Sinta percaya pernikahan 10 tahun cukup buat bikin dia kenal Mas Arga luar-dalam. Sampai hari itu dia nemu kunci kuning polos di laci meja. Gantungan kulitnya lecet. Bukan kunci rumah mereka.
"Sayang, ini kunci apa?"
"Oh itu... kunci kantor lama. Lupa kebuang."
Sinta ngangguk. Tapi malamnya dia nggak bisa tidur. Wangi parfum asing di jaket suaminya, chat yang dihapus, dan "lembur" yang makin sering. Rasa curiga itu tumbuh kayak jamur.
Dia mulai nguntit. Dia ngitung lampu apartemen Lantai 7 Unit 704 nyala jam berapa. Dia ketemu "R" - cewek berdress hitam dengan senyum yang bikin darah Sinta dingin.
Semakin Sinta gali, semakin hancur dunianya. Ada kebohongan, ada anak yang mulai bertanya "Ibu kenapa nangis?", ada mertua yang bela anaknya, dan ada pilihan paling berat: memaafkan yang nyakitin, atau balas dengan cara yang lebih sakit?
karena kadang, yang paling dekat..... paling pandai menyimpan kunci cadangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru yang takut nikah
BEKASI.
Yaya umur 69. Rambut udah full putih. Jalan pake tongkat. Tapi tiap pagi masih bikin kopi Argaya.
Raka umur 71. Pensiun total. Kerjanya cuma 1: nemenin Yaya.
Ara umur 49. CEO Plester. Anaknya udah 3.
Luna umur 45. Kepala HRD Plester.
Naya umur 47. Ini fokusnya.
Rayya umur 46. Udah punya "Rumah Singgah Plaster" di 10 kota. Belum nikah lagi.
Naya. Guru SD. 20 tahun ngajar. Disayang murid. Disayang ortu murid.
Cantik. Kalem. Pinter. Tapi... belum nikah.
Bukan karena nggak ada yang mau. Lamaran dateng tiap tahun.
Alasannya cuma 1: "Tante takut."
Takutnya Naya: "Gimana kalo aku kayak Kakek? Gimana kalo aku kayak Rayya?"
Dia liat dari kecil: Kakek selingkuh. Mama + Papa berantem karena Ara. Kak Rayya diceraiin.
Di kepalanya: "Nikah \= Retak."
Hari Biasa Naya
Jam 5 pagi. Naya udah di dapur. Bikin bekal buat Yaya + Raka.
"Mah, Pa, sarapan."
Yaya: "Nak, kamu kapan sarapan sama suami kamu?"
Naya ketawa. "Aku udah nikah sama murid-murid aku Mah."
Murid-muridnya manggil dia "Tante Plester". Karena tiap ada anak berantem, Naya selalu ngeluarin plester Hello Kitty. "Nih, tempel. Terus maafan."
Masalah Dateng: Lamaran ke-12
Namanya Dimas.45 tahun. Duda. Guru juga. Anak 2. Baik. Sabar. Udah 3 tahun deketin Naya.
Hari ini dia resmi lamar. Ke rumah. Bawa orang tua. Bawa kue.
Duduk di ruang tamu. Wewangian melati.
"Bu Yaya, Pak Raka... saya Dimas. Saya serius sama Naya. Saya tau keluarga Ibu hebat. Saya mau belajar jadi plester juga."
Yaya + Raka senyum. "Kami setuju Dim. Asal Naya setuju."
Semua nengok ke Naya.
Naya diem. Tangannya dingin. 10 menit. Terus... "Maaf... aku belum bisa."
Dimas diem. Ortu Dimas pulang.
Malamnya Naya nangis di kamar. Sendiri.
Yaya ngetuk. "Boleh Mama masuk?"
"Boleh Mah."
Yaya duduk di pinggir ranjang. "Sakit ya Nak?"
Naya angguk. "Sakit Mah. Sakit nolak orang baik. Tapi lebih sakit kalo aku nikah terus nyakitin dia."
Yaya peluk. "Nak... denger ya. Keluarga kita emang banyak retaknya. Tapi tau nggak bedanya kita sama keluarga lain?"
"Apa Mah?"
"Kita nggak takut retak. Kita tau cara nempelinnya."
Keputusan: "CUTI 1 TAHUN"
Naya minta cuti ngajar 1 tahun. "Aku mau keliling Mah. Ke Rumah Singgah Plaster punya Kak Rayya. Aku mau denger cerita orang."
Yaya setuju. "Pergi Nak. Cari jawabanmu sendiri."
3 Bulan Pertama: Surabaya
Naya tinggal di Rumah Singgah Plaster. Sekamar sama 5 cewek korban KDRT.
Tiap malem ada "Lingkar Cerita". Duduk melingkar. Cerita. Nangis. Ketawa.
Naya yang biasanya pendiem, jadi pendengar.
Ada Mbak Rina. Umur 40. Dipukulin suami 10 tahun. "Tante, aku dulu juga takut nikah lagi. Tapi disini aku belajar... nikah itu bukan penjara. Nikah itu rumah."
Ada Mas Bowo. Umur 35. Istrinya selingkuh. "Tante, aku dulu benci kata 'maaf'. Tapi liat anakku, aku belajar maafin buat anakku."
Naya nulis di buku: "Retak itu nyata. Tapi sembuh juga nyata."
Papua
Naya ngajar di SD pelosok 3 bulan. Nggak ada sinyal. Nggak ada plester.
Anak-anak disana berantem pake batu. Naya bingung. Terus dia ngajarin mereka bikin "plester dari daun". Ditempel di luka. Sambil bilang "maaf".
Kepala sekolah bilang: "Bu Naya, Ibu ngajarin kami... yang retak itu bukan cuma kulit."
Naya nangis di pondok. Telepon Yaya. "Mah... aku ngerti sekarang. Aku takut bukan karena nikah. Aku takut karena aku nggak percaya sama diri aku sendiri."
Balik ke Bekasi
Naya balik. Kurus. Tapi matanya beda. Lebih terang.
Dia langsung ke rumah Dimas. Tanpa bilang siapa-siapa.
Dimas bukain pintu. Kaget. "Naya?"
Naya megang tangan Dimas. "Aku minta maaf. Aku penakut. Tapi aku mau belajar berani. Sama kamu. Boleh?"
Dimas diem. 5 detik. Terus peluk. "Boleh. Aku nungguin."
1 Tahun Kemudian. 2123. Pernikahan Naya
Nggak mewah. Di halaman rumah Bekasi. Bawah pohon melati.
Tamu: 17 cucu + 30 anak dari Rumah Singgah + murid-murid Naya.
Yang nikahin: Ara.Kakaknya.
Yang jadi saksi: Rayya.
Yang pegangin buket: 2 anak Ara.
Yang duduk di kursi pelaminan sebelah: Yaya + Raka.
Pas ijab kabul, Naya gemeter. Dimas genggam tangannya kenceng.
"SAH."
Semua tepuk tangan. Ada yang nangis.
Pidato Naya 1 kalimat: "Aku Naya. 47 tahun takut nikah. Hari ini aku nikah. Karena aku belajar... plester paling kuat itu... keberanian buat nyoba lagi."
Malam Pertama di Rumah Baru
Rumahnya deket rumah Yaya. 2 rumah. Ada pintu tembus.
Naya + Dimas duduk di teras. Nggak ngomong. Cuma pegang tangan.
Dimas: "Takut?"
Naya: "Takut. Tapi ada kamu."
Dimas: "Aku juga takut. Tapi ada kamu."
Mereka ketawa.
5 Tahun Kemudian.
Naya umur 52. Punya 2 anak. Kembar. Cowok cewek.
Dia balik ngajar. Tapi sekarang buka "Sekolah Plaster". Sekolah gratis buat anak korban perceraian ortu.
Kurikulumnya: Matematika, Bahasa, dan "Pelajaran Nempel". Isinya: cara minta maaf, cara dengerin, cara peluk.
Yaya umur 74. Udah nggak bisa jalan. Duduk di kursi roda. Tapi tiap hari ke Sekolah Plaster. Duduk di pojok. Ngeliatin cucu-cucu baru.
Suatu hari ada anak baru. Umur 7. Namanya Arga.Anak korban cerai. Pendiem banget.
Hari pertama dia diem di pojok. Naya deketin. Kasih plester.
"Mas, mau ditempel?"
Arga kecil geleng.
Naya duduk sebelah. "Nggak apa-apa. Nanti kalo mau, panggil Tante ya."
Jam pulang. Arga kecil narik baju Naya. "Tante..."
"Ya Nak?"
"Tempelin aku... aku retak..."
Naya tempelin plester di jari Arga yang lecet. Terus peluk.
Dari jauh Yaya liat. Air matanya jatuh.
Raka bisik: "Dia kayak kamu dulu Ya."
Yaya senyum. "Iya Pa. Lingkaran. Retak. Nempel. Retak lagi. Nempel lagi."
Malamnya di rumah. Yaya kumpulin semua. 4 generasi.
"Anak-anak... Mama udah tua. Mama nggak tau sampai kapan. Tapi Mama mau pesen 1."
"Plester itu bukan produk. Plester itu kita. Kita yang milih tinggal. Kita yang milih maaf. Kita yang milih pulang."
Rayya yang paling keras, nangis. "Iya Ma."
Ara yang paling sibuk, diem. "Iya Ma."
Naya yang paling penakut, genggam tangan Dimas. "Iya Ma."
Yaya Umur 76.
Yaya wafat. Tidur. Di kursi goyang. Sambil pegang plester emas peninggalan Nenek Sinta.
Pemakamannya rame. 1000 orang. Dari 10 negara. Dari Rumah Singgah. Dari Sekolah Plaster.
Di nisannya nggak ada tulisan panjang. Cuma:
"YAYA PERMANA. 2053 - 2130. IBU PLASTER."
Di bawahnya, tulisan kecil tulisan Rayya:
"MAKASIH MA. UDAH NGAJARIN KAMI... KALO KELUARGA ITU BUKAN YANG NGGAK PERNAH RETAK. TAPI YANG NGGAK PERNAH NYERAH NEMPEL."
Malamnya, 4 anak Yaya tidur lesehan di rumah Bekasi. Kayak 70 tahun lalu.
Ara. Rayya. Naya. Anak-anak mereka. Cucu-cucunya.
Di tembok, ada tulisan baru. Tulisan Naya:
"RUMAH INI BOLEH KOSONG ORANGNYA. TAPI NGGAK BOLEH KOSONG CINTANYA. 2123 - SELAMANYA."
Di luar, pohon melati wangi. Di langit, 3 bintang paling terang.
Arga. Sinta. Yaya.