masih up, cuma jarang!
Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04. menyelesaikan misi
04.
...
Gerald datang ke ibu kota bersama Yuhan untuk menyaksikan eksekusi Juandar dan para bawahannya, tapi sampai di sana ada pengumuman yang mengatakan peraturan telah di ubah.
Yuhan baru berumur 16 tahun, dan peraturan baru tidak memperbolehkan anak laki-laki di bawah 17 menyaksikan hukuman. Dengan terpaksa, Gerald meninggalkan Yuhan di alun-alun ibu kota sementara dia dan beberapa warga lain mengikuti prajurit ke sebuah bangunan tak terpakai.
Mereka menggunakan aula besar itu sebagai panggung hukuman. Gerald dan beberapa warga diminta berbaris rapih.
3 tahun lalu, Gerald menyaksikan hukuman gantung di alun-alun ibu kota. Namun sekarang peraturan telah diubah menjadi hukuman tertutup dan hanya beberapa orang dengan syarat tertentu yang boleh menyaksikannya.
Gerald tidak keberatan dan berpikir peraturan ini cukup bijak dari segi keamanan.
Dua prajurit tampak menarik pria berpakaian bangsawan yang kepalanya tertutup karung. Peraturan baru mengatakan jika mereka harus memperlihatkan wajah pelaku kejahatan kepada para saksi untuk memastikan kebenarannya dan menjaga kepercayaan rakyat.
Ketika karung kepala di buka, orang-orang langsung meneriaki dengan rasa penuh kebencian pada Juandar yang wajahnya pucat, tampak seperti mayat hidup. Matanya yang dulu memancarkan kesombongan kini hanya ada rasa takut di ujung kematiannya.
Jaundar sempat memberontak, menggigit tangan prajurit yang hendak memasang karung ke wajahnya. Pria itu berteriak ke wajah prajurit, tampak tak terkontrol.
Prajurit menahan tubuhnya dan Kembali memasang karung di kepalannya. Dengan kasar dua prajurit membungkukkan tubuh Juandar dan meletakkan kepalanya dia atas batu ekseskusi.
Algojo sudah siap dengan kapak besarnya yang mengkilap.
Gerald menyaksikan hukuman itu tanpa berkedip ketika ujung tajam kapak berhasil memisahkan kepala Juandar dari tubuhnya. Perasaan dendam dan marah itu akhinya sirna, dalam bayangannya kedua sahabatnya tersenyum padanya dan roh mereka bisa pergi dengan tenang.
Hukuman berlanjut. Kali ini 3 prajurit yang Gerald lihat saat menusuk dan memukul dua temannya sampai mati. Mereka di hukum gantung.
Hukuman ketiga adalah hukuman cambuk dan kali ini Yuhan bisa menyaksikan hukuman itu bersamanya. 3 bawahan Juandar itu telah melakukan kesalah dengan kekerasan pada warga sipil hingga mengalami luka-luka, mereka di hukum 200 kali cambukan.
3 jam berlalu, Gerald dan Yuhan keluar dari gedung itu bersama warga lainnya. Mereka mendengar jika yang membuat peraturan ini adalah putri mahkota Morline, dialah yang meminta raja agar menerapkan peraturan baru.
Mengingat Morline, Gerald rasa dia harus berterimakasih pada gadis itu karena telah membantunya dalam menegakkan keadilan.
Namun ketika dia setengah perjalanan menuju istana kerajaan, teringat bahwa Gerald dan Yuhan tak membawa apapun untuk di berikan pada Morline.
Yuhan melihat pamannya merenung, bertanya. "Kenapa paman?"
"Paman sudah tak memiliki uang lagi, semua harta telah paman berikan pada Juandar itu. Sekarang hanya membeli sepotong rotipun mungkin kurang."
Melihat pamannya sedih, Yuhan berusaha menghiburnya. "Jangan khawatir aku akan membantu paman bekerja di ladang dan menghasilkan banyak uang."
"Yuhan aku sudah mengatakan padamu agar kau sekolah saja, ayahmu menyuruhnya sekolah aku hanya berusaha mewujudkan keinginannya."
Yuhan tertawa kecil, "sudahlah, untuk itu pikirkan nanti. Sekarang kita pulang, bibi dan ibu pasti menunggu kita pulang."
Gerald mengangguk setuju. Mereka berjalan kaki selama berkilo-kilo meter ke kota Sentra karena tak bisa menyewa kereta kuda yang mahal. Untungnya ada kereta barang yang menawari mereka tumpangan, keduanya menaiki kereta itu dan mengobrol dengan pemilik kereta perihal peraturan baru dan kasus Juandar.
Sampai di kota Sentra, Gerald beserta Yuhan terkejut karena melihat ada kereta kuda istana yang terparkir indah di antara rumah warga. Beberapa prajurit tampak membagikan sesuatu pada mereka, bahkan Gerald bisa melihat istrinya di sana.
Gerald dan Yuhan berlari mendekat. "Istriku!" Panggilnya.
Wanita itu menoleh dengan pancaran mata bahagia. "Suamiku!" Dia berusaha keluar dari kerumunan itu dan mendekati Gerald, menunjukkan kantung koin yang penuh padanya. "Lihat ini, kata mereka yang mulia raja memberikan semua harta yang Juandar curi dari kita. Semua orang mendapatkannya tanpa terkecuali."
Gerald meraih kantung koin itu, isinya perak dan emas. Matanya hampir berkaca-kaca. Dia hampir saja putus asa karena kehilangan semua hartanya dan kini sekantung penuh uang berada di tangannya. Keajaiban apa ini?
"Istriku kita harus berterimakasih pada raja." Wanita itu mengangguk. Mereka mendekati para prajurit yang masih membagikan kantung uang.
"Sampaikan terimakasih kami pada yang mulia raja."
"Terimakasih raja."
"Terimakasih raja."
Seluruh orang di sana bersorak bahagia menyampaikan rasa syukur yang mendalam tak terkecuali Yuhan beserta ibu dan adiknya.
Para prajurit telah menyelesaikan tugas mereka dengan baik, pergi tanpa meminta apapun pada warga. Karena Morline, orang yang mengutus mereka sudah mewanti-wanti jika mereka mengambil satu koin saja dari uang itu, maka tangan mereka akan di penggal.
Ketiganya tentu tidak mau kehilangan tangan hanya gara-gara satu keping koin yang tak seberapa, jadi meski ada hasrat untuk mengambil uang-uang itu tapi mereka memikirkan resikonya dan memilih menahan diri.
Sampainya di istana, mereka menghadap Morline.
"Kami menghadap yang mulia putri."
"Kalian sudah menyelesaikan tugas kalian?"
"Sudah putri mahkota."
"Apa kalian mengambil uang itu?"
Ketiga prajurit kompak menjawab tidak dengan lugas dan tegas tanpa keraguan. Morline memercayainya, dia mengambil kantung koin dan menyerahkan 2 koin emas dan 1 koin perak. "Terima ini. Bonus kalian karena tidak melanggar peraturan yang aku tetapkan. Tapi jika kalian melakukan kesalahan atau bahkan hanya sekedar memiliki niat, kalian tetap akan dinyatakan bersalah dan harus menerima hukuman. Mengerti?!"
"Mengerti putri mahkota!"
"Ini, ambillah."
3 prajurit itu mengambil bonus mereka masing-masing. Morline memberikan mereka uang karena dia tahu, mereka menginginkannya. Untuk saat ini Morline bisa memanjakan mereka, tapi kedepannya mereka harus melakukannya dengan jujur dan suka rela, bukan sekedar ingin mendapatkan bonus.
"Warga sekitar mengucapkan terimakasih pada yang mulia raja, mereka bahkan ingin bertemu untuk mengucapkan terimakasih secara langsung." Prajurit itu menyampaikan pesan dari Gerald.
"Baiklah aku mengerti, kalian boleh pergi."
Merekapun pergi.
**✿❀ ❀✿**
Morline mendapat notifikasi jika misinya telah berhasil. Nasib Yuhan dan Gerald tidak berakhir tragis seperti yang di dalam novel. Dari berhasilnya misi dia mendapatkan 100 poin pertama.
Melihat dompet poinnya, total 155 poin. Morline berpikir jika poin yang di dapat terlalu sedikit ketika dia melihat seluruh barang di pasar sistem. Minimal harga barang di sana 45 poin.
Dia pun mengajukan protes pada sistem.
Sistem menanggapi: {Seiring banyaknya misi yang anda jalankan maka semakin besar jumlah poin yang di dapat}
Suara mekanis perempuan itu kemudian kembali bicara. {Misi sekarang, Arten sang dokter istana.}
Arten sang dokter istana? Morline ingat jika pria tua itu akan mati di tangan cedric karena gagal membuat obat yang bisa menyembuhkan luka bakar. Kalau dipikir lagi, sayang jika seorang dokter hebat seperti Arten mati begitu saja. Morline tentu saja akan menerima misi ini dengan sungguh-sungguh.
Morline melangkah melewati koridor-koridor istana, sekalipun tak menikmati karya-karya lukis yang tergantung di sepanjang dinding.
Di perjalanan, sesekali dia bertemu pelayan. Morline memberhentikan pelayan bernama Nina. "Tolong antarkan kue cokelat satu potong dan air putih di kamarku."
"Baik putri mahkota." Pelayan itu membungkuk, setelah di perbolehkan pergi Nina melanjutkan perjalanan ke dapur.
Sementara Morline berhenti di depan kamar Cedric. Mengetuk pintunya 3 kali. "Yang mulia saya ingin menyampaikan pesan!" Morline sedikit mengeraskan suaranya. Dia menempelkan kuping ke pintu untuk mendengar suara di dalam. Namun tidak ada suara langkah ataupun suara lain dari dalam, mengira Cedric mungkin sedang tidur.
Morline terdiam beberapa saat di depak pintu, berpikir apakah dia mengetuk pintu lagi atau langsung pergi.
"Kenapa kau tidak bicara?"
Morline terkejut, dia kira pria itu tidur. "Yang mulia, prajurit menyampaikan pesan jika rakyat ingin bertemu dengan anda untuk mengucapkan terimakasih langsung. Mereka sangat senang dan gembira."
"Untuk apa?"
Morline mengerutkan alisnya. Bukankah dia sudah mengatakan untuk berterimakasih? Meski begitu Morline tetap menjawab. "Untuk berterimakasih pada anda yang mulia."
"Bukankah semua itu kau yang lakukan, lalu kenapa mereka berterimakasih padaku?"
Morline. "...."
Mendengar tak ada balasan dari Morline, Cedric yang berada di belakang pintu kembali bicara. "Kau yang memintaku untuk memberikan harta yang telah Juandar curi, peraturan baru hukuman mati itu, kau juga yang usulkan. Kenapa mereka harus berterimakasih padaku yang tak melakukan apapun?"
"Kalau anda tidak mengizinkan, mungkin semua itu tidak akan terjadi. Mereka pantas berterimakasih pada anda, begitu pula dengan saya." Morline memberi jeda. Matanya kini memperhatian ukiran di pintu sembari berpikir. "Yang mulia, rakyat masih membutuhkan anda. Mereka masih memiliki harapan pada anda, jadi andapun jangan kecewakan mereka. Saya hanya membantu sedikit, andalah yang paling berperan penting dalam kerajaan ini."
Cedric: "...."
"Yang mulia?" Morline sebenarnya tidak tahu harus bicara seperti apa pada Cedric. Dia tahu kondisinya, tapi Morline berada di posisi bahwa dia tidak tahu apapun tentang pria itu. Jadi Morline sebenarnya bingung harus mengatakan apa untuk membuat suasana hati Cedric membaik. "Yang mulia, bagaimanapun anda adalah seorang raja, tanggung jawab anda pada rakyat, bukan hal lain."
"Saya akan menyampaikan pada mereka, jika yang mulia tidak enak badan hingga tak bisa bertemu. Saya akan kembali." Morline berbalik dan berjalan ke kamarnya.
Rasa senang karena keberhasilan misi dan mendapatkan poin kini entah kemana perginya. Tiba-tiba saja Morline merasa hatinya anjlok, mendung dan gelap.
Suasana hatinya berubah begitu cepatnya seperti mendung di hari yang cerah. Morline menghela nafas dan terus berjalan ke arah kamarnya, berharap Nina sudah menyiapkan apa yang dia minta.
Sementara itu di kamar Cedric. Pria itu sedang merenung di atas sofa sambil menatap lilin yang tenang.
Kata-kata Morline terputar di kepalanya. Dia adalah raja, dia harus bertanggungjawab pada rakyatnya. Kalimat itu mengingatkannya pada ibunya yang bahkan wajahnya saja sudah Cedric tak ingat saking lamanya berpisah.
Ibunya meninggal 23 tahun lalu saat usianya 4 tahun. Cedric menekan kepalanya saat dia berusaha mengingat kenapa ibunya meninggal, dalam ingatan itu hanya terbayang dia berdiri di pemakaman sang ibu bersama ayahnya.
"Suatu saat nanti, saat kau menjadi raja kau harus peduli pada rakyatmu. Merekalah yang menopangmu dan negara ini, jika kau kehilangan mereka maka kau telah kehilangan semuanya."
Suara lembut seperti alunan musik terdenggar jelas di telinganya seakan suara itu hadir bersama Cedric, dia berdiri dengan perasaan terkejut lalu terdiam cukup lama.
Di bawah cahaya lilin yang menari pelan. Wajah yang sebagian terdapat luka bakar kering itu mengerutkan alisnya seakan sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Cahaya lilin yang lembut, tak mampu melembutkan ekspresi wajahnya.
"Pengaruh Edward harus segera di tekan." Katanya pada diri sendiri.
Cedric menunduk menatap lilin. Alisnya kini jauh lebih longgar. Namun dia masih memikirkan cara agar pengaruh Edward runtuh dan dia kembali memperkuat posisinya.
Cedric memikirkan satu nama, Morline. Jika dilihat secara sekilas, gadis itu cerdas, mengerti kondisi kerjaan ini dan cukup memahami urusan istana. Sayang sekali jika Cedric tak menggunakan Morline sebagai alat untuk memperkuat posisinya.
Mungkin Cedric harus mengubah status Morline menjadi ratu agar benar-benar bisa dia manfaatkan. Jika dia memiliki status ratu maka pergerakan Morline tak lagi terbatas.
Namun Cedric menemukan sesuatu yang janggal pada Morline. Sebelum-sebelumnya gadis itu tak seperti sekarang, justru Cedric tak pernah mendengar jika Morline terlibat apalagi sampai membantu urusan kerajaan.
Dulu, Cedric hanya menganggap keberadaan gadis itu abu-abu. Tak benar-benar menganggapnya ada. Namun kini, seolah dia adalah kepompong yang telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Begitu menarik perhatian dengan segala pesona yang dia bawa.
Apa yang membuat gadis itu berubah dan kenapa baru sekarang, bukan dari dulu?
Terakhir kali Cedric mendengar berita tentang Morline, adalah dari Joseph, dia mengatakan jika Morline pingsan saat menghadiri acara teh bersama nona bangsawan. Itu sudah cukup lama dan Cedric bahkan tak terlalu peduli dengan kabar itu, dia masih disibukkan mengejar cinta Putri Annalise.
Mengingat Annalise, hati Cedric berubah gelap. Dia masih ingat raja Thalva dan Orbelian yang mempermalukannya di aula pertarungan pada saat itu. Mengejeknya sebagai raja bodoh yang dibutakan cinta.
Cedric mencengkram erat jubahnya. Namun kemudian dia menghembuskan nafas untuk menenangkan dirinya sendiri.
Keputusan Cedric mengangkat Morline menjadi ratu sudah bulat. Dia meminta Joseph untuk mengurus dokumen resminya.
Seharusnya pengangkatan ratu dilakukan saat Cedric dilantik menjadi raja. Sayangnya pada saat itu, Cedric tak mengizinkan Morline mengikuti acara peresmian sebagai raja dan melarang para menteri mengubah status Morline sebagai putri mahkota.
Oleh karena itu, Cedric hanya mengubah status Morline di dokumen-dokumen resmi dan memberikan hak ratu pada Morline.
Selain mengubah dokumen resmi, Cedric juga meminta agar pengangkatan Morline dilakukan secara resmi di depan publik. Meski itu hanya simbolis, tapi Cedric ingin semua ke mengetahuinya.
Selama satu bulan istana mempersiapkan acara resmi pengangkatan ratu. Morline juga telah menghafal janji setia pada Cedric sebagai seorang istri dan sebagai seorang pendamping raja.
Karena hanya simbolis, acara dibuat tak terlalu megah. Orang-orang yang hadir hanya memiliki jabatan penting atau menteri-menteri kerajaan.
Setelah acara, media tulis membuat berita tentang pengangkatan ratu dan menjadi headline utama di koran-koran mereka. Itulah cara Cedric agar semua orang tahu bahwa Morline telah menjadi ratu.
**✿❀ ❀✿**
Hari ini sistem memberikannya misi baru, yaitu mengubah nasib Arten sang dokter istana yang akan mati di hukum penggal oleh Cedric hanya karena Cedric tidak puas dengan Arten.
Kalau di pikir-pikir, alasan mengapa Cedric menghukum penggal Arten karena pria itu gagal menemukan obat untuk mengobati luka bakar di wajahnya. Padahal Arten adalah dokter yang sangat berbakat di kerajaan Hesperias, bahkan kehebatannya sampai terkenal di luar Kerajaan.
Maka dari itu Morline menerima misi ini dengan sungguh-sungguh, dia akan membantu mengubah nasib Arten.
Karena sekarang statusnya tak lagi putri mahkota yang membatasi ruang geraknya, Morline mulai memikirkan rencana untuk membujuk Cedric jika konflik antara dua pria itu terjadi nantinya. Sebagai ratu, tentu dia berhak mengambil tindakan seperti itu bukan?
Di kursi yang terbuat dari kayu Cendana dengan pahatan rumit dari para pengrajin berbakat dari Hesperias, Morline merenung. Dia menatap seluruh ruangan yang menjadi kamarnya.
Di depannya, sebuah kasur besar dengan kelambu berlapis-lapis menjadi pusat perhatian Morline. Lebih tepatnya pada tumpukan kertas yang tergelatak di atas kasur. Dia beranjak dan meraih kertas-kertas itu.
Tumpukan kertas adalah dokumen yang Morline minta dari Joseph. Isinya tentang administrasi keuangan istana, dia baru membacanya sekali langsung menemukan kejanggalan. Namun tak yakin, jadi Morline membaca ulang.
Larut dalam kegiatan membaca itu, Morline baru tersadar ketika ada yang mengetuk pintunya. "Ratu." Morline mengenal suaranya, Nina. Pelayan yang diangkat menjadi dayang pribadinya. "Makan malam sudah siap."
"Ah!" Morline tersadar. Dia meletakkan dokumen di atas kasur dan mendekat ke jendela, menyibak gordennya. "Ternyata memang sudah malam."
"Iya, aku akan ke sana sebentar lagi." Morline berteriak pada Nina.
Di meja makan, rasa lapar langsung menyerang perut Morline saat matanya berhadapan dengan berbagai macam hidangan di atas meja. Namun sebelum makan, dia menoleh pada Marnin. "Yang mulia raja tidak ikut?"
"Tidak ratu, raja mengatakan jika dia masih tak enak badan. Namun Raja mengatakan jika ratu boleh makan tanpa dirinya."
Morline mengernyit. "Baiklah. Aku akan makan."
Menjaga sopan santun dan tradisi di dunia ini, Morline makan dengan hati-hati meski dalam kepalanya dia ingin makan seperti food blogger di internet. Namun dia menahan diri dan makan perlahan sambil menikmati setiap rasa hidangan yang dimasak oleh koki istana.
Setelah makan malam. Morline mengelap sudut bibirnya setelah menghabiskan satu gelas air. Jujur saja, dia hampir kalap makan semua hidangan di atas meja. "Marnin." Panggilnya.
Marnin di belakangnya melangkah mendekat. "Ya, yang mulia ratu?"
"Makanan yang tidak habis biasanya akan diapakan?"
Marnin melirik hidangan di atas meja, masih ada banyak yang tersisa. "Biasanya kami membuangnya."
"Kalau masih layak, lebih baik di makan saja, sayang kalau buang-buang makanan setiap harinya. Ada banyak rakyat Hesperias yang ingin makan sesuap rotipun mereka harus kerja keras, kita harus menghargai mereka dengan tidak menyia-nyiakan makanan ini."
Marnin melirik Morline, untuk beberapa detik termenung sebelum menjawab. "Saya mengerti yang mulia."
Morline beranjak setelah makan. Dia mengatakan pada dua dayangnya untuk menemaninya jalan-jalan di sekitar istana.
Sepeninggalan Morline, Marnin menyuruh pelayan untuk membereskan makanan di meja. "Kalau kalian ingin makan, makanlah. Yang mulia ratu menyuruh demikian. Kata beliau, sayang kalau setiap harinya makanan ini dibuang. Beliau ingin menghargai rakyat Hesperias yang belum tentu menikmati makanan ini."
Tiga pelayan yang siap membuang makanan sisa ke tempat sampah, mendadak sumringah. Dia menunduk pada Marnin. "Terimakasih nyonya."
Peraturan istana tidak memperbolehkan para pelayan menikmati hidangan anggota kerajaan, setiap sisa makanan harus di buang untuk menjaga standar kualitasnya.
Mendapat perintah bahwa mereka, para pelayan diperbolehkan memakan hidangan istana, tentu mereka senang. Setelah piring-piring berisi makanan yang masih bagus dan layak sampai di dapur, para pelayan berebut untuk mendapatkan beberapa potong hidangan istana, seperti udang panggang, daging panggang dan masih banyak lagi.
"Hei! Siapa yang menyuruh kalian makan masakanku!?"
Para pelayan menjauh dari meja dan berdiri tegak ketika suara pria terdengar kesal dan menegur.
"Tapi nyonya Marnin memperbolehkan lagi memakan hidangan ini, kepala koki."
Kepala koki, Kasha mengerutkan alisnya yang menyambung satu sama lain. Tatapannya seperti viking yang siap menebas dengan kapaknya. "Nyonya Marnin tak mungkin melakukan itu, itu di luar otoritasnya. Kalian jangan mencoba membohongiku. Buang makanan itu dan jangan kalian makan!"
"Tapi kepala koki...."
"Buang!"
Para pelayan menunduk. Mereka tak berani membantah karena kepala koki sudah menjadi orang kepercayaan raja untuk memasak semua hidangan istana, bisa dibilang di dapur dialah rajanya. Jadi pelayan merasa segan terhadap Kasha.
"Sebenarnya akulah yang menyuruh Marnin."
Mendengar suara yang begitu lembut seperti angin musim semi, kompak mereka menoleh. Morline dan dua dayangnya yang mengikat dari belakang.
Gadis gemuk itu tersenyum dan menatap Kasha. "Tuan Kasha bukan?"
Kasha: "...." Tak menjawabnya, wajahnya datar dan tak menunjukkan ekspresi apapun.
setia menunggu up berikut nya 😁👍
lanjuuttttt lagiiii 💪💞
Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
lanjut lagiiii 👍👍👍😍