Aruna tahu hidupnya tidak lama lagi. Demi suami dan putri kecil mereka, ia memilih sesuatu yang paling menyakitkan... mencari wanita yang akan menggantikannya.
Alana hadir sebagai babysitter tanpa mengetahui rencana besar itu. Adrian salah paham dan menilai Lana sebagai perusak rumah tangga. Namun, pada akhirnya Aruna memaksa keduanya menikah sebelum ia pergi untuk selamanya.
Setelah Aruna tiada, Adrian larut dalam rasa bersalah dan menjauh dari istri keduanya. Lana tetap bertahan, menjalankan amanah Aruna meski hatinya terus terluka. Situasi semakin rumit saat Karina, adik Aruna berusaha merebut Adrian dan menyingkirkan Lana.
Akankah Adrian berani membuka hati untuk Alana, tanpa mengkhianati kenangan bersama Aruna? Atau justru semuanya berakhir dengan luka yang tak tersembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 29.
Sudah tiga hari Alana dirawat di rumah sakit. Adrian hampir tak pernah meninggalkan kamar rawat, bahkan malam pun ia tetap tidur di sofa bed di sisi ranjang.
Setiap kali Alana terbangun, sosok pertama yang dilihatnya selalu Adrian dengan mata lelah tapi tetap memancarkan ketenangan.
“Mas, kamu harus kerja juga...” bisik Alana suatu pagi, melihat lingkar hitam di bawah mata suaminya.
Adrian hanya menggeleng, tangannya menggenggam tangan istrinya lembut.
“Kerja paling penting ku sekarang cuma satu, memastikan kamu dan bayi kita aman.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Alana menghangat. Ia menatap suaminya yang kini begitu protektif, bahkan ketika perawat datang, Adrian selalu memastikan tangan Alana diselimuti dengan baik dan infusnya tak menggantung terlalu lama.
Sementara itu, Nyonya Ratna juga hampir setiap pagi datang membawa makanan bergizi buatan sendiri.
Awalnya Alana canggung menerima, tapi lambat laun ia mulai terbiasa.
Wanita paruh baya itu bahkan sering mengomel lembut jika Alana terlalu banyak bergerak.
“Jangan bangun sendiri, panggil Adrian atau perawat. Kandungan kamu masih lemah,” tegurnya sambil mengatur posisi bantal Alana.
“Baik, Ma...” jawab Alana pelan, tersenyum malu.
Hari-hari yang dulu terasa menegangkan kini perlahan berubah jadi hangat. Mereka berdua sering berbincang ringan, tentang masakan, tentang Alima, atau tentang masa kecil Adrian.
Kini, Alana melihat sisi lembut mertuanya yang selama ini tersembunyi di balik ketegasan dan dinginnya.
Bahkan suatu sore ketika Adrian datang membawa bunga mawar putih, Nyonya Ratna tersenyum kecil.
“Dulu, ayahmu juga begitu. Waktu Mama hamil kamu dan ngidam, setiap sore dia pulang bawa bunga. Katanya... supaya istrinya tetap ingat kalau dicintai.” Ucapnya pada Adrian.
Alana tersipu, sementara Adrian hanya menatap ibunya penuh rasa hormat. “Berarti aku belajar dari orang yang tepat, Mah.”
Beberapa minggu berlalu, kondisi Alana membaik. Ia diperbolehkan pulang dan kini lebih banyak beristirahat di rumah besar keluarga Halim karena Nyonya Ratna ingin ikut merawat kandungan Alana.
Setiap pagi Nyonya Ratna menemaninya sarapan, memastikan menantunya minum vitamin dan susu hamil.
Sikapnya yang dulu keras kini berubah menjadi perhatian luar biasa.
“Mah, jangan repot-repot... saya bisa sendiri,” ucap Alana suatu pagi.
“Sudahlah, kamu diam aja. Mama senang kok, sudah lama rumah ini nggak seramai sekarang,” jawab Nyonya Ratna sambil menyodorkan piring berisi buah potong.
Kedekatan mereka membuat seluruh keluarga heran, terutama Fiona istri dari adik Adrian bernama Dimas.
Fiona memperhatikan dari ujung meja makan. Wajahnya tersenyum, tapi jemarinya menggenggam sendok terlalu erat.
Sudah dua tahun ia menikah dengan Dimas, tapi belum juga dikaruniai anak. Dan kini, Alana yang baru menikah belum genap setahun, malah hamil. Dan lebih parah lagi, Alana langsung jadi menantu kesayangan. Padahal awalnya, ibu mertuanya itu tidak suka pada Alana.
“Ibu sampai bikin sup khusus buat Alana setiap pagi,” gumam Fiona kesal pada Dimas di kamar mereka malam itu.
“Ya, wajar sayang. Mbak Alana kan lagi hamil...”
“Wajar? Kamu lihat sendiri, Mas. Mama nggak pernah se-care itu sama aku! Waktu aku sakit, Mama cuma nyuruh pelayan rawat aku! Tapi giliran Alana, semuanya harus istimewa!”
Dimas hanya menghela napas. “Jangan terlalu diambil hati, Fi. Ibu cuma khawatir, karena kandungan Mbak Alana lemah.”
Namun Fiona tak bisa menahan rasa iri yang semakin hari semakin tumbuh. Apalagi saat ia melihat Alana duduk di ruang tengah berbicara lembut dengan ibu mertuanya dan Adrian, sementara dirinya seolah tak dianggap.
Hari itu, Nyonya Ratna mengumumkan rencana syukuran kecil di rumah untuk kandungan Alana yang memasuki usia empat bulan.
“Sekalian kumpul keluarga dan doa bersama,” katanya bahagia.
Fiona tersenyum manis di depan mereka, tapi hatinya mendidih. Syukuran lagi, selalu tentang Alana! Semua orang berputar di sekelilingnya!
Setelah acara itu berakhir dan semua orang mulai beristirahat, Fiona duduk sendirian di teras belakang.
Ia membuka ponsel, menatap layar lama lalu menelepon seseorang untuk merencanakan sesuatu.
Keesokan harinya, Alana turun ke taman belakang ditemani pelayan pribadi dan Alima.
Ia ingin menghirup udara pagi dan sekadar duduk menikmati sinar matahari. Tapi tanpa ia sadari, seseorang sudah diam-diam mengganti vas kaca besar di dekat kolam dengan yang mirip, namun retaknya sengaja dibiarkan di bagian bawah.
Rencananya sederhana, membuat Alana terpeleset saat vas itu jatuh dan pecah, cukup untuk menimbulkan luka dan mengguncang kandungan.
Fiona mengamati dari jendela lantai dua, bibirnya bergetar menahan debar.
“Aku cuma... mau dia ngerasain sedikit saja. Supaya semua orang sadar dia nggak seistimewa itu,” bisiknya.
Namun rencana itu tak berjalan sesuai harapan. Saat vas itu mulai goyah karena tertiup angin, Alima tiba-tiba berlari ke arah ibu sambungnya sambil membawa bunga.
“Bunda, liat! Alima petik bunga buat adek!”
Vas besar itu mulai jatuh, dan....
“ALANA!!! Alima!!”
Teriakan Adrian menggema dari arah pintu belakang. Ia berlari secepat kilat dan menarik Alana dan putrinya ke belakang tubuhnya, sementara vas itu pecah di tanah, serpihannya berhamburan nyaris mengenai kaki mereka.
Alima menjerit ketakutan.
Adrian langsung memeluk keduanya erat, wajahnya tegang. “Kamu nggak apa-apa?!”
Alana menggeleng lemah, masih gemetar. “Nggak... tapi tadi Alima hampir—”
Adrian segera menatap sekitar, mencari sumber insiden. Sesuatu di matanya berubah dingin, tatapannya tajam dan penuh marah.
Ia curiga, ini bukan sebuah kecelakaan biasa.