Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilmu Pedang Pengejar Angin
"Besok? Secepat itu??! "
Pangeran Mapanji Wijaya terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh Resi Sapu Jagat.
Hemmmmmmmmm..
"Kau keberatan? ", nada suara Resi Sapu Jagat terdengar tidak enak. Ini jelas menandakan bahwa ia tidak suka dibantah.
" Guru tahu sendiri, aku ini pecundang besar di antara para pangeran dan putra bangsawan yang ada di Kotaraja Watugaluh.
Kalau tidak percaya ya tanyakan pada orang-orang ku. Aku baru saja sembuh dari pengobatan guru, perlu istirahat sebentar. Guru harus nya tahu itu", jawab Pangeran Mapanji Wijaya dengan santainya.
Cihhhhhh...
"Apa ada seorang pecundang bisa menahan serangan Ajian Gugur Bunga dari Dua Iblis Berwajah Dewa hah?! Mana mungkin ada seorang pangeran pecundang yang memiliki tingkat tenaga dalam diatas 6 tingkat heh?!
Kau bisa menipu mereka dengan gaya mu yang sok lemah itu, Nakmas Pangeran. Tapi untuk menipu mata tua ini, seratus orang masih terlalu cepat untuk mu", jawab Resi Sapu Jagat tak mau kalah.
"Guru, kau.. "
"Gusti Pangeran sebaiknya menyerah saja. Kami semua memang bisa tertipu dengan gaya hidup Gusti Pangeran, bahkan mungkin satu Kerajaan Medang ini pun juga akan berpikiran sama.
Tetapi orang tua ini punya penglihatan yang tak biasa, mana bisa tertipu oleh Gusti Pangeran? ", Tumenggung Rengga angkat bicara.
" Iya Gusti Pangeran, kalau berguru ya berguru saja, tidak usah melibatkan kami untuk menipu Dewa Pengobatan dari Gunung Wilis itu.
Kalaupun Gusti Pangeran menimba ilmu padanya, setidaknya kami bisa beristirahat sedikit lebih lama setelah terus-menerus berkelahi melindungi mu", Ratri yang biasanya diam ikut menimpali.
"Kalian ini huhhhh... Dasar tidak setia kawan..
Baiklah Guru, aku akan mulai berlatih dengan mu esok hari. Hari ini aku akan beristirahat saja supaya besok lebih bugar", setelah berkata demikian, Pangeran Mapanji Wijaya ngeloyor pergi meninggalkan aula utama Padepokan Gunung Kemukus tanpa mempedulikan orang yang mencoba untuk menahannya di tempat itu.
Senja mulai turun di kawasan Padepokan Gunung Kemukus. Semburat jingga menghiasi cakrawala barat yang menjadi penanda waktu malam akan segera tiba.
Pangeran Mapanji Wijaya melangkah menyusuri jalan setapak di belakang Padepokan Gunung Kemukus yang menuju ke arah sungai kecil yang biasanya digunakan sebagai tempat mandi dan mencuci pakaian. Rambutnya basah menandakan bahwa ia baru selesai membersihkan diri.
"Gusti Pangeran baru selesai mandi ya? "
Suara lembut itu sontak membuat Pangeran Mapanji Wijaya terlonjak karena kaget. Dia langsung mendengus kala melihat Subadra muncul sambil menenteng keranjang bambu berisi beberapa potong pakaian yang sudah selesai dicuci.
"Bisa tidak kau muncul tanpa mengejutkan ku? Kalau sampai aku jantungan karena kaget bagaimana? ", Pangeran Mapanji Wijaya mendelik kereng pada adik seperguruan Watak dan Ludaka itu.
" Habisnya orang jalan malah sambil melamun begitu..
Memang sedang mikir apa to Gusti Pangeran? ", tanya Subadra segera.
" Aku hanya memikirkan tentang kejadian yang sudah sudah. Aku rasa ada orang yang sengaja ingin aku mati dan tidak kembali ke Watugaluh ", Pangeran Mapanji Wijaya menghela nafas panjang.
Subadra yang beberapa waktu lalu sempat diajak bicara oleh Ludaka dan Warak, mengetahui bahwa ada sekelompok orang yang ingin mencelakai Pangeran Mapanji Wijaya. Tapi masalah ini masih dalam tahap dugaan saja, Ludaka dan Warak tak berani untuk menyampaikan langsung pada majikannya karena takut salah perhitungan.
Demi Pangeran Mapanji Wijaya tidak terlalu memikirkan masalah itu, Subadra melangkah lebih dulu sambil lenggak lenggok berjalan di depan sang pangeran memamerkan bokong nya yang gede.
"Daripada memikirkan hal yang tak jelas, mendingan mikir ini bagaimana cara menyelesaikannya Gusti Pangeran.. ", pancing Subadra dengan mengangkat sedikit harit nya yang basah dan menggigit bibir bawahnya. Jelas ia sedang menggoda Pangeran Mapanji Wijaya.
Lelaki mana yang tahan melihat seorang perempuan cantik berpose demikian.
'Perempuan ini semakin lama semakin berani menggoda ku. Heemmmmmmm, aku akan memberinya pelajaran.. ', batin Pangeran Mapanji Wijaya.
Dengan gerakan cepat, Pangeran Mapanji Wijaya meraih pinggang ramping Subadra dan membawanya ke balik pohon krombang besar yang berada tak jauh dari jalan itu. Belum sempat Subadra bereaksi dengan tindakan sang pangeran, putra kedua dari Ratu Sri Isyana Tunggawijaya dan Pangeran Panji Rawit itu sudah menyosor bibir nya yang sedikit tebal tapi menawan.
Subadra yang hendak memberontak, semakin taj berdaya setelah lidah Pangeran Mapanji Wijaya menelusup masuk ke mulutnya dan menjelajahi setiap sudut mulut perempuan cantik ini. Terlebih lagi saat tangan Pangeran Mapanji Wijaya meremas gundukan bukit kembar nya, Subadra semakin gelagapan.
"Gus-gusti P-pangeran... ohhh jangan di sini... ", lengguh Subadra lemah karena mulai menikmati setiap sentuhan sang pangeran Medang.
Pangeran Mapanji Wijaya semakin liar dan tak terkendali. Tangan kanannya menarik jarit basah Subadra hingga ke pangkal paha dan jarinya mulai bermain disana.
Adegan panas ini terus berlanjut. Tubuh Subadra berayun-ayun sembari merem melek di balik pohon krombang. Sedapat mungkin perempuan cantik itu tidak melengguh karena takut ketahuan orang. Saat Sang Pangeran Medang mencapai puncak, Subadra melorot terduduk di bawah kaki nya.
"Sudah kapok belum menggoda ku heh?! ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya sembari membenarkan pakaiannya.
" Kenapa mesti kapok? Toh ini juga bukan yang pertama kali Gusti Pangeran melakukan nya bersama ku", jawab Subadra sambil tersenyum meskipun wajahnya terlihat lelah.
"Maksud mu, kau dan aku? ", Pangeran Mapanji Wijaya mengernyitkan kening.
" Iya, ini kali kedua kita melakukan nya. Yang pertama saat Gusti Pangeran mabok dulu ", Subadra bangkit sambil merapikan pakaiannya.
HAAAAAHHHHHHHH?!!!
Pangeran Mapanji Wijaya terkejut mendengar pengakuan Subadra. Dia tak menyangka bahwa perempuan yang ia tiduri kala mabok itu adalah Subadra.
" Gusti Pangeran tidak usah panik begitu, aku melakukan nya dengan sukarela. Juga tidak bermaksud untuk merusak pernikahan mu dengan Putri Kalingga. Aku cukup menjadi selir saja.. "
Setelah berkata demikian, Subadra tersenyum manis lalu berjalan meninggalkan Pangeran Mapanji Wijaya yang masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru terjadi.
Keesokan harinya..
Pangeran Mapanji Wijaya dibawa Resi Sapu Jagat ke balik Gunung Kemukus karena tidak ingin ada yang mengganggu pembelajaran yang akan dia berikan.
"Sebagai pembuka pembelajaran, aku ingin kau mempelajari ini lebih dulu.. ", ujar Resi Sapu Jagat sambil mengulurkan gulungan helai daun lontar kepada sang pangeran.
"Baik Guru.."
Segera Pangeran Mapanji Wijaya menerima rangkaian daun lontar itu dengan kedua tangan nya lalu membaca judul kitab ini : Kitab Ilmu Pedang Pengejar Angin.
Dalam kitab ini tertulis jelas bahwa dasar ilmu pedang ini adalah pernafasan dan kunci utama nya adalah kecepatan. Pangeran Mapanji Wijaya yang memiliki Ajian Sepi Angin jelas diuntungkan pada saat belajar ilmu ini.
Resi Sapu Jagat memberinya sebuah ranting sebagai bentuk semu sebuah pedang agar Pangeran Mapanji Wijaya mulai mempelajari gerakan pedang ini.
Hari demi hari, Pangeran Mapanji Wijaya semakin mahir dalam gerakan bertarung menggunakan pedang. Dalam waktu sepekan saja, dia sudah mampu menggunakan ranting sebagai senjata yang mematikan. Resi Sapu Jagat manggut-manggut senang melihat perkembangan ilmu pedang Pangeran Mapanji Wijaya.
Bahkan kini Pangeran Mapanji Wijaya mampu bertarung seimbang dengan Resi Sapu Jagat menggunakan pedang. Ini juga tak lepas dari kepintaran sang pangeran yang selama ini selalu berpura-pura bodoh di depan semua orang.
Sepuluh hari sudah Pangeran Mapanji Wijaya belajar dari Resi Sapu Jagat.
"Aku anggap ilmu pedang mu sudah cukup untuk melindungi diri mu sendiri Nakmas Pangeran...
Nanti malam datang lagi kesini, aku akan menurunkan sebuah ilmu kanuragan yang bisa kau gunakan sebagai ajian pamungkas selain ilmu yang sudah kau miliki.. ", ucap Resi Sapu Jagat yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya garuk-garuk kepala.
Sambil terlihat tidak enak, Pangeran Mapanji Wijaya pun memberanikan diri untuk berkata,
" Bisa tidak kalau belajarnya besok saja Guru?
Malam ini aku ada janji... "