NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racikan penglaris

##BAB 29 - Racikan Penglaris

Setelah malam ritual jahanam yang menguras kesadaran itu akhirnya usai, berkas sinar matahari pagi mulai menyongsong dari ufuk timur. Cahayanya merambat perlahan menembus celah-celah jendela kios bakso yang masih tertutup rapat, berbaur dengan sisa udara dingin malam yang perlahan mulai berganti dengan kesegaran pagi.

Rahmat perlahan terbangun dari tidur lelapnya di atas tikar pandan kamar khusus tersebut. Tubuhnya terasa sedikit pegal, namun semangat ketamakan di dalam dadanya langsung berkobar begitu mengingat wadah tanah liat yang berhasil ia amankan semalam. Tanpa membuang waktu, ia segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menyegarkan diri.

Setelah itu, Rahmat langsung melangkah cepat menuju ke dapur utama kios. Di ruangan penuh kepulan uap tersebut, ia mulai meracik bumbu-bumbu rahasia untuk kuah bakso dagangannya. Dengan gerakan yang terampil namun penuh rahasia, Rahmat mengambil cairan keramat hasil ritual semalam yang sudah ia satukan dan rendam bersama selembar celana dalam milik istrinya. Tanpa rasa jijik sedikit pun, ia memasukkan seluruh campuran menjijikkan itu ke dalam kuali besar tempat kuah bakso mendidih, membiarkan rahasia kelam itu menyatu sempurna dengan aroma kaldu yang sebentar lagi akan dinikmati oleh ratusan pelanggan setianya.

Sementara itu, Ratna yang menjadi korban utama dari ritual terkutuk malam Kliwon tersebut, hingga kini masih tampak terlelap dalam tidur dalamnya. Ia terbaring dengan kondisi yang teramat mengenaskan di atas tikar pandan. Raut wajahnya pucat pasi bagai kekurangan darah, dan napasnya terdengar begitu berat membebani dadanya.

Tidak hanya itu, jika diperhatikan lebih dekat, tampak beberapa bekas lebam kebiruan yang ganjil di beberapa titik tubuhnya, terutama di bagian kedua pergelangan tangannya—bekas luka yang seolah menjadi tanda bisu betapa kasarnya cengkeraman kekuatan gaib yang telah merenggut paksa kesadaran dan mengendalikan raganya sepanjang malam jahanam kemarin.

Akhirnya, Rahmat pun berhasil menyelesaikan seluruh tugas menjijikkannya di dapur pagi itu. Setelah memastikan racikan penglarisnya menyatu sempurna ke dalam kuali bakso, ia lantas berjalan tergesa-gesa kembali ke kamar belakang untuk membangunkan istrinya. Di dalam benaknya, rasa cemas mulai merayap; ia sangat takut kalau sampai ketahuan oleh para karyawannya yang sebentar lagi akan datang, jika ia dan istrinya sengaja menginap dan melakukan hal aneh di dalam kios tersebut.

"Bu... Bu... Bu, bangun, sudah pagi. Ayo kita cepat-cepat pulang. Nanti dilanjutkan lagi tidurnya di rumah," ujar Rahmat dengan nada berbisik namun mendesak, sembari menggoyangkan tubuh istrinya yang masih terlelap dalam kondisi lemas.

Goyangan kasar itu sontak membuat Ratna terkejut seketika. Ia terpaksa terbangun dan membuka matanya, meski bagian dalam kepalanya terasa sedikit pening akibat tersentak bangun secara mendadak dari tidur dalamnya yang tak tenang.

"I-iya, Mas... Sudah pagi ya, Mas?" sahut Ratna dengan suara parau sembari mengucek kedua matanya yang masih terasa sepet dan berat.

"Iya, ini sudah pagi. Ayo cepat, kita pura-pura membereskan kios dulu sekarang, biar anak-anak karyawan tidak menaruh curiga kalau mereka datang nanti. Setelah semua karyawan tiba di sini, baru kita pulang ke rumah dan Ibu bisa melanjutkan tidurnya lagi di sana," tegas Rahmat kembali, mengatur rencana dengan rapi tanpa memedulikan rasa sakit di tubuh istrinya.

Rahmat dan Ratna pun akhirnya memulai sandiwaranya pagi itu demi menutupi rahasia kelam mereka. Dengan berbagi tugas, Ratna dipaksa memegang sapu untuk membersihkan lantai bagian depan, sedangkan Rahmat sibuk di balik etalase kaca mempersiapkan dagangan baksonya, termasuk menyusun deretan mangkuk kosong dengan rapi.

Tak lama kemudian, keempat karyawan mereka melangkah masuk ke dalam kios. Langkah kaki mereka sempat terhenti sejenak, menatap heran ke arah dua majikannya. Di dalam hati, para karyawan itu merasa sedikit ganjil; mereka heran karena tumben sekali Ibu Ratna sudah ikut berada di kios sejak pagi buta, padahal biasanya hanya Pak Rahmat seorang diri yang sudah bersiap di kios sebelum jam kerja mereka dimulai.

Keempat karyawannya itu mulai memperhatikan gerak-gerik Ratna yang terlihat begitu pucat dan lemas saat mengayunkan sapu. Awalnya, mereka tidak ada yang berani menegur atau sekadar menyapa karena sungkan, sampai akhirnya salah satu dari karyawan tersebut memberanikan diri untuk melangkah mendekat dan bertanya langsung mengenai kondisi sang majikan.

"Bu... Apa Ibu sedang sakit? Muka Ibu kelihatan pucat banget. Sudah, Ibu istirahat saja di dalam, biar aku yang menyelesaikan menyapu lantai ini," ujar karyawan itu dengan nada khawatir sembari perlahan mengambil alih gagang sapu yang ada di genggaman tangan Ratna.

"Ti-tidak... Ibu tidak apa-apa kok, cuma kurang tidur saja tadi malam. Tidak usah, Ibu masih kuat buat menyelesaikan ini, mendingan kamu bantu-bantu persiapan di dapur saja," ujar Ratna terbata-bata mencoba berbohong, menyembunyikan kenyataan jahanam yang sebenarnya terjadi pada dirinya semalam.

Namun, karyawan itu tidak gampang percaya begitu saja dengan ucapan Ratna. Ia bisa melihat dengan sangat jelas gurat kelelahan yang ekstrem serta rona wajah majikannya yang tidak berdarah sama sekali.

"Sudah, Bu, biar aku saja yang teruskan menyapu. Lagipula di dapur sudah banyak yang membantu, Ibu istirahat saja," sahut karyawan itu kembali dengan lembut namun bersikeras demi kebaikan majikannya.

Akhirnya, Ratna pun mengalah dan membiarkan sapunya berpindah tangan. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, terselip secercah rasa haru dan senang yang teramat sangat atas perhatian tulus dari karyawannya tersebut—sebuah kepedulian hangat yang justru sama sekali tidak ia dapatkan dari suaminya sendiri yang saat ini tengah sibuk menghitung calon keuntungan di balik meja etalase.

Mendengar obrolan antara Ratna dengan karyawannya dari arah meja kasir, Rahmat langsung menolehkan pandangannya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang karena rasa panik; ia sangat takut kalau sampai karyawan itu bertanya-tanya lebih jauh dan mengorek sesuatu dari mulut Ratna yang sedang dalam kondisi emosi tidak stabil. Tanpa membuang waktu, Rahmat segera melangkah lebar menghampiri mereka berdua untuk menyudahi pembicaraan sekaligus mengajak istrinya segera pulang.

"Bu, mendingan Ibu pulang saja sekarang. Ibu kelihatan capek banget. Biar anak-anak yang melanjutkan sisa pekerjaan di sini," ucap Rahmat dengan intonasi suara yang mendadak dibuat sangat lembut dan penuh perhatian, memasang topeng suami yang penyayang di depan pekerjanya.

"Iya, benar, Bu, kata Bapak. Mendingan Ibu pulang dan istirahat saja di rumah, pekerjaan di kios biar kami berempat yang menyelesaikan semuanya," potong karyawan yang memegang sapu tadi, menyetujui usul Pak Rahmat.

Akhirnya, sandiwara itu ditutup dengan Rahmat dan Ratna yang memutuskan untuk pulang lebih dulu menggunakan kendaraan mewah mereka, meninggalkan keempat karyawannya yang mulai sibuk membuka kios bakso.

Namun, rasa tenang karena berhasil kabur dari kecurigaan karyawan itu mendadak sirna tak berbekas begitu mobil mewah mereka berbelok memasuki halaman depan rumah. Setibanya di sana, betapa terkejutnya Rahmat dan Ratna saat mendapati pemandangan yang sama sekali tidak mereka duga. Di pagi buta yang masih berkabut itu, sosok Mbah Cahyo ternyata sudah berada di sana. Dukun tua dengan aura hitam yang pekat itu berdiri tegak, diam mematung tepat di depan gerbang besi rumah mereka, seolah sudah menunggu kedatangan mereka sejak lama dengan sepasang mata tua yang menatap tajam ke arah mobil.

Bersambung

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!