Xavier, dokter obgyn yang dingin, dan Luna, pelukis dengan sifat cerianya. Terjebak dalam hubungan sahabat dengan kesepakatan tanpa ikatan. Namun, ketika batas-batas itu mulai memudar, keduanya harus menghadapi pertanyaan besar: apakah mereka akan tetap nyaman dalam zona abu-abu atau berani melangkah ke arah yang penuh risiko?
Tinggal dibawah atap yang sama, keduanya tak punya batasan dalam segala hal. Bagi Xavier, Luna adalah tempat untuk dia pulang. Lalu, sampai kapan Xavier bisa menyembunyikan hubungan persahabatannya yang tak wajar dari kekasihnya, Zora!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Between Us
Lampu sorot menari di permukaan lukisan-lukisan yang dipajang rapi di sepanjang dinding aula. Ruangan itu kini penuh dengan obrolan, gelak tawa, dan suara kekaguman dari para pengunjung. Musik jazz lembut mengalun, membuat suasana makin hangat dan elegan.
Di tengah keramaian itu, seorang pria memasuki ruangan dengan langkah tegap—Xavier.
Setelan putih yang dikenakannya tampak kontras dengan wajahnya yang sedikit lelah. Ia baru saja menyelesaikan prosedur darurat dan langsung menyusul ke lokasi pameran.
Pandangan matanya menyapu seluruh sudut ruangan.
Matanya menelusuri setiap kepala, setiap tamu. Mencari seseorang.
Luna.
Namun, ia tak menemukannya. Yang terlihat hanyalah tim penyelenggara, beberapa dokter, dan pengunjung yang berdiri berkelompok mengagumi karya-karya seni. Wajah Luna tak ada di sana.
Namun langkah Xavier tetap berjalan.
Hingga akhirnya ia berhenti di depan dua wanita yang sedang berdiri berdampingan, tertawa kecil sambil menunjuk salah satu lukisan bergaya surealis.
Zora dan… Mama Anet.
“Mama,” ucap Xavier sambil mengecup pipi ibunya.
“Xavier, sayang!” Mama Anet langsung memeluknya hangat. “Akhirnya kamu datang juga.”
“Aku berusaha secepat mungkin.”
Zora tersenyum menyambutnya. “Kamu pasti lelah.”
Xavier hanya mengangguk tipis. Sorot matanya masih gelisah, jelas menunjukkan bahwa pikirannya belum sepenuhnya ada di sini. Ia sempat menoleh ke sekeliling lagi, seperti berharap Luna muncul dari balik salah satu tirai, atau menyelinap dari balik kerumunan.
Namun tidak.
Zora menyadari itu. Ia tak bodoh. Ia tahu, ada sosok lain yang sedang Xavier cari. Tapi ia menahannya di dalam dada. Tersenyum, meski senyum itu menyimpan rasa was-was.
“Zora tadi sudah memandu Mama berkeliling. Kalian memang pasangan yang serasi,” ucap Mama Anet sambil menepuk lembut lengan anaknya.
Xavier menoleh pada Zora, menatapnya sejenak. “Terima kasih sudah menemani Mama.”
“Dengan senang hati,” jawab Zora lirih, lalu berusaha menahan nada getir yang hampir terdengar.
Xavier akhirnya mundur selangkah, mencari celah untuk mengalihkan diri. “Aku akan cari Luna dulu. Aku ingin mengucapkan selamat langsung padanya.”
Seketika itu juga, senyum Zora dan Mama Anet memudar sedikit. Tapi tak ada yang mencoba mencegah. Hanya tatapan Zora yang mengikuti Xavier—sebelum ia lenyap di antara kerumunan, menjauh darinya… seperti yang selalu terjadi.
“Luna,” gunam Mama Anet pelan, “Xavier sering menyebut nama itu.” Mama Anet mengalihkan tatapannya ke arah Zora, seperti mencari jawaban.
Zora tersenyum, mengangguk sopan. “Iya, benar. Luna sahabat dekat Xavier, dia gadis yang tadi naik ke panggung, Ma. Dia pelukis semua lukisan ini.”
“Oh…” Mama Anet mengangguk pelan, matanya perlahan memindai kembali lukisan-lukisan di sekeliling mereka. “Jadi, dia Luna.”
Zora mengangguk lagi. “Kami cukup dekat sekarang. Kami bekerja di proyek pameran ini bersama. Lagipula, dia sahabat Xavier… jadi aku cukup sering bertemu dengannya.”
“Hm…” gumam Mama Anet, mengangguk pelan. Ia tampak berpikir sejenak, lalu matanya kembali menatap salah satu lukisan ekspresionis bergaya monokrom. Wajahnya tampak serius, namun ekspresinya tidak memancarkan ketidaksukaan, justru sebaliknya.
“Lukisan-lukisannya menyimpan perasaan dalam. Ada luka, tapi juga harapan,” ucap Mama Anet, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Zora tidak menimpali. Ia hanya tersenyum tipis, mengamati perubahan ekspresi Mama Anet.
Xavier menyusuri lorong belakang tempat acara, menjauh dari keramaian. Langkahnya cepat dan tegap. Instingnya membawanya ke ruangan paling sunyi di gedung itu—ruang istirahat kecil di balik aula utama.
Pintu setengah terbuka.
Dan di sana… duduk Luna, sendiri.
Ia bersandar di kursi kayu dekat jendela, secangkir kopi dalam genggaman, menatap ke luar jendela yang hanya menampilkan bayangan senja dan sisa cahaya matahari. Rambutnya terurai, bibirnya tanpa senyum, dan matanya… kosong.
Seolah ada beban yang sedang ia jaga erat di dadanya.
Xavier berdiri diam di ambang pintu, mengamati dalam diam. Butuh waktu beberapa detik sebelum Luna menyadari kehadirannya.
“Kau akhirnya datang,” gumam Luna pelan, tanpa menoleh.
“Kau menghilang dari tengah pesta,” balas Xavier, melangkah masuk.
“Aku hanya butuh sedikit ruang,” jawabnya, matanya masih terpaku keluar jendela. “Hari ini terasa… panjang.”
Xavier duduk di kursi seberang. Tak langsung bicara.
“Pameranmu… luar biasa,” katanya kemudian.
“Terima kasih,” Luna membalas sambil menyeruput kopinya.
Xavier meraih gelas kopi dari tangan Luna dengan santai, lalu menyeruput sisa kopi yang masih hangat di dalamnya. Ia tidak langsung bicara, hanya ikut memandangi arah luar jendela, mengikuti ke mana pandangan Luna mengarah.
“Tadi, aku melihat mamamu bersama Zora,” ucap Luna tiba-tiba, memecah keheningan yang menggantung. “Dia terlihat lebih cantik dari yang kulihat di foto-foto.”
Xavier tersenyum tipis, masih menatap ke luar. “Kau menyapanya?”
Luna menggeleng pelan. “Tadi aku sedang begitu sibuk, dan tidak sempat melakukannya. Lagi pula, tampaknya mereka sedang ngobrol hal yang cukup serius. Aku tidak ingin mengganggu momen hangat itu.”
Xavier menoleh, memperhatikan wajah Luna dengan seksama. “Kau canggung?”
“Bukan canggung…” Luna menarik napas pelan. “Mungkin lebih ke… sadar diri. Aku hanya seorang pelukis yang kebetulan dekat dengan anaknya. Dan sekarang, anaknya itu sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita yang mungkin bisa jadi menantunya. Rasanya aneh jika aku tiba-tiba menyapa seolah dekat.”
Xavier mengernyit. “Luna…”
Luna terkekeh pelan, seolah semua kalimatnya tadi hanya lelucon ringan. Tapi di balik tawa itu, Xavier bisa merasakan ada sesuatu yang ia sembunyikan. Luna menarik napas panjang, lalu menegakkan posisi duduknya, merapikan rambut dan menatap jam di pergelangan tangannya.
“Sepertinya aku harus pergi sekarang,” ujarnya dengan nada datar yang terlalu rapi, terlalu terkontrol.
Xavier menyipitkan mata, mencermati perubahan sikap itu. “Kau menghindariku?”
Pertanyaan itu membuat Luna menoleh cepat, sejenak kehilangan kendali atas ekspresinya.
“Untuk apa aku menghindarimu?” Tertawanya terdengar canggung. “Aku hanya… aku harus menyapa beberapa kolektor yang mungkin tertarik membeli lukisanku. Ini malam penting, kan?”
Xavier menatapnya lekat-lekat. Lama. Tapi ia tak memaksa Luna untuk tetap duduk bersamanya. Ia tahu, jika Luna memilih pergi, maka ada alasan yang belum siap ia bagi.
“Baiklah,” kata Xavier akhirnya, pelan. “Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Kau masih terlihat pucat.”
Luna mengangguk cepat dan berdiri, menghindari tatapan Xavier yang terasa terlalu dalam.
“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang, Xav.” Ia tersenyum, tapi senyum itu hanya menyentuh bibir, tidak sampai ke matanya. Kemudian ia melangkah pergi, meninggalkan aroma kopi dan udara hening di ruangan itu.
Xavier menatap kepergiannya, dada terasa sesak tanpa alasan yang jelas.
Di aula utama galeri, Luna melangkah pelan, senyumnya kembali ia bentuk sebaik mungkin. Ia menyapa beberapa tamu, menanggapi pujian pada lukisan-lukisannya, dan mengobrol singkat dengan dua orang kolektor yang memang sejak awal tertarik pada karyanya.
Namun, di balik gestur ramah dan tatapan yang tampak antusias, Luna merasa tubuhnya semakin berat. Kepalanya berdenyut pelan, perutnya terasa aneh. Tapi ia menahannya. Masih banyak yang harus ia jaga malam ini. Reputasi, karya, dan... perasaannya.
Sementara itu, dari kejauhan, Xavier tetap mengawasi.
Ia melihat Luna berdiri di tengah-tengah ruangan, dikelilingi tamu dan pengagum, tapi tampak paling sendirian dibanding siapa pun di ruangan itu.
To Be Continued >>>