NovelToon NovelToon
Kanvas Di Balik Baluwarti

Kanvas Di Balik Baluwarti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi / Kerajaan / Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara di Balik Pintu Jati

Kereta kencana Kiai Garuda Mulya melintasi gerbang utama Keraton Amarta dengan keanggunan yang menipu. Begitu roda kereta berhenti di pelataran Bangsal Kenanga, dua wanita yang telah merasa memenangkan takdir itu turun dengan langkah agung, menikmati setiap embusan angin istana yang sudah lama tidak mereka hirup.

Namun, alih-alih sang Raja yang berdiri di ujung tangga dengan wajah hancur, sosok yang menanti mereka adalah Ki Ageng Suro. Pria tua itu berdiri tenang dengan pakaian adat lengkap, wajahnya menunjukan kedukaan yang begitu rapi hingga tak menyisakan celah bagi kecurigaan.

Ki Ageng Suro menunduk takzim, memberikan sembah hormat yang sangat dalam kepada Ibu Suri dan Nastiti.

“Sembah bakti hamba, Gusti Kanjeng Ibu Suri dan Raden Ajeng Nastiti. Selamat datang kembali ke rumah Anda,” ucap Ki Ageng, suaranya bergetar halus—sebuah sandiwara yang sempurna untuk menggambarkan seorang tetua yang sedang menahan lara.

Ibu Suri mengangguk angkuh, menatap sekeliling pelataran yang tampak sepi. “Di mana putraku, Ki Ageng? Mengapa suasananya begitu sunyi? Apakah keraton ini sudah lupa cara menyambut ibunya sendiri?”

“Ampu, Gusti Kanjeng Ibu,” jawab Ki Ageng sambil mengulurkan tangannya, mengisyaratkan agar mereka masuk. “Keraton sedang diselimuti kabut duka yang teramat pekat. Hamba mohon, biarkan hamba mengantar Gusti berdua ke bangsal pribadi untuk beristirahat terlebih dahulu. Segala keperluan dan abdi dalam terbaik telah hamba siapkan di dalam untuk melayani Anda.”

Mereka melangkah masuk ke dalam bangsal yang harum oleh dupa cendana. Beberapa abdi dalem wanita langsung bersujud di lantai, siap membantu melepaskan selendang dan merapikan pakaian kebesaran mereka. Di tengah pelayanan yang begitu terasa istimewa, Nastiti tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Matanya menyapu ruangan, mencari sosok pria yang ingin ia kuasai kembali.

“Ki Ageng,” panggil Nastiti, melangkah mendekat dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin. “Di mana gerangan Gusti Prabu Arya? Kenapa beliau tidak menyambut kedatangan kami sendiri? Bukankah beliau yang mengirim surat permohonan agar kami kembali?”

Ki Ageng Suro memalingkan wajah sejenak, menghela napas panjang seolah-olah hatinya baru saja diiris sembilu. Ketika ia kembali menatap Nastiti, matanya tampak berkaca-kaca.

“Mohon dimaklumi, Raden Ajeng,” ucap Ki Ageng dengan suara lirih sarat akan kesedihan. “Keadaan Gusti Prabu Arya saat ini… belum memungkinkan untuk menemui siapa pun, bahkan untuk menyambut Gusti Kanjeng Ibu. Beliau masih mengurung diri di dalam peraduan, memeluk kain jarik terakhir mendiang Nimas Sekar. Dukanya teramat dalam, hingga beliau enggan melihat cahaya matahari.”

Mendengar kata “mendiang” dan “mengurung diri”, dada Nastiti berdesir penuh kepuasan. Sukses besar. Gadis jelata itu benar-benar sudah bersatu dengan tanah, dan Arya kini sudah menjadi singa lumpuh yang tak berdaya.

Namun, dalam sekejap, Nastiti mengubah raut wajahnya. Matanya yang tadinya berkilat tajam langsung meredup, bibirnya bergetar, dan ia mengeluarkan sehelai saputangan sutra dari balik kebayanya. Ia menutup mulutnya, berpura-pura terisak pelan seolah ikut merasakan kepedihan yang luar biasa.

“Oh, Gusti Allah… sungguh malang nasib Nimas Sekar,” ucap Nastiti dengan suara yang sengaja dibuat serak karena tangis. “Hati hamba ikut hancur mendengar berita ini, Ki Ageng. Meskipun dulu kami sempat berselisih paham, hamba tidak pernah membayangkan takdirnya akan setragis ini. Mengapa semesta begitu kejam pada Mas Arya?”

Ia menoleh ke arah Ibu Suri, menggenggam tangan ratu tua itu dengan jemari yang bergetar palsu. “Ibu… kita harus kuat demi Mas Arya. Kita harus menemaninya melewati badai duka ini.”

Ibu Suri mengusap punggung tangan Nastiti, memasang wajah prihatin yang sama palsunya. “Benar, Nastiti. Sampaikan pada putraku, Ki Ageng… bahwa ibunya telah kembali untuk merengkuhnya. Biarkan dia menenangkan diri hari ini. Esok, kami yang akan membantunya menata kembali hati dan puing-puing Amarta.”

Ki Ageng Suro kembali membungkuk dalam, menyembunyikan senyum dingin yang nyaris terukir di bibirnya. Kebohongan kedua wanita ini begitu sempurna, namun itu justru memberi bukti yang begitu kuat seberapa busuknya hati mereka.

“Sendika dawuh, Gusti Kanjeng Ibu. Hamba akan menyampaikan pesan Anda kepada Gusti Prabu. Silakan beristirahat, biarkan para abdi dalem melayani Anda malam ini,” ucap Ki Ageng sebelum melangkah mundur dan keluar dari bangsal, menutup pintu jati yang besar itu perlahan.

Di luar bangsal, Seno sudah menunggu di balik pilar. Ki Ageng menatap Seno dan mengangguk pelan. “Mereka sudah masuk ke dalam sangkar, Seno. Dan mereka benar-benar percaya melati telah gugur.”

Kini, malam mulai merayap di atas Keraton Amarta. Di dalam bangsal, Nastiti dan Ibu Suri mungkin sedang tersenyum merayakan kemenangan mereka yang semu. Namun, di peraduan sebelah, Arya Wijaya sedang menatap jam dinding, menghitung detik demi detik menuju waktu fajar, di mana ia akan membuka kedok kedua wanita itu dalam sebuah pengadilan yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.

...##########...

Entah kenapa aku kalo buat cerita nggak pernah mau yang bertele-tele, sebenernya adegan ini bisa dibuat lebih panjang, tapi menurutku buat apa? Toh nanti kan intinya sama aja ya. Jadi harap maklu, othor kalo buat cerita itu, to the point, dan ndak suka yang bertele-tele.

Selamat membaca 🥰

1
NP
Wah, makasih ya kak udah dingatkan, jujur pas awal bikin ini, ide nya terinspirasi drama nya iu.. wkwk.. masukan ya kak, jadi ga mikir taun setting nya.. nti aku revisi ya kak 🤗🙏
Niar Humairah
Thor, ini setting cerita kira" tahun atau abad berapa Thor?
Ganendra Dimitri
bagus banget thor ceritanya
NP: Makasih ya kak
total 1 replies
Ganendra Dimitri
ceritanya menyentuh banget thor.... kapan negriku punya pemimpin kayak di cerita ini😍😍
NP: Semoga ya kak, suatu saat nanti ada pemimpin negeri yg lebih mencintai rakyatnya
total 1 replies
Esti 523
sepertinya bagus nih
NP: Semoga suka ya kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!