itu terdiam cukup lama. Pandangannya bergantian menatap uang di tangan Evelyn, lalu ke arah mobil yang masih terparkir di depan rumah kos.
Akhirnya ia menghela napas panjang.
"Baiklah," ucapnya pasrah. "Tapi hanya kali ini."
"Terima kasih, Pak."
Pria itu kemudian membuka gerbang lebih lebar.
"Ayo masuk."
Evelyn mengangguk pelan, lalu melangkah masuk ke area rumah kos bersama pria tersebut. Sebelum masuk lebih jauh, pria paruh baya itu sempat menoleh ke arah mobil yang masih terparkir di depan.
Tatapan mereka bertemu.
Pria itu mengangguk pelan sebagai sapaan. Haris yang masih berada di balik kemudi membalas anggukan tersebut dengan sopan.
Melihat Evan telah benar-benar masuk ke dalam area rumah kos, Haris akhirnya menyalakan mesin mobil, lalu perlahan meninggalkan tempat itu.
Begitu lampu belakang mobil Haris lenyap di balik tikungan, Evelyn yang sejak tadi menahan napas akhirnya mengembuskannya lega.
"Terima kasih banyak, Pak," ucapnya tulus. "Maaf sudah merepotkan."
Begitu lampu belakang mobil Haris lenyap di balik tikungan, Evelyn yang sejak tadi mengintip dari balik tirai jendela kamar kos itu akhirnya mampu mengembuskan napas lega.
Tanpa membuang waktu, ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sopir kepercayaan keluarga.
"Pak Darto, jemput saya di alamat yang biasa," ucapnya pelan.
"Baik, Tuan Evan. Saya segera ke sana," sahut Pak Darto di seberang telepon.
Sekitar lima belas menit kemudian, sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan rumah kos.
Evelyn merapikan pakaiannya, lalu melangkah keluar.
Pak Darto segera turun dan membukakan pintu belakang.
"Silakan, Tuan."
"Terima kasih, Pak."
Evelyn masuk ke dalam mobil.
"Kita pulang," ucapnya singkat.
"Baik, Tuan," sahut Pak Darto.
Mobil itu pun perlahan meninggalkan rumah kos, melaju menuju kediaman keluarga Harley.
Mobil melaju membelah jalanan malam yang mulai lengang. Evelyn menyandarkan kepalanya ke jok belakang. Tubuhnya terasa lemas, sementara rasa mual itu tak kunjung hilang.
Perlahan, jemarinya mengepal di atas pangkuan. Pikirannya kembali pada beberapa hari terakhir.
Ia terus-menerus mual. Nafsu makannya menghilang. Tubuhnya juga terasa jauh lebih mudah lelah dari biasanya.
Dan yang paling membuatnya gelisah... Sejak kejadian di kapal pesiar malam itu ia belum juga datang bulan.
DEG. Jantung Evelyn berdegup semakin cepat.
"Jangan-jangan..." gumamnya lirih.
Ia buru-buru menggeleng, berusaha mengusir pikiran yang terus menghantuinya.
"Tidak... itu tidak mungkin."
Namun semakin ia menyangkal, bayangan tentang malam bersama Damian justru semakin jelas memenuhi benaknya.
Tanpa sadar, Evelyn menggigit bibir bawahnya. Rasa takut mulai menyelimuti hati. Takut jika apa yang dipikirkannya benar-benar menjadi kenyataan.
"Pak Darto," panggilnya tiba-tiba.
"Ya, Tuan?" sahut sang sopir sambil tetap fokus pada jalan.
"Tolong berhenti sebentar di apotek yang masih buka."
Pak Darto melirik melalui kaca spion. "Apakah Tuan sedang tidak enak badan?"
Evelyn mengangguk pelan. "Tidak. Saya ingin membeli obat untuk luka."
"Baik, Tuan."
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah apotek yang masih terang.
Evelyn segera turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam apotek.
Ia langsung menghampiri seorang pelayan yang sedang merapikan rak obat.
"Permisi," sapanya pelan. "Apa di sini ada alat tes kehamilan?"
Pelayan wanita itu mengangguk.
"Ada, Tuan."
Namun sesaat kemudian, tatapan wanita itu berubah sedikit heran. Ia memperhatikan wajah Evan sejenak, seolah bertanya-tanya mengapa seorang pria membeli barang tersebut.
Menyadari tatapan itu, Evelyn segera berdeham pelan. "Untuk istri saya," jelasnya singkat.
"Oh... baik, Tuan," sahut pelayan itu sambil tersenyum maklum.
Ia kemudian mengambil sebuah kotak alat tes kehamilan dari balik etalase dan menyerahkannya kepada Evelyn.
"Apakah ada lagi yang Tuan perlukan?" tanyanya ramah.
"Iya," jawab Evelyn. "Sekalian obat antiseptik untuk membersihkan luka."
"Baik, silakan tunggu sebentar."
Tak lama kemudian, pelayan itu kembali dengan kedua barang tersebut.
Setelah membayar, Evelyn memasukkan kantong belanja itu ke dalam tas kerjanya, lalu berjalan keluar menuju mobil. Sepanjang langkahnya, satu doa terus terucap di dalam hati.
"Semoga semua ini hanya perasaanku saja..."
Sekitar tiga puluh menit kemudian...
Sedan hitam milik keluarga Harley akhirnya memasuki halaman utama kediaman megah tersebut.
Pak Darto menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk.
Evelyn turun sambil menggenggam erat tas kerjanya. Ia baru saja hendak melangkah masuk ketika sebuah suara menghentikannya.
"Baru pulang?"
Evelyn mendongak.
Arlos berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam mengarah kepadanya.
"Kak Arlos," sapanya tenang.
"Kenapa pulang selarut ini?" tanya Arlos. "Sampai harus meminta Pak Darto menjemputmu."
Evelyn mengulas senyum tipis.
"Tadi masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di kantor," jelasnya singkat. "Saat selesai, hari sudah terlalu malam. Jadi aku meminta Pak Darto menjemput."
Arlos mengangguk pelan, namun tatapannya masih mengamati wajah Evelyn.
"Kau terlihat pucat."
"Mungkin hanya kelelahan," jawab Evelyn sembari mengusap pelipisnya.
"Hm." Arlos menyipitkan mata. "Jangan sampai kau sakit. Ayah sedang mengandalkanmu."
"Aku tahu," sahut Evelyn singkat.
"Kalau begitu, istirahatlah."
"Baik."
Tanpa menunggu lebih lama, Evelyn segera melangkah masuk ke dalam rumah. Tangannya tanpa sadar menggenggam tas yang berisi alat tes kehamilan itu semakin erat.
Tanpa ia sadari, kebohongan yang ia ciptakan kini telah merambat ke mana-mana. Bahkan tadi, ia kembali berbohong kepada Arlos.
Bukan karena ingin menipu. Melainkan karena ia tidak punya pilihan.
Jika Arlos mengetahui dirinya baru saja keluar dari apartemen Damian Foster, pria itu pasti akan membombardirnya dengan berbagai pertanyaan. Tentang apa yang mereka bicarakan, apa yang ia lihat di sana, hingga informasi apa yang berhasil ia dapatkan.
Dan Evelyn sama sekali belum siap menghadapi semua itu. Malam ini, ia memilih mengurung diri di dalam kamar.
••
••
Keesokan paginya...
Sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui celah tirai.
Evelyn telah mengenakan kemeja putih dan jas kerjanya seperti biasa. Rambut pendeknya telah tertata rapi, sementara balutan kain kembali membungkus tubuhnya hingga tak menyisakan sedikit pun lekuk kewanitaannya.
Namun pagi itu, ada satu hal yang membuatnya tak mampu berkonsentrasi.
Di atas wastafel kamar mandi sebuah alat tes kehamilan tergeletak. Evelyn berdiri mematung di depannya, jemarinya saling menggenggam erat. Dadanya dipenuhi kecemasan.
"Tolong... jangan sampai positif."
"Tolong..."
Namun tepat saat ia hendak melangkah mendekat untuk melihat hasilnya rasa mual kembali menyerangnya.
"Uekh..."
Evelyn refleks menutup mulutnya, lalu berlari menuju kloset.
Alat tes kehamilan yang sempat disentuhnya terjatuh ke lantai, bergulir hingga berhenti tepat di depan pintu kamar mandi.
Brak!
Di saat yang bersamaan terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Evan," panggil sebuah suara dari luar. "Apa kau sudah siap? Ayah memintamu turun sekarang."
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya