NovelToon NovelToon
Ibu Pengganti Anak Sponsor Ku

Ibu Pengganti Anak Sponsor Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duda / CEO / Ibu Pengganti / Pengasuh / Chicklit
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Alensvy

"Aku ingin kau menjadi orang yang menyusuinya."

Sienna menatap pria di hadapannya dengan mata membelalak, yakin bahwa ia pasti salah dengar. “Maaf, apa?”

Arsen Ludwig, pria yang baru diperkenalkan sebagai sponsor klub ice skatingnya, menatapnya tanpa ekspresi, seolah yang baru saja ia katakan adalah hal paling wajar di dunia.
“Anakku, Nathan. Dia menolak dot bayi. Satu-satunya cara agar dia mau minum susu adalah langsung dari sumbernya.”

Jantung Sienna berdebar kencang.
“Aku bukan seorang ibu. Aku bahkan belum pernah hamil. Bagaimana bisa—”

“Aku tahu,” potong Arsen cepat. “Tapi kau hanya perlu memberikan dadamu. Bukan menyusuinya secara alami, hanya membiarkan dia merasa nyaman.”

Ini adalah permintaan paling aneh yang pernah ia terima. Namun, mengapa ia tidak langsung menolaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alensvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

...****************...

"Aku akan melakukannya."

Arsen menatapku, ekspresinya sulit ditebak. Aku berusaha menjaga suaraku tetap stabil, meskipun dadaku terasa sesak.

"Kau yakin?" tanyanya pelan.

Aku mengangguk, menelan ludah. "Aku tidak punya pilihan lain, kan?"

Menikah kontrak dengan Arsen. Itu bukan sesuatu yang aku inginkan, tapi setelah cedera ini, semua berubah. Jika rumor tentangku terus menyebar, jika dunia terus menganggapku sebagai atlet yang sudah ‘habis’, maka karierku benar-benar akan berakhir.

Aku masih ingin kembali. Aku masih ingin bertanding.

Dan jika menikahi Arsen bisa membantuku menjaga reputasi dan masa depanku… maka aku akan melakukannya.

"Aku akan pastikan semuanya berjalan lancar," kata Arsen. "Aku akan mengurus semua artikel, semua rumor, termasuk tentang kau dan Rizky."

Aku menggertakkan gigi saat nama itu disebut. Aku masih ingat betapa takutnya aku ketika melihatnya lagi di acara itu.

"Aku ingin dia menjauh dariku," kataku dingin.

"Aku akan pastikan dia tidak mendekatimu lagi." Arsen menatapku dalam, suaranya penuh keyakinan.

Aku tidak bertanya bagaimana caranya. Aku tahu Arsen memiliki cara sendiri untuk menyelesaikan sesuatu.

"Jadi… kita benar-benar akan menikah?" Aku mendesah pelan, menunduk menatap tanganku.

"Iya." Arsen menjawab tanpa ragu.

"Lalu setelah itu? Kita akan tetap pura-pura atau…" Aku mengangkat kepala, menatapnya dengan gelisah.

"Kita jalani saja." Arsen tersenyum tipis, ekspresinya tenang. "Kau bisa tetap fokus pada pemulihanmu. Aku akan mengurus sisanya.

...****************...

Keesokan harinya, semua artikel tentangku perlahan mulai menghilang.

Artikel tentang aku yang ‘menggoda duda kaya’, rumor aku dan Rizky, bahkan gosip tentang aku yang pensiun dini karena cedera—semuanya menghilang satu per satu.

Aku tahu Arsen pasti bekerja keras untuk ini.

Tapi entah kenapa, aku masih merasa canggung setiap melihatnya.

Aku akan menikah dengannya.

Kontrak atau tidak, aku akan menjadi ‘istri’ Arsen Ludwig.

Dan aku tidak tahu apakah aku siap menghadapi semua konsekuensinya.

"Kau siap?"

Suara Arsen terdengar tenang, tapi aku bisa merasakan ketegangan di dalamnya. Aku duduk di tepi tempat tidur, jari-jari saling meremas satu sama lain.

"Haruskah aku siap?" gumamku tanpa menatapnya.

Arsen menghela napas dan duduk di sampingku. "Kita hanya perlu melewati ini, Sienna. Setelah itu, semuanya akan lebih mudah."

Lebih mudah? Aku tidak yakin.

Menikah bukanlah sesuatu yang pernah ada dalam rencanaku, apalagi dalam situasi seperti ini. Tapi di sinilah aku sekarang, bersiap untuk menikah dengan pria yang baru beberapa bulan lalu bahkan tidak pernah kutemui sebelumnya.

Pernikahan kami dilakukan di kamar hotel VIP, hanya dengan empat saksi—Maya, Coach, dan dua sekretaris Arsen. Tanpa gaun pengantin, tanpa pesta mewah, tanpa keluarga.

Saat petugas mulai membacakan prosedur, aku menoleh ke samping. Arsen berdiri di sebelahku dengan ekspresi serius, mengenakan setelan hitam seperti biasa.

"Aku tidak percaya aku melakukan ini," gumamku pelan.

"Kau bisa kabur sekarang kalau mau," bisik Arsen.

Aku memutar bola mata. "Kau tahu aku tidak bisa."

"Benar," dia tersenyum tipis. "Karena sekarang kau milikku."

Aku mencubit pinggangnya tanpa melihat ke arahnya.

Setelah tanda tangan selesai, semuanya terasa begitu nyata.

Aku kini secara hukum adalah istri Arsen Ludwig.

Arsen menyerahkan dokumen pernikahan kami ke salah satu sekretarisnya untuk mengurus pendaftaran secara resmi. Semuanya dilakukan secara rahasia, tidak boleh bocor ke media atau siapa pun.

Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang benar, tapi tidak ada jalan kembali.

Aku menikah. Aku adalah istri Arsen Ludwig.

Dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Setelah semua orang pergi, suasana di kamar hotel terasa aneh. Aku masih duduk di tepi tempat tidur dengan kepala bersandar di tangan, sementara Arsen berdiri di dekat jendela, menatap ke luar.

"Aku tak percaya ini," gumamku pelan.

"Apa yang sulit dipercaya? Kau sekarang resmi menjadi Nyonya Ludwig." Arsen berbalik, menyandarkan punggung ke kaca dengan ekspresi santai.

"Aku masih butuh waktu untuk mencerna semua ini." Aku mendesah, mengusap wajah dengan lelah.

"Aku tahu ini bukan yang kau inginkan, tapi setidaknya kita bisa bekerja sama untuk sementara." Arsen melangkah mendekat, duduk di sisi tempat tidur sambil menatapku.

"Sampai kapan, Arsen? Kontrak kita tidak menyebutkan batas waktunya." Aku menatapnya tajam, mencoba mencari kepastian.

"Kita lihat nanti." Dia menghela napas, bahunya sedikit menegang. "Sekarang yang terpenting adalah memastikan semua rumor tentangmu dan aku hilang."

Aku mengangguk kecil. Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana harus bersikap sekarang. Aku sudah menikah dengan seorang pria yang nyaris tidak kukenal, dan meskipun aku tidak membencinya, aku juga tidak bisa bilang aku nyaman.

"Kau akan tetap tidur di ranjang yang sama denganku?" tanyaku akhirnya.

"Kau mau aku tidur di sofa?" Arsen menatapku dengan senyum kecil, seolah menantang.

"Itu pilihan yang lebih baik." Aku melipat tangan di dada, menunjukkan ketegasanku.

"Baiklah, tapi kalau aku kedinginan, jangan salahkan aku kalau aku naik ke ranjang tengah malam." Dia tertawa pelan, lalu berdiri dengan santai.

"Jangan macam-macam, Ludwig." Aku mendecak, menatapnya tajam sebagai peringatan.

Dia hanya mengangkat bahu, mengambil bantal, lalu berjalan ke sofa panjang di sudut ruangan. Aku menatap punggungnya, perasaan campur aduk.

Ini awal dari kehidupan baru yang sama sekali tidak kuduga.

Dan aku tidak tahu bagaimana akhirnya.

Aku menghela napas, lalu bangkit dan berjalan menuju boks bayi di sudut ruangan. Nathan sedang terlelap, napasnya naik turun dengan tenang. Aku mengulurkan tangan, mengangkatnya dengan hati-hati ke dalam pelukanku.

"Kau punya ibu sekarang," bisikku pelan, menatap wajah kecilnya yang begitu polos.

Arsen, yang sejak tadi berbaring di sofa, langsung menoleh. Matanya menatapku dengan ekspresi yang sulit kumengerti. Aku tahu dia mendengar ucapanku barusan, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Aku mengayun-ayunkan tubuh Nathan dengan lembut, membiarkannya tetap nyaman di pelukanku. Ada perasaan aneh yang muncul di dadaku—campuran hangat dan sedikit takut. Aku bukan ibunya, aku hanya bagian dari kontrak ini. Tapi, melihat bagaimana Nathan begitu bergantung padaku, aku bertanya-tanya... apakah aku bisa benar-benar menjadi sosok itu untuknya?

"Apa kau serius?" Arsen akhirnya bersuara.

Aku menoleh, menatapnya sekilas sebelum kembali menatap Nathan. "Serius soal apa?"

Dia duduk, menyandarkan tangan di lututnya. "Soal menjadi ibunya."

Aku terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Entahlah. Aku hanya tidak ingin dia merasa sendirian."

Arsen menatapku lama, sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Terima kasih."

Aku hanya mengangguk, lalu duduk di tepi ranjang, masih menggendong Nathan. Mungkin ini semua masih terasa asing, tapi satu hal yang pasti—aku tidak ingin Nathan merasa kehilangan sosok ibu.

.

.

.

Next 👉🏻

1
Semangat
Thor yg istri tengil jenderal impoten kapan lanjutt?/Grievance/
Alen's Vy: Malam yaaa
total 1 replies
Semangat
lanjut thor.. mereka ini malu2 bgt. kebesaran gengsi dua²/Smug/
jenny
status Tiara sudah bercerai atau belum sih thor?
jenny: iya kak, aku tau... tapi knp Tiara kayaknya gak ikhlas gitu ketika melihat ada wanita yang menggantikan posisinya?
Alen's Vy: Udah kak, di bab 22 kan ada gosip mereka yg dari fitnahan mantannya(Rizky). Trus Sienna baca komentar netizen godain duda. Gitu..
Mereka juga udah cerai pas Nathan lahir karena selingkuh..
total 2 replies
muna aprilia
lanjut
jenny
Mulia banget hatinya Sienna... padahal tidak ada darah Sienna yang mengalir di tubuh Nathan tapi dia memikirkan Nathan sampai sebegitunya.
Semangat
lanjut thor
Alen's Vy: Iyaa ntar sore yakk
total 1 replies
Alen's Vy
Bagusss
Anonymous
Yang baca juga shock ko sienna, ga kamu doang/Facepalm//Awkward/
Semangat
jahat bgt. untung putus ya thor
Alen's Vy: Iya ih, untung aja.
total 1 replies
Semangat
modus duda ini pasti.
Semangat
luar biasa
Semangat
Hahahaa Thor😭😭
Alen's Vy: Sstt🤫🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!