Auristella Queensha Syahreza
Stella. Primadona sekolah,siapa yang tidak terpesona dengannya? Gadis cantik dan tajir semua orang mengaguminya.
Kenan Alvaro Melviano
Kenan. Mostwanted yang dikagumi para gadis. Tetapi memiliki sifat dingin yang tak tersentuh.
Sebuah keberuntungan bagi stella dapat berpacaran dengan kenan. Lelaki yang menurutnya romantis walaupun terkadang menjadi posesif Namun semua kandas ketika dia tahu bahwa kenan hanya menjadikannya bahan taruhan.
Seperti tidak ada rasa bersalah. Kenan tetaplah kanan,selalu mengekang stella walaupun tidak ada hubungan apa-apa.
🌸
"Gue ngak ijinin lo makan ini."
"Dan gue ngak perlu ijin lo." Sinis Stella.
"Gue ngak suka penolakan."
"Gue ngak perduli."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemilik hati yang sebenarnya
TIGA tahun telah berlalu, hidup Kenan selalu diganggu oleh Marsya. Sementara itu, Stella sampai sekarang belum ditemukannya. Semua orang suruhannya telah dikerahkan, tetapi satu pun tidak ada yang bisa mengetahui jejak Stella berada. Kenan akui, Stella sangat pintar, bahkan melebihi dirinya. Dia sampai tidak terpikirkan bahwa Stella akan pergi dan sama sekali tidak ada tanda dia kembali.
Orang tua Stella juga menghilang entah ke mana, bersamaan dengan Alexa. Kenan sangat pusing, dia hampir putus asa. Axel pun selalu menuntut Kenan untuk mencari Alexa. Menurut Axel, Kenan yang membuat Stella dan orang tuanya pergi. Maka dari itu,
Alexa juga ikut pergi tanpa memberi tahunya.
"Kenan, gue capek. Kenapa susah banget cari mereka?" ucap Axel yang baru datang dari balik pintu dengan wajah lelah.
Axel duduk tepat di hadapan Kenan saat Kenan sedang duduk di kursi kebesarannya. Orang tua Kenan menyuruhnya untuk memegang separuh saham milik papanya karena Kenan sudah ahli dalam mengurusnya.
"Gue gak tau, tapi gak mungkin kalau ayahnya Stella bisa hilangin jejak mereka. Gue yakin ada yang nolong mereka."
Axel menghela napas kasar. "Ini semua gara-gara lo! Coba aja lo gak nyakitin Stella, gak mungkin ini semua terjadi. Akibatnya, cewek gue juga hilang, padahal hubungan gue baik-baik aja."
Kenan menghela napas. "Berhenti nyalahin gue," ucapnya dingin.
"Emang lo yang salah! Cara lo lindungin Stella salah, justru cara lo itu ngelukain dia! Bisa gak sih, sikap egois lo itu diilangin? Jangan sok jagoan, mau nyelesaiin semuanya sendiri. Lihat, akibatnya gimana?"
Kenan menghela napas. Sudahlah, ini memang salahnya.
Mendadak pintu ruangan Kenan terbuka. Kenan dan Axel kompak memalingkan wajah untuk melihat siapa yang datang. Terlihat Nicholas dengan mata dinginnya tengah berjalan ke arah Kenan dan Axel.
"Gimana?" tanya Kenan. Nicholas hanya menggeleng, membuat kekecewaan timbul di mata Kenan dan Axel.
"Ini semua gara-gara kalian! Kalian berdua sama-sama egois! Lo gak sadar kalau adik lo sangat hancur karena lo! Sekarang apa gunanya menyesal? Kalaupun dia balik, gue yakin lo gak akan pernah lihat Alexa kecil lo lagi, Alexa yang selalu memanggil lo sebagai abang. Gue yakin, yang ada di mata dia cuma kebencian!" Axel berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan Kenan sambil membanting pintu.
Setelah kelulusan, Alexa ikut menghilang entah ke mana. Nicholas bahkan belum sempat meminta maaf karena Alexa selalu menghindarinya. Nicholas menyesal, sekarang dia sadar bahwa adiknya yang sebenarnya itu Alexa. Ya, hanya Alexa, bukannya Marsya si gadis bermuka dua yang merayu semua orang dengan wajah polosnya.
"Gue nyesel." Nicholas tersenyum kecut dan ikut pergi dari ruangan Kenan dengan perasaan kacau.
Nicholas masuk ke dalam mobilnya sambil memukul setir mobil. Amarahnya memuncak, mengingat apa yang dia perbuat kepada adiknya dulu. Dia marah, sangat marah pada dirinya sendiri. Nicholas pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap amarahnya reda saat itu juga. Namun, wajah terluka adiknya kembali menghantui pikirannya. Wajah terluka dan kecewa, itu semua selalu mengganggu pikiran Nicholas. Kini, Nicholas menghentikan mobilnya di sebuah danau. Dia berteriak, mengeluarkan beban di pikirannya, mengeluarkan sesak yang ada di hatinya. Sungguh, dia membenci dirinya sendiri.
"Bajingan! Lo bajingan, Nicholas! Lo bajingan!" teriak Nicholas dengan frustrasi.
"Kakak kenapa? Ada masalah?" Suara itu membuat Nicholas cepat-cepat mengubah raut wajahnya kembali. Dia berbalik dan menatap gadis yang memakai seragam putih abu-abu dengan teliti, sepertinya dia mengenal gadis ini.
"Kak Ganteng!" Nicholas terdiam, dia ingat jika hanya ada satu orang yang selalu memanggilnya seperti itu. "Kakak ingat aku gak? Aku Arumi."
Nicholas tampak berpikir, setelah itu dia mengangguk. Arumi adalah bocah kecil yang selalu menggodanya dari dulu. Walaupun masih bocah kecil, Nicholas akui jika Arumi mampu membuat tergoda.
Arumi dengan lancang selalu mencium pipinya tiap mereka bertemu. Namun, beberapa tahun ini Nicholas sama sekali tidak bertemu lagi dengan Arumi. Dia sibuk mencari keberadaan adiknya yang sampai sekarang tidak pernah dia temui.
"Kakak gak kangen aku, ya?" Tidak ada jawaban dari Nicholas. Arumi tidak masalah, sekarang dia sudah dewasa dan menyesali perbuatannya dulu. Sekarang dia sadar jika dirinya dahulu seperti perempuan murahan yang selalu menggoda Nicholas, padahal respons Nicholas sama sekali tidak ada.
"Kak, maafin sikapku dulu, ya? Aku terlalu labil saat itu. Aku menyesalinya. Aku cuma bocah, gak seharusnya seperti itu."
Nicholas terkekeh kecil hingga membuat Arumi menganga. Ini adalah momen langka. Selama kenal dengan Nicholas, Arumi sama sekali tidak pernah melihat senyumnya atau apalah itu.
"Yakin nyesel?" tanya Nicholas seraya tersenyum miring.
Arumi terdiam, dia meneguk salivanya susah payah. "I-iya, Kak. Itu kan sama sekali gak wajar."
"Yakin gak wajar?"
Arumi terdiam. Kenapa Nicholas seperti ini? Padahal biasanya dia tidak pernah menanggapi ucapan Arumi. Sementara itu, Nicholas tersenyum miring, sepertinya dia harus melupakan Alexa sejenak.
Dengan satu kali tarikan, Nicholas menarik tangan Arumi masuk ke dalam mobilnya. Arumi yang syok pun hanya diam untuk mencerna apa yang terjadi. Beberapa menit setelahnya, mereka sampai di sebuah apartemen. Ya, Nicholas membawa Arumi masuk ke dalam apartemennya.
"Kak, ngapain bawa aku ke sini?" tanya Arumi dengan wajah sedikit gelisah. Dia takut jika Nicholas berbuat macam-macam.
"Bukannya dulu lo yang sering goda gue? Sayangnya gue tergoda, cuma dulu gue bisa nahan diri. Sekarang, gue gak bisa janji."
Arumi semakin kalut dengan pikirannya. Apa Nicholas akan melakukan hal yang tidak-tidak terhadapnya?
"Tapi, Kak... dulu—"
"Gue mau membalas semua perbuatan lo."
Arumi mundur saat Nicholas mendekat. Namun, dia malah terjatuh dan berujung Nicholas yang menindih dirinya di atas sofa. Wajah mereka sangat dekat, bahkan Arumi dapat merasakan napas Nicholas. Jantung Arumi serasa mau meledak saat melihat Nicholas yang semakin mendekatkan wajahnya.
"Mana gadis kecil gue dulu yang sering cium gue, hm?"
Jantung Arumi berdetak dua kali lebih cepat. Dia menggeleng seakan tidak tahu jawabannya. Setelah itu, Nicholas membelai pipi Arumi lembut. Tubuh Arumi saat ini sangat berbeda dengan yang dulu saat dia masih mengenakan seragam SMP. Sekarang dia terlihat lebih cantik dan seksi di mata Nicholas.
Bibir itu membuat hasrat Nicholas naik. Bibirnya sangat menggoda, apa salah jika Nicholas mengambil ciuman pertama Arumi? Tentu saja tidak masalah, suatu saat tubuh dia akan menjadi milik Nicholas seutuhnya. Ya, itulah batin Nicholas.
"Gue mau bibir ini," ucap Nicholas sambil memegang bibir Arumi dengan ibu jarinya.
Arumi menggeleng. "Jangan, Kak. Gue mau berikan itu sama orang yang gue cinta," ucap Arumi memohon.
"Harus gue orang yang lo cinta."
Arumi kaget mendengar ucapan Nicholas. Apa dia tidak salah dengar?
Nicholas langsung membungkam bibir Arumi dengan bibirnya saat Arumi hendak membantah ucapannya. Arumi kaget, dia spontan memukul dada Nicholas supaya memberhentikan aksinya. Namun, Nicholas tak menghiraukannya, dia terus melumat bibir itu dengan lembut.
Seakan lelah mengelak, Arumi hanya diam dan membiarkan. Percuma jika melawan, tenaga Nicholas lebih besar darinya. Orang yang dulu begitu dingin kepadanya, sekarang dengan berani menciumnya. Arumi tidak menyangka hal ini bisa terjadi.