Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Senyum Seorang Pembunuh
Pagi telah datang bersama dengan hujan tipis yang turun sejak dari tadi subuh.
Tetesannya membasahi jendela kamar Arda dan menciptakan suara pelan yang membuat suasana terasa muram.
Arda sudah terbangun sejak lama.
Namun ia belum beranjak dari tempat tidur.
Matanya menatap langit-langit kamar.
Pikirannya dipenuhi banyak hal.
Terlalu banyak.
Sejak kematian Leon, hidupnya berubah begitu cepat hingga terkadang ia merasa tidak sempat memahami apa yang sedang terjadi.
Dulu ia hanya seorang anak yang hidup nyaman bersama keluarganya.
Kini ia menjadi buronan.
Pewaris organisasi mafia terbesar yang sedang runtuh.
Target orang-orang yang bahkan tidak pernah ia kenal.
Dan yang paling mengganggunya...
Ia mulai terbiasa dengan semua itu.
Kesadaran tersebut membuatnya takut.
Karena beberapa bulan lalu, mendengar satu berita kematian saja sudah cukup membuatnya terguncang.
Sekarang?
Ia hampir tidak terkejut lagi ketika mendengar seseorang dibunuh.
Seolah dunia perlahan mengikis bagian dirinya yang dulu masih polos.
Arda memejamkan mata.
Lalu wajah Leon muncul dalam ingatannya.
Senyum ayahnya.
Suara tawanya.
Cara Leon mengacak rambutnya saat mereka makan malam bersama.
Kenangan itu terasa jauh.
Sangat jauh.
Namun justru karena itu Arda tidak ingin melupakannya.
Karena ia takut.
Takut suatu hari nanti dirinya berubah menjadi orang yang tidak lagi mengingat siapa dirinya sebelum semua ini dimulai.
Saat turun ke lantai bawah, suasana rumah terasa aneh.
Tidak ada candaan.
Tidak ada percakapan santai.
Bahkan Elena yang biasanya selalu berusaha membuat suasana hangat terlihat lebih pendiam.
Kael berdiri di dekat jendela.
Ravian duduk di meja makan dengan beberapa laporan terbuka.
Sedangkan Darius tampak lelah.
Sangat lelah.
"Ada apa?"
tanya Arda.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Dan itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar.
"Tiga orang kita hilang."
ucap Ravian akhirnya.
Arda membeku.
"Hilang?"
ulangnya.
Ravian mengangguk.
"Mereka tidak kembali dari tugas semalam."
Arda menatap wajah mereka satu per satu.
Tidak ada yang terlihat optimis.
Tidak ada yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Karena semua orang di ruangan itu memahami kenyataan yang sama.
Orang yang hilang dalam dunia mereka biasanya tidak akan kembali hidup-hidup.
"Victor?"
tanya Arda.
Kael menggeleng.
"Kalau ini hanya Victor, aku tidak akan setegang ini."
jawabnya.
Nama itu kembali muncul.
Nama yang beberapa hari terakhir terus menghantui rumah persembunyian.
Silas Veyron.
Arda menatap Darius.
"Kalian selalu menyebut namanya."
ucapnya.
"Tapi tidak pernah benar-benar menjelaskan kenapa semua orang takut."
Darius menghela napas panjang.
Pria itu tampak tidak suka mengingat masa lalu.
Namun akhirnya ia duduk dan mulai berbicara.
"Delapan tahun lalu..."
ucapnya perlahan.
"...aku pernah melihat apa yang tersisa setelah Silas menyelesaikan pekerjaannya."
Ruangan langsung hening.
Bahkan Kael dan Ravian ikut mendengarkan.
"Ada seorang bos mafia bernama Arturo Mendez."
lanjut Darius.
"Dia menguasai hampir seluruh wilayah selatan."
"Orangnya kejam."
"Paranoid."
"Dan memiliki ratusan penjaga."
Arda mendengarkan tanpa memotong.
"Suatu malam Arturo mengadakan pesta besar."
kata Darius.
"Lebih dari lima puluh penjaga berjaga di rumahnya."
"Belasan kamera aktif."
"Tidak ada titik buta."
"Tidak ada celah."
"Lalu apa yang terjadi?"
tanya Arda.
Darius tersenyum pahit.
"Keesokan paginya Arturo ditemukan mati."
jawabnya.
"Penjaganya?"
"Tidak melihat apa pun."
"Kameranya?"
"Tidak merekam apa pun."
"Pintunya?"
"Tetap terkunci."
Arda merasakan bulu kuduknya meremang.
"Mustahil."
gumamnya.
"Itulah yang dipikirkan semua orang."
jawab Ravian.
Darius melanjutkan.
"Arturo ditemukan duduk di kursinya."
"Wajahnya tersenyum."
"Senyum yang tidak wajar."
"Dan di belakangnya terdapat simbol besar yang digambar menggunakan darah."
"Senyuman."
Keheningan memenuhi ruangan.
"Setelah itu..."
lanjut Darius.
"...nama Silas mulai menyebar."
"Orang-orang mulai menyebutnya Senyum Kematian."
"Karena ke mana pun dia pergi, selalu ada mayat."
"Dan selalu ada senyuman."
Arda menelan ludah.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami mengapa nama itu begitu ditakuti.
Menjelang siang telepon Ravian berdering.
Pria itu langsung mengangkatnya.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
"Mereka ditemukan."
ucapnya.
Ruangan membeku.
"Hidup?"
tanya Kael.
Ravian tidak menjawab.
Dan itu sudah menjadi jawaban.
Empat puluh menit kemudian Kael, Darius, dan Ravian tiba di sebuah gudang tua dekat pelabuhan.
Bangunan itu tampak kosong.
Lapuk.
Seperti tempat yang telah ditinggalkan bertahun-tahun.
Namun suasana di sekitarnya terasa tidak nyaman.
Saat memasuki gudang, Darius langsung berhenti.
Rahangnya mengeras.
"Brengsek..."
gumamnya.
Tiga mayat berada di tengah ruangan.
Mereka berlutut.
Tangan terikat.
Kepala tertunduk.
Seolah seseorang sengaja menempatkan mereka di sana sebagai pertunjukan.
Ravian mengenali salah satu korban.
Namanya Victor Ramos.
Pria yang sudah bekerja untuk keluarga Valdarez selama hampir enam tahun.
Ravian menundukkan kepala sesaat.
Ia mengenal pria itu.
Mereka pernah minum bersama.
Pernah tertawa bersama.
Dan sekarang ia hanya menjadi mayat.
"Dia punya anak perempuan."
gumam Ravian pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Karena tidak ada kata-kata yang bisa mengubah kenyataan.
Kael memeriksa lokasi.
Tidak ada bekas perlawanan.
Tidak ada kekacauan.
Hanya tiga luka bersih.
Cepat.
Presisi.
Mematikan.
Pembunuhnya bahkan tidak memberi kesempatan kepada korban untuk melawan.
Kemudian Kael melihat dinding di bagian belakang.
Dan ekspresinya langsung berubah.
Sebuah gambar besar memenuhi dinding.
Wajah tersenyum.
Digambar menggunakan darah.
Darah para korban.
Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Karena semua orang memahami pesan tersebut.
Silas Veyron telah tiba.
Dan ia sengaja mengumumkan kehadirannya.
"Ini bukan sekadar pembunuhan."
ucap Kael.
"Ini tantangan."
"Dia ingin kita tahu bahwa dia ada di sini."
Malam harinya mereka kembali ke rumah persembunyian.
Dan suasana langsung berubah semakin tegang.
Penjagaan diperketat.
Semua pintu diperiksa.
Semua akses keluar masuk diawasi.
Karena sekarang ancaman itu bukan lagi dugaan.
Ancaman itu nyata.
Di sisi lain kota...
Pada lantai tertinggi sebuah klub malam mewah milik Victor Nero...
Seorang pria duduk sendirian.
Namanya Silas Veyron.
Jas hitam mahal membungkus tubuhnya.
Segelas anggur merah berada di meja.
Lampu kota terlihat melalui kaca besar di belakangnya.
Sulit membayangkan bahwa pria yang tampak tenang itu adalah pembunuh yang ditakuti banyak organisasi.
Pintu terbuka.
Seorang bawahan Victor masuk.
"Bos Victor puas."
lapornya.
Silas tersenyum kecil.
"Bagus."
jawabnya.
Senyum itu tampak ramah.
Hampir hangat.
Namun justru itulah yang membuat orang-orang takut.
Karena tidak ada emosi di sana.
Tidak ada rasa bersalah.
Tidak ada penyesalan.
Hanya ketenangan.
Setelah bawahan itu pergi, Silas berjalan menuju jendela.
Kemudian mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.
Leon Valdarez.
Tatapannya melembut sesaat.
"Aku masih tidak percaya kau mati lebih dulu dariku."
gumamnya.
Ada sesuatu dalam suaranya.
Sesuatu yang terdengar seperti kenangan lama.
Seolah ia pernah mengenal Leon jauh lebih dekat daripada yang diketahui siapa pun.
Perlahan ia mengeluarkan foto lain.
Foto Arda.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Putramu..."
gumamnya.
"Aku penasaran."
"Apakah dia mewarisi kekuatanmu..."
"Atau hanya mewarisi namamu."
Silas menatap foto itu cukup lama.
Kemudian memasukkannya kembali ke dalam saku.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke kota tersebut...
Ia benar-benar tertarik.
Dan ketika Silas tertarik pada seseorang...
Biasanya itu berakhir buruk bagi orang tersebut.
Di rumah persembunyian...
Arda berdiri di depan jendela kamarnya.
Memandangi hujan yang kembali turun.
Ia tidak tahu bahwa seorang pembunuh sedang memikirkannya.
Ia tidak tahu bahwa namanya kini berada dalam perhatian musuh yang jauh lebih berbahaya daripada Victor Nero.
Dan ia tidak tahu bahwa langkah kecil yang ia ambil setiap hari...
Sedang membawanya semakin dekat menuju takdir yang tidak bisa dihindari.
Takdir yang suatu hari akan memaksanya memilih:
tetap menjadi anak kecil...
atau menjadi monster yang ditakuti seluruh kota.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪