NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

​"Iya..." jawab Nadya pelan.

​Mulanya ia menatap heran pada pria yang tiba-tiba menerobos masuk ke kamarnya itu. Postur tegap itu begitu familier, sangat mirip dengan sosok yang baru saja hadir di mimpinya. Namun, sedetik kemudian kesadarannya tersentak penuh. Pria di hadapannya ini nyata. Dia adalah Rexsaka Pramuja, lelaki pujaannya my little T-Rex yang teramat sangat ia rindukan.

​"Kak Rex? Kamu... di sini?" Nadya memastikan sekali lagi, suaranya bergetar halus seolah takut jika sosok di depannya ini hanyalah delusi akibat efek obat bius.

​"Hmm." Hanya dehaman pendek yang lolos dari sela bibir dengan garis wajah yang mengeras kaku itu. Tanpa berniat memperpanjang percakapan, Rexsaka memutar tubuh, bersiap untuk melangkah pergi dari sana.

​Namun, sebelum pria itu sempat menjauh, jemari Nadya bergerak lebih cepat. Ia menahan pergelangan tangan kekar Rexsaka, mencengkeramnya erat.

​"Sejak kapan... sejak kapan Kak Rex pulang?" tanya Nadya sedikit terbata.

Matanya menatap lekat, mencari jawaban di balik ketegasan wajah pria itu. Di dalam dadanya, sebuah harapan membubung tinggi, menanti kepastian apakah kehangatan yang baru saja ia rasakan dalam tidurnya benar-benar hanya sekadar bunga tidur atau justru sebuah kenyataan.

​Namun, rasa sesak akibat kerinduan yang teramat dalam tak lagi mampu ia tampung. Menyaksikan tubuh tegap itu kini nyata berdiri di hadapannya, Nadya tak sanggup lagi menunggu jawaban. Tanpa memedulikan rasa sakit di perutnya, ia langsung menghambur maju dan mendekap erat tubuh kokoh pria itu, menenggelamkan seluruh rindunya di sana.

​"Aku merindukanmu, Kak Rex..." bisiknya lirih, membiarkan pengakuan jujur itu teredam di dada bidang pria itu.

​Rexsaka mendengar setiap jengkal bisikan itu dengan jelas. Namun, ia tetap bergeming, tidak ada kata menenangkan, tidak pula ada gerakan untuk membalas dekapan hangat Nadya.

​"Saya tiba dini hari tadi, Nona. Dan maaf, saya harus pergi," ucap Rexsaka dingin.

​Pria itu kemudian mengurai pelukan mereka. Ia mendorong lembut bahu Nadya untuk menciptakan jarak, sebuah tindakan yang dilakukan dengan sangat hati-hati karena ia tahu betul tubuh ringkih itu tengah didera luka pascaoperasi. Tanpa menunggu respons lebih lanjut, Rexsaka memutar tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan ruangan. Ia pergi begitu saja tanpa sekali pun menoleh ke belakang, mengabaikan paras cantik di hadapannya yang kini telah basah oleh lelehan air mata.

​Nadya tertegun di tempatnya berdiri. Namun, kesedihan itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, ia menyeka kasar air mata di pipinya saat rasa haru itu mendadak menguap, digantikan oleh jengkel yang membubung ke ubun-ubun.

​"Dasar kulkas berjalan tidak punya hati!" gerutu Nadya kesal. "Bukannya bersimpati atau minimal bertanya badanku masih sakit atau tidak, malah langsung pergi begitu saja!"

​Alih-alih terus meratapi sikap kaku Rexsaka yang sudah hapal di luar kepala, Nadya mengembuskan napas panjang untuk mengusir sisa kekesalannya. Prioritasnya kini berubah. "Lebih baik aku mencari di mana kamar rawat Paman Amar," gumamnya pada diri sendiri.

​Baru saja hendak melangkah, Nadya tiba-tiba menepuk dahinya pelan. "Astaga! Kenapa tadi tidak sekalian kutanyakan pada si T-Rex itu saja, sih?!" rutuknya meratapi kebodohan sendiri. Sekarang, mau tidak mau ia harus merepotkan diri berjalan jauh ke bagian administrasi hanya untuk mencari tahu di mana letak kamar rawat Paman Amar.

​"Mana baru juga siuman, seluruh badan rasanya remuk semua begini. Tapi kepalaku tidak akan bisa tenang kalau belum melihat keadaan Paman Amar sekarang," omelnya panjang pendek sepanjang koridor.

​Sambil terus menggerutu, ia melangkah tertatih menyusuri lorong rumah sakit. Satu tangannya bergerak memegangi perut yang masih terasa nyeri, sementara tangannya yang lain terpaksa menjinjing dan menyeret tiang infus beroda yang menjadi penopang langkah ringkihnya demi menemukan sang sopir kesayangan.

​Sementara itu, sang sumber kekesalan baru saja melangkah masuk ke dalam kamar rawat ayahnya. Tanpa banyak suara, Rexsaka meletakkan tas kecil dan kantong kresek bawaannya di atas meja sudut ruangan.

​"Ayah belum makan?" tanya Rexsaka saat netranya menangkap nampan sarapan dari rumah sakit yang masih tersaji utuh, sama sekali belum tersentuh.

​"Ayah belum selera, Ka," jawab Amar lirih. Wajah pria paruh baya yang masih dipenuhi sisa lebam kebiruan itu menyiratkan kecemasan yang mendalam. Pikirannya telanjur tertambat pada keadaan nona mudanya, gadis yang kemarin bertaruh nyawa demi melindunginya. "Kamu tidak ke kamar Nona Nadya? Bagaimana keadaannya, apa dia sudah sadar?" tanya Amar beruntun, tak mampu menyembunyikan rasa risalaunya.

​"Sudah, Yah. Dia sudah siuman," jawab Rexsaka pendek. Ia mulai sibuk menggeser meja dorong ke atas brankar, lalu menata mangkuk putih berisi bubur hangat beserta kondimen rumah sakit agar sang ayah bisa makan dengan nyaman.

​"Syukurlah..." Amar bernapas lega. Namun, keningnya tiba-tiba berkerut saat melihat Rexsaka mengeluarkan beberapa bungkusan yang sudah penyek tak berbentuk dari dalam kantong kresek. "Kamu habis ngapain? Kenapa makanan nya bisa berantakan begitu?"

​Rexsaka mengembuskan napas panjang. Ia menarik kursi ke samping brankar, lalu duduk di sana sembari menatap lurus manik mata sang ayah. "Yah, nama orang yang menyerang ayah kemarin adalah Arnold. Barusan dia datang ke kamar Nona Nadya," ucap Rexsaka dengan nada rendah yang sarat akan keseriusan.

​"Astaga, Nak!" Amar tersentak hingga hampir menegakkan punggungnya. Kepanikan seketika merayap di dadanya saat mengingat betapa brutalnya pria bernama Arnold itu kemarin, menamparnya tanpa belas kasih, bahkan nekat menghujamkan pisau. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada putri majikannya itu, terlebih di saat kedua orang tua Nadya belum juga kembali. "Lalu bagaimana? Nona Nadya baik-baik saja, kan?!"

​"Dia belum sempat masuk, Yah. Saka berhasil menghadangnya tepat saat dia hendak membuka pintu kamar. Tapi sayang... dia berhasil meloloskan diri."

​Kegusaran nampak begitu jelas menggores wajah keriput Amar. Ia menatap lekat paras sang anak yang tetap bergeming datar, seolah tak terpengaruh oleh badai yang baru saja terjadi. Meskipun sebetulnya Amar kerap merasa kurang nyaman dengan perasaan sepihak Nona Nadya kepada putranya, tapi melihat situasi berbahaya yang dihadapi gadis manis itu, yang kini telah menjadi malaikat pelindung nyawanya, hati nurani Amar benar-benar tersentuh.

​"Ka, apa kamu tidak bisa membantu?"

​Rexsaka kembali menatap wajah ayahnya. Matanya mencoba mencari keseriusan di sana, sebab ia tahu betul bahwa selama ini sang ayah adalah orang pertama yang paling tidak suka jika dirinya terlibat apa pun dengan Nadya akibat perasaan gadis itu.

​"Itu bukan urusan kita, Yah," jawab Rexsaka akhirnya. Nada suaranya dingin dan mutlak, enggan kembali terseret ke dalam lingkaran masa lalu tiga tahun silam, sebuah masa di mana ketulusannya berakhir tak dihargai oleh seseorang dan meninggalkan luka dalam di hatinya.

​"Tapi, Ka..." Ucapan Amar seketika terputus oleh suara klik dari pintu yang terbuka.

​Di ambang pintu, berdirilah seorang gadis dalam balutan pakaian pasien rumah sakit, lengkap dengan tiang infus beroda yang dipeganginya erat.

​"Nona? Kenapa ke sini? Nona kan belum pulih, kenapa sudah nekat berjalan-jalan?" cecar Amar kaget bercampur khawatir begitu melihat kehadiran sang nona muda.

​Nadya tidak langsung menjawab. Ia menutup pintu rapat-rapat, lalu melangkah tertatih mendekati brankar Amar. Matanya memanas saat menatap kondisi pria paruh baya itu yang terlihat jauh lebih mengenaskan darinya.

Wajahnya penuh lebam, dan kaki kirinya harus dibalut gips tebal, kemungkinan besar mengalami patah tulang. Meski luka dalam Nadya jauh lebih berbahaya karena berupa luka tusukan, setidaknya fisik luarnya tampak bersih dari lecet, terkecuali pipinya yang masih menyisakan memar kebiruan akibat tamparan Arnold kemarin.

​Pandangan Nadya kemudian beralih pada Rexsaka. Pria itu langsung berdiri dari kursinya tanpa mengucap sepatah kata pun, hanya menatapnya datar. Seolah sengaja memberikan ruang bagi Nadya untuk berbicara berdua dengan ayahnya, Rexsaka memilih melangkah mundur, duduk di sofa sudut ruangan, dan menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!