NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI SANG GUS COLD

ISTRI PENGGANTI SANG GUS COLD

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Poligami
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semburat Fajar dan Jejak yang Tertinggal

Cahaya fajar menyusup malu-malu di balik gorden tebal kamar 704. Badai besar yang mengamuk sepanjang malam kini telah mereda, menyisakan langit abu-abu bersih dan sisa-sisa air yang menetes dari kaca jendela besar hotel. Suasana kota Jakarta di pagi hari itu terasa begitu tenang, kontras dengan gemuruh gairah yang baru saja meredam di dalam kamar tersebut beberapa jam yang lalu.

Di atas ranjang *king-size* yang berantakan, Lea perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sepasang lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya tanpa jarak ke dalam dada bidang yang hangat. Aroma maskulin bercampur wangi sabun hotel yang khas langsung menyapa indra penciumannya.

Lea menatap wajah Gus Malik yang masih terlelap di sampingnya. Dalam jarak sedekat ini, Lea bisa melihat sisa-sisa kelelahan sekaligus kepuasan yang tercetak di wajah suaminya. Garis rahang yang biasanya tegang dan kaku kini nampak begitu rileks. Rambut hitam Malik yang biasanya rapi tertutup peci, kini berantakan di atas bantal putih, memberikan kesan seksi yang belum pernah Lea lihat sebelumnya.

Mengingat kembali apa yang mereka lakukan semalam, wajah Lea mendadak merona merah hingga ke leher. Tidak ada obat perangsang, tidak ada kepanikan karena mati lampu. Semalam adalah murni penyerahan diri yang didasari oleh rasa cinta yang mulai tumbuh di antara keduanya. Cara Malik menyentuhnya, bisikan-bisikan zikir yang diselingi pujian lembut di telinganya, membuat Lea merasa benar-benar dihargai sebagai seorang istri, bukan sekadar bayang-bayang Kak Najwa.

"Gus..." bisik Lea pelan, tangannya terulur menyusuri rahang tegas Malik dengan lembut.

Sentuhan halus itu rupanya mengusik tidur nyenyak sang Gus. Kelopak mata Malik bergerak perlahan, lalu terbuka, menampilkan manik mata hitam pekat yang langsung mengunci pandangan Lea. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling menatap dalam keheningan pagi yang intim.

Sebuah senyuman tipis—yang teramat langka—muncul di bibir Malik. Ia mempererat pelukannya pada pinggang Lea, lalu mengecup kening istri keduanya itu dengan durasi yang lama.

"Good morning, Kalea. Apakah tubuhmu masih terasa sakit?" tanya Malik dengan suara baritonnya yang berat dan serak khas orang baru bangun tidur.

Pertanyaan blak-blakan itu sukses membuat Lea menyembunyikan wajahnya di dada Malik, memukul pelan bahu pria itu. "Gus! Jangan ditanya kayak gitu, dong. Malu tahu."

Malik terkekeh pelan, sebuah suara tawa yang begitu renyah dan menenangkan hati Lea. Ia mengusap rambut pirang Lea yang berantakan. "Tidak ada yang perlu dimalukan, kamu istri saya yang sah. Tapi, kita harus segera bersiap. Sebentar lagi masuk waktu Subuh, kita harus mandi wajib dan segera melakukan perjalanan pulang sebelum jalanan kembali macet."

Mendengar kata 'pulang' dan 'mandi wajib', ingatan Lea langsung melesat pada kejadian di rumah beberapa hari lalu saat Ibu mertuanya mencurigai cara jalannya. Ditambah lagi, mengingat fakta bahwa mereka harus kembali ke rumah tempat Najwa berada, rasa bersalah yang sempat menguap semalam kini kembali merayap di relung hati Lea.

Malik yang peka menyadari perubahan raut wajah Lea. Ia mengecup pucuk kepala Lea sekali lagi. "Jangan takut. Semua akan baik-baik saja. Saya yang akan bertanggung jawab atas segalanya."

Tepat pukul tujuh pagi, mobil putih milik Malik sudah membelah jalanan tol menuju Jakarta Timur. Sisa-sisa banjir semalam masih terlihat di beberapa titik jalan arteri, namun jalur tol relatif lancar.

Suasana di dalam mobil kali ini terasa sangat berbeda dibandingkan perjalanan berangkat kemarin. Tidak ada lagi keheningan yang kaku dan mencekam. Meskipun murattal ayat suci tetap mengalun pelan dari pemutar musik, tangan kiri Malik kini tidak lagi diam di atas tuas perseneling. Pria itu sesekali meraih tangan kanan Lea, menggenggamnya erat di atas paha, seolah menegaskan bahwa hubungan mereka kini telah bergeser ke arah yang lebih dalam.

Lea sendiri merasa hatinya jauh lebih tenang. Perhatian-perhatian kecil Malik, seperti memastikan AC mobil tidak terlalu dingin untuknya dan membukakan botol air minum sebelum diminta, membuat Lea benar-benar merasa dicintai. Namun, semakin mereka mendekati gerbang pesantren, detak jantung Lea semakin berpacu cepat.

"Gus, nanti kalau sampai rumah... kita bersikap biasa aja kan di depan Kak Najwa?" tanya Lea lirih, matanya menatap cemas ke arah luar jendela.

Malik terdiam sejenak, genggamannya pada tangan Lea mengerat. "Iya, Kalea. Di depan Najwa dan Ibu, kita tetap harus menjaga batasan seperti biasa. Bukan karena saya ingin menyembunyikanmu, tapi demi menjaga perasaan dan kesehatan Najwa yang kian merapuh. Kamu mengerti, kan?"

Lea mengangguk pelan. "Gue mengerti, Gus. Gue juga nggak mau bikin Kak Najwa sedih."

Mobil putih itu akhirnya memasuki pekarangan rumah utama Pesantren Al-Fatih sekitar pukul sembilan pagi. Suasana pesantren nampak ramai dengan aktivitas para santri yang sedang kerja bakti membersihkan sisa-sisa daun kering akibat badai semalam.

Begitu Malik dan Lea melangkah masuk ke dalam rumah, mereka langsung disambut oleh harum aroma masakan sup ayam dari arah dapur. Najwa sedang duduk di kursi rodanya di dekat meja makan, sementara Ibu mertua sedang menata mangkuk-mangkuk di atas meja.

"Assalamu'alaikum," ucap Malik dan Lea hampir bersamaan.

"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah, kalian sudah sampai," jawab Najwa dengan senyuman manisnya yang khas. Wajahnya nampak sedikit pucat, namun binar matanya memancarkan kelegaan yang tulus. "Bagaimana perjalanannya, Mas? Lea? Kalian tidak apa-apa, kan? Semalam badainya besar sekali."

Malik mendekat, menyalami ibunya lalu mengecup kening Najwa seperti biasa. "Alhamdulillah, kami aman, Najwa. Semalam memang tidak memungkinkan untuk memaksa pulang, jadi kami menginap di daerah Jakarta Barat."

Lea ikut mendekat dan menyalami tangan kakaknya serta Ibu mertua. Ia berusaha keras menampilkan ekspresi sewajar mungkin, meski kakinya masih terasa sedikit lemas akibat aktivitas intensifnya semalam bersama Malik.

"Lea, mukamu kok kelihatan segar sekali hari ini? Kulitmu juga kelihatan lebih merona, tidak pucat seperti kemarin-kemarin," celetuk Ibu mertua sambil menatap Lea dari atas sampai bawah dengan mata menyelidik.

Pertanyaan itu seketika membuat Lea dan Malik menegang. Malik yang baru saja hendak duduk di kursinya langsung berdehem keras, berpura-pura merapikan letak pecinya.

"Ah... itu, Bu... mungkin karena semalam Lea tidurnya cukup lama di hotel. AC-nya dingin, jadi bikin segar," jawab Lea gugup, memberikan alasan sekenanya.

Najwa yang memperhatikan interaksi tersebut hanya tersenyum tipis. Sebagai seorang wanita yang telah mendampingi Malik selama bertahun-tahun, ia bisa merasakan ada perubahan atmosfer yang sangat nyata antara suaminya dan adiknya. Tatapan mata Malik pada Lea tidak lagi sedingin es seperti dulu; ada gurat perlindungan dan kehangatan yang samar di sana.

Bukannya sedih atau cemburu, hati Najwa justru membuncah oleh rasa syukur. 'Ya Allah, terima kasih. Engkau telah mulai menyatukan hati mereka sebelum waktu hamba habis,'batin Najwa dalam doa yang paling sunyi.

Selesai sarapan, suasana tenang itu mendadak terusik ketika Mbak pengasuh Arkan berjalan masuk dari arah teras depan sambil membawa sebuah amplop cokelat berukuran besar yang cukup tebal.

"Permisi, Gus... Ning... tadi di depan pagar ada seorang pria misterius memakai jaket hitam dan helm tertutup menitipkan amplop ini. Katanya, ini dokumen penting untuk Gus Malik dan Non Lea," ucap Mbak pengasuh sambil menyerahkan amplop tersebut kepada Malik.

Malik mengerutkan keningnya. "Dokumen penting dari siapa, Mbak?"

"Kurang tahu, Gus. Pria itu langsung pergi menggunakan motor setelah menyerahkan ini."

Perasaan Lea mendadak tidak enak. Firasat buruk mulai menggelayuti benaknya. Ia menatap amplop cokelat itu dengan dada yang bergemuruh kencang.

Malik membuka perekat amplop tersebut dengan perlahan di bawah tatapan penasaran Najwa dan Ibunya. Ketika isi di dalam amplop itu ditarik keluar, mata Malik seketika membelalak sempurna. Tubuhnya menegang, dan rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Di dalam amplop itu bukanlah dokumen yayasan atau surat penting pesantren, melainkan belasan lembar foto cetak beresolusi tinggi. Foto-foto itu memperlihatkan kejadian beberapa hari lalu di depan hotel: foto saat Lea yang dalam pengaruh obat perangsang nampak acak-acakan dan sempoyongan dipapah oleh Tom, serta foto saat Lea menerjang masuk ke dalam mobil Malik sambil memegang dada pria itu.

Di lembar paling belakang, terdapat sebuah kertas putih dengan tulisan yang dicetak menggunakan komputer:

"Gus suci pemilik pesantren terpandang, mari kita lihat bagaimana hancurnya reputasimu jika foto-foto menjijikkan dari istri keduamu yang murahan ini tersebar ke seluruh santri dan media. Temui aku malam ini jam 11 di gudang tua pelabuhan, atau bersiaplah menanggung malu."

"Mas... itu surat apa?" tanya Najwa yang menyadari perubahan ekspresi suaminya yang mendadak drastis menjadi sangat menyeramkan.

Malik dengan cepat memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplop, menyembunyikannya di balik tubuhnya. "B-bukan apa-apa, Najwa. Hanya dokumen lama yayasan yang salah kirim. Saya harus ke kantor pesantren sekarang untuk mengurusnya."

Malik bangkit dengan terburu-buru, memberikan kode mata yang sangat tajam kepada Lea agar mengikutinya keluar. Lea yang menangkap sinyal bahaya tersebut langsung pamit ke kamar, namun langkah kakinya justru berbelok mengikuti Malik menuju ruang kerja pribadi pria itu di bagian samping rumah.

Begitu pintu ruang kerja ditutup dan dikunci dari dalam, Malik langsung melemparkan amplop cokelat itu ke atas meja kayu. Wajahnya nampak begitu murka, menahan badai amarah yang luar biasa.

"Lihat ini, Kalea! Kelakuan mantan kekasihmu itu sudah benar-benar melewati batas!" desis Malik dengan suara rendah yang sarat akan ancaman.

Lea dengan tangan gemetar mengambil foto-foto tersebut. Begitu melihat isinya, air mata Lea langsung tumpah membasahi pipinya. Seluruh tubuhnya lemas hingga ia harus berpegangan pada tepi meja agar tidak terjatuh.

"Tom... dia beneran mau hancurin kita, Gus," tangis Lea pecah. "Ini semua salah gue... masa lalu gue yang kotor ini akhirnya bawa sial buat keluarga lo dan pesantren ini. Gue harus gimana, Gus?"

Malik berjalan mendekat, mencengkeram kedua bahu Lea dengan erat. Meskipun matanya memancarkan amarah yang membara karena harga dirinya dan istrinya diusik, tatapannya pada Lea tetap penuh dengan tekad perlindungan yang mutlak.

"Dengar saya, Kalea! Ini bukan salahmu, ini adalah murni kejahatan pria bajingan itu!" ucap Malik tegas, menghapus air mata di pipi Lea dengan ibu jarinya. "Dia pikir dia bisa mengancam seorang Malik? Dia salah besar. Saya tidak akan membiarkan satu lembar pun dari foto ini keluar untuk menyakitimu atau menghancurkan pesantren ini."

"Tapi dia minta lo datang ke gudang tua pelabuhan malam ini, Gus! Itu pasti jebakan!" seru Lea cemas, memegang erat lengan baju koko Malik.

Malik menatap lurus ke dalam mata Lea, sebuah tatapan dingin yang mematikan, tatapan dari seorang singa pesantren yang terusik ketenangannya. "Jika dia menginginkan perang, maka saya akan memberikan apa yang dia minta. Tetaplah berada di dalam rumah dan bersikap biasa saja di depan Najwa. Biarkan saya yang menyelesaikan singa kelaparan itu dengan cara saya sendiri."

Malam yang baru saja dilewati dengan keindahan cinta kini mendadak berubah menjadi awal dari pertempuran berdarah. Di balik dinding pesantren yang suci, Gus Malik kini bersiap menghadapi badai hitam yang dibawa oleh masa lalu Lea, demi melindungi kehormatan pernikahan mereka dan wanita yang kini telah bertahta di dalam hatinya.

1
6690
wait ini Lea sama Najwa kakak beradik kandung ya? mohon maaf ya Thor, bukannya kalau kandung tidak boleh dinikahi secara bersamaan oleh pria yang sama , kecuali salah satunya sudah meninggal, baru boleh menikah. misalnya boleh menikah dengan suami kakak namun ketika si istri/kakak sudah meninggal. CMIIW
Nda
double up thor
Nda
novelmu luar biasa thor
Ci Ka
ditunggu up nya thor💪
Nda
ditunggu double up nya thor
Sri Jumiati
lanjut up thor
Sri Jumiati
umur kalea brp ya? kok msh kuliah .kan di buang 20 th yll
Jeon Ndhh: Dikirim umur 3-5 tahun → 20 tahun di London → balik ke Indonesia umur 23-25 tahun → sekarang kuliah semester akhir. karna pernah tertunda. kuliah di umur berapa pun boleh kuliah umur 50 tahun pun masih bisa kuliah 🙏
total 1 replies
Sri Jumiati
semangat thor
Sri Jumiati
bagus ceritanyq
Waodeumizahara Waodeumizahara
kapan apload nya thor🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat bagus
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat bagus
Waodeumizahara Waodeumizahara
thor lebih banyaknya lagi dong aploadnya🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
plis, up lebih banyak thor🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat menarik/Heart/
Anonim
GUS GUS AGUUUS AGUUUSSS
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
lanjut lanjut Thor
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
plis doubel up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!