Aldo, seorang remaja yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Seorang remaja yang sedang mengejar masa lalunya. Perjuangannya dimulai saat Ia memutuskan untuk pindah ke sekolah yang sama dengan Mantan kekasihnya sewaktu SMP siapa lagi jika bukan snag tokoh utama, Nisa Meylin Clya. Berawal dari cowok cupu hingga berubah menjadi cool. Perubahan ini semata mata hanya untuk menarik perhatian Nisa kembali.
Waktu sudah terpacu jauh menjajaki hal baru, meninggalkan banyak kenangan. Namun dirinya masih sibuk terbayangi masa lalu. Disaat dirinya tengah memperjuangkan nasib cintanya, Ia justru terhalang oleh Filla yang justru menyukainya.
Optimisme dalam dirinya sangat tinggi, sampai kemudian sang ketua kelas Nisa yang bernama Azam juga ikut mengejar Nisa.
Azam yang satu kelas dengan Nisa, tentu memiliki banyak peluang di banding dengan Aldo. Banyak kesempatan untuknya agar mampu menggaet hati Nisa.
Siapa kah yang akan Nisa pilih? Azam atau aldo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pujas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Setitik Ketenangan
Zen meremas stir mobilnya kencang, geregetan mencari Nisa yang tak kunjung ditemukannya.
"Lo itu atlet lari apa tukang sihir sih Nis cepet banget ngilangnya" omel Zen pelan, ia khawatir dengan Nisa yang meninggalkannya begitu saja.
Sebagai lelaki dia harus gentleman. Zen merasa bersalah jika tidak bisa membawa pulang Nisa bersamanya. Dia yang membawanya pergi maka dia juga yang harus membawanya pulang.
Zen menatap tajam setiap pinggir jalan. Tiba tiba ia melihat sosok perempuan menggunakan dress berwarna navy berjalan mendekati sebuah mini market. Zen segera turun menghampiri sosok itu.
Hiks..hiks..Isaknya.
perempuan itu duduk bersila disebuah emperan toko mini market, kepalanya menunduk sambil seskali tangannya menyeka mata dan hidungnya yang berair secara bergantian.
Zen melemparkan uang logam lima ratusan didepannya. Sontak perempuan itu mendongakan pandangannya.
"Kenapa? masih kurang" tanya Zen dengan sinis.
"Gue bukan pengemis" serunya, ia melempar uang logam yang jatuh dipangkuannya.
"Ayok pulang" ajak Zen ketus.
"Enggak mau"
"Ayok pulang Nisa, lo nggak malu diliatin banyak orang?"
"Bodo amat"
"Mau lo apa sih" cerca Zen kesal, ia sudah kelelahan lari maraton mengejar Nisa. Sekarang dia harus berdiri tegak membujuk Nisa.
"Mau Ice Cream" jawab Nisa cepat.
Zen mengepalkan tangannya, ia sadar telah salah mengajukan pertanyaan.
"Oke, gue beliin lo tunggu disini" Zen santai melangkah masuk.
"Nih" Zen memberikan bungkusan besar berisi Ice cream pada Nisa yang disambut bahagia olehnya.
Nisa hendak membuka ice creamnya tapi ia merasa lengket pada kedua telapak tangnnya, ia masih melihat sisa ingus yang tidak terlap sempurna oleh ujung dress nya.
"Zen" panggilnya lembut, senyum manis bertengger dikedua sudut bibirnya.
"Apa?"
"Beliin gue tissu dong, tangan gue kotor nih" bujuk Nisa, ia melihatkan bercak bekas ingusnya.
Zen memandang jijik, ia melangkah masuk kembali ke mini market membeli pesanan Nisa.
"Udah yah, kita pulang sekarang" pinta Zen tegas, ia risih dengan tatapan mata orang disekelilingnya.
Nisa mengelap tangannya, ia membuka bungkus ice creamnya memakan dengan lahap.
"Nisa ayok pulang"
"Engga mau" Nisa menolak mentah mentah ajakan Zen.
"Lo mau apa lagi sih?" tanya Zen dengan sabar.
Nisa hanya diam ia asyik melahap ice miliknya.
"Ayok gih pulang nanti gue beliin seblak gimana?" tawar Zen.
Nisa menimbang sesuatu, ia menggeleng dengan tegas.
"Yakin lo nggak mau?"
"Nggak"
"Gue beliin lo dua porsi deh"
"Tiga porsi" seru Nisa tegas.
"Oke " jawab Zen mengalah.
"Gue beliin sekalian sama penjualnya kalo perlu" imbuh Zen tanpa pikir panjang.
Nisa mengangguk cepat, takut Zen akan berubah pikiran.
"Ya udah ayok bangun" ucap Zen sambil merapatkan giginya mencoba bersabar sekali lagi.
"Hmmmm" Nisa bergumam pelan.
"Apa lagi?"
"Gue mau...." jawab Nisa mengambang.
"Mau apah?"
"Emm apa yah?" Nisa memikirkan sesuatu dengan serius tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emasnya.
"Udah buruan"
"Sabar Zen ih"
"Lo pikir sambil jalan aja deh, nggak enak diliatin banyak orang"
Nisa cemberut, memasang wajah sedihnya.
"Kita masuk mobil dulu yuk, nanti lo boleh minta apa aja, semua gue beliin"
Nisa mwmbulatkan matanya sempurna, tawaran Zen sangat menggiurkan.
"janji?"
"iya"
Nisa bangkit, berjalan mengikuti Zen didepannya. Zen bernapas lega, ia melajukan mobilnya kembali.
Nisa membuka Ice creamnya lagi. Menghabiskan Semuanya dalam sekejap.
"Zen gue mau jalan jalan" pinta Nisa ia tersenyum manis kearah Zen.
"Sekarang?" tanya nya polos.
"Taun depan"
"Ya sekarang lah" imbuh Nisa.
"Mau kemana?"
"Kemana aja asal sama lo".
Zen tersenyum miring "Ke taman kota aja yah?"
"Iya" Nisa menyandarkan kepalanya dibahu Zen, tubuhnya merasa penat.
"Kalo udah sampe bangunin gue yah" Nisa memejamkan matanya tidur.
Hening, hanya suara dengkuran halus Nisa yang terdengar. Zen menyetel beberapa lagu mellow sebagai penghantar tidur, lalu mengusap lembut pucuk kepala Nisa. hanya tangannya yang bekerja, matanya tetap fokus pada jalanan didepannya.
Rasanya baru sekejap Nisa tertidur saat seseorang menepuk pipinya lembut.
"Bangun Nis" Zen memakirkan mobilnya dibawah sebuah pohon besar, mereka telah sampai ditaman kota.
Pukul dua siang hawa panas menyeruak masuk saat Zen membuka kaca mobilnya.
Nisa menatap nanar sekitarnya. Zen hanya diam, berbicara pun tiada guna keputusan telak berada ditangan Nisa.
"Gue beliin minum dulu, lo haus kan?
"Iya nih," Nisa mengelus leher jenjangnya.
"Lo tunggu disini aja, biar gue yang turun"
Nisa menangguk. " Beliin gue tako yaki juga"
Zen menjitak kepala Nisa, "dibaikin malah lo manfaatin "
Nisa memeletkan lidahnya "Biarain lo juga mau kan gue manfaatin"
"jelaslah dari lo nangis" Zen melangkah keluar, terik sinar matahari menyengat kulitnya. Nisa tersenyum menatap punggung Zen yang semakin menajuh. Ia termenung menyadari perhatian Zen padanya hari ini. Ia merasa tenang sekarang, melupakan sejenak rasa sakit dihatinya.
"Hey" Zen melambaikan tangannya didepan wajah Nisa.
Nisa tersentak kaget "Apaan si lo"
"Lo ngapain melamun?" tanya Zen sesampai dimobilnya.
Nisa tersipu malu, ia bahkan tidak mendengae suara pintu yang terbuka saat Zen masuk. Nisa mengambil bungkusan ditangan Zen, membukanya dengan cepet.
ck..ck.ck.Zen berdecak keras melihat kagum Nisa yang rakus memakan makanannya.
"Apa lo?" tanya Nisa cuek "Jangan liatin gue kayak gitu nanti lo naksir gue" lanjutnya.
uhuk..Zen tersedak ludahnya sendiri.
"Jangan GR, gue liat makanan gue bukan lo" sergah Zen.
"Lo kan tadi bilang mau beli apa pun yang gue mau, jadi makanan ini resmi jadi milik gue"
"Ya..ya..ya"
"Lo mau?" Tanpa aba-aba ia mengambil sepotong makanannya, menyuapkan ke mulut Zen. Ia pelan membuka mulutnya, menerima suapan Nisa, wajahnya memanas seketika.
"Biasa aja kali" ucap Nisa yang menyadari perubahan warna pada wajah Zen, ia mengigit bibir bawahnya menahan tawa.
Zen menelan makanannya susah payah, mendadak canggung duduk berdua dengan Nisa. Ia menahan nafas sebentar, hanya sebuah suapain kecil namun mampu mendebarkan jantungnya.
"Gue makan aja sendiri" Zen menyerobot plastik ditangan Nisa, mengambil satu porsi.
Nisa tak mau ambil pusing ia lebih berselera makan dari pada mengoda Zen lebih lanjut. Ia melirik jam tangannya, pukul tiga lewat lima.
"Zen gue dede cacing laper, turun yuk" Nisa mengedipkan satu matanya, menagih janji Zen.
Zen melengos turun, disusul Nisa. Mereka berjalan satu meter ke barat, menuju penjual seblak yang mangkal dipinggir jalan.
Zen tersenyum pada penjual seblak didekatnya, Nisa dengan cepat menariknya menjauh.
"kenapa Nis?" Zen melepas genggaman tangan Nisa, tulang jemarinya terasa retak.
"Gue nggak mau itu"
"Tadi kan lo sendiri yang bilang mau seblak?"
"Iya tapi gue nggak mau yang disitu, gue mau yabg disana" Nisa menunjuk kedepan, tampak sebuah penjual yang dikelilingi banyak pembeli.
"Sama aja Nis"
"Yaelah yang tadi penjualnya udah bapak bapak yakali lo mau bungkusin gue yang kayak gitu, yang didepan noh yang masih berondong" Nisa menaik turun alisnya.
"Lo..?" Zen terbata mencerna ucapan Nisa.
"Tadi yang bilang mau beliin gue sekalian penjualnya siapa?"
"Nis lo keteraluan deh, gue becanda"
Nisa menyeringai licik "Itu seh DL" ucap sambik cengengesan.
"Ini rame banget Nis, lo yakin mau nunggu antrian sebanyak itu" Zen berusaha mengompori, semakin dekat ia bisa dengan jelas menghitung jumlah pembeli, sepuluh orang.
"Enak aja, bukan gue yang ngantri tapi lo" seru Nisa sambil tertawa jahat tidak peduli dengan Zen yang akan lumutan menunggu pesanannya.
Zen meneguk lidahnya lagi. Semakin dekat, ia bisa dengan jelas menghitung jumlah pembeli, sepuluh orang. Jika satu orang harus menghabiskan waktu sepuluh menit, berapa menit waktu yang akan digunakan untuk bisa mendapat pesanannya?.
cocok
yg dha slaing ngomporin