NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 - Uang Muka

Dokter Obgyn itu merapikan letak kacamatanya, memandangi lembar hasil laboratorium sejenak, lalu mendongak. Tatapannya beralih ke Nami, lalu ke Max.

"Secara keseluruhan, hasil USG transvaginal dan profil hormonmu sangat bagus," katanya dengan senyum kecil.

"Rahimmu bersih, sehat, dan sangat subur. Tidak ada kendala untuk perencanaan kehamilan."

Dokter paruh baya itu terkekeh pelan, melirik Max dan Nami bergantian dengan tatapan yang sedikit menggoda. "Mengingat usia kalian yang masih sangat produktif, saran saya jangan ditunda-tunda. Sering-sering 'olahraga malam'. Suaminya harus lebih pintar mengambil hati istri supaya tidak stres dan cepat isi."

Wajah Nami seketika memanas sampai ke daun telinganya.

Kata olahraga malam dan sebutan suami itu seperti hantaman gada yang membuat otaknya mendadak korslet.

Detik itu juga, sebuah bayangan absurd tentang bagaimana Max akan menyentuhnya nanti demi menuntaskan kontrak gila ini—terlintas tanpa permisi di kepalanya.

Nami buru-buru meremas ujung kemejanya, menunduk dalam-dalam demi menyembunyikan rona merah yang telanjur menjalar ke pipi.

Sialan, kenapa aku malah membayangkan yang tidak-tidak?! umpatnya panik.

Berbeda dengan Nami yang hampir mati karena malu, Max justru menanggapi godaan itu dengan kedipan mata yang tenang. Sudut bibirnya terangkat tipis—hampir tak kentara, namun penuh dengan kepuasan yang dingin.

"Tentu, Dok. Saya akan pastikan kami bekerja keras untuk itu," sahut Max lancar, suaranya berat dan terdengar begitu meyakinkan, seolah mereka adalah pasangan paling harmonis di dunia.

Nami melirik tajam, nyaris ingin tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban ambigu pria di sebelahnya.

Satu kalimat. Singkat. Tapi cukup untuk membuat dada Nami naik turun tak beraturan setelahnya.

Lega? Iya. Tapi lebih dari itu, ada rasa terhina yang kembali menggerogotinya. Seolah tubuhnya baru saja lolos sebuah uji kelayakan.

Nami hanya bisa memutar bola matanya samar, buru-buru menyampirkan kembali jas putih dokternya ke lengan dengan perasaan dongkol yang mendidih di ujung lidah.

Apapun itu syukurlah. Investasi aman, lirihnya dalam hati, pahit.

Begitu mereka kembali ke dalam keheningan mobil, ponsel di saku baju Nami bergetar hebat. Getarannya terasa menampar paha. Dengan ragu, Nami meraih ponsel itu.

Sebuah notifikasi m-banking muncul di layar, memantul di kornea matanya.

Transfer Masuk: Rp500.000.000

Mata Nami membelalak. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa nyeri di tulang rusuk. Ia menatap deretan angka nol itu seperti orang bodoh. Sembilan digit. Angka yang belum pernah mampir ke rekeningnya seumur hidup. Uang yang lebih dari cukup untuk melunasi semua utangnya bahkan cukup untuk biaya hidupnya bertahun-tahun tanpa bekerja.

Rasa terhina di ruang periksa tadi mendadak menguap. Tangannya bergetar.

Max yang sedang membaca tablet di sebelahnya melirik sekilas tanpa menolehkan kepala. "Gemetar karena terharu atau karena belum pernah melihat uang sebanyak itu?"

Nada ejekannya halus, tapi cukup untuk menyulut amarah Nami.

Nami langsung mengunci ponselnya dengan gerakan kasar, menoleh dengan senyum sinis yang tajam sampai ke mata. "Gemetar karena sadar kalau aku baru saja menjual diri kepada iblis."

Max tidak langsung menjawab. Jarinya berhenti menggeser layar tablet. Beberapa detik kemudian, ia menutup tablet itu dengan pelan.

"Aku anggap ini transaksi bisnis yang saling menguntungkan," sahutnya kaku, suaranya tetap tanpa emosi. "Dan iblis tidak pernah memberi uang muka sebesar itu, Dokter Namira."

Nami mendengus keras, menyilangkan tangan di dada. "Terserah. Turunkan aku di lobi depan. Aku memang kau liburkan dari jadwal visit, tapi tugas residenku yang lain tidak bisa ditinggal."

Max tidak membantah. Mobil melaju membelah jalanan terik Jakarta yang sudah padat, kembali menuju rumah sakit elite sembilan lantai itu.

Di sepanjang jalan, tidak ada yang bicara. Hanya deru mesin dan detak jantung Nami yang masih belum stabil.

***

Mobil baru saja berhenti di pelataran lobi utama The Lotus Medical Center ketika atmosfer tenang di dalam kendaraan itu mendadak pecah.

Suara sirine ambulans memecah udara siang. Beberapa petugas medis dengan brankar langsung berlari keluar dari lobi IGD, wajah mereka tegang.

Nami, dengan insting dokternya, langsung menegakkan tubuh. Namun, matanya menyipit ketika melihat sebuah mobil pengawal hitam yang sangat familiar berhenti tepat di belakang ambulans itu. Itu mobil ajudan Nyonya Sofia, Ibu Max.

Jantungnya jatuh.

Pintu ambulans terbuka dengan kasar. Di atas brankar, Sofia terbaring dengan masker oksigen melekat di wajahnya, matanya terpejam rapat dengan kulit yang memucat pasi. Selang infus bergelantungan di sisi brankar.

"Ibu…" Suara Max yang biasanya sedingin es, mendadak bergetar. Pecah.

Sebelum Nami sempat bereaksi, Max sudah mendorong pintu mobil dengan kasar, berlari mengabaikan segala formalitas dan ketenangan yang dia agung-agungkan selama ini. Langkah kakinya lebar dan panik, mengejar brankar yang didorong cepat menuju ruang resusitasi IGD.

Nami ikut berlari di belakangnya, jas putihnya berkibar. Sebagai residen tahun pertama, dia tahu posisinya bukan memegang pasien VIP itu secara langsung, tapi dia tidak bisa tinggal diam. Tidak saat ini.

Di depan pintu kaca IGD yang tertutup rapat, Max dipaksa berhenti oleh petugas keamanan. Pria itu mematung di balik kaca. Kemeja putihnya yang rapi kini tampak berantakan, beberapa kancing atasnya terbuka. Sepasang tangannya yang biasa memegang tablet dengan angkuh, kini gemetar hebat saat bertumpu pada dinding koridor.

Wajahnya pias, memancarkan ketakutan anak kecil yang takut kehilangan ibunya—sebuah pemandangan yang membuat Nami tersentak.

CEO kulkas ini ternyata bisa rapuh juga.

Hampir setengah jam keheningan mencekam itu membungkus mereka di koridor. Max tidak duduk. Ia berdiri, punggungnya tegak, tapi bahunya tegang.

Nami berdiri beberapa langkah di belakangnya, tidak berani mendekat. Suara monitor dari dalam ruang resusitasi sesekali terdengar samar.

Sebelum akhirnya pintu kaca terbuka. Dokter spesialis yang menangani keluar, melepas maskernya, dan menghampiri Max. Wajahnya lelah, tapi lega.

"Kondisinya sempat drop parah karena serangan mendadak. Tapi beruntung penanganan cepat. Saat ini fasenya sudah berhasil kita stabilkan, namun Nyonya Sofia harus dirawat intensif di ICU."

Max mengembuskan napas panjang yang terdengar menyakitkan. Bahunya yang tegap mendadak merosot, seolah beban berat baru saja dihantamkan ke punggungnya. Ia menutup mata sejenak.

Setelah dokter itu pergi, Max berdiri diam beberapa detik. Lalu, perlahan, ia memutar tubuh. Ia melangkah mendekati Nami yang masih berdiri di sudut koridor, terpaku.

Sepasang mata tajam Max kini tidak lagi sebeku es—ada kilat keputusasaan yang begitu pekat di sana.

Tanpa aba-aba, tangan Max bergerak mencengkeram pergelangan lengan Nami. Tidak kuat sampai menyakiti, tapi cengkeramannya terasa intens, penuh penekanan, seolah ia takut Nami akan menghilang.

Nami menahan napas, menatap wajah Max yang berjarak sangat dekat darinya. Ia bisa melihat urat di pelipis Max yang berdenyut, bisa melihat retakan kecil di ketenangan pria itu.

"Kita tidak punya waktu satu bulan," bisik Max, suaranya rendah namun bergetar hebat di rongga dada.

"Pernikahan ini harus dipercepat. Minggu depan, kau harus sudah jadi istriku."

Nami membelalakkan matanya, mematung di tengah dinginnya koridor rumah sakit, sementara detak jantungnya berpacu melawan kepanikan baru yang mendadak mengunci suaranya.

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!