NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:845
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 25

“Jaga bicaramu, Amelia. Semakin hari kau semakin tidak tahu aturan.” Kali ini Hanan tak tahan untuk hanya diam saja.

“Baik.”

Amelia diam begitu saja. Meski begitu suasana di ruang rawat Rosa masih terasa tegang. Gadis itu tampak acuh tak acuh, sementara keluarganya menatap dengan rasa benci. Lagi pula Amelia tak memiliki pembelaan apa pun.

Untuk hari ini saja, Amelia ingin mengungkapkan keluh kesahnya sebelum pada akhirnya akan kembali ke mode penurut tanpa bisa memilih.

“Kau tidak bisa lari dari tanggung jawabmu begitu saja. Rosa begini juga karenamu.” Jetro muncul entah dari mana membuat Amelia menaikkan pandangannya, tapi tak memberi respons lebih, meski hatinya bergemuruh hebat.

“Abaikan dia, El.”

Jetro berdecih sinis karena kali ini reaksi gadis itu tak sesuai dengan ekspektasinya.

“Sekali lagi kutegaskan untuk menjaga Rosa, Amelia. Dia sedang sakit dan tidak bisa sembarangan mengonsumsi makanan. Lain kali tidak ada kecerobohan seperti ini lagi.”

Amelia hanya diam mendengarkan perkataan ayahnya. Semua sikap perlawanannya ini atas dasar doktrin Kanaya sebelum mereka sampai di rumah sakit.

“Pokoknya aku tidak mau tahu. Kamu harus melawan mereka nanti. Setidaknya untuk hari ini saja. Besok-besok jika kamu ingin kembali ke setelan awal terserah saja.”

Amelia menarik napas panjang, meski dia tampak begitu berbeda, tapi dia sudah menghabiskan seluruh tenaganya untuk perlawanan yang baru saja dilakukan. Tidak ada lagi tenaga tersisa untuk melakukan hal lain.

Setelah suasana tegang mereda, Amelia hanya duduk di samping ranjang Rosa dengan mulut terkatup rapat.

“Maaf, Mel. Maaf kalau aku sering merepotkanmu. Karenaku kamu selalu mendapat masalah.” Rosa memandangi adiknya yang menunduk.

“Tidak perlu meminta maaf. Ini memang kelalaianku. Bagaimana pun juga aku harusnya lebih berhati-hati karena ini menyangkut keselamatan Mbak. Aku yang harusnya minta maaf.” Amelia mendongak dan menatap mata sayu kakaknya.

“Jadi, sekarang kita berbaikan, ‘kan?” Rosa menatap adiknya penuh harap.

“Memangnya sejak kapan kita tidak baik? Tidak perlu dipikirkan. Istirahat saja.”

Mendengar jawaban Amelia membuat Rosa lega. Wanita itu benar-benar takut jika hubungannya dengan sang adik kembali merenggang.

Setelah insiden makan malam itu, Amelia tak menyentuh apa pun lagi untuk mempersiapkan makan mereka bertiga, bahkan setelah kakaknya keluar dari rumah sakit. Hanan memutuskan memperkerjakan seorang pembantu dan itu sebenarnya cukup membantu untuk Amelia, dia hanya ke dapur untuk menyiapkan makanannya sendiri.

“Mel, apa yang kamu masak?” Kakaknya lagi-lagi muncul saat dia memasak.

“Hanya roti panggang untuk sarapan.” Amelia menghidangkan sarapan miliknya di atas meja.

“Sepertinya enak, aku juga mau.” Rosa duduk di depan adiknya itu.

“Tidak bisa, Mbak harus makan masakan Bibi. Aku tidak mau kesalahanku sebelumnya terulang lagi. Dia akan marah kalau Mbak makan masakanku.”

Yang dimaksud oleh Amelia tentu saja Hanan. Semenjak diberi peringatan oleh pria itu, Amelia benar-benar tak pernah memanggil ‘mas’ pada Hanan karena dia cukup tahu diri untuk tidak memaksakan keadaan.

“Mel, kenapa kamu masih canggung begitu? Biasanya kamu juga memanggil Mas Hanan. Sekarang Mas Hanan juga suami kamu.”

Amelia benci saat diingatkan fakta ini. Benci karena status yang harusnya membahagiakan saat menikah dengan orang yang dicintai harus berubah menjadi sebuah kebencian dan keengganan karena cinta datang pada waktu dan orang yang salah.

“Kami masih orang asing, Mbak.”

Rosa ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya yang terbuka kembali dia katupkan melihat Amelia yang tampak enggan membahasnya.

Sampai selesai sarapan, suasana masih tak terlalu menyenangkan sehingga Rosa tak mengatakan banyak hal.

Amelia buru-buru menghabiskan sarapannya. Bahkan sebelum kedua orang lainnya di ruang makan itu menghabiskan setengah makanannya, gadis itu sudah berdiri.

“Aku ke kamar dulu.”

Rosa langsung mendongak begitu menyadari gerakan adiknya itu.

“Eh, kamu sudah selesai? Kenapa makan begitu sedikit, Mel? Ayo makan lagi.”

“Tidak, aku sudah selesai.” Amelia mendorong rapat kursinya ke meja makan.

“Duduk.”

Suara Hanan jatuh membawa keheningan yang terasa mulai mencekam. Nada suaranya datar tanpa intonasi, tapi sukses membuat Amelia terpaku.

“Aku bilang duduk.”

Kini Amelia benar-benar yakin bahwa kalimat itu ditujukan untuknya, tapi apa gunanya? Gadis itu benar-benar bingung dengan sikap pria itu yang seharusnya senang saat dia memilih menjauh. Namun, di saat dia sudah mengambil keputusan, Hanan justru berusaha menahannya.

Tanpa banyak pertanyaan, Amelia akhirnya menarik kembali kursi yang telah dia dorong ke meja dan duduk dengan tenang. Kepalanya begitu berisik, meski di luar dia tampak begitu tenang.

Gadis itu senantiasa menatap ke luar jendela dapur yang menampilkan cuaca cerah.

“Pemandangan di balkon kamar Kanaya pasti menakjubkan,” gumam Amelia tanpa sadar terdengar oleh kedua orang yang harus aja menyelesaikan sarapan mereka.

“Pemandangan apa, Mel?” Rosa tampak kebingungan.

“Jangan terlalu banyak bergaul dengan gadis itu. Dia membawa pengaruh buruk di keluarga ini.” Hanan menimpali.

Amelia menoleh dengan alis menukik tajam. Tentu saja dia tidak setuju dengan prasangka buruk tentang temannya itu.

“Kamu bahkan tidak tahu bagaimana sosok Kanaya sebenarnya. Hanya mendengar satu pernyataan dan kalian sudah mengatakan bahwa dia membawa pengaruh buruk. Itu tidak masuk akal dan aku tidak akan melakukan apa pun yang kamu katakan.”

Amelia mungkin bisa sabar untuk banyak hal, tapi setiap kali orang-orang ini mengatakan bahwa sahabatnya membawa pengaruh buruk membuat hatinya mendidih. Hanya Kanaya dan keluarganya yang selama ini selalu hadir untuknya memberikan kesan bahwa keluarga tak harus selalu sedarah.

“Kamu tidak tahu apa yang baik dan benar. Jika kubilang jauhi maka kamu harus menjauhinya.” Hanan tak lagi fokus pada makanannya, kini pria itu melayangkan tatapan penuh ancaman pada Amelia.

“Kamu pikir kamu siapa?” Amelia menatap remeh pria itu.

“Amelia! Aku ini suamimu!”

Hanna tanpa sadar menggebrak meja hingga membuat kedua perempuan di dekatnya terkejut. Amelia segera menetralkan rasa terkejutnya dan semakin tersenyum sinis mendengar kalimat Hanan.

“Suami? Status kita hanya sebatas hitam di atas putih. Aku tidak berharap kamu begitu niat melakukannya sampai mengakuinya sekarang. Hentikan, itu benar-benar menjijikkan. Lebih baik urus saja istri kesayanganmu itu.”

Amelia melirik Rosa yang sedari tadi menunduk dengan tangan di dada berusaha menahan sesak yang tiba-tiba menyerang. Lagi-lagi kakaknya itu berada di situasi yang tidak menguntungkan. Sayang sekali dia harus hidup di tengah-tengah keluarga yang kacau ini.

“Sa?” Hanan langsung bereaksi dan membawa Rosa ke kamar mereka.

Amelia memperhatikan setiap gerak-gerik dan kekhawatiran di wajah Hanan. Dia tidak bohong saat mengatakan bahwa pengakuan Hanan barusan terdengar sangat menjijikkan. Dengan tatapan kebencian yang selalu dilayangkan oleh pria itu, berani-beraninya dia mengakui status mereka, sementara hubungan mereka sendiri didasari oleh keterpaksaan.

“Suami? Dia pasti sedang melawak.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!