Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Di dalam kamar hotel yang megah, Mikayla duduk bersandar di balkon, menikmati segelas wine di tangannya. Malam terasa tenang, namun pikirannya dipenuhi perhitungan yang dingin dan terukur.
Melalui koneksi Reno dengan kalangan bawah, Mikayla berhasil mencairkan dana sebesar 100 juta dolar. Setelah dikonversikan ke Rupiah dengan kurs saat ini, jumlahnya mencapai sekitar 1,67 triliun rupiah angka yang fantastis, cukup untuk membangun sebuah dinasti bisnis baru, atau bahkan menghancurkan reputasi keluarga Elang berkali-kali lipat.
Belum lagi tambahan 7 kilogram emas murni yang turut dicairkan, membuat saldo di rekening baru Mikayla melonjak ke titik yang dulu bahkan tak pernah ia bayangkan, saat masih menjadi mahasiswi perbankan.
Setelah proses transfer selesai melalui jaringan tertutup yang dikelola Reno, Mikayla menatap layar ponselnya. Deretan angka nol di saldo rekening itu tampak seperti amunisi perang, siap digunakan kapan saja, tanpa membuang waktu, ia mulai menyusun langkah strategis.
Sebagian dana, sekitar 50 miliar rupiah, ia alokasikan sebagai dana operasional untuk balas dendam mencakup biaya hukum, detektif swasta, hingga pembersihan jejak di Bali, pembersihan akses data dan lainnya, Sisanya ia gerakkan dengan lebih halus dan terencana.
Mikayla menyuntikkan modal besar ke dalam Sweet melody, mengubah brand tersebut dari skala industri rumahan menjadi label mewah. Di saat yang sama, melalui pihak ketiga, ia mulai menawar sejumlah aset properti yang tengah diincar oleh perusahaan Elang. Ia tidak hanya ingin bersaing, ia ingin merebut setiap peluang yang selama ini dianggap aman oleh suaminya.
Reno memastikan bahwa seluruh perpindahan dana dan emas itu tidak akan terdeteksi oleh sistem audit internal Elang, setidaknya untuk sementara waktu.
“Uang ini adalah dana gelap yang mereka kumpulkan dari sumber yang tidak bersih,” tulis Reno melalui pesan singkat. “Mereka tidak akan berani melaporkan kehilangan ini ke polisi. Itu sama saja dengan menyerahkan leher mereka sendiri.”
Mikayla tersenyum tipis. "tentu saja tidak akan berani mengungkitnya, Rajendra ayah mertuaku tidak sepenuhnya bersih."
___
Pagi harinya, Mikayla bangun dengan perasaan yang sangat segar. Ia mengenakan kacamata hitam oversized, blazer custom-made dari koleksi terbaru Sweet Melody, dan tas kulit yang elegan.
Ia tidak lagi merasa seperti Mikayla si menantu yang tertindas. Di dalam tasnya, selain paspor dan tiket business class, ada kartu debit prioritas yang bisa membeli seluruh isi villa Elang di Bali jika ia mau.
"Biarkan mereka bersulang dengan sampanye di Bali," gumam Mikayla sambil menatap rumah mewah Elang untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke bandara. "Mereka tidak tahu kalau gelas yang mereka pegang sebenarnya sudah retak.”
Di bandara, Mikayla duduk di Lounge Business Class sambil menikmati segelas kopi hitam tanpa gula. Ia membuka tabletnya, memeriksa laporan dari tim produksinya di Bogor.
Mikayla tersenyum dingin. Elang mungkin mengira dia sedang memberikan kado "liburan keluarga" untuk Naura, tapi Mikayla sudah menyiapkan kado yang jauh lebih berkesan: Kebangkrutan total dan kehancuran nama baik.
Saat pengumuman boarding bergema, Mikayla berdiri. Langkahnya mantap, suara sepatunya beradu dengan lantai bandara dengan irama yang penuh otoritas. Perjalanan ini bukan sekadar liburan, ini adalah misi penjemputan keadilan yang tertunda selama lima tahun.
Mikayla mengubah penampilannya agar tidak di curigai, tepat di malam minggu ternyata mereka tengah mengadakan pesta pertunangan yang megah dan mewah di bali. Pesta pertunangan antara Elang dan Naura yang tersenyum bahagia dipelukannya.
Sedangkan ada seorang istri yang diam saja melihat dan menyaksikan suaminya mengadakan pesta pertunangan, di saksikan dua keluarga besar, bahkan keluarganya juga ada disana kakek neneknya yang tertawa bahagia, ibu dan ayah yang sangat bangga.
Mikayla berdiri di bayang-bayang pilar marmer besar yang menghadap ke area outdoor resort mewah di Seminyak itu. Ia telah mengubah penampilannya secara drastis: rambut panjangnya yang biasa diikat rapi kini dipotong sebahu dengan gaya shaggy modern berwarna dark ash, riasannya tajam dengan lipstik merah gelap, dan ia mengenakan gaun sutra hitam backless dari koleksi rahasia Sweet Melody yang belum pernah dilihat siapa pun.
Kacamata hitam tipis bertengger di hidungnya, menutupi mata yang berkilat dingin saat menyaksikan pemandangan mual di depannya.
Di tengah taman yang dihiasi ribuan lampu gantung kristal dan bunga lili putih, Elang berdiri dengan setelan tuxedo yang sangat pas di tubuhnya. Tangannya merangkul pinggang Naura—kakak kandung Mikayla—yang tampil memukau dengan gaun pertunangan berwarna putih mutiara.
"Demi kesembuhan Naura, dan demi masa depan yang baru," suara ayah Mikayla bergema melalui mikrofon, disambut tepuk tangan meriah dari kedua keluarga besar.
Mikayla melihat kakek dan neneknya, orang-orang yang dulu sering ia kirimi paket makanan dan perhatian, tertawa lebar sambil menyentuhkan gelas kristal mereka. Ibunya? Wanita itu tampak sibuk membenahi tiara di kepala Naura, seolah Naura adalah satu-satunya putri yang ia miliki.
Hati Mikayla sempat berdenyut perih, namun otaknya yang terlatih di bidang perbankan segera mengambil alih. Ia mengeluarkan ponsel dengan lensa zoom tinggi yang sudah disiapkan Reno.
Mikayla merekam momen saat Elang memasangkan cincin berlian besar ke jari manis Naura, ini akan menjadi bukti visual untuk menentukan sidang akhir perceraian.
Ia mengenali dekorasi pesta itu. Ia tahu persis vendor mana yang digunakan, karena ia pernah melihat invoice di meja kerja Elang minggu lalu. Pesta ini menelan biaya hampir 2 Miliar Rupiah uang yang seharusnya menjadi aset bersama mereka, namun digunakan untuk menyenangkan kekasihnya.
Ia merekam wajah orang tuanya yang memberikan restu secara terang-terangan atas pernikahan yang sah dan membiarkan perselingkuhan itu terjadi. "Kalian benar-benar tidak sabar, ya?" batin Mikayla. "Belum ada surat cerai, belum ada ketukan palu, tapi kalian sudah merayakan penggantian posisiku.”
Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk bahunya pelan. Mikayla tidak terkejut. Itu Reno, yang tampil sebagai salah satu staf keamanan acara agar bisa masuk tanpa dicurigai.
"Semua sudah siap, Mikayla," bisik Reno. "Detektifku sudah mendapatkan data bahwa Elang menyewa villa ini menggunakan kartu kredit perusahaan atas nama 'Keperluan Proyek Lombok'. Ini penggelapan dana perusahaan yang nyata."
Mikayla tersenyum sinis di balik kacamata hitamnya. "Bagus. Biarkan mereka menikmati puncak kebahagiaan ini malam ini, Reno. Karena besok pagi, saat berita pertunangan ini sampai ke telinga dewan komisaris dan publik, mereka akan jatuh dari ketinggian yang sangat menyakitkan.”
Mikayla memutar gelas cocktail di tangannya, lalu meminumnya hingga tandas. Ia tidak lagi merasa hancur. Ia merasa... bebas.
Mikayla berbalik, meninggalkan kemegahan palsu itu tanpa menoleh lagi. Di saku gaunnya, ia menggenggam kartu akses menuju hidup barunya yang bernilai triliunan rupiah. Pesta mereka adalah awal dari kehancuran mereka, dan Mikayla adalah orang yang akan menarik pelatuknya.
Mikayla mengirimkan bukti pertunangan yang terbaru ke pengacaranya agar proses perceraian tidak berlangsung lama. Reno hanya terdiam melihat tatapan mata mikayla yang kosong dan juga senyuman manisnya yang hilang.
Reno bisa merasakan aura yang berbeda dari Mikayla. Wanita di sampingnya ini bukan lagi istri lembut yang rajin menyiapkan sarapan atau menantu penurut yang diam saja saat dihina. Tatapan matanya yang kosong justru menyimpan badai yang jauh lebih mematikan daripada ledakan amarah.
"Sudah terkirim," ucap Mikayla datar, jemarinya mengunci layar ponsel setelah menekan tombol send pada pesan berisi foto-foto kemesraan Elang dan Naura di pelaminan pertunangan mereka.
Pak Hendra, pengacaranya, langsung membalas dengan singkat: "Diterima. Ini adalah bukti zina dan pengkhianatan yang tak terbantahkan. Saya akan segera mendaftarkan gugatan ke pengadilan besok pagi sebagai kasus prioritas.”
Reno berdehem pelan, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan di antara mereka. "Mikayla... kamu baik-baik saja?"
Mikayla tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah laut lepas Seminyak yang gelap, membelakangi kerlap-kerlip lampu pesta yang masih terdengar riuh dengan suara tawa keluarganya.
"Kamu tahu, Reno? Selama lima tahun, aku selalu merasa bersalah pada Naura. Aku merasa hidupku adalah hasil dari penderitaannya karena kecelakaan itu," Mikayla tersenyum sinis, sebuah senyum tipis yang tak mencapai matanya. "Tapi melihat mereka tertawa di sana... melihat ibuku mencium pipi Naura seolah aku tidak pernah ada... rasanya aneh.”
"Aneh bagaimana?" tanya Reno.
"Rasa sakitnya sudah hilang. Yang tersisa hanya rasa jijik," jawab Mikayla pelan. "Senyum manis yang dulu sering aku berikan pada Elang... itu sudah mati di ruang dokter bersama Rasya kemarin. Sekarang, aku hanya ingin melihat seberapa jauh mereka bisa terbang sebelum aku mematahkan sayap mereka.”
Mikayla melangkah menuju mobil sewaan yang sudah menunggunya. Ia tidak butuh kemewahan pesta itu. Ia memiliki triliunan di rekeningnya, bukti kejahatan di tangannya, dan hati yang sudah membeku.
Di dalam mobil, ia membuka sketsa desain terbarunya. Bukan lagi baju anak-anak yang ceria, melainkan sebuah gaun hitam pekat dengan aksen emas yang tajam.
"Selamat bertunangan, Mas Elang. Selamat kembali, Kak Naura," batinnya sambil menutup mata. "Nikmatilah malam ini sepuas kalian. Karena besok, saat matahari Bali terbit, kalian akan terbangun di dalam mimpi buruk yang aku ciptakan sendiri.”
Mikayla menyandarkan kepalanya, mencoba mencari sedikit ketenangan di tengah rencana besar yang kini sudah bergulir. Ia tidak lagi butuh cinta, ia hanya butuh keadilan yang dibayar tunai.