NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: tamat
Genre:CEO / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Emirhan memacu mobilnya membelah jalanan malam, namun tujuannya bukan ke rumah sakit.

Ada api rasa penasaran yang membakar dadanya lebih hebat dari amarahnya tadi.

Ia harus mendengar kebenaran dari sumbernya langsung.

Mobil sport itu berhenti mendadak di depan rumah Maria.

Emirhan keluar dan langsung mengetuk pintu dengan tidak sabar.

Saat pintu terbuka, Maria tampak terkejut melihat wajah pucat dan mata merah Emirhan.

"Apakah betul kamu mantan kekasih ayahku?" Tanya Emirhan tanpa basa-basi, suaranya bergetar di antara udara malam yang dingin.

Maria tersentak. Ia segera keluar dan menutup pintu rapat-rapat, tidak ingin percakapan ini terdengar oleh siapa pun di dalam rumah.

Ia mengajak Emirhan berjalan ke sudut teras yang lebih sepi.

"Emirhan, tenangkan dirimu..."

"Jawab aku, Maria! Apakah Aliya adikku?" tanya Emirhan lagi, kali ini dengan nada yang memohon sekaligus ketakutan.

Maria menatap mata Emirhan dalam-dalam, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Tidak, Emirhan. Aliya bukan adikmu. Dia bukan anak Onur."

Emirhan membuang napas panjang, kakinya nyaris lemas karena lega. Namun, Maria belum selesai bicara.

Ia menghela napas panjang, matanya tampak berkaca-kaca menatap kegelapan malam.

"Dia bukan adikmu, tapi..." Maria menggantung kalimatnya, seolah kata-kata selanjutnya adalah beban seberat gunung.

"Tapi apa?!" desak Emirhan.

"Zartan," bisik Maria lirih.

"Zartan-lah yang merupakan adikmu. Dia adalah putra Onur Karadağ."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Emirhan. Ia teringat wajah Zartan yang selalu menatapnya dengan penuh kebencian, wajah yang selama ini ia anggap sebagai musuh bebuyutan. Ternyata, darah yang mengalir di tubuh pemuda itu adalah darah yang sama dengan darahnya.

"Apakah, Ayah Onur mengetahuinya?" tanya Emirhan dengan suara yang nyaris hilang.

Maria menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Tidak. Onur tidak pernah tahu. Dan aku mohon, jangan biarkan dia tahu sekarang. Keadaan sudah cukup rumit, Emirhan. Biarkan rahasia ini terkubur sampai Aliya benar-benar pulih."

Emirhan menyandarkan tubuhnya ke tembok rumah yang dingin.

Kenyataan ini menghantamnya lebih keras dari apa pun. Ia kini mengerti mengapa Maria begitu membenci keluarga Karadağ—bukan hanya karena cinta yang gagal, tapi karena ada seorang putra yang ia besarkan sendirian tanpa perlindungan seorang ayah.

"Lalu siapa ayah Aliya?" tanya Emirhan pelan.

"Seseorang dari masa laluku setelah aku meninggalkan Onur," jawab Maria singkat.

"Sekarang pergilah ke rumah sakit. Aliya membutuhkanmu, bukan rahasia usang ini."

Emirhan mengangguk kaku. Ia berbalik menuju mobilnya dengan kepala yang penuh dengan beban baru.

Ia harus melindungi Aliya, namun kini ia juga memiliki tanggung jawab tak kasat mata terhadap Zartan—adik laki-lakinya yang selama ini ia anggap sebagai sampah jalanan.

Emirhan menarik napas panjang sebelum membuka pintu ruang VVIP, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya setelah mendengar pengakuan Maria.

Begitu pintu terbuka, aroma terapi yang menenangkan menyambutnya, berbeda jauh dengan hawa panas yang ia rasakan di mansion tadi.

Ia melihat Aliya sedang bersandar di tumpukan bantal.

Di atas meja lipatnya, beberapa buku cetak dan catatan sekolah masih terbuka.

Wajahnya masih pucat, namun matanya berbinar saat melihat sosok Emirhan muncul di ambang pintu.

Emirhan mendekat, lalu dengan lembut menutup buku-buku itu.

"Kenapa belum tidur, Sayang? Ini sudah larut malam, dan lusa kamu ada ujian."

Aliya meraih tangan Emirhan, menggenggamnya erat seolah ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar ada di sana.

"Aku menunggumu, Emir. Rasanya sulit memejamkan mata kalau aku tidak tahu kamu ada di mana."

Emirhan duduk di tepi ranjang, mengusap lembut rambut Aliya yang halus.

Rasa bersalah kembali muncul; ia merasa kotor karena baru saja keluar dari pusaran rahasia gelap keluarganya, sementara Aliya tetaplah gadis suci yang hanya menginginkan kehadirannya.

"Maafkan aku, tadi ada urusan mendadak yang harus kuselesaikan dengan Ayah," ucap Emirhan berbohong demi kebaikan Aliya.

"Sekarang aku sudah di sini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi."

Aliya menatap wajah Emirhan dengan teliti. "Kamu terlihat sangat lelah dan matamu memerah. Apa terjadi sesuatu yang buruk di rumah?"

Emirhan menggeleng, memberikan senyum paling meyakinkan yang bisa ia berikan.

"Hanya urusan bisnis biasa. Yang penting sekarang adalah kamu. Ayo, berbaringlah. Aku akan menemanimu sampai kamu tertidur."

Aliya menurut, ia merebahkan tubuhnya sementara Emirhan menarik selimut hingga ke dada gadis itu.

Di bawah cahaya lampu redup ruang perawatan, Emirhan terus menggenggam tangan Aliya.

Di dalam pikirannya, ia bersumpah akan menyimpan rahasia tentang Zartan dan masa lalu ayahnya rapat-rapat.

Aliya tidak boleh terluka lagi oleh kebenaran yang pahit.

Cukup baginya menjadi pelindung yang berdiri di antara Aliya dan dunia luar yang kejam.

"Tidurlah, Aliya. Aku akan menjagamu dalam setiap helaan napasmu," bisik Emirhan lirih, sambil mengecup kening gadis itu dengan penuh khidmat.

Emirhan perlahan naik ke sisi ranjang yang luas itu, berbaring dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu selang infus di tangan Aliya.

Ia membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala Aliya di dadanya yang bidang.

Tangan besarnya menepuk-nepuk punggung Aliya dengan gerakan yang sangat lembut dan berirama, sebuah gestur menenangkan yang biasa dilakukan untuk mengusir mimpi buruk.

Dalam keheningan malam yang hanya diisi oleh suara mesin detak jantung yang kini stabil, Aliya berbisik lirih, suaranya terdengar sangat rapuh namun penuh rasa ingin tahu.

"Apakah kamu sangat mencintaiku, Emir?"

Gerakan tangan Emirhan terhenti sejenak. Ia mengeratkan pelukannya, menghirup aroma rambut Aliya yang menjadi candunya.

Di tengah segala kekacauan rahasia keluarga, pengkhianatan ibunya, dan fakta tentang Zartan, hanya Aliya-lah satu-satunya kejujuran yang ia miliki.

"Aku sangat mencintaimu, Aliya," jawab Emirhan, suaranya berat dan bergetar karena emosi yang dalam.

"Sangat mencintaimu, hingga aku merasa tidak bisa bernapas jika dunia ini tidak ada kamu di dalamnya."

Aliya mendongak sedikit, menatap mata Emirhan yang berkilat di bawah cahaya redup.

"Bahkan jika seluruh dunia menentang kita? Bahkan jika keluargamu membenciku?"

Emirhan mengecup kening Aliya lama, seolah sedang menyegel sebuah janji suci.

"Aku tidak butuh dunia, dan aku tidak butuh restu siapa pun untuk mencintaimu. Kamu adalah hidupku, Aliya. Aku sudah menarikmu kembali dari ambang kematian, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Tidurlah, aku akan menjagamu sampai pagi menyapa."

Aliya tersenyum tipis, rasa aman yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

Di bawah tepukan lembut tangan Emirhan, ia perlahan memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam tidur yang tenang, sementara Emirhan tetap terjaga, bersumpah dalam hati untuk menjadi benteng terakhir bagi gadis yang paling dicintainya itu.

Malam semakin larut, namun bagi sebagian orang, kegelapan justru membawa kembali kenangan yang seharusnya terkubur.

Maria yang baru saja terlelap setelah hari yang melelahkan, tersentak saat ponsel di atas nakasnya berdering nyaring.

Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia mengangkat telepon itu.

"Halo..."

"Maria..." suara di seberang sana terdengar berat, parau, dan tidak stabil.

Maria langsung terduduk tegak, matanya membelalak.

"Onur? Kamu mabuk? Kamu di mana sekarang?!"

Hanya terdengar suara angin kencang dan gumaman tidak jelas sebelum sambungan terputus.

Khawatir sesuatu yang buruk terjadi, Maria segera menyambar jaketnya dan menuju ke dermaga tua tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama—satu-satunya tempat yang terlintas di pikirannya.

Sesampainya di sana, Maria melihat mobil Onur terparkir sembarangan.

Di ujung dermaga, Onur berdiri dengan tubuh limbung di pinggir pembatas, memegang sebuah botol minuman keras yang hampir kosong.

"Onur! Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa celaka!" teriak Maria sambil berlari mendekat.

Onur mendongak, menatap Maria dengan mata yang merah dan berkaca-kaca.

Cahaya bulan membuat wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak hancur.

"Kenapa kamu datang, Maria? Kenapa kamu masih peduli pada pria pengecut yang membiarkanmu pergi demi harta klan Karadağ?"

Maria merampas botol dari tangan Onur dengan kasar.

"Berhenti bicara omong kosong! Kamu adalah seorang ayah, Onur. Kamu punya Emirhan, kamu punya Hakan. Kamu punya tanggung jawab!"

Onur menggelengkan kepalanya perlahan, senyum getir tersungging di bibirnya.

"Aku tidak pantas menjadi ayah. Aku gagal melindungi Aliya dari keluargaku sendiri, aku gagal menjadi manusia yang baik untukmu dulu."

"Kamu pantas, Onur! Dan kamu harus kuat," Maria menarik napas panjang, emosinya memuncak hingga rahasia yang ia simpan selama belasan tahun mendidih di tenggorokannya.

"Kamu tidak hanya punya Emirhan dan Hakan. Kamu masih punya Zartan. Dia putramu, Onur! Darah dagingmu!"

Seketika, angin laut seolah berhenti berhembus. Onur membeku di tempatnya, menatap wajah Maria dengan ekspresi yang sangat terkejut.

Keheningan yang menyiksa menyelimuti mereka selama beberapa detik.

"Apa yang kamu katakan?" bisik Onur, suaranya tiba-tiba jernih karena rasa terkejut yang luar biasa.

"Zartan, pemuda yang selama ini membenciku itu, dia anakku?"

Maria memalingkan wajah, air matanya jatuh. "Ya. Dia adalah hasil dari cinta kita yang kamu tinggalkan dulu. Dia tumbuh tanpa ayah karena egomu, Onur. Sekarang, apakah kamu masih mau mati konyol di sini sementara putramu yang lain sedang berjuang sendirian di luar sana?"

Onur melangkah mundur, kakinya terasa lemas. Rahasia besar itu menghantamnya lebih keras daripada minuman keras mana pun.

Di bawah rembulan, Onur menyadari bahwa dosa masa lalunya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Onur menjatuhkan botol yang tersisa di tangannya ke lantai dermaga hingga pecah berkeping-keping.

Dengan langkah goyah, ia maju dan menarik tubuh Maria ke dalam pelukannya.

Ia memeluk wanita itu dengan sangat erat, seolah-olah seluruh dunianya baru saja runtuh dan hanya Maria yang bisa menahannya.

"Kenapa, Maria? Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak dulu kalau Zartan adalah putraku?" suara Onur pecah, terkubur di bahu Maria.

"Tahun-tahun yang hilang, kebencian di matanya. Aku telah memperlakukan darah dagingku sendiri seperti musuh."

Maria hanya bisa menangis sesenggukan dalam pelukan itu.

Dadanya terasa sesak oleh beban rahasia yang akhirnya terlepas.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia menuntun Onur yang masih terhuyung-huyung menjauh dari pinggir dermaga dan membimbingnya masuk ke dalam mobil.

Setelah duduk di dalam keheningan kabin mobil yang remang-remang, Maria menghapus air matanya dengan jemari yang gemetar.

"Emirhan sudah tahu," ucap Maria lirih sambil menatap lurus ke depan.

"Dia baru saja menemuiku beberapa jam yang lalu. Dia sudah tahu kalau Zartan adalah adiknya."

Onur menoleh dengan cepat, wajahnya yang pucat tampak semakin tegang.

"Dia marah? Apakah Emirhan membenciku karena merahasiakan ini? Ataukah dia marah pada Zartan?"

Maria menggelengkan kepalanya perlahan, memberikan sedikit ketenangan di tengah badai pikiran Onur.

"Tidak, Onur. Dia tidak marah. Dia hanya sangat terkejut. Emirhan, dia memiliki hati yang lebih besar dari yang kita kira. Saat ini, dia hanya ingin melindungi Aliya dan menjaga agar keluarga ini tidak semakin hancur."

Onur menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat.

"Dia lebih baik dariku, putra sulungku jauh lebih bijaksana dariku."

"Sekarang, pulanglah," ucap Maria lembut sambil memegang tangan Onur.

"Istirahatlah. Besok, kamu harus menghadapi kenyataan ini. Kamu harus menatap mata Zartan, bukan sebagai musuh, tapi sebagai ayahnya. Dan kamu harus memastikan Aliya tetap aman di rumah sakit."

Onur terdiam cukup lama, merasakan kehangatan tangan Maria yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan.

Meskipun ada jurang perbedaan yang besar di antara mereka, malam itu, di dalam mobil yang sunyi, satu kebenaran besar telah mengubah segalanya.

Klan Karadağ tidak akan pernah sama lagi setelah fajar menyingsing.

1
falea sezi
jd emak bapak nya nikah apa kumpul sapi Thor🤣
falea sezi
emank uda di sentuh kah lebay amat
merry yuliana
ditunggu crazy up ya kak💪💪💪
my name is pho: ok kak
total 1 replies
merry yuliana
crazy up kak
my name is pho: ok kak
total 1 replies
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!