NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Aku melangkah menuruni anak tangga dengan perasaan berat yang menyeret setiap kakiku. Di lantai dasar, G sudah berdiri tegak seperti patung, menungguku dengan kesabaran yang mekanis. Saat ia melihatku mencapai anak tangga terakhir, ia sedikit menunduk sebuah gestur hormat yang terasa hambar.

​"Mari, Nona. Mobil sudah siap," ucapnya singkat.

​Ia memberi jalan, membiarkanku melangkah mendahuluinya menuju pintu utama yang besar. Udara di luar terasa berbeda, namun tidak memberikan kelegaan apa pun bagiku. Di depan teras, sebuah mobil hitam mengkilap sudah terparkir dengan mesin yang menyala halus, menunggu untuk membawaku ke destinasi yang telah ditentukan Abhinav.

​G membukakan pintu mobil dengan gerakan yang presisi. Aku masuk ke dalam, merasakan interior mobil yang dingin dan senyap, seolah-olah ruang gerakku kini semakin menyempit meski aku telah meninggalkan rumah. Begitu G masuk dan duduk di samping kursi pengemudi, mobil pun perlahan bergerak maju, membawaku menjauh dari rumah itu menuju tanggung jawab yang sama sekali tidak kuinginkan.

Di dalam kabin mobil yang senyap, hanya deru mesin halus yang menemani. Aku menoleh ke arah G yang duduk di samping kemudi dengan posisi tubuh yang terlalu tegak.

​"G," panggilku pelan, mencoba memecah kekakuan di antara kami. "Panggil saja aku Caca. Tidak perlu memanggilku 'Nona', rasanya terlalu formal dan asing."

​G melirik sekilas dari balik spion tengah, matanya tidak menunjukkan secercah pun kehangatan. "Maaf, nona. Perintah Tuan Abhinav adalah mutlak. Jabatan nona adalah calon istri beliau, dan bagi saya, protokol adalah bentuk loyalitas tertinggi."

​Aku menghela napas, mencoba melunakkan suasana. "Tapi bukankah kita akan menghabiskan waktu bersama cukup lama? Tidak bisakah kamu sedikit lebih santai? Kamu tidak perlu setegang itu setiap saat jika hanya ada kita berdua."

​G tidak menoleh sedikit pun, ia tetap fokus pada jalanan dengan tatapan lurus yang tajam. "Tegangan yang nona sebutkan adalah bentuk kewaspadaan, bukan sekadar gaya hidup," jawabnya datar dan dingin. "Jika saya bersantai, itu artinya saya sedang lengah. Dan dalam dunia Tuan Abhinav, kelengahan adalah celah bagi bencana. Saya tidak dibayar untuk berteman dengan nona, saya dibayar untuk memastikan nona tidak memiliki celah untuk melarikan diri atau melakukan sesuatu yang akan membuat Tuan menyesali keputusannya."

​Jawaban itu menusuk tepat di ulu hatiku, membuat udara di dalam mobil mendadak terasa tipis dan menyesakkan. Ia bukan hanya pengawal, ia adalah penjara berjalan yang memastikan setiap langkahku tetap berada dalam garis yang telah ditentukan pria itu.

Kurang dari 30 menit, mobil yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah butik eksklusif dengan eksterior yang elegan. G turun lebih dulu, membukakan pintu untukku dengan gerakan yang tetap kaku dan formal. Begitu aku melangkah masuk, aroma kain sutra dan parfum mahal menyambut, diikuti oleh sambutan ramah dari sang desainer utama yang sudah menungguku.

​Setelah basa-basi singkat mengenai prosedur pemilihan, desainer itu tersenyum manis lalu memberi isyarat kepada asistennya untuk membuka tirai ruang pamer di bagian dalam. "Tuan Abhinav secara khusus telah memesan koleksi terbaru ini jauh-jauh hari untuk Anda, Nyonya," ucapnya dengan nada bangga.

​Namun, saat tirai itu terbuka sepenuhnya, napasku justru tertahan. Kakiku terasa lemas hingga aku harus mencengkeram pinggiran meja di dekatku. Gaun-gaun yang terpajang di sana bukan sekadar gaun pernikahan biasa itu adalah gaun-gaun yang selama ini hanya tersimpan dalam sketsa di buku catatanku gaun impian yang pernah kuimpikan bertahun-tahun lalu, dengan detail renda dan potongan yang persis dengan seleraku.

​Kepalaku berdenyut, bingung sekaligus ngeri. Sejak kapan Abhinav menyiapkan semua ini? Bagaimana mungkin dia bisa tahu persis detail gaun yang selama ini kusimpan rapat-rapat sebagai rahasia terdalamku? Tatapan G yang tajam dari sudut ruangan seolah menjadi pengingat bahwa tidak ada satu pun sisi hidupku yang tidak berada di bawah kendali pria itu.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!