"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.
Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak Kecil di Atas Air Tenang
Kebahagiaan yang baru saja tumbuh di mansion Smith mendadak diuji oleh sebuah kedatangan yang tak terduga. Siang itu, sebuah mobil mewah berlogo militer faksi barat berhenti di depan halaman. Pinta ruangan tengah terbuka, menampilkan sosok wanita anggun berambut merah menyala dengan seragam bangsawan militer yang rapi.
Wanita itu adalah Helena Vance. Bagi Reymond, Helena adalah seorang sahabat karib sejak masa pelatihan militer, sekaligus putri dari jenderal senior faksi Smith. Namun, di balik status persahabatan yang telah terjalin bertahun-tahun, Helena memendam perasaan cinta yang teramat dalam kepada Reymond—perasaan yang selalu ia kunci rapat dan tidak pernah ia tunjukkan secara terang-terangan di depan umum.
Helena melangkah masuk dengan senyum ramah yang tampak begitu anggun, menyapa Claudia yang sedang membaca buku di sofa.
"Kau pasti Claudia," ujar Helena lembut, mengulurkan tangannya.
"Aku Helena Vance, sahabat lama Reymond. Maaf jika kedatanganku mendadak, aku baru saja kembali dari penugasan di wilayah barat."
Claudia berdiri dan membalas jabat tangan tersebut. Di luar dugaan Cla, Helena bersikap sangat sopan. Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama ketika Reymond masuk ke dalam ruangan. Wajah kaku sang jenderal tampak sedikit melunak saat melihat kehadiran sahabat lamanya.
"Helena? Kapan kau kembali dari wilayah barat?" tanya Reymond, berjalan mendekat dan langsung mengambil posisi duduk di samping Claudia, merangkul pinggang istrinya secara alami.
Melihat kedekatan itu, ada kilat kecemburuan yang tertangkap oleh radar Claudia. Detik berikutnya, sikap Helena mulai berubah menjadi sedikit menyebalkan. Ia sengaja mengabaikan keberadaan Claudia dan mulai menunjukkan betapa dekatnya hubungan masa lalu yang ia miliki dengan Reymond.
"Aku baru tiba tadi pagi, Rey. Dan astaga, kau masih saja kaku seperti dulu," ujar Helena dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat, sambil tertawa kecil. Ia menoleh ke arah Claudia dengan senyum yang dipaksakan.
"Kau tahu, Lady Claudia? Suamimu ini dulu hampir dikeluarkan dari barak pelatihan karena sangat keras kepala. Hanya aku satu-satunya orang yang bisa menenangkan emosinya saat itu."
Helena kemudian menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah meja, menatap Reymond dengan pandangan intens.
"Rey, ingat tidak saat kita terjebak badai di perbatasan barat tiga tahun lalu? Kau terpaksa berbagi selimut denganku karena cuaca sangat dingin. Dan kau masih menyukai kopi hitam tanpa gula buatan faksi barat, kan? Aku sengaja membawakan biji kopi kesukaanmu dari sana."
Claudia hanya diam, mendengarkan setiap kalimat Helena yang terus-menerus memamerkan kedekatan dan kenangan masa lalu mereka.
Sebagai wanita yang terbiasa membaca situasi untuk bertahan hidup, Cla tahu betul apa yang sedang dilakukan Helena. Wanita berambut merah itu sedang mencoba mengintimidasinya, menegaskan bahwa ia tahu segala hal tentang Reymond yang tidak diketahui oleh Claudia.
Namun, alih-alih terpancing emosi atau cemburu, Claudia justru menyunggingkan senyum anggunnya. Ia perlahan meraih cangkir tehnya, menyesapnya tenang, lalu menatap Reymond dengan pandangan menggoda yang lembut.
Reymond sendiri mulai merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan Helena. Cengkeraman tangannya di pinggang Claudia semakin mengerat. Ia menatap Helena dengan pandangan mata elangnya yang kembali dingin dan tegas.
"Itu cerita lama saat kita masih menjadi prajurit amatir, Helena," potong Reymond tajam, memutus rentetan kenangan yang sedang dibangun sahabatnya.
"Sekarang situasinya sudah berbeda. Seleraku juga sudah berubah. Aku tidak lagi menyukai kopi hitam tanpa gula dari faksi barat. Sekarang, aku hanya menyukai teh herbal hangat yang selalu disiapkan oleh istriku setiap pagi."
Reymond kemudian menoleh ke arah Claudia, mengecup pelipis istrinya dengan sangat mesra di hadapan Helena.
"Dan tentang badai di masa lalu... itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kenyamanan yang kudapatkan setiap kali aku memeluk Claudia di mansion ini."
Mendengar jawaban telak dari Reymond, kalimat Helena seketika tercekat di tenggorokan. Wajah cantiknya sempat menegang dan merona merah karena menahan malu.
Senyum menyebalkan di bibirnya langsung memudar, menyadari bahwa taktiknya untuk memamerkan kedekatan sama sekali tidak mempan. Reymond yang sekarang telah sepenuhnya membentengi dirinya dengan cinta mutlak untuk Claudia.
Menyadari posisinya yang semakin terdesak dan tidak ingin mempermalukan dirinya lebih jauh, Helena terpaksa merapikan dokumen logistik di atas meja, lalu berdiri dengan kaku.
"Ah, begitu ya... senang mendengarnya, Rey," ujar Helena, memaksakan suaranya agar tetap terdengar stabil meski hatinya terasa remuk. "Kalau begitu, aku harus segera kembali ke markas pusat untuk melaporkan dokumen ini pada ayahku. Lady Claudia, senang bisa bertemu denganmu."
Claudia bangkit berdiri dengan keanggunan seorang Lady sejati.
"Senang bertemu denganmu juga, Helena. Terima kasih sudah membawakan berkas militer untuk suamiku."
Begitu mobil Helena bergerak menjauh dari halaman mansion, Claudia langsung berbalik menghadap Reymond, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menaikkan satu alisnya.
"Jadi... berbagi selimut di perbatasan barat, huh, Jenderal Smith?" goda Claudia dengan nada menyindir yang manis.
Reymond langsung panik, sesuatu yang sangat langka terjadi pada seorang panglima perang aliansi. Ia segera menarik tubuh Claudia ke dalam pelukannya, mengunci pinggang wanita itu erat-erat. "Cla, demi Tuhan, itu hanya murni tugas militer dan tidak ada perasaan apa pun. Aku bersumpah."
Claudia tertawa renyah, tawa lepas yang begitu merdu di telinga Reymond. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, menatap mata elang pria itu yang kini dipenuhi kecemasan palsu.
"Aku tahu, Rey. Aku memercayaimu seutuhnya," bisik Claudia manis sebelum mengecup singkat bibir suaminya.
Riak kecil dari masa lalu itu tidak mampu meruntuhkan fondasi cinta mereka. Kehadiran Helena justru semakin menegaskan bahwa di dalam hidup Reymond Oliver Smith, hanya ada satu nama wanita yang tertulis sebagai pemilik takhta hatinya: Claudia Montgomery Smith.