NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Serangan Besar-Besaran

Langit yang tadinya cuma gelap, sekarang benar-benar tertutup rapat. Ribuan pesawat tempur dari Kerajaan Langit turun bergabung, menutupi seluruh cakrawala sampai nggak kelihatan sedikit pun warna birunya. Suara dengungan mesin mereka bercampur jadi satu, terasa bergetar sampai ke tulang, bikin udara terasa sesak dan berat.

Di dalam kubah pelindung, suasana tetap tegang tapi tetap terjaga. Setiap prajurit memegang senjata mereka erat-erat, napas diatur sebaik mungkin meski jantung berdebar kencang. Para Penjaga Elemen di enam titik strategis terus menyalurkan tenaga, sementara Raka melayang diam di tengah, jadi pusat yang menyatukan seluruh kekuatan mereka.

Di atas kapal induk raksasa, sosok tua berjubah putih yang memimpin mereka akhirnya berdiri dari singgasananya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi matanya memancarkan amarah yang dingin dan mematikan. Ia mengangkat tangan perlahan, memberi isyarat terakhir.

“Hancurkan semuanya. Jangan tinggalkan apa pun.”

Perintah itu langsung menyebar ke seluruh armada. Tanpa peringatan lagi, ribuan titik cahaya merah, kuning, dan ungu menyala serentak di perut setiap pesawat. Dalam sekejap, langit berubah jadi lautan api yang melesat turun—proyektil energi, roket pemusnah, dan sinar laser berkecepatan tinggi menghujani tempat mereka berlindung seperti bencana alam.

“Mereka menyerang! Tahan posisi!” teriak Jenderal Agus sekuat tenaga.

DUG! DUG! DUG!!!

Suara benturan terdengar tanpa henti, seolah bumi dipukul palu raksasa berulang kali. Kubah pelindung bergetar hebat, permukaannya yang berwarna-warni bergelombang keras menahan serangan yang datang terus-menerus tanpa jeda. Retakan halus mulai muncul di beberapa bagian, dan para Penjaga mengerang menahan beban energi yang begitu berat.

“Tekanannya terlalu kuat!” seru salah satu Penjaga Elemen Api, keringat bercucuran membasahi wajahnya. “Mereka menyerang habis-habisan tanpa henti!”

Raka mengertakkan gigi, cahaya biru di matanya makin terang. Ia menyebarkan tenaga Sumber Unggul lebih luas lagi, memperkuat bagian kubah yang mulai lemah, tapi serangan yang datang terlalu banyak dan terlalu kuat untuk ditahan sendirian.

Di tengah hujan tembakan itu, tiba-tiba tiga sosok melesat cepat menembus celah di antara proyektil. Itu ketiga Panglima Wilayah yang tadi sempat terpental—meski terluka, mereka masih punya kekuatan yang luar biasa.

“Jangan cuma bertahan!” teriak Panglima wanita berambut perak, melesat tepat di depan kubah sambil mengayunkan pedang energi sepanjang puluhan meter. “Hancurkan inti kekuatan mereka!”

“Teknik Memotong Langit!”

Ia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Sinar perak yang tajam membelah udara dan menghantam satu titik di kubah dengan tepat. Retakan besar langsung muncul di sana, dan tenaga di sekitarnya langsung melemah drastis.

“Bantu dia!” teriak Panglima besar. Ia dan Panglima ketiga juga melepaskan serangan terkuat mereka tepat di titik yang sama.

DUG!!!

Benturan yang sangat keras terdengar, dan retakan itu makin melebar dengan cepat. Para Penjaga di sekitarnya terhuyung, bahkan ada yang berlutut karena tekanan balik yang begitu kuat.

“Kubahnya bakal jebol!” seru Reza dari barisan pasukan. “Kalau sampai pecah, kita semua kena serangan langsung!”

Tapi tepat saat retakan itu hampir membelah kubah jadi dua, cahaya biru terang muncul di titik itu. Raka melesat cepat ke sana, menempelkan kedua telapak tangannya ke permukaan pelindung.

“Kalian nggak bakal bisa tembus!” teriaknya.

Energi biru yang murni dan kuat mengalir deras dari tubuhnya, menutup retakan itu seolah nggak pernah ada. Bahkan lebih dari itu, cahaya itu menyebar ke seluruh permukaan kubah, memperkuatnya lagi sampai lebih kokoh dari sebelumnya.

“Kalian kira bisa tembus pertahanan kita cuma dengan menyerang satu titik?” Raka menatap ketiga Panglima itu tajam. “Kekuatan ini bukan cuma milikku—ini datang dari seluruh bumi, dari setiap orang yang berjuang di sini! Selama kita masih berdiri, kubah ini nggak bakal runtuh!”

Kakek Aran yang ada di belakangnya langsung memberi perintah: “Para Penjaga! Alihkan sebagian tenaga buat serangan balik! Jangan cuma diam bertahan!”

Seketika itu juga, enam tiang energi raksasa berwarna-warni—merah, biru, hijau, kuning, putih, dan ungu—melesat dari posisi mereka, menyatu di atas kubah, lalu berubah jadi ribuan anak panah energi yang menghujani pesawat musuh. Di saat yang sama, pasukan militer juga membalas tembakan dengan teratur, membidik pesawat yang terbang terlalu dekat.

Pertempuran makin kacau tapi tetap seimbang. Banyak pesawat musuh yang meledak kena serangan elemen atau tembakan energi, tapi jumlah mereka yang begitu banyak bikin mereka terus maju tanpa takut.

Tapi di tengah kekacauan itu, sesuatu yang jauh lebih mengerikan mulai terlihat. Dari perut kapal induk, terbuka lubang besar yang sebelumnya tertutup rapat. Dari sana turun sebuah benda yang bentuknya nggak seperti pesawat—lebih besar, lebih kokoh, dan memancarkan aura kematian yang sangat pekat. Itu adalah Senjata Penghancur Wilayah, andalan utama Kerajaan Langit.

Suara dingin pemimpin mereka terdengar lagi, kali ini lebih dekat dan lebih menekan:

“Sudah cukup main-main. Nyalakan inti senjatanya. Kali ini, pastikan nggak ada yang tersisa.”

Benda raksasa itu mulai bersinar merah darah, dan energi di sekitarnya berputar dengan kecepatan yang bikin merinding. Tekanannya bikin seluruh wilayah bergetar hebat, bahkan kubah pelindung pun ikut bergetar seolah takut.

Kakek Aran menatap benda itu dengan wajah pucat, matanya melotot kaget. “Itu... itu bukan senjata biasa. Itu inti dari ‘Mata Penghakiman’ yang dulu hampir memusnahkan bumi ribuan tahun lalu. Kalau ditembakkan, seluruh tempat ini bakal lenyap seketika—bahkan kubah kita sendirian nggak bakal cukup kuat menahannya.”

Raka menatap benda itu dengan hati berdebar kencang. Ia bisa merasakan betapa dahsyatnya tenaga yang terkumpul di sana—jauh melebihi apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi ia nggak mau biarkan rasa takut menguasai dirinya. Ia menoleh ke semua orang yang berdiri bersamanya, lalu berteriak lantang sampai terdengar ke mana-mana:

“Mereka kira kita cuma bisa bertahan? Mereka salah besar! Kalau mereka mau pakai kekuatan penuh, kita juga bakal tunjukkan apa yang kita punya!”

Ia menoleh ke arah Kakek Aran. “Kek, ada nggak cara buat gabungkan seluruh tenaga kita jadi satu serangan yang lebih kuat dari biasanya?”

Kakek Aran mengangguk cepat, matanya berbinar seolah mengerti maksud Raka. “Ada—teknik kuno yang cuma bisa dipakai kalau Sumber Unggul benar-benar menyatu dengan kekuatan alam dan keinginan hati semua orang. Tapi risikonya besar sekali...”

“Kita nggak punya pilihan lain,” potong Raka tegas. “Lakukan saja.”

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!