Queensa tak menyukai pernikahannya dengan Anjasmara. Meskipun pria itu dipilih sendiri oleh sang ayah.
Dijodohkan dengan pria yang dibencinya dengan sifat dingin, pendiam dan tegas bukanlah keinginannya. Sayang ia tak diberi pilihan.
Menikah dengan Anjasmara adalah permintaan terakhir sang ayah sebelum tutup usia.
Anjasmara yang protektif, perhatian, diam, dan selalu berusaha melindunginya tak membuat hati Queensa terbuka untuk suaminya.
Queensa terus mencari cara agar Anjasmara mau menceraikannya. Hingga suatu hari ia mengetahui satu rahasia tentang masa lalu mereka yang Anjasmara simpan rapat selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hati manusia perlu ruang untuk bernapas tanpa dipaksa berdamai sama pedang yang pernah menancap.
"Dengarkan aku duku, oke?" Queen bicara disela isak tangis yang coba ia tahan.
Pria itu menganggukkan kepala pelan sebagai jawaban.
Queen menghela napas berat sebelum melanjutkan, "Aku tahu kesalahanku sangatlah fatal, tapi kepergian bayi... itu juga sangat melukaiku,"
Suara perempuan itu kembali bergetar. "Aku juga juga tertekan dan syok, psikolog mengatakan itu reaksi yang wajar karena aku baru saja kehilangan anakku. Tapi sebenarnya luka yang paling sakit adalah saat kamu pergi dan memutuskan hubungan begitu saja." Queensa menatap pria dihadapannya.
Kali ini Anjasmara tercengang. Informasi ini sungguh tak disangka olehnya. Queensa sampai mendatangi psikolog?
Mata Queensa kembali berkaca-kaca. Wajahnya menyiratkan kepedihan dan penyesalan yang dalam. "Tak bisakah aku dekat denganmu? Setidaknya sebagai teman, jangan bangun dinding diantara kita yang tingginya tak mampu ku gapai, Mas. Tolong. Aku mohon."
Anjasmara belum sempat bereaksi atas ucapan Queensa saat tiba-tiba wajah sendu Queensa berubah menjadi ekspresi ketakutan. Memori masa lalu membentang di pelupuk mata.
Dasar pembunuh.
Anak tak berdosa jadi korban emaknya yang kegatelan! Udah punya suami masih sibuk godain pria lain.
Pantes diceraikan, perempuan bobrok.
Suara-suara keji itu memenuhi alam bawah sadarnya. Semakin lama semakin keras. Menusuk-nusuk relung hatinya dengan begitu kejam.
"A-Aku bukan pembunuh!" rintih Queensa tiba-tiba, "Mas aku nggak bunuh anak kita, aku juga ingin dia tumbuh dan berkembang di rahim ku, aku.. aku.. "
"Queensa, atur napas kamu!" Ucap Anjasmara tegas, tak sedikitpun dia ragu menuju perempuan yang berdiri dengan ekspresi ketakutan, Anjasmara mengguncang pelan bahu mantan istrinya yang tersenggal-senggal. Pria itu mengamati dengan seksama wajah cantik yang kini berubah pucat. Apa yang membuat Queensa seperti ini?
Keadaan Queensa tak langsung membaik, Anjasmara juga tak membuat jarak, mereka dekat, bahkan pria itu menyentuh pundak Queensa, tapi kedekatan itu tentu tak mampu menarik Queensa dari rasa takut yang menyerang.
"Queensa,... " ketiga kalinya Anjasmara mengguncang bahu perempuan itu. Mata Queensa mulai terbuka, perlahan tapi pasti keadaan perempuan itu mulai stabil.
Belum pernah Queensa merasakan sebuah dorongan kuat untuk menyerang secara fisik. Dia teramat ingin melakukannya terhadap Anjasmara.
Grep!
Queensa tak bisa menahannya..
Anjasmara mendelik dengan gusar. Terpana dengan aksi Queensa yang tiba-tiba.
Orang-orang mulai melirik, satu, dua, orang terang-tetangan melihat mereka yang tengah berpelukan. Ralat. Queensa yang menghambur kepelukan mantan suaminya.
"Jangan dilepas, " sekonyong-konyong, Anjasmara berusaha melerai dekapan Queensa, tapi perempuan itu malah melarang.
Sebenarnya Queensa yang tersadar akan sikapnya malu. Queensa yakin wajahnya semerah udang rebus saat ini.
"Aku nggak mau kamu jadi bahan omongan orang." tutur Anjasmara.
Tiba-tiba Queensa merasa ada yang berubah dengan gaya bicara lelaki itu. Tidak terdengar dingin seperti biasanya, suaranya begitu lembut dan bersahabat.
Karena pertemuan mereka, pertemuan Queensa dengan Darwin terpaksa ditunda. Kini tinggallah Queensa dan Anjasmara yang leluasa bicara dari hati ke hati.
"Om Ridwan akan segera menikah," beritahu Queensa pada Anjasmara yang kini tengah menyeruput teh hangat di gelasnya.
Reaksi Anjasmara sesuai dugaannya, lelaki itu mendoakan yang baik, harapan untuk kelancaran acara Ridwan, Anjasmara ikut berbahagia atas kabar yang Queensa sampaikan.
Queensa diam mengamati sosok Anjasmara. Dia enggan mengakui, lelaki itu tanpak ganteng setelah bukan miliknya.
"Mas, apa kita bisa..., " Ucapan Queensa terpotong oleh sapaan seseorang.
"Anjasmara?"
akhirnya penantian Anjasmara berbuah manis💓