Menjadi janda di usia belia bukanlah sebuah pilihan, melainkan suatu takdir yang harus di jalani oleh Aisyah Naira. Wanita berusia 18 tahun yang harus berpisah dengan suami yang di cintainya karena di fitnah selingkuh dan di tuduh hamil anak dari laki-laki lain.
Ingin tahu bagaimana kehidupan Aisyah setelah empat tahun kemudian?
Apakah Aisyah sanggup menerima kenyataan ketika putri kesayangannya harus meninggal dunia di umurnya yang belum genap 4 tahun?
Dan bagaimana ketika takdir kembali mempertemukan Aisyah dengan sang mantan suami yang menyesali perbuatannya di masa lalu dan memohon kepadanya untuk rujuk?
follow IG author : asyiahmuzakir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asyiah Muzakir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28 | Jangan lakukan itu lagi!
Aisyah POV.
Aku telah kembali sibuk dengan pekerjaanku, sudah lebih dari tiga jam aku berdiri untuk memotret seorang model bernama Arashi Prasetya, brand ambassador yang baru saja bergabung di Agensi DSL beauty fashion milik Lee.
Pemotretan kali ini terbilang sangat lancar sebab Mas Arashi adalah orang yang sangat totalitas dan tak butuh banyak arahan dariku, dari awal aku hanya perlu memfokuskan kameraku saja.
Bisa di bilang kali ini aku beruntung mendapat client yang mudah di ajak kerjasama seperti dirinya, sebab sebelumnya aku sering memotret model yang sangat menguji kesabaran ku sebagai fotografernya.
"Alhamdulillah," ucapku setelah jam istirahat pemotretan tiba.
"Hey, Syah!" Aku menoleh dan melihat Avila berlari mendekatiku.
"Hei Vi," balasku seraya tersenyum.
"Syah, aku denger dari Oppa katanya semalem kamu jengukin laki laki brengsek itu lagi ya?" cecar Avila tiba tiba.
"Iya, aku kasihan sama dia Vi. Aku cuma pengen bantuin dia sadar dari komanya, bagaimanapun dia masih ayah dari almarhumah anak aku." Sebisa mungkin aku menjelaskannya kepada Avila agar sahabatku itu tidak salah sangka.
"Ya Allah, Syah. Aku gak habis pikir kenapa kamu bisa sebaik itu sama dia. Dia itu udah jahat banget sama kamu, Aisyah... bahkan bukan hanya hati kamu aja yang pernah dia hancurin tapi hidup kamu juga... huft, sekarang aku tanya, apa kamu masih cinta sama dia?" pungkas Avila yang seketika membuat aku terdiam tanpa bisa menjawab apapun.
"Hah! Lupainlah, mendingan kita pergi ke Kafe depan, yuk?" ajak Avila sambil merangkul bahuku.
"Enggak nungguin Robbie dulu?" tanyaku seraya menatap Avila.
"Eh iya, tapi kemana tuh anak? Dari tadi aku gak lihat dia lho," sahut Avila yang aku balas kedikan bahu tanda kalau aku pun tidak tahu di mana Robbie sekarang.
"Hei ladies, nyariin gue ya?" Robbie datang dengan cengiran khasnya yang membuat siapa saja bisa menggelengkan kepala saat melihatnya.
"Lo abis kemana sih?" tanya Avila kepo.
"Abis nemenin bos gans belanja sayuran di tukang sayur keliling," jawab Robbie yang membuat sebelah alisku naik karena heran.
"Demi apa Oppa Lee belanja di tukang sayur aja di temenin?" heboh Avila seraya terkekeh geli.
"Gak tahu tuh si Hyung, kocaknya dia bilang minta tolong ke gue nya kaya gini nih... Bie, anterin aku beli sayur di depan itu yuk, soalnya aku takut di keroyok mama mama muda kalau belinya sendirian... jiwa emak-emak emang tahu aja yang bening-bening."
Sontak aku dan Avila tertawa mendengar cerita tentang Lee dari mulut Robbie tersebut.
"Ahahaha... ada ada aja si bos gans, masa sama mama muda aja dia takut!" kata Avila yang ternyata di dengar oleh Lee yang kini tengah berjalan ke arahnya.
"Kata siapa aku takut sama mama muda?" Suara bariton Lee tersebut langsung membuat Avila berhenti tertawa dan membalikkan tubuhnya menghadap Lee seraya mengacungkan jarinya membentuk huruf V.
"Mianhe, Oppa."
"Dasar adik kecil yang nakal, bisa bisanya kamu ngatain kakakmu di belakang hah," kata Lee seraya mengacak rambut Avila dengan gemasnya.
"Aaah, stop it!" seru Avila sambil menghentikan tangan Lee yang baru saja merusak tatanan rambutnya.
"Makanya Vi, jangan suka menertawakan orang lain, kena hukumannya kan tuh," olok Robbie seraya menyentil dahi Avila dengan jentikkan jarinya.
"Heh! tadi yang ketawa itu bukan cuma gue ya, Aisyah sama lo juga ikutan!" Avila membela dirinya sembari memegangi dahinya yang baru saja menjadi korban sentilan Robbie.
"Udah jangan di bahas lagi, jam terus muter lho ini, kalo kita masih terus bercanda di sini, kita akan kehabisan waktu buat makan siang," sela ku menengahi mereka.
*****
Di RS Medika Ratu.
Devano tak mau membuka matanya ketika mengetahui Rifa datang dan masuk ke dalam kamar rawatnya. Pria itu memilih untuk berpura-pura tidur sekalipun sebenarnya dia sangat tak menyukai kegelapan di saat dia memejamkan mata. Namun bagaimana lagi, dia lebih muak dan tak suka saat melihat Rifa berada di sampingnya.
Bunyi kursi yang di tarik terdengar jelas ke telinga Devano, dapat di pastikan kalau sekarang Rifa sudah duduk di samping blankar tempatnya berbaring.
Senatural mungkin Devano memejamkan matanya agar benar-benar terlihat seperti orang yang sedang tertidur. Tapi yang namanya Rifa, dia sulit untuk di bohongi apalagi oleh Devano yang sama sekali tidak pandai dalam berakting.
"Aku tahu kok, kamu sebenarnya udah bangun dari tadi kan?" ujar Rifa seraya mengelus pipi Devano dengan tangan lentiknya.
"YA! Aku emang udah bangun dari tadi pagi, tapi bisa gak jangan ganggu, karena aku mau tidur siang!" seru Devano tanpa menoleh ke arah Rifa.
"Uuh... tidur siang? Really? Bukannya kamu gak bisa tidur siang yah?" cetus Rifa seraya berpindah ke sebelah kanan blankar agar bisa melihat wajah Devano.
"Jangan sok tahu, lebih baik pergilah dan jangan ganggu aku lagi!" peringat Devano sambil menarik selimutnya sampai menutupi kepala, saking tidak inginnya melihat wajah Rifa.
"Aku gak berniat ganggu kamu kok, aku ke sini cuma mau nganterin makan siang buat kamu... kata dokter kamu harus makan makanan yang bergizi supaya cepet sembuh,"
"Makanan Rumah sakit banyak mengandung gizi, jadi aku rasa kamu gak perlu bawa makanan buat aku lagi," ketus Devano yang mulai membuat Rifa prustasi.
"Makanan Rumah sakit itu gak enak, Dev. Aku pernah merasakannya, jadi aku masakin kamu makanan sehat yang rasanya enak. Jadi tolong hargai usaha aku, keluarlah dari persembunyian kamu itu dan cepat makan siang," tegas Rifa yang malah tak di hiraukan oleh Devano.
"DEVAN! Kamu keterlaluan tahu gak! Selama ini aku yang selalu ada buat kamu, aku yang udah bayar mahal semua biaya rumah sakit kamu supaya kamu dapet pelayanan operasi dan pengobatan yang terbaik, tapi apa balasan kamu sekarang? Cuekin aku, gak ngehargain usaha aku yang udah capek capek masakin kamu makan siang... kenapa sih kamu gak pernah peduli lagi sama perasaan aku?! Pedahal aku udah ngelakuin banyak hal buat kebaikan kamu, Dev!" teriak Rifa dengan nada prustasi yang berhasil membuat Devano menyingkirkan selimutnya dan menatap gadis itu dengan tatapan tajamnya.
"Siapa? Siapa yang nyuruh kamu melakukan semua itu? Apa aku pernah meminta kamu? Enggak kan? Lantas kenapa kamu masih melakukannya kalau kamu gak ikhlas, haruskah kamu ungkit apa saja yang udah kamu lakukan buat aku? Dan haruskah aku ngasih kamu imbalan?"
"Kalau kamu gak ikhlas, aku akan keluar dari kamar rawat VIP ini dan pindah ke kamar rawat tunjangan negara, lalu setelah aku sembuh, aku janji akan bayar semua biaya yang pernah kamu keluarkan buat aku. Dan tolong... setelah itu, jangan pernah lagi ikut campur dalam hidup aku!" tandas Devano yang kemudian turun dari blankarnya dan mencoba berdiri, tapi naas kakinya yang masih belum bisa di gerakkan membuat ia terjatuh ke lantai.
"Astaghfirullah, kenapa kakiku sulit di gerakkan?!" teriak Devano seraya memukuli lututnya.
Bersambung....
Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?
Seneng? ☺️Sedih?😢 Atau penasaran?🤔
Apapun perasaannya, tolong ceritain di kolom komentar ya.
Jangan lupa untuk selalu support aku dengan cara :
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-VOTE CERITA INI ❤️
-KASIH BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
-BAGIKAN CERITA INI ➡️
-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊
Makasih banyak dan sampai jumpa lagi,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....😍😍😍😍😍😍