Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Salapan
Pukul sepuluh pagi tepat, aroma parfum musk yang elegan namun maskulin memenuhi ruang tunggu kantor PT Digdaya Guna. Albani Gunawan berdiri dengan setelan jas abu-abu arang tanpa dasi, memberikan kesan arsitek yang santai namun tetap memiliki kelas tinggi. Saat pintu ruang kerja Jenara dibuka oleh Alexa, Albani tidak bisa menyembunyikan binar di matanya yang cokelat gelap.
Jenara duduk di balik meja besarnya yang terbuat dari kayu jati mahogani. Meski wajahnya tampak sedikit pucat karena kelelahan setelah "drama" pagi tadi bersama Gilbert, ia tetap terlihat sangat berkuasa dengan blazer berwarna zamrud.
"Selamat pagi, Pak Albani. Selamat datang di PT Digdaya Guna, silakan duduk," sapa Jenara dengan nada formal, tanpa bangkit dari kursinya.
Albani tersenyum, sebuah senyuman yang dulu selalu ia gunakan untuk mencoba menarik perhatian Jenara saat mereka masih dalam lingkaran perjodohan ayah mereka. "Selamat pagi, Ibu Jen. Kau masih sama seperti dulu... tidak pernah membiarkan orang lain melihat celah dalam pertahananmu. Selalu terlihat seperti seorang ratu di singgasananya."
Jenara hanya mengangkat alisnya sedikit, mengabaikan pujian tersebut. "Kita di sini untuk membahas bisnis, Pak Albani. Kontrak rancang bangun cabang Semarang. Aku sudah membaca draf awalmu, dan aku suka konsep eco-futuristic yang kau tawarkan. Itu sesuai dengan visi perusahaanku."
Albani membuka tabletnya, menunjukkan beberapa render 3D terbaru. Namun, jemarinya sesekali melambat saat ia mencuri pandang ke arah Jenara yang sedang serius menatap layar monitor. Ia mengagumi bagaimana wanita ini tetap teguh berdiri meski badai kebocoran data baru saja menghantam perusahaannya. Bagi Albani, Jenara bukan sekadar wanita yang pernah dijodohkan dengannya. Jenara adalah standar kesempurnaan yang sulit ia temukan pada wanita lain selama ia menempuh studi di Australia.
"Aku sudah menyesuaikan strukturnya agar bisa menampung lima ribu karyawan dengan sirkulasi udara alami yang maksimal," jelas Albani. Suaranya rendah dan tenang, mencoba menciptakan suasana yang lebih intim. "Aku ingin gedung ini bukan hanya menjadi kantor, tapi menjadi ikon baru bagi Digdaya Guna di Jawa Tengah. Sesuai dengan namamu, Ibu Jen... sesuatu yang agung, kokoh, dan tak tergantikan."
Jenara merasakan tatapan Albani yang terlalu intens merayap di wajahnya. Ia berdeham, mencoba mengalihkan suasana yang mulai terasa tidak profesional. "Fokus pada efisiensi biayanya, Albani. Aku tidak butuh monumen untuk namaku. Aku butuh gedung yang fungsional dan bisa segera dioperasikan dalam waktu kurang dari delapan belas bulan."
Selama diskusi berlangsung, Albani sering kali mencondongkan tubuhnya ke arah meja Jenara, mencoba mencium aroma tubuh wanita itu yang kini berbau mawar aroma yang entah mengapa terasa sangat feminin dan matang, berbeda dengan aroma parfum tajam yang biasa ia gunakan dulu.
"Kau tahu, Ibu Jen..." Albani memulai lagi, kali ini ia meletakkan tabletnya. "Selama di Canberra, aku sering melihat desain-desain gedung tua dan berpikir bagaimana jika kau yang berada di sana bersamaku. Aku sering bertanya-tanya, apakah kau masih sekeras kepala dulu?"
Jenara meletakkan pena emasnya dengan bunyi klak yang cukup keras di atas meja. "Bapak Albani, jika kau ingin bernostalgia, ini bukan tempatnya. Aku mempekerjakanmu karena kau lulusan mahasiswa terbaik dan karyamu luar biasa, bukan karena masa lalu kita yang bahkan tidak pernah benar-benar dimulai."
Albani terkekeh pelan, tidak merasa tersinggung. "Kau selalu logis, itu yang membuatku selalu merasa tertantang. Tapi jujur, Ibu Jen, melihatmu sesukses ini... aku merasa bangga pernah hampir memilikimu."
"Hampir adalah kata kuncinya, Al," potong Jenara tajam. "Sekarang, mari kita bicara tentang pasal eksklusivitas ini. Kenapa kau meminta akses penuh ke lapangan setiap hari? Bukankah kau punya asisten untuk itu?"
Albani menatap mata Jenara dalam-dalam. "Karena ini proyekmu. Aku tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun. Aku ingin memastikan bahwa setiap inci dari gedung ini adalah bentuk penghormatanku padamu. Aku ingin terlibat secara pribadi."
Jenara merasakan firasat aneh. Tatapan Albani bukan hanya sekadar rekan bisnis yang antusias, ada sesuatu yang lebih dalam sebuah pemujaan yang tersembunyi. Jenara segera menandatangani dokumen di depannya untuk mengakhiri pertemuan itu secepat mungkin. "Kontrak ini sudah kutanda tangani. Alexa akan mengurus teknis pembayarannya. Kita bertemu lagi saat groundbreaking."
Albani berdiri, ia sempat mengulurkan tangan. Jenara ragu sejenak, teringat peringatan Gilbert pagi tadi, namun ia akhirnya menjabat tangan Albani dengan singkat. Albani tidak segera melepaskannya, ia menekan telapak tangan Jenara sedikit lebih lama, memberikan tatapan yang seolah berkata bahwa ia belum menyerah.
"Sampai jumpa lagi, Ibu Jenara. Aku berharap kita bisa makan siang bersama lain kali... tanpa membahas beton dan baja."
Setelah Albani keluar dari ruangan dengan senyum puas yang tersungging di bibirnya, Jenara mengembuskan napas panjang. Ia merasa lelah menghadapi dua pria dominan dalam satu hari. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama.
Alexa masuk tanpa mengetuk pintu, wajahnya pucat pasi dan tangannya gemetar memegang sebuah map merah.
"Bu Jenara... kita punya masalah besar. Lahan di Semarang, lahan utama yang baru saja kita sepakati dengan Pak Albani..."
Jenara segera menegakkan punggungnya, rasa mual mendadak kembali menyerang perutnya akibat stres yang melonjak tiba-tiba. "Ada apa dengan lahannya? Kita sudah membayar uang muka lima belas persen kepada ahli waris, bukan?"
"Benar, Bu. Tapi baru saja tim hukum kita melaporkan bahwa ahli waris tersebut menarik diri secara sepihak," lapor Alexa dengan suara bergetar. "PT Martha Cipta... mereka masuk ke tengah negosiasi pagi ini. Mereka memberikan tawaran harga tiga kali lipat lebih tinggi, dibayar tunai hari ini juga. Tidak hanya itu, Nyonya Hilya Prameswari sendiri yang datang ke lokasi sengketa."
Jenara berdiri dengan sentakan keras hingga kursinya berderit. "Hilya Prameswari? Wanita itu lagi?"
"Iya, Bu. Martha Cipta mengklaim bahwa lahan tersebut memiliki sengketa batas wilayah dengan lahan milik mereka yang ada di sebelahnya. Mereka mengancam ahli waris dengan tuntutan hukum jika menjualnya kepada kita. Ahli waris yang ketakutan dan tergiur uang, akhirnya memilih untuk membatalkan kontrak dengan Digdaya Guna."
Jenara mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Ini bukan sekadar persaingan bisnis biasa; ini adalah sabotase terencana. Hilya tahu betul bahwa Digdaya Guna sedang dalam masa pemulihan, dan mematikan proyek ekspansi di Semarang adalah cara terbaik untuk membuat investor benar-benar meninggalkan Jenara.
"Jika lahan itu hilang, kita harus membayar denda eksklusivitas kepada Albani yang nilainya tidak sedikit karena kontrak sudah ditandatangani," gumam Jenara, menyadari jebakan yang sedang ia hadapi.
Ponsel Jenara bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar.
"Bagaimana rasanya melihat istanamu mulai retak sebelum batu pertama diletakkan, Jenara? Jangan terlalu sombong dengan posisimu sekarang. Ini baru permulaan."
Jenara merasakan kepalanya berdenyut hebat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di satu sisi, ia harus menghadapi Gilbert yang posesif dan selalu ingin tahu urusannya, dan di sisi lain, ia harus melawan predator bisnis sekejam Hilya Prameswari.
"Alexa, hubungi tim hukum pusat. Aku tidak peduli berapa biayanya, tuntut ahli waris itu atas wanprestasi dan cari tahu siapa orang dalam kita yang membocorkan detail nilai kontrak kita kepada Hilya!" perintah Jenara dengan suara yang menggelegar di ruangannya.
Jenara meraih ponselnya, hendak menghubungi Gilbert. Namun, egonya menahan tangannya di atas layar. Ia tidak ingin Gilbert menganggapnya tidak kompeten dalam menangani sengketa seperti ini.
daripada bohong, kalo ketauan malah nambah masalah /Facepalm/
,, lalu siapa ini yg menang, hihihi...
,, kamu dpt kelinci percobaan gratis tuh 👍