NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Di kamar tidurnya yang luas dan tertata rapi, Samantha duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil memeluk bantal lembut. Lampu tidur yang redup menyala lembut, menerangi ruangan tanpa mengganggu ketenangan malam.

Namun, pikirannya sama sekali belum bisa beristirahat kejadian yang dilihatnya tadi sore terus berputar di kepalanya.

Ia menghela napas panjang, lalu bergumam pelan seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Mengapa ya anak-anak zaman sekarang bisa bersikap begitu? Apa alasan mereka sampai tega mengganggu dan menyakiti teman sendiri hanya untuk bersenang-senang? Padahal seharusnya usia mereka masih masa-masa yang penuh keceriaan dan kebaikan, bukan saling menyakiti satu sama lain.”

Samantha terus memutar kembali kejadian itu dalam ingatannya: cara anak laki-laki yang paling depan itu berbicara dengan nada kasar, tatapannya yang penuh kebencian, dan sikapnya yang sama sekali tidak merasa bersalah. Semakin ia mengingat, semakin satu hal yang membuatnya tertegun wajah anak itu terasa sangat tidak asing.

Ia menutup matanya sejenak, mencoba membayangkan kembali raut wajah anak itu. Alisnya yang tegas, bentuk hidungnya, bahkan garis rahangnya… semuanya terasa sangat mirip dengan sosok yang selama ini tersimpan rapi di hatinya. Sosok yang dulu dikenal sangat pendiam, tertutup, namun memiliki ketenangan yang sulit dijelaskan Samuel Nugroho.

“Wajahnya… benar-benar mirip sekali,” gumam Samantha lagi, matanya terbuka perlahan dengan pandangan bingung. “Tapi tidak mungkin kan? Bagaimana bisa anaknya Samuel bersikap seburuk itu? Dulu aku mengenalnya sebagai orang yang tenang, sopan, dan sangat menjaga sikap. Pasti cara mendidiknya juga akan sama baiknya, bukan?”

Ia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menepis pikiran itu seolah itu hanya khayalan semata. “Ah, pasti hanya perasaanku saja. Mungkin kebetulan saja mereka memiliki kemiripan wajah. Tidak mungkin putranya Samuel menjadi anak yang nakal dan suka membully orang lain. Pasti ada kesalahpahaman, atau aku hanya terlalu sering memikirkannya sehingga hal-hal yang tidak nyata pun terasa nyata.”

Namun meski sudah berusaha meyakinkan dirinya sendiri, rasa penasaran itu tidak bisa hilang begitu saja. Dalam hati yang paling dalam, ia merasa ada sesuatu yang terlewatkan ada cerita di balik sikap anak itu yang belum ia ketahui. Tapi malam itu juga, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya terlalu dalam. Ia ingin percaya bahwa bayang-bayang kemiripan itu hanyalah kebetulan semata.

Samantha menarik selimut hingga ke dada, lalu mematikan lampu tidur. Di tengah kegelapan malam, ia masih berdoa dalam hatinya semoga saja anak-anak seperti itu bisa mendapatkan bimbingan yang tepat, agar hatinya kembali lunak dan bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik.

 Pagi itu, sinar matahari mulai masuk menerobos jendela-jendela besar rumah mewah keluarga Nugroho, namun suasana di dalamnya terasa masih kaku dan hening seperti biasa. Samuel sudah selesai bersiap dengan rapi, mengenakan jas kerjanya yang berwarna gelap dan terlihat sangat berwibawa. Ia sudah duduk di meja makan, menunggu sementara Bi Inah menyiapkan hidangan sarapan.

Setelah semua makanan tersaji rapi, Samuel menoleh ke arah tangga dan memanggil dengan suara tegas namun tidak terlalu keras:

“Bima! Cepat Turun sekarang, kita sarapan bersama.”

Suara panggilannya bergema sampai ke lantai atas. Di dalam kamarnya, Bima yang sudah terjaga sejak tadi hanya terdiam. Ia tahu percakapan serius pasti akan terjadi pagi ini. Dengan langkah gontai dan wajah yang ditekuk murung, ia akhirnya melangkahkan kaki menuruni tangga.

Setiap langkahnya terasa berat, dan begitu sampai di ruang makan, ia segera menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung wajah ayahnya. Matanya terlihat penuh rasa takut dan juga kekesalan yang dipendam.

Samuel mengamati putranya itu sekilas, lalu menunjuk kursi di seberangnya dengan gerakan tangan singkat.

“Duduklah. Kita sarapan terlebih dahulu sebelum membicarakan kejadian tadi malam,” ujarnya dengan nada datar, tanpa senyum sama sekali.

Bima hanya mengangguk pelan, lalu duduk dengan posisi yang agak menegang. Ia menyantap makanannya dengan gerakan lambat dan diam, sedangkan Samuel juga tidak banyak bicara selama beberapa menit berikutnya. Suara sendok dan garpu yang menyentuh piring menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu.

Mereka makan dengan suasana hening . karena memang sudah kebiasaan dari keluarga Nugroho kalau sedang makan tidak boleh ada suara orang mengobrol .

Sedangkan Bima makan sambil tertunduk dia takut menatap wajah ayahnya .

Begitu selesai makan, Samuel meletakkan peralatan makannya perlahan, lalu menatap tajam ke arah Bima yang langsung berhenti bergerak dan semakin menunduk dalam.

“Bima , Dengarkan baik-baik apa yang akan ayah katakan ini,” mulai Samuel dengan suara berat dan tegas. “Aku tidak akan melarang mu bermain atau bergaul dengan teman-temanmu, tapi ada batasannya. Kamu harus tahu kapan waktunya pulang, harus menjaga sikap, dan tidak boleh berbuat hal-hal yang melanggar aturan maupun merugikan orang lain.”

Ia menjeda ucapannya sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih keras dan mengancam:

“Ingat ini baik-baik. Jangan sampai aku mendengar atau menerima laporan apa pun bahwa kamu berbuat macam-macam, membuat masalah, atau bersikap semau kamu di luar sana. Jika sampai hal itu terjadi, maka jangan salahkan aku jika aku memberikan hukuman yang lebih berat dari biasanya. Aku tidak akan ragu untuk menegur dan mendidik mu agar kamu sadar akan tempat dan tingkah lakumu. Mengerti Bima ?”

Bima menggigit bibirnya, menahan perasaan campur aduk di hatinya. Ia hanya bisa menjawab dengan suara lirih dan terbata-bata, “Bima… mengerti, Yah.”

Samuel mengangguk singkat, merasa cukup dengan jawaban itu meski ia tahu tidak sepenuhnya hati Bima menyetujuinya. Ia berdiri dari kursinya, bersiap untuk berangkat.

“Kalau begitu, bersiaplah berangkat ke sekolah. pak Dadang akan mengantarmu. kamu tidak di ijinkan membawa motor Ingat pesanku tadi, jangan sampai terulang kesalahan yang sama lagi , pulang tepat waktu .” perintahnya terakhir kali sebelum melangkah pergi menuju pintu utama untuk berangkat ke kantor.

Sementara itu, Bima tetap duduk terpaku di tempatnya. Begitu punggung ayahnya menghilang, raut wajahnya berubah kembali menjadi dingin dan keras. Ia meremas ujung seragam sekolahnya, memendam rasa kesal dan keinginan untuk melawan yang semakin membesar di dalam hatinya.

Tiba-tiba , panggilan pak Dadang membuyarkan lamunan Bima .

" Den bima . Ayo kita berangkat sekarang . Nanti telat ke sekolahnya." seru pak Dadang dengan sopan.

Bima hanya menatapnya datar ke arah Padang. Dia lalu berjalan menuju mobil . kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. tatapannya masih penuh dengan amarah.

Pak Dadang yang sudah duduk di kursi kemudi pun hanya bisa menghela nafas . dia tahu betul kalau anak majikannya tidak suka diantarkan naik mobil.

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!