NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Makan malam berlangsung tertib. Setelah membahas aplikasi manajemen pelatihan bersama Ruby, Juli kembali ke kumpulan teman-temannya. Di sini, terkadang ada semacam tugas gabungan antar divisi. Bisa berpasangan,bisa berkelompok. kolaborasi ini penting karena bisa saja ter jadi di dunia kerja nyata.

  "Baik-baik lo ya partner sama dia," Apri cekikikan.

  "Gak usah lebay deh. Gw itu bukan seleranya dia," balas Juli santai.

  Selera? kimi langsung pasang telinga.

  Okta mencondongkan badan. "Eh, dengar-dengar, kalau yang agak tomboy gitu sukanya sama yang cewek banget ya?"

  Janu ikut berbisik. "Biasanya sih. Tapi yang kayak mereka mah gak bisa diprediksi, kadang yang feminin doyannya sama yang cantik juga."

  "Gimana sih? Intinya kan cewek sama cewek," kata Okta lagi.

  Juli memutar mata. "Susah dijelasin. Pokoknya kalau suka ya suka aja. Asal ceweknya gak berbatang."

  Mereka terkikik bersama.

  Febi mengerling curiga. "Btw, kok kamu tau banget sih seputar dunia mereka?"

  Juli mendengus. "Yaelah. Temen gw ada yang kayak dia, tapi anaknya baik banget. Gak suka ribut."

  Semua manggut- manggut. Kimi masih mendengarkan sambil sesekali melirik Ruby yang makan sendirian. Situasi ini sebenarnya aneh menurut Kimi.

  Ruby itu tidak berbahaya, kenapa justru dijauhi hanya karena orientasinya? Apa jangan- jangan Ruby pernah aneh-aneh ke salah satu bulan?

  Kimi mulai pusing. Satu sisi keponya meronta-ronta. Sisi lain, ancaman pengucilan dari peserta lain membuatnya ingin bersembunyi di balik rambut merah Juli. Seorang Kimi sejati anti cari musuh, tapi rasa penasaran ini... oh, shit. Sakitnya tuh di sini.

  "kenapa sih lo?" Nove yang biasanya pendiam sampai turun tangan menegur Kimi.

  Kimi celingukan, baru sadar dari tadi gelisah sendiri. "Itu... anu... aku mikirin di sini kan gak ada sinyal. Terus gimana kalau mau ngabarin pacar?" Jawabnya asal, berharap terdengar meyakinkan.

  Septi langsung heboh. "Woah, jadi lo udah punya pacar?"

  Agus menimpali sambil nyengir. " Gak kaget sih. Tapi tenang, di sini bisa nelpon kok. Tapi gak boleh lama-lama dan cuma bisa hari Sabtu."

  Mei mengerut. "Bukannya semua fasilitas udah dikasih tau pas kita diterima ya?"

  Kimi cengengesan, karena dia memang tidak membaca semuanya. Awal datang saja ogah-ogahan, boro-boro bisa tahu.

  .

  .

  Setelah makan malam, peserta dapat waktu bebas. Biasanya mereka saling berkunjung ke kamar untuk mengobrol, tapi malam ini, kimi punya tugas khusus dari Pak Mahmud. Sekarang ia duduk di kamar Febi, mendengarkan penjelasan tentang materi pelcatihan seminggu terakhir. Semakin lama mendengar, semakin berat kelopak matanya,

  "Kim, fokus," tegur Febi tanpa menoleh.

"Iya, iya. Tapi bisa. gak sih jelasinnya sambil nyanyi biar agak hidup gitu?" rengek kimi.

Marey yang duduk di pojokan langsung bergeser mendekat. "Nyanyi? Mau versi berseni? Sini biar gw bantu, "

Kimi baru buka mulut mau protes, tapi Marey sudah mulai menjelaskan sambil bernyanyi dengan nada kokoro no Tomo.

Kimi melongo. Tuhan, lagu tahun berapa itu.. Aku aja belum direncanain hidup waktu lagu itu keluar. Mungkin papa mama juga belum kenal, batinnya.Febi cuma bisa geleng-geleng kepala. Yah, setidaknya suara Marey masih manusiawi. Sementara kimi berjuang menahan kantuk agar terlihat masih hidup.

Dsisi lain Ruby melangkah keluar asrama. Ia menuju klinik kecil di sebelah gedung pelatihan, mengetuk salah satu pintu kamar rawat dengan perlahan. Begitu masuk, seorang gadis berkulit pucat sedang duduk sambil mengaduk-aduk bubur.

"kirain gak ke sini," sapa Anela dengan senyum lebar.

Ruby ikut tersenyum tipis. "Emang aku bisa ke mana lagi?"

Anela terkekeh pelan. "Kok bawa buku?"

Ruby menunduk sebentar, melihat novel di tangannya. "Buat kamu baca. Biar gak bosen."

"Harusnya kamu nawarin dari kemarin."

"Kemarin kamu bilang masih pusing."

Anela mendengus, lalu meraih buku itu, Ia membuka beberapa halaman, "Udah kamu baca?"

"Udah."

  "Bagus gak?"

Ruby mengangkat bahu, "Lumayan. Buat yang suka cerita ringan sih cocok."

Anela tersenyum geli. "Bucin-bucin gitu ya? Kayak kita?"

Ruby memutar mata. "Ngarang banget," gumamnya, tapi sudut bibirnya terangkat. Pandanganya lalu berpindah ke mangkuk bubur di meja. "Kenapa gak diabisin?"

"Gak selera."

"Kapan sembuhnya kalau makan aja disisa-sisain."

"Yaudah, suapin dong," kata Anela manja.

Ruby menghela napas panjang. "Manja banget sih, kayak bocil." Tapi tangannya tetap mengambil sendok dan mulai menyuapi perlahan.

.

"Tuh, bisa. abis," katanya setelah beberapa suapan.

Anela tersenyum lebar. "Berarti harus disuapin tiap kali makan."

"Sama siapa?"

"Kamu lah,"

"Ya kali. Dikira aku gak punya kerjaan."

Anela manyun, pura-pura ngambek. "Ih, jutek."

Ruby terkekeh, lalu duduk di sisi ranjang. "Udah sana tidur, kebanyakan ngomong juga capek."

Mereka tertawa. kecil. Ruby melirik tangan Anela yang menggenggam jemarinya. Terasa hangat, dan wajah Anela juga sudlah tidak terlalu pucat. Ia bernafas lega, karena ini artinya gadis itu sudlah mulai membaik. Meski tidak pernah mengaku, terasing di tempat seperti ini memang membuatnya sedikit kesepian, Anela adalah satu-satunya peserta yang tidak menjauhinya, bahkan dengan lantang bilang di depan semuanya, 'Aku boleh dekat dengan siapapun yang aku mau'. Kapan pelatihan ini berakhir? Belum ada dua Minggu, tapi Ruby sudah bosan. Apa ia bisa bertahan sampai tiga ulan ke depan?

Tapi yah, mau bagaimana lagi. Ini adalah salah satu syarat yang harus ia jalani.

Sementara di tempat lain, Kimi yang sudah selesai- atau lebih tepatnya. menyerah karena bosan sedang berdiri di depan pintu kamar Ruby.

Di tangannya ada toples cookies, tapi setiap mau mengetuk, tangannya berhenti di udara. "Terlalu keliatan gak sih? Nanti dikira ngejar- ngejar. Terus ilfeel. Terus aku dikata desperate. yah, bakal buyar semuanya," gumamnya sendiri. Tapi ya gimana, rasa penasaran kimi sudah meledak.

Ia benar-benar ingin tahu: gimana sih rasanya disukai sama cewek? Gimana rasanya dipegang tangannya, dipeluk, dicium -eh, stop. kejauhan. Tapi otaknya keburu jalan duluan. Apa kimi sekarang jadi cewek mesum? Ia menarik napas dalam, mengangkat tangan lagi, lalu mendadak menurunkannya saat terdengar langkah mendekat dari tangga. Kimi sempat mikir mau kabur, tapi telat.

"Lo ngapain depan kamar gw?" suara itu datar, tapi cukup bikin jantung Kimi salto.

Ruby berdiri di sana dengan alis terangkat. Situasi ini deja vu, mirip saat kimi baru datang beberapa hari lalu.

"Santai, By. Aku cuma mau ngajak ngemil," kata Kimi sambil menunjuk toples cookies-nya.

Ruby berkedip. By? Belum lama dia dipanggil 'Uby', sekarang 'By'? Dan kenapa juga. nama Ruby bisa. berubah sesuka hati begini?

Ruby cuma mendengus dan memutar kenop pintu, Begitu kimi hendak ikut masuk, Ruby langsung menahan. "Mau ngapain?"

"Masuk dong."

"Gak bisa. Kamar gw private."

"Oh, yaudah. Kasih tau password-nya."

Ruby menatap kosong selama dua detik. Password? Entah siapa lagi cewek yang paling sok asik selain Kimi di sini, batinnya.

Akhirnya karena malas berdebat, Ruby menghela napas panjang dan membuka pintu lebih lebar. Kimi pun nyelonong masuk tanpa dosa, duduk lesehan di karpet seolah itu ruang tamunya sendiri. Toples cookies ia taruh di depan, matanya berkeliling mencari-cari entah apa, mungkin aib. Tapi kamar Ruby terlalu rapi, minimalis, bahkan wangi. Ruby duduk di pinggir kasur, menatap kimi tak percaya.

"Lo gak kepikiran bakal dikira aneh kalau orang tau lo ke sini?"

Kimi langsung nyengir. "Tau kok. Tapi aku ini orangnya ramah. kalau bisa, aku pengen temenan sama satu dunia, "

"Lebay amat. Mereka pasti udah cerita kan?"

"Tentang kamu yang lesbian?" tembak kimi cepat.

"Mereka juga kasih peringatan."

Ruby terdiam. Pandangannya menajam, mencoba menebak apakah kimi lagi ngetes atau beneran bego. "Kalau lo udah tau, ngapain ke sini? Mereka gak salah ngasih peringatan. Gw bisa. aja aneh-aneh ke lo."

"Aha!" seru Kimi tiba-tiba sambil menepuk tangan. Ruby hampir loncat.

"Kenapa lagi?"

Kimi terkikik. "Enggak, cuma.. rasanya gak seserem ituu deh. Aku kan udah gede. kalau diapa-apain, aku bisa ngebales kok."

'Ngebales' ? Ruby menaikkan alis. kalimat itu terdengar lebih seperti tantangan dari pada pembelaan. Ia mendengus, lalu melirik jam dinding. "Udah mau jam sebelas. Balik sana. GW mau tidur."

"Kimi ikut melirik dan kaget. "Serius? Aku kira baru jam sembilan. Pantes mataku error."

"Yaudah, besok kita ngemil bareng ya." Katanya lagi, lalu berdiri, menepuk celananya dan berjalan ke arah pintu.

"Toples lo ketinggalan," tunjuk Ruby.

Kmi berbalik, menatap Ruby dengan wa.jah serius seolah sedang memberi wasiat. "Taro aja di sini. Tapi ingat, kalau kamu makan itu, kamu wajib undang aku. haram hukumnya makan sendirian."

Pintu tertutup sedikit keras. Ruby mengernyit, lalu melirik toples itu. Ada sesuatu yang aneh dari kimi, seolah gadis itu sengaja memaksa masuk ke dunianya. Tertarik? Mungkin. Tapi bukan dalam hal romantis. Ia tahu persis Kimi itu straight. Tau dari mana? Ya gitu dah.

Dan entah kenapa, mata polos penuh penasaran itu mulai mengusik pikirannya. Mengganggu, tapi sulit diabaikan. Mungkin ini pertama kalinya Ruby bertemu gadis seunik kimi. Dan pertama kalinya pula ia penasaran: apa yang orang lain rencanakan terhadap dirinya.

~

Keesokan paginya, kehebohan meledak di ruang makan saat semua orang sedang sarapan, Desi yang baru selesai makan tiba-tiba menjerit histeris. Semua langsung panik dan berhamburan.

"Kenapa, woy? Kesurupan?" tanya Agus refleks, karena dia paling cepat kalau urusan makhluk halus.

"Itu... gelang yang dikasih pacar aku ilang!" teriak Desi sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang kosong.

"Oh, gelang norak itu?" celetuk Apri santai.

Juni langsung menyikut. "Bukan waktunya ngejek, peak. Desi lagi trauma tuh."

"Kapan terakhir dia bernafas?" tanya Mei sigap.

"kok bernafas?" Desi sudah hampir menangis.

"Pokoknya pas ke sini masih ada kok,"

"Paling jatuh," kata Juli sambil meletakkan gelas.

"Yang udah kelar makan, bantu cari. Des, lo dari kamar sempet ke mana aja?"

Desi mengerutkan dati, mencoba mengingat-ingat.

"Hemm... dari kamar ke dapur, terus ke gudang belakang ngecek sapu, terus ke kampus nganter sapu ke Mbak Sumi, abis itu ke gerbang nanyain paket ke Pak Budiman, terakhir ke asrama cowok liat orang beres- beres. Baru ke sini."

Semuanya bengong.

"Lo pecicilan banget sih. Pagi-pagi udah keliling kompleks," kata Janu takjub.

"Ya abisannya bete, gak ada sinyal. Mau scroll kagak bisa," Desi ngedumel.

"Oke, kita mencar aja," ujar Juli akhirnya, lalu membagi tugas.

Baru mau beranjak, Ruby yang sejak tadi mendengarkan akhirnya. mendekat sambil menyodorkan gelang perak berbandul jangkar kecil. "Ini bukan?"

Desi langsung memekik dan buru-buru menyambar, "Iyaaa! Ini gelang aku! Kamu nemu di mana?"

"Deket tangga," jawab Ruby datar sambil menunjuk belakang.

"Kok bisa nyasar ke sana? Kamar lo di bawat deh, " kata Septi heran.

Desi menepuk dahiya. "Oh iya, aku tadi sempet ke balkon atas liat pemandangan."

"Yaelah," gumam Apri. "Bikin perkara aja pagi- pagi."

Juli menepuk tangan, "Oke, misteri selesai. Balik ke meja masing-masing."

Semuanya bergerak seperti pasukan yang baru dibubarkan kapten. Ruby cuma mengangguk kecil saat Desi bilang, "Makasih ya, Ru," sebelum kembali makan dengan tenang di pojokan.

Kimi yang menyaksikan semuanya hanya tersenyum kecil. Calon pacar aku tuh, batinnya girang sendiri. Padahal belum tentu Ruby mau diajak pacaran, dan untuk apa juga.

Setelah kejadian itu, mereka tak henti berbisik-bisik sambil ber jalan ke kelas.

"Eh, aneh gak sih? Dia kan udah duduk dari tadi, kenapa gak langsung dibalikin?" bisik Okta.

"Iya. Apa dia. nunggu timing biar kelihatan heroik?" timpal Janu.

Marey manggut-manggut. " Klasik banget, modus biar disorot,"

Desi menoleh sedikit kesal. "Ya ampun, mungkin dia gak tau itu gelang aku. Aku juga baru pake kemarin,"

"Lah, tinggal nanya aja, 'ini gelang siapa?' kan bisa," Celetuk Janu lagi.

Juli yang dari tadi diam akhirnya berkata pelan,  "Gimana mau nanya kalau kalian aja ngeliatin dia kayak jijik gitu."

Apri langsung menoleh. "Wih, dibelain nih? Udah jadi bestie sekarang?"

"Bukan gitu," Juli mendesah. "Udahlah, gak usah dibahas. Udah waktunya masuk kelas."

"Cie, menghindar," sindir Marey.

"Jangan gitu lagi. Diaudah baik mau balikin gelang aku," kata Desi, berjalan meninggalkan teman-temannya yang kini beralih menatapnya curiga. Kimi yang berjalan di belakang bersama Febi hanya diam mendengarkan. Bukan tidak ingin ikut bicara, tapi takut malah jadi ribut.

.

Sampai di lantai dua, mereka berpisah dan masuk ke kelas masing-masing. Sebelum masuk, kimi sempat menoleh ke arah tangga dan melihat Ruby muncul. Gayanya santai seperti biasa., rambut diikat tinggi, kaosnya bergambar tangan dengan jari tengah mangacung. kimi nyaris tertawa, dan ekspresi itu sempat  tertangkap Ruby, meski kimi langsung masuk tanpa menyadarinya.

.

Pembimbing kali ini Bu Salma, terlihat menantang sekaligus elegan. Bibir merahnya mencolok, geraknya percaya diri, tapi tetap cantik dan pas di matanya. Semua peserta serius memperhatikan materi, sampai bu Salma melempar pertanyaan absurd:

"Marey, apa yang kamu lakukan kalau saat meeting  tapi kamu malah pengen kentut?"

Atau:

"Kimi, kalau kamu dihadapkan pada dua pilihan sulit: ditaksir atasan, tapi kamu malah naksir rekan kerja. Apa yang akan kamu lakukan?"

Saat pertanyaan absurd berikutnya meluncur, tiba-tiba pintu diketuk. Seorang gadis masuk dengan wajah sedikit pucat tapi tetap ramah dan tersenyum hangat. "Maaf, Bu. Saya terlambat," kata gadis itu.

"Tidak masalah, Anela. Masuk saja," Bu Salma mempersilakan.

Anela mengangguk dan berjalan pelan ke kursi.

Tiga  gadis lain hanya diam, sama sekali tidak menyapa. Kimi sendiri merasa jiwa kepo-nya kumat lagi. Jadi ini yang namanya Anela. Hmm, lumayan, pikirnya. Kimi langsung menilai dari jauh: rambut rapi, senyum hangat, kalem, tapi ada aura misterius yang bikin orang penasaran, Seperti Ruby, tapi... berbeda.

"Kok ya mereka gampang banget bikin aku kepo," batin kimi.

Setelah hampir setengah koma mendengar ocehan Bu Salma, Febi menga jak teman-temanya pindah ke kantin menunggu kelas berikutnya. Kali ini kelas campuran yang diadakan di aula, membahas seluk-beluk Charley Group sekaligus memberi kesempatan menampilkan bakat atau hiburan masing-masing. Kimi sempat senang, sampai seorang pembimbing menyalakan layar proyektor besar. Isi layar? Cabang-cabang perusahaan yang tersebar di beberapa provinsi.

Kimi langsung gelisah.  "Abang pasti nyesel kalau tiba-tiba aku lulus terus dikirim ke Papua. Jauh banget kan?"

Desi di samping kirinya menoleh. "Belum ada cabang Papua, kim. Masih tahap rencana. Kamu merhatin gak sih?"

Kimi menelan ludah dan melirik sekeliling. Tatapannya berhenti saat melihat Ruby duduk bersebelahan dengan Anela. Mata kimi langsung menyala. Jangan-jangan Ruby jutek dan menjaga jarak karena gadis kalem di sampingnya? Lalu soal pacar yang sedang sakit itu...

jangan bilang itu Anela.

Kimi mendengus. Tadinya ia pikir bakal jadi satu-satunya yang spesial buat Ruby, tapi ternyata ada Anela. kalau keduanya memang punya hubungan, artinya kimi harus mikir dua kali: mau nurutin rasa kepo atau mundur? Ia sendiri bingung.

Sebenarnya dia penasaran sama. Ruby, atau sama dunia pelangi yang baru ketemu ini? Dan kalau ternyata kep0 soal dunia pelangi, berarti Anela bisa jadi target juga kan? Yah, walaupun Anela masih abu abu.

"Gimana nih, masa nyerah? Aku gak bakat jadi  pelakor," gumam kimi murung.

Juni yang duduk di kanan melirik heran, "Lo kenapa sih dari tadi?"

Kimi cuma menggeleng lemah, mencoba fokus ke depan, tapi pikirannya tetap ke belakang. Sekali lagi ia  menoleh, bertepatan Ruby sedang meliriknya. kimi mendengus, kesal sendiri. Rasanya seperti gebetannya direbut, padahal ini kan cuma rasa kepo yang meledak- ledak.

.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!