NovelToon NovelToon
He Is My Imam, Not My Oppa

He Is My Imam, Not My Oppa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PIJATAN CINTA DAN PINGGANG YANG MANJA

Memasuki trimester kedua akhir, perut Mentari tidak lagi hanya berupa gundukan kecil yang lucu. Kini, perutnya sudah menyerupai buah semangka besar yang membuatnya sulit untuk sekadar melihat ujung jempol kakinya sendiri. Namun, masalah utamanya bukan hanya soal ukuran perut, melainkan beban di punggung dan pinggangnya yang mulai terasa seperti ditarik oleh beban puluhan kilogram.

"Aduh... Mas... pinggang aku kayak mau copot," rintih Mentari saat mencoba berbaring di ranjang sore itu. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak kelelahan, dengan peluh tipis di dahinya.

Gus Zikri, yang baru saja meletakkan kitab _Fathul Mu'in_ yang habis ia pelajari, langsung menghampiri istrinya. Wajahnya tidak lagi panik seperti saat Mentari hamil muda dulu, melainkan sudah jauh lebih tenang dan sigap.

"Sabar ya, Sayang. Sini, miring ke kiri sedikit. Mas bantu ganjal pakai bantal," ucap Zikri dengan nada suara yang menenangkan.

Teknik Pijat "Spesialis" Gus

Zikri tidak hanya diam. Ternyata, selama seminggu terakhir, ia diam-diam bertanya kepada Bu Dokter pesantren dan bahkan membaca beberapa artikel kesehatan tentang anatomi ibu hamil. Ia tidak ingin istrinya menderita sendirian.

Zikri mengambil botol minyak zaitun yang sudah dicampur dengan sedikit aroma terapi lavender. Ia menghangatkan telapak tangannya sendiri dengan cara menggosok-gosokkannya, lalu mulai menyentuh punggung bawah Mentari dengan gerakan memutar yang sangat lembut.

"Enak, yang?" tanya Zikri pelan.

"Banget... Mas belajar dari mana? Kok tekanannya pas banget?" Mentari memejamkan mata, menikmati sensasi hangat yang menjalar di punggungnya.

Zikri tersenyum tipis. "Mas belajar demi kamu dan calon jagoan kita. Mas nggak tega liat kamu setiap malam gelisah cari posisi tidur."

Tangan Zikri terus bergerak dengan ritme yang teratur. Ia memijat dari area tulang ekor hingga ke pundak, sesekali membacakan doa-doa kesembuhan dengan suara rendah yang bergetar. Mentari merasa seolah-olah beban di punggungnya luruh bukan hanya karena pijatan fisik, tapi karena besarnya perhatian yang diberikan sang suami.

Sidak Geng Srikandi

"WADUH! ADA PRAKTIK PIJAT PLUS-PLUS HALAL NIH!"

Suara cempreng Bondan mendadak terdengar dari arah jendela yang terbuka. Bondan muncul bersama Fahma yang membawa nampan berisi potongan buah semangka dingin.

"Bondan! Kebiasaan deh nggak ketuk pintu dulu!" protes Mentari, meski ia tidak beranjak dari posisinya yang nyaman.

"Gue tadi udah ketuk pintu depan, tapi nggak ada yang nyaut. Pas gue intip, ternyata ada adegan romantis begini," Bondan masuk dengan gaya flamboyannya. "Gus, beneran deh. Kalau nanti pensiun jadi pemimpin pesantren, Gus bisa buka jasa pijat khusus bumil. Pasti laku keras!"

Fahma duduk di lantai dekat ranjang, menyodorkan potongan semangka ke arah Mentari. "Tari, ini makan buah dulu biar adem. Kata Hafizah, ibu hamil kalau marah-marah terus nanti bayinya lahir mukanya cemberut kayak Bondan."

"Heh! Muka gue cantik begini dibilang cemberut!" balas Bondan tak terima.

Zikri berhenti memijat sejenak, ia mengambilkan satu potongan semangka untuk Mentari lalu menyuapkannya dengan penuh kasih sayang. "Hafizah benar, Fahma. Mentari harus selalu bahagia. Makanya, kalian jangan sering-sering bikin dia kesal."

Bondan memperhatikan wajah Zikri yang sebenarnya juga tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah mata Zikri tidak bisa berbohong.

"Gus, jujur deh. Gus juga kurang tidur kan?" tanya Bondan tiba-tiba.

Zikri terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Setiap malam Mentari sering terbangun karena kakinya kram atau bayinya sangat aktif. Jadi, saya harus siaga untuk memijat atau sekadar menemaninya ngobrol sampai dia tertidur lagi."

Mentari menatap suaminya dengan rasa haru yang mendalam. Ia baru sadar bahwa selama ini Zikri tidak pernah mengeluh sedikit pun, padahal pagi harinya Zikri harus mengajar dan mengurus ribuan santri.

"Mas... maaf ya aku ngerepotin terus," bisik Mentari.

Zikri menggenggam tangan Mentari, menciumnya di depan Bondan dan Fahma tanpa rasa canggung lagi. "Ini bukan repot, Mentari. Ini adalah pengabdian saya. Seberat apapun lelah saya, tidak akan sebanding dengan perjuanganmu membawa nyawa baru di dalam perutmu."

Bondan pura-pura mengelap air mata fiktifnya. "Duh, gue nggak kuat di sini lama-lama. Hawanya penuh cinta, gue yang jomblo berasa kayak remahan kerupuk di dasar kaleng."

Malam yang Syahdu

Setelah Bondan dan Fahma pulang, suasana kembali tenang. Zikri kembali melanjutkan pijatannya sampai Mentari benar-benar merasa rileks.

"Mas," panggil Mentari saat ia hampir terlelap.

"Iya, Sayang?"

"Nanti kalau bayinya lahir, Mas mau dia jadi apa?"

Zikri mengecup kening Mentari, lalu tangannya mengelus perut istrinya yang kini terasa ada gerakan kecil di dalamnya. "Mas tidak menuntut dia jadi apa. Mas hanya ingin dia menjadi manusia yang bermanfaat, yang hatinya terpaut pada masjid, dan yang mencintai Ummi-nya sebesar Mas mencintaimu."

Malam itu ditutup dengan Mentari yang tertidur pulas di pelukan Zikri. Rasa sakit di pinggangnya memang belum hilang sepenuhnya, tapi hatinya telah sembuh total. Di pesantren kecil ini, ia belajar bahwa cinta sejati bukan tentang kemewahan, melainkan tentang siapa yang mau menggosokkan minyak zaitun di punggungmu saat kamu merasa paling lelah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!