Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Senja Berdarah
Senja merambat pelan di ufuk barat.
Langit yang semula bersemburat jingga mendadak berubah menjadi merah pekat—seolah matahari enggan tenggelam sebelum menyaksikan lebih banyak darah tumpah di bumi Mataram.
Di sebuah lembah sempit yang diapit hutan jati dan tebing batu, denting baja beradu tanpa henti.
Trang!
Trang!
Clang!
Jeritan manusia bercampur ringkik kuda mengguncang udara. Mayat-mayat berserakan di tanah yang telah berubah menjadi lumpur merah. Panji-panji Mataram yang tadi berkibar gagah kini tercabik, sebagian tergeletak di bawah tubuh para prajurit yang tak lagi bernapas.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria berzirah hitam berdiri tegak dengan sebilah tombak panjang di tangannya. Napasnya berat. Darah mengalir dari pelipis, bahu, hingga pahanya. Namun, sorot matanya tetap setajam elang.
Dialah Raden Jayengrana—seorang Senopati yang namanya saja sudah cukup membuat para pemberontak menyerah sebelum bertempur.
"MAJU!" Suara lantangnya menggema.
Tombaknya berputar cepat. Wuusss! Seorang prajurit musuh terpental dengan dada remuk. Belum sempat tubuh itu menyentuh tanah, ujung tombak Jayengrana telah menusuk tenggorokan lawan berikutnya. Darah menyembur tinggi.
Tak ada belas kasihan di medan perang. Tak ada ruang untuk ragu. Yang lengah... akan mati.
Namun, sesuatu terasa ganjil. Semakin lama bertempur, jumlah musuh justru semakin banyak. Padahal menurut laporan mata-mata, pasukan pemberontak hanya berjumlah lima ratus orang. Tetapi yang berdiri di hadapan mereka saat ini setidaknya ada seribu lima ratus orang. Mungkin lebih.
Jayengrana mengernyit. "Laporan ini salah... atau sengaja dibuat salah."
Belum sempat pikirannya tuntas...
"Senopati!" Seorang prajurit muda berlari menghampiri. "Sayap timur jebol! Mereka mengepung kita!"
Jayengrana menoleh. Benar saja, panji musuh telah muncul dari balik pepohonan. Mereka datang dari segala arah: utara, selatan, timur, dan barat.
Mereka telah terkepung.
Wajah Jayengrana tetap tenang, namun dadanya perlahan terasa sesak. Ini bukan pertempuran biasa. Ini adalah sebuah jebakan.
"Siapa yang membawa laporan penyergapan ini?" tanyanya pelan.
"Pamantri Wiradipa, Senopati."
Jayengrana terdiam. Nama itu menghantam pikirannya lebih keras daripada sabetan ribuan pedang.
Wiradipa—tangan kanannya, sahabat seperjuangan sejak muda, sekaligus orang yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya. Tak mungkin... Namun kenyataan di hadapannya berkata lain.
Tiba-tiba, dari balik barisan musuh terdengar gelak tawa.
"Hahaha... masih belum mengerti juga, Jayengrana?"
Seorang pria berkuda maju perlahan. Ia memakai zirah perak dan membawa keris berwarangka emas. Di wajahnya terukir senyum tipis.
"Wiradipa..." Jayengrana menggertakkan gigi. "Akhirnya kau muncul."
Pria itu mengangguk santai. "Maafkan aku, Kanjeng Senopati. Tapi... Mataram membutuhkan orang baru. Bukan orang yang terlalu jujur, melainkan orang yang mau berlutut."
Suasana mendadak sunyi. Bahkan riuh pertempuran seolah menjauh. Jayengrana menatap sahabatnya itu tanpa berkedip.
"Jadi... semua ini ulahmu?"
"Ya."
"Kenapa kau melakukannya?"
Wiradipa terkekeh pendek. "Karena kau terlalu bersih. Di istana, orang sepertimu hanya akan menjadi batu sandungan."
"Lalu mereka memintamu membunuhku?"
"Bukan." Wiradipa menggeleng. "Mereka memintaku memastikan... tidak ada jasadmu yang bisa dikenali."
Gelak tawa prajurit musuh menyambut ucapan itu.
Jayengrana menarik napas panjang. Perlahan, ia mengangkat tombaknya sekali lagi.
"Kalau begitu... ayo buktikan. Sebelum aku mati, aku akan membawa pengkhianat sepertimu ke alam kubur!"
Tatapan kedua pria itu beradu. Tak ada lagi sisa persahabatan—yang tertinggal hanya kebencian yang membakar.
Dan di bawah langit yang memerah pekat, pertempuran terakhir Sang Senopati pun dimulai.
"Ayo!"
Raungan Raden Jayengrana mengguncang lembah.
Tombak pusaka di tangannya berputar cepat, membentuk pusaran angin yang menyapu debu dan daun-daun kering. Tiga prajurit yang nekat mendekat langsung terpental. Seorang kehilangan lengan, seorang lagi dadanya jebol, sementara yang ketiga roboh dengan leher patah.
Namun, yang maju bukan hanya tiga. Bukan sepuluh. Melainkan puluhan.
Para musuh seolah tak peduli berapa banyak kawan yang tewas. Perintah mereka hanya satu: **bunuh Sang Senopati.**
"Serang bersamaan!" teriak seorang perwira musuh.
Ratusan mata tombak diacungkan, mengarah ke satu titik.
Jayengrana melompat ke samping. Tombaknya berkelebat bak naga mengamuk. Lima ujung tombak musuh patah sekaligus, disusul dua kepala yang melayang di udara.
Namun, sabetan pedang berhasil menggores punggungnya.
*Sret!*
Darah hangat membasahi zirah hitamnya. Belum sempat ia membalas, sebuah kapak menghantam bahu kirinya.
*Brak!*
Jayengrana mengerang pelan. Lengan kirinya mulai kehilangan tenaga dan terkulai, tetapi ia tetap berdiri tegak.
"Senopati!"
Beberapa prajurit Mataram yang tersisa mencoba menerobos kepungan untuk melindunginya. Jumlah mereka tinggal belasan—tubuh penuh luka dan kelelahan—namun tak ada satu pun yang berniat mundur.
"Maju bersama Kanjeng Senopati!"
"Untuk Mataram!"
Teriakan membara itu membelah udara. Sayangnya... jumlah tak pernah berbohong.
Satu demi satu prajurit setia itu gugur. Seorang pemuda yang belum genap belasan tahun bertempur menusuk musuh sebelum tubuhnya dihujani belasan tombak. Seorang prajurit tua memeluk musuh erat-erat sambil menjatuhkan diri ke dalam jurang. Yang lain roboh dengan senyum di wajahnya setelah berhasil melindungi punggung Jayengrana dari sasar anak panah.
Hingga tak lama kemudian... Jayengrana tinggal seorang diri.
Ia berdiri ringkih di tengah lingkaran musuh. Napasnya memburu. Tangan kanannya masih menggenggam erat gagang tombak, sementara tangan kirinya menggantung lemah dengan darah yang menetes dari ujung jari.
Di hadapannya, Wiradipa turun perlahan dari kudanya.
"Sudahlah. Tak perlu memperpanjang penderitaanmu," ucap Wiradipa.
Jayengrana tersenyum tipis, menyunggingkan ketegaran. "Kalau kau ingin membunuhku... majulah sendiri."
Wiradipa menghela napas. "Masih saja keras kepala."
Ia mencabut kerisnya perlahan. Warangkanya berukir kepala naga yang megah. Begitu bilahnya keluar, hawa dingin mendadak menyelimuti medan perang.
Jayengrana mengenali senjata itu: Kyai Kalasrenggi—pusaka legendaris yang konon direndam dalam darah para tahanan hukum mati.
"Ternyata... begitu rendah kau jatuh, Wiradipa."
Wiradipa mengangkat kerisnya tinggi-tinggi. "Yang menang akan dikenang, Jayengrana. Yang kalah... akan dilupakan sejarah."
Tanpa aba-aba, tubuh Wiradipa melesat. Sangat cepat!
Clang!
Tombak dan keris beradu hebat, memercikkan bunga api. Jayengrana mencobloskan tombaknya, namun Wiradipa memutar tubuh menghindar tipis dan membalas kilat.
Sret!
Ujung keris menyayat rusuk Jayengrana. Belum tuntas rasa perih itu, satu tendangan telak menghantam dadanya.
Buk!
Jayengrana terpental beberapa langkah. Namun, dengan sisa tenaganya, ia memaksa tubuhnya bangkit kembali.
Keduanya kembali bertukar puluhan jurus. Tak ada lagi kata-kata; yang terdengar hanyalah denting baja yang bersahutan dan deru napas yang memburu.
Namun, tubuh Jayengrana kian berat. Luka-lukanya terlalu banyak, dan pandangannya mulai mengabur. Wiradipa sebaliknya—ia masih segar, seolah sengaja menunggu momentum ketika kekuatan sahabatnya benar-benar habis.
Akhirnya...
Clang!
Tombak di tangan Jayengrana terlepas dan terlempar jauh. Belum sempat ia meraihnya kembali...
Duar!
Satu tendangan keras menghantam lututnya.
Krek!
Terdengar bunyi tulang yang retak. Jayengrana jatuh berlutut. Seketika, sepuluh mata tombak mengunci leher, dada, dan punggungnya. Ia tak lagi punya ruang untuk bergerak.
Wiradipa melangkah mendekat. Tatapannya dingin tanpa iba.
"Akhirnya selesai juga."
Jayengrana mendongak, menatap matanya tajam. "Apa... kau tidak takut pada pembalasan?"
Wiradipa tersenyum tipis. "Orang mati tidak bisa membalas."
Srek!
Keris Kyai Kalasrenggi dilesakkan menembus perut Jayengrana. Darah segar mengucur deras.
Jayengrana terbatuk, memuntahkan darah dari mulutnya. Napasnya tersengal-sengal hingga pandangannya meredup perlahan. Wiradipa mencabut keris itu tanpa ragu, biarkan tubuh sang sahabat ambruk tak berdaya menatap tanah.
"Buang mayatnya ke Hutan Kematian," perintah Wiradipa datar. "Jangan sampai ada yang menemukannya."
"Baik!"
Empat prajurit menyeret tubuh Jayengrana menuju hutan yang terkenal angker itu. Tak seorang pun berani menginjakkan kaki ke sana ketika malam tiba, sebab mitos mengatakan siapa pun yang mati di sana tak akan pernah bisa beristirahat dengan tenang.
Di balik rindangnya pepohonan tua... langit perlahan berubah menjadi pekat.
Anehnya, tak ada satu pun burung yang berkicau. Tak ada derik jangkrik, bahkan tak ada desir angin. Seolah seluruh isi hutan sedang menahan napas... menunggu sesuatu melahirkan kebangkitan.