NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pagi itu, alun-alun desa lebih ramai dari biasanya. Bukan karena pasar, tapi karena kabar burung: Sidang Ulang.

Raka duduk di kursi kayu yang sama. Tubuhnya masih terasa seperti kumpulan tulang yang direkatkan lem buruk. Tapi hari ini, dia tidak sendirian dalam keheningan. Di sampingnya, Laras berdiri dengan postur tegak. Wajahnya segar, meski ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya—tanda begadang semalam.

Di seberang sana, Hendra dan Joko tampak gelisah. Mereka tidak tahu apa yang terjadi tadi malam. Yang mereka tahu, Pak Hardo memanggil mereka pagi-pagi buta dengan wajah yang sulit dibaca.

Pak Hardo duduk di kursi rotannya. Matanya tertutup. Jari-jarinya mengetuk sandaran. Tak. Tak. Tak. Ritme yang sama. Menenangkan bagi sebagian orang, menakutkan bagi lainnya.

"Warga sekalian," suara Pak RT terdengar agak gugup kali ini. Dia sering melirik ke arah Pak Hardo, seolah mencari persetujuan untuk setiap kata. "Sidang ini dibuka kembali karena adanya... keterangan baru."

Hendra langsung berdiri. "Keterangan apa? Jangan-jangan Raka menyogok saksi!" teriaknya, mencoba mengambil inisiatif sebelum keadaan berbalik.

"Diam," ucap Pak Hardo. Satu kata. Singkat. Dingin.

Hendra membeku. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Seluruh alun-alun hening. Bahkan angin pun seolah menahan napas.

Pak Hardo membuka matanya. Tatapannya tidak jatuh pada Raka. Tapi pada seorang pria paruh baya yang baru saja masuk ke alun-alun, diikuti oleh dua staf kecamatan. Pria itu memakai kemeja batik rapi, wajahnya serius.

Itu Pak Surya, Kepala Desa.

Warga bergumam kaget. Jarang sekali Pak Surya hadir di sidang adat biasa. Kehadirannya menandakan urusan ini sudah naik level. Bukan lagi sekadar perselisihan antarwarga, tapi masalah tata kelola desa.

"Pak Hardo," sapa Pak Surya sopan, tapi tegas. Dia tidak membungkuk berlebihan. Status sosial mereka sejajar, meski Pak Hardo lebih tua dalam hal kultivasi.

"Pak Surya," balas Pak Hardo. Nadanya datar.

"Saya menerima laporan anonim tadi malam," lanjut Pak Surya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari sakunya. "Tentang dugaan pelanggaran prosedur sidang dan intimidasi terhadap warga baru. Selain itu..." Dia berhenti sejenak, menatap Hendra dan Joko yang kini mulai berkeringat dingin. "...ada klaim bahwa keluarga saya memiliki hutang budi yang belum terlunasi terkait pendanaan balai desa lima tahun lalu."

Pak Hardo mengangkat alis sedikit. Ini pertama kalinya ekspresi kejutan muncul di wajahnya. Dia menoleh ke arah Raka.

Raka tidak tersenyum. Dia hanya menunduk hormat. Sikap pasif. Seolah-olah dia tidak tahu apa-apa tentang amplop itu.

Pak Surya membuka amplop. Mengeluarkan fotokopi catatan tua. "Donasi sebesar lima puluh juta rupiah dari Alm. Guru Raka untuk renovasi balai desa. Dengan surat pernyataan terima kasih yang ditandatangani oleh saya sendiri. Dalam surat itu, tertulis janji bahwa keturunan atau murid dari donatur akan mendapat perlindungan khusus dari pemerintah desa selama tinggal di sini."

Keheningan total.

Lima puluh juta. Angka yang sangat besar untuk ukuran desa kecil lima tahun lalu. Itu uang yang menyelamatkan proyek balai desa dari kebangkrutan. Dan janji perlindungan itu... itu adalah kontrak moral yang mengikat.

Hendra gemetar. "Itu... itu palsu! Raka memalsukan dokumen!" teriaknya putus asa.

"Jika palsu," kata Pak Surya dingin, "silakan bawa ke polisi untuk verifikasi tinta dan kertas. Tapi ingat, memfitnah pejabat desa dan mendiskreditkan donatur adalah tindak pidana pencemaran nama baik. Hukumannya penjara, bukan sekadar diusir."

Hendra terdiam. Mukanya pucat pasi. Joko sudah hampir menangis. Mereka sadar, mereka kalah. Bukan karena kekuatan tinju, tapi karena kertas tua dan tanda tangan yang sah.

Pak Hardo akhirnya berbicara. Suaranya rendah, tapi terdengar jelas oleh semua orang.

"Cukup."

Dia berdiri. Perlahan. Anggun. Mengintimidasi.

"Hendra. Joko. Kalian dibebastugaskan dari pengawasan Raka. Pulang ke rumah. Jangan keluar sampai saya panggil."

"Tapi Pak..." protes Hendra lemah.

"Pulang!" bentak Pak Hardo. Kali ini, ada sedikit aura tekanan spiritual yang bocor. Cukup untuk membuat lutut Hendra lemas. Mereka lari terbirit-birit, meninggalkan rasa malu yang mendalam di hadapan seluruh warga.

Pak Hardo menoleh ke Raka. Tatapannya tajam. Menilai.

"Kau pintar, Nak," ucapnya. "Menggunakan masa lalu Gurumu sebagai perisai. Itu langkah cerdas. Tapi ingat..." Dia mendekat, suaranya hanya terdengar oleh Raka dan Laras. "...perlindungan kertas hanya berlaku selama kau tidak membuat masalah besar. Jika kau melanggar hukum adat lagi, bahkan Pak Surya tidak bisa menyelamatkanku dari keinginanmu untuk mati."

Itu bukan ancaman kosong. Itu peringatan. Bahwa Raka masih di bawah pengamatan. Bahwa kebebasannya bersyarat.

Raka mengangguk. "Saya mengerti, Pak."

Pak Hardo tersenyum tipis. Senyum yang kali ini mencapai matanya. Sedikit. Sangat sedikit.

"Bagus. Sidang ditutup. Raka bebas dari tuduhan. Warga, bubar."

Massa bergumam-gumam. Ada yang kecewa karena tidak ada hukuman fisik. Ada yang lega karena ketegangan berakhir. Ada yang kagum pada Raka yang ternyata punya "backing" kuat.

Saat kerumunan mulai bubar, Laras menghela napas panjang. Bahunya turun. Ketegangan semalam akhirnya lepas.

"Kau beruntung Pak Surya masih punya hati nurani," gumam Laras sambil berjalan menyusul Raka yang berjalan pelan menuju gubuk.

"Atau dia takut skandal korupsi lama terbongkar," balas Raka sinis.

Laras tertawa. Tawa renyah yang jarang terdengar. "Kau memang menyebalkan. Tapi... thanks. Kau selamat."

Mereka berjalan berdampingan. Matahari pagi menyinari punggung mereka. Bayangan mereka memanjang di tanah berdebu.

Raka merasa lelah. Sangat lelah. Tapi ada rasa puas yang aneh. Dia berhasil bertahan. Dia berhasil membalikkan keadaan tanpa meninju siapa pun. Dia belajar bahwa di dunia ini, informasi dan koneksi kadang lebih tajam daripada pedang.

Sistem di kepalanya tetap hening. Tidak ada notifikasi "Quest Selesai". Tidak ada hadiah besar.

Tapi Raka merasakannya sendiri. Sebuah perasaan ringan di dada. Sebuah keyakinan bahwa dia bisa bertahan lebih lama dari yang diperkirakan orang lain.

Arc Desa belum selesai. Bima masih koma. Pak Hardo masih mengawasi. Tapi setidaknya, Raka sekarang punya ruang untuk bernapas. Ruang untuk pulih. Dan ruang untuk mempersiapkan diri menghadapi apa pun yang datang berikutnya.

Di ujung jalan, seseorang mengamati mereka dari balik jendela rumah. Bukan Hendra. Bukan Joko.

Seorang wanita tua dengan kain kebaya usang. Matanya tajam. Dia melihat Raka. Lalu dia melihat Laras.

Dia tersenyum. Senyum misterius yang mirip dengan wanita △404, tapi lebih tua. Lebih berpengalaman.

"Anak itu..." bisiknya pada diri sendiri. "Dia punya darah yang sama dengan Gurunya. Menarik."

Dia menutup tirai. Hilang dari pandangan.

Raka tidak melihatnya. Tapi bulu kuduknya merinding sesaat. Firasat buruk? Atau firasat baik?

Dia tidak tahu. Yang dia tahu, dia harus segera istirahat. Karena besok, latihan sesungguhnya baru akan dimulai.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!