Season 1 dan 2 ....
Yang seharusnya suami kini menjadi anaknya, yang seharusnya ayah mertua kini menjadi suaminya. Dan sahabatnya yang kini menikah dengan calon suaminya! Bagimana pernikahan bisa tertukar seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Sera sudah merebahkan dirinya di kasur, lalu menarik selimut menutupi tubuhnya dengan sewot. Entah mengapa hatinya begitu kesal saat fisiknya di bawa-bawa. Apa lagi seketika di bilang kerempeng. Benar-benar membuat hatinya itu kesal dan ingin marah-marah aja bawaannya.
Angga menghela nafasnya memandangi Sera, ia merasa heran dengan gadis itu. Apa ia salah berbicara, Angga pun mengingat-ingat kembali perkataannya.
"Astaghfirullah, jadi dia marah karena aku mengatai nya kerempeng?" Angga terkekeh baru menyadari kesalahannya yang ia buat, dan mengetahui penyebab marahnya Sera itu pada dirinya.
Angga naik keatas ranjang, lalu membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Sera hingga kepala tersebut.
"Hey, masih ngambek?" ucap Angga memepetkan tubuhnya pada Sera.
"Ihs, jauh-jauh sana. Gak ada peluk-peluk," usir Sera mendorong Angga.
Angga bukanya menjauh malah semakin memepetkan tubuhnya lalu memeluk erat Sera.
"Maafkan aku ya, tadi itu hanya bercanda. Kamu ini tidak bisa banget di ajak bercanda," ujar Angga terkekeh.
"Ya udah kalau gak suka sama aku yang gak suka di ajak bercanda. Pergi sana jauh-jauh," saut Sera sinis.
"Ya ampun, gemesin banget sih." Angga menggigit pipi Sera dengan gemes hingga memerah.
"Huaaaaaa ... Om Angga jahat, Om selalu saja menindas ku." Sera menangis kencang. Angga menjadi gelagapan menenangkannya.
"Aduh, aduh sayang maaf-maaf. Aduh kok malah nangis sih?" Angga kebingungan, kepalnya tiba-tiba merasa gatal.
Sera bukanya malah berhenti, tetapi semakin mengencangkan suara tangisnya.
HUAAAAAAA......
"Aduh, gimana nie?" batin Angga kebingungan.
"Sayang, udah dong jangan nangis lagi. Aku minta maaf, oke! Aku janji gak akan menggoda kamu lagi, sekarang diem ya," bujuk Angga lembut mengelus surai milik Sera mencoba memenangkan.
Sesat kemudian Sera terdiam, ia tak lagi berbicara. Tangannya memeluk erat Angga, wajahnya di sembunyikan di dada yang bidang itu. Angga pun menjadi heran.
"Sayang, hey." Angga memanggil Sera pelan.
Sesaat kemudian terdengar suara nafas tak beraturan membuat Angga tersenyum. Sera tertidur dan membuat hatinya lega.
"Selamat malam calon istriku. Aku mencintaimu!" Angga mengecup lembut pucuk kepala Sera lalu ikut ke alam mimpi yang indah.
Pagi hari nya ... Suara bunyi ponsel Angga berdering, Angga membuka matanya malas lalu mengambil handphone yang ada di meja samping tempat tidur.
"Halo..."
"Eh, curut. Kemana lo? Ini udah siang kerjaan banyak noh!" suara itu terdengar begitu kesal. Angga bangkit dari tidurnya secara perlahan agar tidak membangunkan Sera yang sedang tidur memeluknya.
"Gue gak masuk kerja hari ini, bilangin sama Reyhan gue libur sehari. Tapi jangan potong gaji gue," ucap Angga seenaknya .
"What? Lo libur tapi gak mau gaji di potong, enak banget hidup lo. Terus nie kerjaan siapa yang urus!" kesel Bobby.
"Ya, elo lah. Siapa lagi sahabat gue yang baik hati dan tidak sombong selain, elo," jawab Angga santai.
"Woy, duda lapuk sialan. Ngeselin banget sih. Emang lo lagi di mana? Sampai-sampai gak masuk kerja, gak seperti biasanya lo!" heran Bobby, karena biasanya Angga tak pernah absen dari kerjaannya.
"Gue lagi di luar kota, udahlah gue sibuk. Pokoknya lo urus tuh kerjaan gue ... bye."
"Woy, dasar duda lapuk sialan. Enak banget hidup lo. Gue belum selesai ngomong!" teriak Bobby di sebrang sana geram dengan sahabat gak ada akhlaknya itu.
"Apa lagi sih?" ucap Angga malas.
Belum sempat Bobby menjawab, tiba-tiba terdengar suara perempuan...
"Om..." suara yang begitu serak itu mencari di mana om nya atau lebih tepatnya calon suaminya berada, karena tak ada di sampingnya.
"Ya sayang, sebentar, ya," saut Angga yang sedang berdiri di depan jendela.
Bobby mendengar semuanya, matanya melotot sempurna.
"Eh, kampr*t. Jadi yang lo bilang sibuk itu lagi sama cewek! Emang dasar duda lapuk sialan ya, lo asik-asikkan sama cewek sedangkan gue kesusahan ngerjain tugas lo di sini." Asap di telinga Bobby pun keluar sangking keselnya pada sahabatnya itu.
Angga memutar bola matanya bosan.
"Eh, ngomong-ngomong siapa tuh cewek?" lanjut Bobby sesaat tiba-tiba berubah menjadi kepo.
"Kepo banget, dah lah gue sibuk. Jangan gangguin gue," saut Angga.
"Woy, woy tunggu..."
Angga langsung mematikan sambungan telponnya, malas berurusan dengan Bobby yang super kepo. Lalu Angga berjalan mendekati Sera.
"Udah bangun, hem?" tanya Angga mengecup lembut pipi Sera.
"Hem, siapa yang telpon?" tanya Sera menatap Angga.
"Dari Bobby!" saut Angga.
"Hah, dari papah? Papah ngomong apa sama Om." Sera kaget, ia takut kalau papahnya itu tau jika Angga ada di Villa bersamanya.
"Bobby cuma tanya, kenapa aku gak masuk kerja." Angga mengelus pipi Sera lembut.
Sera bernafas lega mendengarnya, setidaknya saat ini papahnya belum mengetahui hubungan nya dengan Angga.
"Kenapa, hem?" Angga menarik Sera kedalam pelukannya.
Sera menghembuskan nafasnya." Om."
"Hem."
"Gimana kalau papah sama mamah tau hubungan kita? Aku takut..." ucap Sera lirih.
Angga tersenyum." Aku akan meyakinkan mereka."
"Tapi bagaimana kalau papah gak setuju?" Sera mendongakkan kepalanya menatap kedua bola mata Angga.
"Aku akan terus meyakinkan dia sampai dia benar-benar menyetujui hubungan kita. Kalau pun dia menentang, aku akan terus berjuang sampai dia menyerah. Kamu mau kan berjuang bersamaku?" ujar Angga bersungguh-sungguh dengan serius menatap Sera berharap.
Sera tersenyum lalu mengangguk." Iya Om, aku mau."
Sera kembali memeluk Angga, entah sejak kapan perasaan itu ada. Walaupun Leo masih melekat dalam hatinya, tetapi sesaat bersama Angga hatinya terasa begitu nyaman dan tenang dan Sera yakin lama-lama secara perlahan hatinya akan bergerak sepenuhnya untuk Angga.
"Terima kasih sayang, aku ku mencintaimu. Kita akan bersama-sama berjuang sampai hari pernikahan kita tiba. Percaya lah, semuanya akan baik-baik saja!" Angga sangat yakin jika ia bisa menaklukkan hati Bobby. Yang penting sekarang Sera sudah berada di dalam pelukannya dan urusan meminta restu itu bisa belakang.
Sementara di rumah sakit....
"Dasar duda lapuk, sialan. Bisa-bisa dia mematikan telpon dariku." Bobby memarahi ponselnya.
"Eh tapi, kira-kira Angga lagi sama siapa ya? Apa jangan-jangan perempuan itu yang di maksud Angga? Tapi kalau iya, ada bagusnya juga sih, biar lelaki itu tidak mati dalam keadaan masih duda!" ucap Boby manggut-manggut.
Pintu ruangan Bobby di buka seseorang.
"Oh, elo Rey. Ada apa?" tanya Bobby kepada dokter Reyhan anak pemilik rumah sakit dan salah satu sahabat dirinya dan juga Angga.
"Angga kemana? Dari tadi gue gak liat batang hidungnya?" tanya Reyhan.
"Entahlah, lagi sibuk katanya," jawab Boby.
"Oh." Reyhan duduk di shopa.
"Eh, dengar-dengar anak lo sama anaknya Angga batal tunangan, kenapa?" tanya Reyhan yang sudah mendengar kabar itu begitu cepat, entah dari mana kupingnya itu mendengar
"Namanya juga bukan jodoh, mau gimana lagi," saut Boby santai.
Reyhan kembali manggut-manggut, lalu memandang Bobby.
"Kenapa, gak lo jodohkan aja tuh anak lo sama Angga!" ujar Reyhan.
"Apa!"