NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Aduan dan tangisan Laura

Mobil yang di tumpangi oleh Gaharu baru saja berada di pertengahan jalan menuju kantor. Namun pria itu harus putar balik saat mendengar kondisi Laura yang tiba-tiba pulang dalam keadaan menangis. Samar-samar saat ia mendapatkan telepon dari pelayan Kim, suara tangis Laura terdengar.

Perasaannya menjadi tidak nyaman saat mendengar tangisan Laura. Ia memerintahkan Juan untuk membatalkan semua jadwal hari ini.

Begitu mobil hitam milik Gaharu berhenti dengan decit ban yang memekik di pelataran penthouse, Juan dengan cepat mengeluarkan kursi roda juga membantu Tuannya untuk turun. Wajah Gaharu tampak mengeras, rahangnya mengetat saat netranya mendapati Arlo yang sedang membereskan perintilan barang dan juga tas yang sempat Laura bawa.

Gaharu tahu betul itu tas Laura, barang-barang itupun Gaharu mengenalinya. Dan sekarang, ia melihat barang-barang tersebut berserakan di atas semen. Apa yang sebenarnya terjadi?

Pria itu menjalankan kursi rodanya memasuki penthouse. Atmosfer di dalam ruangan terasa begitu tegang.

Di ruang tengah, Adeline sedang mendekap Laura yang masih menangis sesenggukan. Ada pelayan Kim yang baru saja datang membawakan segelas air putih juga dokter pribadinya yang terlihat sibuk menyiapkan alat-alatnya, sementara bercak darah segar kembali menodai perban di lutut Laura.

“Laura,” suara berat Gaharu menginterupsi keheningan yang mencekam itu.

Laura langsung mendongak dengan mata yang sembap dan merah. Begitu netranya menangkap sosok sang suami, pertahanannya runtuh total. Ia melepaskan pelukan Adeline dan berusaha berdiri, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk lututnya.

“Suami.. hiks..”

Laura berjalan dengan tertatih-tatih untuk mendekat. Perasaan tidak tega hinggap di hati Gaharu. Pria itu menjalankan kursi rodanya untuk mendekat agar Laura tidak melangkah lebih jauh dengan lututnya yang kembali terluka.

Brugh!

Laura terduduk bersimpuh di hadapan kedua kaki Gaharu. Gadis itu langsung saja meraih dan menggenggam kedua tangan Gaharu dengan tangannya yang masih gemetar. Ia tidak memperdulikan lututnya yang kembali mengeluarkan darah.

“Aku di sini. Tenang, Laura. Bernapas dengan benar,” bisik Gaharu rendah, tangannya mengusap rambut Laura dengan pelan, mencoba meredakan kepanikan istrinya. Ia melirik Adeline, meminta penjelasan lewat tatapan matanya.

Adeline menghela napas berat, wajahnya memancarkan rasa prihatin yang mendalam. “Laura pulang dari kampus sudah dalam keadaan seperti ini, Gaharu. Ibu tidak tahu apa yang terjadi, tapi sedari tadi dia selalu menyebut nama Rahel.”

Gaharu menunduk, dengan mengikuti kata hatinya ia melepas genggaman tangan Laura lalu menangkup wajah kacau istrinya.

“Ada apa dengan Rahel? Katakan padaku.”

“R-Rahel... Rahel difitnah, suami...” ucap Laura terbata-bata, napasnya masih tersendat. “Di kampus... ada berita bohong tentang Rahel. F-Foto editan... mereka bilang Rahel melakukan hal menjijikkan dengan dosen pengganti, Pak Baskoro. Itu bukan Rahel! Aku tahu persis itu bukan dia! Tapi semua orang percaya jika itu Rahel... Ponsel... ponselnya mati, Rahel.. Rahel tidak bisa di hubungi, Rahel hilang, suami. Aku takut... aku takut Rahel kenapa-napa...”

“Tenangkan dirimu, perhatikan pernafasanmu, Laura.”

Bibir gadis itu bergetar, tangannya menepuk-nepuk dadanya saat merasakan sesak. Terkadang ia mengelus dadanya agar perasaannya terasa tenang, namun itu tidak membantu. Pikirannya terus melayang tentang keadaan Rahel saat ini.

“Kamu percaya dengan sahabatmu?” tanya Gaharu, menatap lurus ke dalam manik mata Laura yang basah.

Laura mengangguk kuat tanpa ragu. “Aku sangat mengenalnya. Dia tidak mungkin melakukan hal itu. Seseorang sengaja menghancurkannya, Suami. Tolong bantu aku untuk mencari Rahel.. tolong..”

Gaharu menyeka air mata di pipi Laura dengan ibu jarinya, lalu tanpa peringatan, bibir pria itu mengecup kening istrinya cukup lama. “Aku akan urus semuanya. Aku akan cari sahabatmu, dan aku akan pastikan orang yang menyebarkan fitnah itu memohon ampun di hadapanmu. Tapi sekarang, duduk dan biarkan luka di lututmu diobati. Mengerti?”

Laura menatap Gaharu dengan binar penuh harapan, perlahan rasa hangat dan aman mulai menjalar di dadanya. Ia mengangguk patuh. Gaharu memberikan kode kepada ibunya untuk membantu Laura kembali duduk di sofa dan mendapatkan pengobatan pada lukanya.

Adeline dengan sigap merangkul bahu Laura, menuntun menantunya itu untuk kembali duduk di sofa dengan sangat hati-hati. Dokter pribadi yang sejak tadi menunggu langsung berlutut di depan Laura, dengan cekatan namun lembut mulai menggunting perban lama yang sudah penuh oleh darah untuk di bersihkan kembali.

Laura meringis kecil, meremas ujung bantal sofa, namun matanya sama sekali tidak lepas dari sosok Gaharu yang kini memundurkan sedikit kursi rodanya.

Atmosfer di sekitar Gaharu mendadak berubah drastis. Kehangatan yang baru saja ia berikan pada Laura menguap begitu saja, digantikan oleh aura dingin yang pekat dan mengintimidasi. Pria itu memutar kursi rodanya ke arah pintu masuk, di mana Juan sudah berdiri tegak dengan kepala tertunduk, siap menerima perintah.

“Juan,” panggil Gaharu. Suaranya rendah, namun gema dinginnya sanggup membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengar meremang.

“Ya, Tuan Muda?” Juan melangkah maju satu langkah, memasang mode siaga penuh.

“Panggil Arlo masuk ke ruang kerjaku sekarang. Dan hubungi tim IT dan juga informan kita. Lacak dalang di balik penyebaran rumor dan foto editan mahasiswi bernama Rahel di fakultas seni. Aku ingin laporannya berada di mejaku malam ini juga! Lengkap.. tanpa ada satu hal pun tertinggal,” perintah Gaharu dingin.

Pria itu menjeda kalimatnya, matanya menyipit tajam. “Pastikan semua foto editan itu terhapus tanpa jejak. Jika perlu retas data si pemilik akun yang menyebarkan berita miring itu. Aku tidak peduli jika orang itu memiliki koneksi lebih dariku, lakukan cara kotor jika kalian tidak dapat membobolnya.”

“Baik, Tuan muda.”

“Satu lagi, carikan informasi tentang pria bernama Baskoro. Aku hanya ingin memastikan dia orang yang aku kenal, atau.. hanya orang biasa yang memiliki nama yang sama.”

“Baik, Tuan Muda. Akan saya laksanakan,” jawab Juan tegas, lalu membungkuk hormat sebelum melangkah cepat keluar dari penthouse untuk menjalankan perintah.

Gaharu kembali memutar kursi rodanya masuk. Di sana, dokter pribadi keluarga masih dengan telaten membersihkan sisa darah di lutut Laura. Istrinya itu sudah tidak lagi menangis histeris, namun sisa-sisa isakan kecil masih terdengar, beradu dengan ringisan pelan setiap kali cairan antiseptik menyentuh kulitnya yang terluka.

Gaharu mendekat, menghentikan kursi rodanya tepat di sisi Laura. Ia mengulurkan tangannya, mengusap lembut puncak kepala Laura untuk mengalihkan atensi gadis itu dari rasa perih di kakinya.

“Dengarkan aku, Laura,” kata Gaharu, suaranya melembut, kontras dengan nada dingin yang ia gunakan pada Juan beberapa saat lalu. “Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh. Fokus pada pengobatanmu. Aku sudah mengutus orang-orang terbaikku untuk melacak keberadaan sahabatmu dan membersihkan namanya.”

Laura mendongak, menatap Gaharu dengan mata bulatnya yang masih berkaca-kaca. “Suami... tapi bagaimana kalau mereka menyakiti Rahel? Di foto itu... foto itu kelihatan nyata sekali bagi orang yang tidak mengenal Rahel. Aku takut Rahel tertekan dan nekat melakukan hal buruk...”

“Tidak akan ada yang berani menyentuhnya lebih jauh setelah ini. Aku jamin itu,” potong Gaharu dengan nada yang menenangkan. “Sahabatmu aman selama aku bergerak.”

Adeline yang duduk di sisi lain Laura ikut mengusap punggung menantunya. “Benar, percayalah pada Gaharu. Sekarang, biarkan dokter menyelesaikan tugasnya dulu, ya? Kamu harus kuat kalau ingin menyambut sahabatmu kembali.”

Laura akhirnya mengangguk pelan, meskipun hatinya masih diselimuti kecemasan yang teramat sangat.

***

Sabtu, 23 Mei 2026

Published : Sabtu, 23 Mei 2026

1
Ani Maryani Naryani
istri nya gak takut juga dan badas gak takut sama suami mungkin ratu bela diri apalagi teman nya juga kuat
Ani Maryani Naryani
itu suami itu menganggap istri atau tahanan apa mungkin gaharu banyak musuh nya jadi tangkut menanargetkan istrinya
Umi Kolifah
bagus kek rajas, ayo Rajendra ajari istrimu bagaimana bisa seorang ibu bisa lebih memilih anak orang lain dan menyakiti anak kandungnya sendiri
Umi Kolifah
ayo gaharu buat ibu kandungmu menyesal semenyesalnya karna mengabaikanmu dan memilih memihak pada sadana meskipun tau akan kelakuan nejatnya
Umi Kolifah
semoga cepat sembuh kak semangat buat nulis lagi💪💪💪💪
Umi Kolifah
jangan lama2 kak punya seru nich ceritanya
merry
bnr kt Bpk y jendra akhir cucu y alias ank dr ank angkt y jdi sumber mslh ya
Juna Dong
menarik
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!