Ketika perasaan datang di waktu yang berbeda, ketika perasaan datang di kala harapan sudah sirna. Andra Dwi Anggara, harus menelan sakitnya penyesalan ketika terlambat menyadari perasaan sahabatnya, Gabriella Tamara.
Tujuh tahun Gabriella mencintai Andra, namun lelaki itu tak pernah menyadari. Ketika Gabriella sudah pergi dan membuka hati untuk cinta yang lain, Andra baru menyadari perasaan yang ada dalam dirinya, yang ternyata adalah rasa cinta.
Gabriella dihadapkan pada pilihan yang sulit, mempertahankan Kairi Da Vinci, lelaki yang sudah menjadi keksihnya.
Ataukah kembali pada Andra, sahabat lama yang pernah mencuri hatinya?
Disaat Gabriella sudah yakin pada satu pilihan, lagi-lagi kenyataan mempermainkan jalan hidupnya. Satu fakta pahit menggoyahkan cinta yang telah ia jalin.
Sanggupkah Gabriella melewati ujian yang menderanya?
Kepada siapakah ia melabuhkan hatinya?
Temukan jawabannya hanya dalam novel TENTANG RASA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Menunggunya
Setelah menutup telfonnya, Ella bergegas pergi ke kamar mandi, dan membersihkan diri. Setelah itu ia ingin segera menyelesaikan tugas kuliahnya. Namun baru saja ia mengganti baju, Bik Inah memanggilnya dari luar.
"Non," panggil Bik Inah.
"Iya Bik," sahut Ella dari dalam kamar.
"Tuan Dimas, dan Non Yura datang kesini Non."
"Oh iya Bik, suruh tunggu sebentar ya, aku masih ganti baju."
"Baik Non."
Tak berapa lama kemudian, Ella keluar kamar, dan menghampiri Dimas dan Yura.
"Apa kabar Mbak Yura, Kak Dimas?" sapa Ella sambil ikut duduk di sofa ruang tamu.
"Kita baik, kamu sendiri bagajmana?" jawab Dimas balik bertanya.
"Aku juga baik Kak."
"Kuliah kamu?"
"Masih lancar."
"Kalau ada kesulitan dengan tugasnya, bilang saja sama aku, siapa tahu bisa bantu." ucap Yura.
"Iya Mbak, memang pernah agak kesulitan, tapi masih bisa aku atasi, terkadang aku dibantu teman," jawab Ella.
"Teman yang waktu itu?
Dia memang pinter banget El.
Nilainya selalu sempurna, kamu ada hubungan sama dia?" tanya Yura dengan antusias.
"Ella punya pacar?" sela Dimas.
"Bukan, itu cuma teman," jawab Ella.
"Tapi aku lihat kamu dekat sama dia," ucap Yura semangat.
"Siapa sih?" tanya Dimas.
"Anak kampus satu jurusan sama Ella. Dia itu pinter, baik, sudah gitu ganteng banget, good boy lah pokoknya," kata Yura menjelasakan.
"Mujinya begitu banget sih sayang, aku cemburu lho," goda Dimas.
Yura, dan Ella langsung tertawa mendengar kata-kata Dimas.
"Dia memang ganteng, tapi gak lebih ganteng dari kamu sayang," ucap Yura sambil menatap Dimas, dan tersenyum manja.
"Kamu itu cantik banget, wajar dong kalau aku takut kehilangan," jawab Dimas sambil memeluk Yura.
"Makanya cepetan halalin."
"Sebentar lagi. Gak sampai empat bulan kok."
"Eggheem, ada orang lain lho di sini.
Masih anak-anak lagi," sindir Ella sambil tertawa.
Dimas dan Yura menoleh, menatap Ella, dan kemudian tertawa.
"Bukan anak-anak lagi El, sudah dewasa, buktinya itu sudah punya...
siapa ya namanya, aduh lupa, siapa El?" tanya Yura.
"Varrel," ucap Ella.
"Nah itu."
"Cuma teman Mbak."
"Lebih dari teman juga gak papa El, dia baik kok," ucap Yura.
"Aku gak cinta sama dia Mbak."
"Terus cintanya sama siapa?" goda Yura.
"Enggak ada," jawab Ella dengan singkat. Namun ia tak dapat menyembunyikan senyumannya.
Pipinya juga mulai merona, saat ia mengingat Andra.
"Serius?" tanya Yura.
"Iya Mbak."
"Tapi kamu senyum-senyum begitu.
Lagi jatuh cinta ya, sama siapa?" desak Yura.
Jika belum kenal, orang akan menilai Yura ini pendiam dan anggun. Namun bila sudah akrab, tidak ada anggun-anggunnya, apalagi pendiam, yang ada cerewetnya level atas.
Waktu pertama kali bertemu, Ella juga sempat salah dalam menilainya.
"Gak ada Mbak," ucap Ella masih tersipu malu.
"Bukan sahabat kamu itu kan, El?" tanya Dimas dengan serius.
"Siapa sahabatnya?" tanya Yura.
"Ada di Indonesia," jawab Dimas.
Hati Ella berdebar. Kenapa Dimas bisa tahu. Dan dari raut wajahnya, sepertinya Dimas kurang suka dengan Andra.
"Waktu kamu masih tinggal di rumah, aku sering dengar kamu telfonan sama dia. Kamu gak cinta kan sama dia?" tanya Dimas.
"Eng....engggak Kak," jawab Ella dengan gugup.
"Jatuh cinta boleh saja, kamu memang sudah besar. Tapi kalau bisa jangan sama dia.
Aku memang gak kenal sama dia, tapi aku cukup tahu dengan sifatnya.
Aku juga tahu alasannya, kenapa ia dikeluarkan dari sekolah.
Kamu gadis yang baik El, menurutku kurang adil saja, kalau dapat cowok yang kayak gitu," kata Dimas menjelaskan.
Ella diam, belum menjawab.
Apa yang dikatakan Dimas memang ada benarnya.
Andra bukanlah sosok yang baik.
Tapi bukankah semua orang punya kesalahan. Bukankah pendosa juga memiliki masa depan.
Tuhan saja bisa memaafkan, kenapa manusia tidak.
Lagipula, bukankah jodoh itu saling melengkapi. Juga saling memperbaiki kekurangan.
Aku siap menerima kekurangannya Andra. Biarpun banyak yang mencela, yang penting orang tua kita merestui. Tapi, yang jadi masalah sekarang bukan restunya. Namun kapan dia akan menyatakan cintanya.
"El, kenapa diam?" tanya Dimas.
"Gak papa Kak."
"Maaf kalau aku menyinggung perasaan kamu. Aku cuma gak ingin kamu salah memilih."
"Iya Kak aku mengerti. Aku juga gak cinta kok sama dia."
"Kalau gak punya cinta untuk siapa-siapa. Coba saja jatuh cinta sama Varrel," ucap Yura.
"Lain kali saja Mbak, jangan sekarang," jawab Ella sambil tersenyum.
Yura dan Dimas mengangguk.
"Mbak Yura tadi darimana?" tanya Ella mengalihkan pembicaraan.
"Dari Helena, membahas persiapan prewed."
"Oww, terus rencananya prewednya kapan?"
"Seminggu lagi."
"Dimana?"
"Pakai tema indoor saja El, gak ribet."
"Owh itu juga bagus."
***
Setelah menyelesaikan tugas kuliahnya. Kini Ella berbaring di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar, sambil pikirannya menerawang jauh. Bayangan tentang Varrel, dan Andra berputar-putar dalam otaknya. Ella sangat mencintai Andra. Seperti apapun sifatnya, nyatanya Ella tetap cinta.
Namun hingga hampir 7 tahun, cintanya tak kunjung mendapat balasan. Benarkah suatu saat nanti mereka bisa bersama, atau Ella akan kecewa untuk yang kedua kalinya.
Dan Varrel. Dia cowok yang baik. Dia sangat mencintai Ella. Namun entah kenapa, hati Ella tak terketuk sedikitpun. Pernah ia mencoba mencintai Varrel, namun tetap saja tak bisa. Masih tetap Andra yang bertahta di dalam hatinya.
Lambat laun mata Ella mulai terpejam, dan ia mulai mengarungi dunia mimpi.
***
Seorang gadis sedang berdiam diri di dalam mobil di parkiran kantor.
Dia adalah Nadhira. Dia ingin mencari tahu tentang kekasihnya.
Sudah satu bulan sejak mereka makan siang bersama, Darren dan Nadhira belum pernah berjumpa.
Mereka hanya berhubungan via telfon. Nadhira menerima, dia mencoba memahami kesibukan Darren.
Namun hari ini dia mendapat pesan chat dari temannya. Temannya bilang jika dia melihat Darren di kantor. Padahal kemarin Darren bilang, dia akan keluar kota dan akan kembali tiga hari lagi.
Dan akhirnya, disinilah Nadhira sekarang. Mengintip dari kaca mobil seperti mata-mata.
Jarum jam sudah menunjukkan angka 08.00 malam, Nadhira menunggu Darren keluar dari kantornya. Ia akan mengikutinya dan mencari tahu alasan kenapa Darren membohonginya.
Cukup lama Nadhira menunggu, mobil di parkiran kini tinggal beberapa. Banyak karyawan yang sudah pulang. Namun Darren tak juga menampakkan batang hidungnya.
Hingga satu jam telah berlalu, Darren belum juga muncul.
Apa memang sesibuk itu? Pikir Nadhira.
Mobil diparkiran kini hanya tinggal tiga. Milik Darren, milik Nadhira dan satu lagi milik karyawan lain.
Dengan perasaan kesal, Nadhira keluar dari mobilnya, dan berniat menyusul Darren.
Saat didepan pintu kantor, Nadhira bertemu dengan seorang satpam.
"Anda siapa Nona?" tanya satpam.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Darren," jawab Nadhira.
"Pak Darren masih lembur, Anda siapa?"
"Saya adiknya," Jawab Nadhira berbohong.
"Oh silahkan masuk, ruangannya ada di lantai dua. Jangan lupa mengetuk pintu, Pak Darren tidak suka jika ada orang yang langsung masuk ke dalam ruangannya," kata satpam menjelaskan.
"Baik, terima kasih Pak."
Lalu Nadhira pergi berlalu.
Setelah sampai di lantai dua, ia berjalan pelan mencari ruangan Darren.
Tak membutuhkan waktu lama, kini Nadhira sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Ia ragu untuk mengetuk pintu. Takut Darren marah karena mengganggu kerjanya.
Tapi dalam hatinya, terbersit rasa curiga. Benarkah lembur karena pekerjaan, atau ada hal yang lainnya.
Akhirnya dengan tekat yang kuat, Nadhira membuka ruangan itu, yang kebetulan memang tidak dikunci.
Dan Nadhira tersentak kaget, juga tidak percaya, saat melihat apa yang ada di depan matanya.
Bersambung...