NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: BISIKAN TAKDIR DI BALIK MEJA KERJA

Pagi hari di kawasan segitiga emas Jakarta selalu diawali dengan kesibukan yang luar biasa. Gedung pencakar langit Mahardika Global Group berdiri kokoh, memantulkan kilauan cahaya matahari pada dinding-dinding kacanya yang megah. Di lantai paling atas, di dalam ruang kerja CEO yang super luas dan kedap suara, Dafa Mahardika sedang duduk di balik meja kerjanya. Pria itu tampak sangat fokus memeriksa tumpukan dokumen laporan keuangan bulanan dari beberapa anak perusahaan.

Ketukan pintu yang ritmis memecah keheningan ruangan. Setelah Dafa memberikan izin masuk, sosok Mikael, asisten pribadinya yang paling andal, melangkah masuk dengan langkah tegap. Di tangannya, Mikael membawa sebuah map dokumen baru berlogo divisi logistik.

"Selamat pagi, Pak Dafa. Ini adalah berkas pengajuan tender vendor armada pengiriman baru untuk kuartal ketiga yang perlu Anda tanda tangani hari ini," ucap Mikael seraya meletakkan map tersebut di atas meja.

Dafa meraih map tersebut, membukanya perlahan, dan sepasang mata elangnya dengan cepat memindai baris demi baris nama staf serta kepala divisi yang bertanggung jawab atas proyek tersebut. Namun, gerakan jari Dafa mendadak terhenti ketika matanya menangkap satu nama yang tertera di bagian tanda tangan verifikasi tingkat bawah: Rendy Pratama.

Rahang Dafa seketika mengeras. Ingatannya langsung melayang pada dokumen PDF rahasia yang dikirimkan Mikael beberapa bulan lalu. Nama itu adalah nama bajingan yang telah menyiksa fisik dan batin Nazya di masa lalu. Ternyata, pria itu benar-benar bekerja di sini, menjadi salah satu sekrup kecil di dalam imperium bisnis raksasa milik Dafa tanpa pernah menyadari siapa pemilik asli perusahaan tempatnya mengemis gaji.

"Mikael," panggil Dafa, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berat, membuat atmosfer di dalam ruangan pengap seketika. "Pastikan performa kerja divisi logistik, terutama staf bernama Rendy Pratama ini, diawasi dengan ketat oleh tim audit. Jangan berikan dia celah sedikit pun untuk naik jabatan, tapi jangan juga dipecat sekarang. Aku masih ingin bermain-main dengannya nanti."

Mikael yang sudah paham betul watak bosnya yang sangat protektif terhadap sang istri siri, langsung menunduk hormat. "Baik, Pak Dafa. Semua pergerakannya sudah dalam pengawasan tim kita. Dia sama sekali tidak tahu tentang hubungan Anda dengan Ibu Nazya."

Dafa menyandarkan tubuh tegapnya pada kursi kulit hitamnya, menyatukan kedua ujung jarinya di depan dada. Sifat dominan dan posesifnya bergejolak hebat. Di kantor ini, Dafa adalah tuhan bagi karier Rendy. Sangat mudah bagi Dafa untuk menghancurkan hidup pria itu dalam satu kedipan mata, namun Dafa menginginkan sesuatu yang lebih hancur; ia ingin Rendy merasakan penghinaan yang luar biasa di depan matanya sendiri suatu saat nanti.

Sementara itu, suasana di kediaman Mahardika berjalan jauh lebih damai. Setelah tiga minggu menjalani fisioterapi rutin yang melelahkan, kondisi kaki kanan Nazya menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan. Pagi ini, dengan dibantu oleh seorang pelayan wanita, Nazya mencoba turun dari ranjangnya. Gips tebal di kakinya memang masih terpasang, namun rasa nyeri pasca-operasinya sudah hampir tidak terasa lagi.

Nazya melangkah perlahan menuju meja jahit kecil yang sengaja dibuatkan oleh Dafa di dekat jendela kamarnya. Di atas meja itu, mesin jahit portabel baru yang canggih dan benang-benang sutra mewah tertata dengan sangat rapi. Nazya tersenyum tipis, meraba permukaan mesin jahit itu dengan perasaan haru. Kehadiran Dafa di hidupnya secara perlahan telah mengembalikan warna-warna yang sempat hilang dari dunianya.

Sore harinya, Dafa pulang ke rumah lebih awal dari biasanya. Pria itu langsung melangkah menuju kamar Nazya untuk mengecek kondisi istrinya. Begitu pintu dibuka, Dafa melihat Nazya sedang sibuk menyulam sebuah pola indah pada kain satin putih. Rambut panjangnya diikat asal, menyisakan beberapa helai yang jatuh di leher jenjangnya yang putih, membuat Dafa sempat terpaku sesaat di ambang pintu menikmati kecantikan alami istrinya.

"Mas Dafa... sudah pulang?" sapa Nazya, buru-buru meletakkan kain sulamannya dengan rona merah yang kembali menghiasi pipinya.

Dafa melangkah masuk, melepaskan jas hitamnya lalu duduk di kursi seberang meja jahit Nazya. "Ya. Bagaimana latihan fisikmu hari ini? Apakah lancar?"

"Sangat lancar, Mas. Dokter bilang minggu depan mungkin gips ini sudah bisa diganti dengan perban penyangga yang lebih ringan," jawab Nazya dengan binar mata yang ceria.

Dafa mengangguk puas. Namun, pandangan mata elangnya mendadak beralih pada sebuah tas kerja kulit cokelat miliknya yang tergeletak di atas meja nakas dekat tempat tidur. Pria itu baru ingat bahwa di dalam tas itu ada sebuah dokumen kontrak kerja sama penting dengan pihak investor asing yang tertinggal dari kantor, dan dokumen itu harus diserahkan ke meja sekretaris utamanya besok siang sebelum jam makan siang karena Mikael besok harus pergi mengurus audit di luar kota.

Sebuah ide mendadak melintas di dalam kepala cerdas Dafa. Ia menatap Nazya dengan pandangan yang dalam dan penuh taktik.

"Nazya," panggil Dafa dengan nada suara yang berubah menjadi tegas dan berwibawa.

Nazya menegakkan duduknya. "Iya, Mas?"

"Besok siang, Mikael tidak ada di kantor karena harus keluar kota. Di dalam tas kulitku itu, ada berkas dokumen kontrak penting yang tidak boleh terlambat diserahkan ke meja sekretaris utamaku di lantai paling atas," jelas Dafa, matanya mengunci pandangan Nazya. "Aku ingin kamu yang datang ke kantorku besok siang untuk mengantarkan berkas itu."

Nazya seketika menahan napasnya, raut wajahnya berubah menjadi sangat cemas dan panik. "Ke... ke kantor Mas Dafa? Tapi, Mas... bukankah Mas Dafa sendiri yang bilang kalau tidak ada satu pun orang di kantor yang tahu tentang pernikahan kita? Bagaimana kalau nanti orang-orang curiga melihat saya?"

Dafa menyunggingkan senyum tipis yang sangat menawan, seolah ingin menenangkan kepanikan istrinya. "Pernikahan kita tetap rahasia, Nazya. Kamu tidak perlu khawatir. Di kantor nanti, kamu hanya perlu berpura-pura sebagai kurir pribadi atau utusan dari rumahku yang mengantarkan dokumen tertinggal. Serahkan saja berkas itu ke meja sekretaris di lantai lima puluh. Tidak akan ada yang berani menanyaimu macam-macam, dan sopir pribadiku, Pak Joko, yang akan mengantarmu sampai ke lobi depan."

Dafa sengaja melakukan ini karena ia ingin Nazya mulai berani keluar dari rumah dan melihat dunia luar setelah beberapa bulan mengurung diri karena cedera. Dafa ingin istrinya mulai menghirup udara kebebasan.

Nazya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, menimbang-nimbang ucapan suaminya yang terdengar sangat logis dan penuh perlindungan. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya ia mengangguk patuh dengan sangat perlahan. "Baik, Mas Dafa... kalau itu memang perintah Mas, besok siang Nazya akan mengantarkan berkas itu ke kantor Mas Dafa."

"Bagus. Aku akan menunggumu di atas," ucap Dafa seraya berdiri, mengusap lembut puncak kepala Nazya dengan penuh kasih sayang sebelum melangkah keluar dari kamar.

Keesokan harinya, jam dinding telah menunjukkan pukul sebelas siang. Mobil Toyota Alphard hitam milik Dafa melaju mulus membelah jalanan protokol Jakarta, sebelum akhirnya berbelok memasuki area pelataran gedung Mahardika Global Group.

Nazya duduk di jok tengah dengan jantung yang berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Ia memeluk erat map dokumen cokelat di dadanya. Siang ini, ia mengenakan blus sederhana berwarna putih yang dipadukan dengan rok panjang berwarna mocca, penampilannya sangat bersahaja namun memancarkan keanggunan yang alami.

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama yang megah. Pak Joko dengan sigap membukakan pintu geser otomatis. "Mari, Ibu. Saya bantu," ucap Pak Joko dengan sopan.

Nazya turun dari mobil dengan sangat hati-hati, kakinya yang masih sedikit kaku mencoba melangkah mantap di atas lantai marmer lobi yang mengilat. Suasana lobi sangat ramai oleh hilir mudik karyawan berpakaian necis dan para tamu penting. Nazya menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya dan mulai melangkah menuju meja resepsionis di tengah lobi.

Namun, baru saja Nazya berjalan beberapa langkah, sebuah suara berat dan lantang dari arah samping seketika menghentikan total pergerakan kakinya.

"Heh! Janda pembawa sial! Ngapain lu ada di sini?!"

Suara bentakan kasar yang sangat familier itu menggema keras di tengah hiruk-pikuk lobi, membuat beberapa karyawan yang lewat spontan menghentikan langkah dan menoleh serentak. Nazya membalikkan tubuhnya dengan perlahan, dan detik itu juga, seluruh wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti mayat. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika.

Berdiri hanya berjarak tiga meter di hadapannya, mengenakan kemeja kerja dengan ID card karyawan Mahardika Global Group yang mengalung di lehernya, adalah Rendy Pratama. Mantan suaminya. Monster yang paling ia takuti di dunia ini kini sedang menatapnya dengan pandangan mata yang penuh dengan kilatan amarah dan seringai merendahkan.

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!