Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Antara Profesional dan Personal
Kadang, kita berpura-pura bekerja... padahal sedang berusaha menata hati yang berantakan.
...Happy Reading!...
...*****...
Langkah mereka terdengar ritmis menyusuri lorong kantor Manterra. Saka berjalan di depan, tenang seperti biasa, sementara Cayra mengikutinya dengan jantung berdetak tak menentu.
Sesuai janji dalam meeting sebelumnya, hari ini adalah pertemuan lanjutan di kantor Manterra. Kali ini, Saka meminta langsung agar Cayra datang untuk melihat prototype produk terbaru yang akan segera diluncurkan.
Setibanya di ruang meeting, Saka membuka pintu dan memberi isyarat agar Cayra masuk lebih dulu. Sikapnya sopan, bahkan terlalu sopan. Cayra sempat melirik heran.
Baru juga masuk, napasnya sedikit tercekat. Ruangan itu tertata elegan, dengan dominasi warna putih dan abu-abu, serta sentuhan artistik yang minimalis namun kuat. Ruang meeting itu seperti wajah Manterra: rapi, modern, dan menyimpan ambisi.
Cayra duduk, berusaha terlihat tenang. Saka duduk di hadapannya, membuka ponsel dan mengetikkan sesuatu. Tak lama, ia bicara singkat tanpa menoleh.
"Prototypenya sedang dibawa ke sini oleh COO kami."
Cayra mengangguk singkat, lalu kembali menelusuri ruangan dengan pandangan. Ruang meeting ini bukan sekadar tempat kerja, tapi representasi nilai brand. Dan anehnya, ia bisa melihat kepribadian Saka di dalamnya.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Saka tiba-tiba.
Cayra hampir tersedak napas sendiri. Ia langsung menoleh dan tersenyum kikuk.
"Desain ruangan ini... keren. Saya suka konsepnya."
Saka hanya mengangguk. Tapi dalam diam, ia menyimpan rasa puas yang tak sempat diungkapkan. Sesuatu tentang pujian dari Cayra terasa berbeda.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Gilang, COO Manterra, masuk dengan prototype di tangan.
"Permisi, Pak. Ini prototypenya."
"Terima kasih. Kenalkan, ini Nona Cayra Astagina, Brand Strategist dari Nebula Creatives. Dia yang akan mendampingi kita dalam proyek kampanye ke depan," ujar Saka sambil memberi isyarat perkenalan.
Gilang mengulurkan tangan, ramah.
"Halo, Nona Cayra. Saya Gilang, COO di Manterra. Senang bertemu."
Cayra berdiri dan menjabat tangannya. "Senang bertemu juga, Pak Gilang."
Senyum sopan mereka bertemu. Tapi dari arah seberang meja, ada sorot mata yang tiba-tiba terlihat dingin. Saka berdeham ringan, cukup keras untuk membuat tangan mereka segera terlepas.
"Silakan duduk kembali, Nona Cayra. Gilang, terima kasih. Kau bisa kembali ke ruang kerjamu."
Gilang sempat mengerutkan kening. "Saya tidak perlu ikut meeting?"
Saka menjawab dengan datar. "Tidak hari ini. Fokus saja pada dokumen supply chain yang harus selesai."
Gilang mengangguk walau terlihat bingung. Ia pamit dan keluar ruangan.
Begitu tinggal berdua, Saka membuka laptopnya dan menatap Cayra dengan serius.
Entah kenapa, melihat tangan mereka bersentuhan saja membuat dadanya terasa sesak. Ia bahkan tidak tahu, apakah itu cemburu... atau sekadar kenangan yang menolak diam.
"Sejujurnya, saya cukup terkesan dengan konsep kampanye yang kau kirim kemarin."
Cayra menahan napas.
"Struktur komunikasinya jelas. Tone of voice dan visualnya sesuai target market. Tagar yang kau pilih juga kuat."
Cayra membeku sejenak. Pujian itu... terlalu baik untuk datang dari Saka Ardhananta.
"Terima kasih atas apresiasinya, Pak Saka."
"Apresiasi? Saya hanya menyebutkan fakta. Bukankah memang tugas kau untuk memastikan klien puas?"
Hening. Dada Cayra terasa sesak. Baru saja ia merasa dihargai. Tapi seperti biasa, pujian itu datang bersayap. Satu sisi mengangkat, sisi lainnya menusuk.
Mungkin beginilah rasanya bekerja dengan seseorang yang memiliki masa lalu yang cukup rumit dan kini punya kuasa untuk menjatuhkan harga dirinya dengan satu kalimat.
"Betul. Itu memang bagian dari tanggung jawab saya," jawabnya tenang.
Saka menutup file brief dan menggeser prototype ke arahnya.
"Sekarang saya akan jelaskan detail produknya. Ini adalah skincare untuk pria urban usia 25 sampai 35 tahun. Kami ingin menampilkan sisi maskulin yang bersih dan praktis."
Cayra mencatat. Ia menanyakan beberapa hal: tekstur, fungsi utama, diferensiasi produk, bahkan potensi kolaborasi dengan brand lain. Saka menjawab satu per satu. Tak ada percikan emosi pribadi. Hanya kerja. Profesional. Seolah masa lalu mereka tidak pernah ada.
Dua jam berlalu. Ruang meeting mulai terasa hangat karena intensitas diskusi. Ketika sesi berakhir, mereka mulai membereskan barang masing-masing.
Saka menutup laptop, lalu menatap Cayra yang masih sibuk dengan catatannya.
"Kau akan pulang dengan siapa?"
Nada suaranya terdengar biasa saja. Tapi jeda di antara kalimatnya terasa... berbeda. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi ditahan.
Pertanyaan itu membuat Cayra membeku sejenak.
Ia kembali teringat pagi tadi, saat untuk pertama kalinya mereka pergi bersama dengan mobil Saka. Situasinya canggung. Sangat canggung. Bahkan suara klakson mobil pun kalah awkward dibanding suasana pagi ini.
Dan seperti semua pertemuan yang tak direncanakan, pagi ini terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
"Nona Cayra?" Saka memanggil.
Cayra tersadar. "Iya, Pak?"
"Apa kau akan ikut bersamaku seperti tadi pagi?"
Lagi-lagi, Cayra terdiam. Perlu beberapa detik sebelum akhirnya Saka menambahkan penjelasan.
"Maksudnya, kalau kau ingin mampir ke Nebula Creatives, saya juga ada urusan dengan Mbak Rania. Kebetulan satu tujuan."
Aduh. Cayra nyaris tertipu oleh harapan. Ia mengutuk dirinya yang sempat berpikir Saka peduli. Tentu saja semua ini soal urusan kerja.
Ia tersenyum tipis.
"Kalau begitu, saya ikut saja. Kebetulan saya memang perlu mampir ke kantor."
Mereka berjalan keluar ruang meeting. Sekilas, seperti dua rekan kerja profesional yang baru menyelesaikan diskusi penting. Tapi di balik itu, ada perasaan yang tidak bisa didefinisikan.
Tak ada yang membahas masa lalu. Tapi jejak langkah mereka, seolah diam-diam sedang menulis cerita yang belum rampung. Dan seperti biasa... semesta hanya butuh sedikit alasan untuk mulai membuka lembarannya kembali.