NovelToon NovelToon
Sepenggal Kisah Anak Haram

Sepenggal Kisah Anak Haram

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:178.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Ammi Pooja

Cinta Anarya kepada Daneesa menciptakan masalah berkepanjangan hingga berujung pada menderitanya buah hati mereka. Kehamilan Daneesa menjadi boomerang bagi keluarga besar Bramantyo. Pasalnya, mereka tak setuju dengan hubungan Anarya dengan Daneesa.

Kematian Daneesa menjadi awal penderitaan batin yang harus ditanggung oleh Anarya dari masa ke masa. Setumpuk penyesalan tak mampu mengubah apapun dan tak mampu mengembalikan apa yang telah sirna.

Nesa Putri Anarya, itulah nama buah hati mereka yang juga harus merasakan getirnya perlakuan keluarga Bramantyo yang merasa telah tercoreng dengan kehadiran Nesa kecil.

Pernikahan Anarya dengan Lasmi justru menjadikan kehidupan gadis kecil itu semakin dalam kehinaan. Seorang anak yang tak pernah tahu apa kesalahannya, namun dianggap pantas untuk menerima buah dosa dari kedua orang tuanya.

Kisah yang penuh liku-liku kehidupan sehingga memiliki ending cerita yang tak tertebak seperti rahasia kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 Pilihan Hati

Anarya terpegun, ia hanya bisa memandangi punggung Daneela yang kemudian menghilang dari balik pintu. Desahan napas menahan ribuan luka yang merajam hati sungguh begitu membuatnya semakin putus asa.

Dengan perlahan ia masuk ke kamar. Ia tersenyum ketika mendapati putri kecilnya lelap tertidur di peraduan. Dengan lembut ia belai wajah Nesa yang begitu tenang dalam mimpinya.

"Bidadari Ayah memang cantik." Senyum itu kembali tersungging.

"Ayah akan berdoa dan terus berusaha demi kebahagiaan kamu, Nak. Ini adalah penebus dosa Ayah kepada Mamamu."

Anarya kembali melajukan kursi roda untuk mengambil air wudhu. Ia merasa begitu lelah dan ingin sekali menyerahkan segala keputusan kepada Rabb-nya, tempat ia memanjatkan bait-bait doa.

****

Sementara itu, Daneela yang tidur di kamar tamu sedang dilanda kegelisahan. Dia seperti berdiri di antara jurang terjal yang siap menelan bila salah melangkah.

Keinginan yang begitu kuat ingin membahagiakan keponakan satu-satunya memenuhi rongga hati, namun di sisi lain rasa sakit mengetahui kenyataan bahwa saudaranya meninggal akibat ulah ibu dari lelaki yang akan menikahinya sungguh tak bisa ia maafkan.

"Daneesa, apa yang harus aku lakukan?"

"Lakukan apa yang menurutmu baik, Neela."

Daneesa terperanjat ketika mendengar sebuah suara, ia mencoba mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Tiba-tiba sinar putih menyilaukan berpendar menghantarkan tubuhnya ke suatu tempat yang tak pernah ia lihat.

"Daneesa?" Netra Daneela membeliak menyaksikan saudara kembarnya yang sedang memainkan kakinya di pinggir telaga.

"Kemarilah."

Dengan ragu Daneela melangkahkan kaki. Ia masih tak yakin bahwa yang ia lihat adalah Daneesa.

"Cepatlah, Lala."

"Kau ... Kau benar-benar Daneesa?" Sekali lagi Daneela dibuat terperangah karena wanita dengan gaun putih itu tahu nama kecilnya.

"Kau pikir aku siapa?" Daneesa tersenyum simpul.

"Sudah, kesini cepat. Duduklah bersamaku dan akan aku katakan apa mauku."

Daneela mendekat dan duduk di samping Daneesa yang masih asyik bermain air.

"Lala, kamu tahu aku bahagia di sini?"

Daneela kembali memandang lekat wajah Daneesa. Ingin sekali ia temukan jawaban dari setiap tanya yang selama ini memenuhi ruang pikirnya.

"Jangan salahkan siapapun lagi. Setiap kejadian sudah menjadi garis takdir yang telah tertulis."

"Aku meninggal saat melahirkan putri kecilku. Namun, lihatlah ... aku mendapatkan semua ini. Aku bahagia di sini. Hanya saja aku tak mampu tersenyum ketika melihat Mama dan dirimu yang terus berkalang kesedihan."

Daneela masih saja terdiam. Tatapannya kini menjelajah setiap inci tempat yang baru kali ini ia kunjungi.

"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Buatlah putriku bahagia dan Mama tersenyum kembali menikmati masa tuanya."

"Apa maksudmu aku harus menikah dengan Anarya?" Daneela mengeryitkan dahi.

"Tanyakan pada hati kecilmu, bagaimana cara kamu akan memenuhi permintaanku. Sekarang kembalilah."

"Apa maksudmu?"

Daneesa hanya memberi seulas senyuman yang penuh arti. Belum sempat Daneela bertanya lagi, cahaya putih itu kembali menarik dirinya.

"Daneesa, jawab aku!" Teriak Daneela, bersamaan dengan itu ia terbangun dari mimpinya.

Terengah ia bangun dari tidur, kemudian keluar kamar untuk mengambil air minum.

"Belum tidur?" Sebuah suara mengejutkan Daneela yang sedang menuang air putih ke gelas.

"Sudah. Hanya saja terbangun karena Daneesa da--" Daneela tak melanjutkan kalimatnya, ia merasa bodoh jika menceritakan mimpinya.

"Daneesa?"

"Lupakan. Aku hanya bermimpi."

"Daneela, aku mohon jangan pergi."

Daneela menatap lekat pria yang sedang memohon itu. Sejurus kemudian ia melanjutkan minum dan menenggak habis air di gelas.

"Aku memohon demi putriku. Akan aku singkirkan seluruh harga diriku untuk bersimpuh di hadapanmu jika itu bisa membuatmu mengabulkan permintaanku."

"Bagaimana dengan Lasmi?"

"Aku akan menceraikannya."

"Apa kamu lupa dia sedang hamil?"

"Ya, aku tahu."

"Apa kamu tak berpikir tentang Resti dan calon bayi yang ada di rahim Lasmi?"

"Aku akan tetap bertanggungjawab sebagai ayah. Saat ini aku hanya ingin menebus setiap kesalahanku di masa lalu, terutama dosaku terhadap Nesa karena membiarkan Lasmi bersikap buruk padanya."

"Apa kamu yakin akan bisa hidup denganku tanpa bayang-bayang masa lalumu?"

"Daneesa adalah wanita pertama yang bertahta di hatiku. Aku mohon berikan aku waktu dan kesempatan."

"Baiklah, Narya. Demi Nesa dan Mamaku akan aku lakukan. Urus perceraianmu dengan Lasmi, setelah itu kita menikah."

"Kita bisa menikah tanpa menunggu perceraian itu."

"Aku tak ingin orang lain berpikir aku sebagai perebut suami orang."

"Baiklah jika itu maumu."

Daneela tersenyum, ia mengangsurkan badan ke arah wajah Anarya. Pancaran binar netra sarat makna seolah menjawab keraguan Anarya.

"Aku siap menjadi istrimu, sekarang tidurlah yang nyenyak."

"Jangan berubah lagi," pinta Anarya yang hanya dijawab dengan senyuman Daneela.

"Besok aku ingin lihat kamu memasak untukku," sambung Anarya.

Daneela hanya memberikan isyarat 'OK' dengan jarinya. Ia kembali melangkah menuju kamar, meninggalkan Anarya yang sedang bersorak kegirangan.

Di balik pintu Daneela tersenyum bahagia. Ia merasa inilah jalan yang harus ia tempuh demi Nesa dan ibunya.

Keesokan harinya suasana telah kembali penuh tawa di meja makan. Daneela memasak nasi goreng spesial demi memenuhi permintaan Anarya.

Bu Bramantyo yang sebelumnya merasa cemas, kini diliputi bahagia setelah mengetahui bahwa Daneela memaafkannya dan bersedia menikah dengan Anarya.

Senyum bidadari kecil tersungging sempurna, menghapus seluruh luka yang selama ini ia terima.

***

Sementara itu, di bagian malam yang lain. Di sebuah kamar berdinding hijau pupus, seorang wanita tengah duduk merengkuh lutut di tengah peraduan berkelambu putih menerawang.

Ada ribuan luka yang menikam hati, hingga beberapa kali ia harus menyeka bulir bening yang jatuh. Entah sudah berapa kali bibir itu menyebut nama Anarya dalam setiap tarikan napas.

Ya, dia Lasmi. Seorang wanita yang begitu penuh obsesi memiliki cinta Anarya, hingga tega berbuat jahat menyingkirkan Daneesa. Keyakinan ia akan mampu memiliki jiwa raga Anarya begitu kuat, tak ia pedulikan benar atau salah yang ia perbuat.

Kini, ia hanya bisa menangisi segalanya. Apa yang ia perjuangkan seorang diri harus berakhir begitu saja, menyisakan banyak luka dan kesendirian.

Inilah yang harus ia bayar, mungkin saja sekarang Daneesa sedang menertawakannya karena pada akhirnya wanita berhati duri nan licik itu telah menerima hukuman dari alam. Tangis sebagai luapan rasa sakit hati akan hadir dalam tiap kesendiriannya.

Lasmi, ia telah kalah. Kalah dalam mencapai obsesi gila yang terlalu ia paksakan tanpa memikirkan akan banyak hati dan perasaan yang terluka karena ulahnya. Perpisahan dengan Anarya harus ia terima karena harapan untuk kembali telah tertutup rapat.

Miris, ia harus melepas pria yang sangat ia cintai di saat ada bayi dalam rahimnya. Dalam benak Lasmi terlintas bagaimana kelak anak-anaknya akan tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah.

"Apakah ini karma atas apa yang aku lakukan?" gumamnya penuh sesal diiringi rinai air mata yang menganak sungai.

1
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
Lasmi klo km masih belum jujur soal siapa ayh biologis Rasti berarti km blm sepenuhnya bertobat, tobatmu masih setengah2 itu😟😟
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
memang benar dan seharusnya Lasmi sadar klo cinta yg dipaksakan itu akn sngt menyakitkan.. lebih baik melepaskannya daripada terus bertahan yg berakibat menderita dihati jg jiwanya😔😔😔
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
cerita yg luar biasa singkat padat dan jelas.. is the best👍💯👍💯
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
Bu Bram seperti kacang yang lupa kulitnya...
💞N⃟ʲᵃᵃ࿐yENni💖
iya jelas Nesa merasa pernah bertemu Danella soalnya kan Danessa sering muncul di mimpinya Nesa secara Danella kan kembarannya Danessa jadi mngkn wajahnya mirip...
Ayu Dwi S
laki2 lemot emang gk tegas gk ad pendirian patas emg d kibuliin sampe kebenaran istri meninggal pun gk tau,,, tae
Kuswati Kuswati
nangis aq Thor ceritamu bagus banget...
Siti Juleha
emmmm
Siti Juleha
ehem
Delfana
lg nyari bawang
Mikaila Dira Khodijahatika
sex gak butuh cnta
Mikaila Dira Khodijahatika
semangat nessa
Mikaila Dira Khodijahatika
kalau sudah tiada baru terasa
Mikaila Dira Khodijahatika
sedihnya... untung nesa msh unya tante daniela
Mikaila Dira Khodijahatika
smoga nessa bahagia
Mikaila Dira Khodijahatika
lebih baik dgn danela drpd mak tiri kejam
Mikaila Dira Khodijahatika
wanita iblis
Mikaila Dira Khodijahatika
ibu tiri kejam
Mikaila Dira Khodijahatika
kasian nessa
Aran_MouHanAra
bawangnya berapa ton sib ini 😭😭😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!