NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Sirine itu datang lebih cepat daripada napas Brandon pulih.

Bryan berdiri di depan mereka dengan kantong minimarket di tangan. Plastik bening itu berisi dua botol air mineral dan sebungkus permen mint, seolah ia benar-benar hanya pergi sebentar membeli sesuatu.

"Kenapa kalian basah kuyup?" ulangnya.

Nada khawatirnya sempurna.

Kalau Brandon tidak baru saja dicekik oleh Si Panjang, mungkin ia masih akan percaya.

Tapi lehernya masih terbakar. Dadanya masih sakit. Bau air comberan masih menetes dari jaketnya, dan di belakang sana, pria yang hampir membunuhnya masih mengumpat sambil menyeret langkah keluar dari gang.

Brandon menatap Bryan.

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia tidak tahu siapa orang di depannya.

"Bryan..." Suaranya serak. "Lo ke mana tadi?"

Bryan berkedip, cepat sekali. "Minimarket. Gue bilang kan salah transfer, sekalian beli minum. Lo kenapa? Siapa yang nyerang lo?"

Keira berdiri di sisi Brandon, bahunya tergores pagar seng, rambutnya basah cipratan air kotor. Ia tidak menjawab. Matanya hanya menatap jalan di belakang Bryan.

Dua mobil polisi berhenti mendadak di pinggir jalan.

Pintu terbuka hampir bersamaan.

"Polisi! Jangan bergerak!"

Ko Kevin turun dari mobil pertama dengan jaket hitam dan ekspresi yang membuat udara siang terasa lebih dingin. Beberapa polisi berpencar cepat, menutup mulut gang dan sisi ruko.

Si Panjang baru saja keluar dari gang.

Wajahnya masih penuh kotoran. Matanya merah karena air got. Begitu melihat polisi, ia berbalik hendak kabur ke dalam gang.

Terlambat.

Dua polisi menerjang dari samping. Satu menekan bahunya ke dinding, satu lagi memutar lengannya ke belakang. Si Panjang meronta sambil mengumpat, tapi setelah tersedak air comberan dan mengejar dua orang, tenaganya tidak lagi utuh.

Klik.

Borgol terkunci.

"Lepasin!" Si Panjang meraung. "Gue nggak ngapa-ngapain!"

Kevin berjalan mendekat. Matanya menyapu leher Brandon, bahu Keira, air comberan di tubuh mereka, lalu berhenti pada Bryan.

Bryan langsung memasang wajah terkejut. "Ya Tuhan! Ada apa ini? Pak, saya cuma teman Brandon. Saya nggak tahu apa-apa."

Kevin menatapnya dingin.

"Saya belum tanya."

Wajah Bryan menegang sepersekian detik.

Si Panjang yang sudah diborgol mendengar suara Bryan. Ia mendongak, lalu tertawa keras, kasar, dan penuh lendir.

"Teman katanya?"

Bryan memucat. "Saya nggak kenal orang ini."

"Nggak kenal?" Si Panjang meludah ke samping. "Itu yang bayar gue! Cek aja riwayat transfer di rekening gue. Dia yang bilang patahin tangan kanan anak ini. Katanya asal jangan mati, tapi uangnya kecil. Gue pikir sekalian aja biar beres."

Brandon seperti dipukul dari dalam.

Ia menatap Bryan.

"Lo..." katanya pelan. "Beneran?"

Bryan mundur satu langkah. "Brand, lo percaya preman kayak dia? Dia jelas mau nyeret orang lain biar hukumannya ringan."

Kevin mengangkat tangan. Seorang polisi menyerahkan tablet kecil berisi data awal. Kevin membacanya sekilas, lalu menoleh ke Bryan.

"Rekening atas nama perantara yang terhubung ke nomor kamu. Transfer pertama tadi malam. Transfer kedua satu jam lalu. Lokasi ponsel kamu juga sama dengan lokasi Si Panjang sebelum masuk gang."

Bryan menggenggam kantong minimarket sampai plastiknya berkerut.

"Itu kebetulan."

Kevin tersenyum tipis. Tidak hangat. "Kebetulan yang rajin sekali."

Keira tidak bicara.

Ia melihat tangan Bryan gemetar.

Topeng ramah itu retak pelan-pelan. Mula-mula dari sudut mulut. Lalu mata. Lalu seluruh wajah.

Brandon mengambil satu langkah ke arahnya. "Kenapa?"

Satu kata itu lebih berat daripada teriakan.

Bryan mendadak tertawa.

Tawanya kecil di awal, lalu pecah menjadi suara yang asing.

"Kenapa?" Ia menunjuk dada Brandon. "Lo masih tanya kenapa?"

Brandon diam.

"SEPULUH TAHUN, Brand!" Bryan berteriak. Orang-orang di depan warnet mulai berkumpul, tetapi polisi segera menahan mereka di batas aman. "Sepuluh tahun gue latihan sama lo. Gue datang lebih pagi, pulang lebih malam. Gue review replay sampai mata gue merah. Gue hafal semua strategi. Tapi siapa yang selalu dipanggil genius? Lo."

Brandon menatapnya tanpa berkedip.

"Pelatih cuma lihat lo. Sponsor cuma lihat lo. Fans cuma teriak Wild God. Setiap turnamen, gue duduk di kursi cadangan kayak pajangan. Begitu lo sakit sedikit, baru gue dipakai. Begitu lo sembuh, gue dibuang lagi."

"Bryan..."

"LO SELALU JADI BINTANG!" Bryan melempar kantong minimarket ke tanah. Botol air menggelinding. "GUE CUMA CADANGAN! SEPULUH TAHUN GUE NUNGGU GILIRAN YANG NGGAK PERNAH DATANG!"

Udara mendadak sunyi.

Keira mendengar Cincin Brandon terisak kecil.

"Majikan... dia beneran benci selama itu?"

Brandon tidak menjawab. Wajahnya pucat, lebih pucat daripada saat dicekik.

"Gue anggap lo saudara," katanya.

Bryan tertawa pahit. "Saudara? Saudara yang selalu berdiri di depan lampu sampai bayangan gue hilang?"

Kevin memberi isyarat.

Dua polisi mendekati Bryan.

Bryan mundur, panik baru benar-benar muncul di wajahnya. "Tunggu. Ini cuma emosi. Gue nggak nyuruh bunuh. Gue cuma..."

"Cuma nyuruh orang mematahkan tangan atlet profesional." Kevin memotong. "Cukup."

"Brand, bilang sesuatu!" Bryan menatap Brandon dengan mata merah. "Lo tahu gue nggak akan sampai bunuh lo. Lo tahu gue cuma marah."

Brandon membuka mulut, lalu menutupnya.

Di lehernya, bekas cekikan mulai membiru.

Ia melihat Si Panjang. Melihat polisi. Melihat Keira yang berdiri dengan bahu terluka karena menyelamatkannya.

Lalu ia menatap Bryan lagi.

"Gue nggak tahu apa-apa lagi tentang lo."

Kalimat itu membuat wajah Bryan kosong.

Polisi memborgolnya.

Bryan tidak lagi berteriak. Ia hanya menatap Brandon sampai pintu mobil polisi menutup di depannya.

Si Panjang dinaikkan ke mobil berbeda sambil masih mengumpat dan menunjuk Bryan. "Dia yang bayar! Jangan cuma gue!"

Kevin memberi perintah singkat pada timnya, lalu berbalik ke Keira.

Semua ketegasan di wajahnya runtuh sedikit.

"Kei."

Ia menarik Keira ke pelukan singkat, tidak peduli bau air comberan di bajunya. Tangannya menepuk belakang kepala Keira sekali, keras tapi jelas masih gemetar.

Baru saat itu Keira sadar lututnya juga bergetar. Adrenalin yang tadi menahan tubuhnya tegak mulai turun, meninggalkan perih di bahu dan rasa mual dari bau got. Kalau Kevin datang lebih lambat, ia mungkin tidak akan sempat bercanda lagi.

"Untung lo cepat telepon. Kalau telat lima menit..."

Kalimat itu tidak selesai.

Keira berdiri kaku dalam pelukan itu, lalu menepuk lengan Kevin. "Gue masih hidup."

"Justru itu yang bikin gue mau marah."

Kevin melepasnya, lalu berbalik ke Brandon.

Wajah kakak keduanya berubah menjadi badai.

"Dan lo."

Brandon menunduk.

"Adik lo sendiri udah peringatin, lo malah nggak percaya. Kalau nggak ada Keira, lo udah di UGD sekarang atau lebih parah."

Brandon tidak membela diri.

Biasanya ia akan membalas. Biasanya ia akan berkata bahwa ia tidak butuh orang mengatur hidupnya. Biasanya ia akan menendang batu atau pergi dengan marah.

Sekarang ia hanya berdiri di trotoar, basah air comberan, leher memar, bahu turun.

"Gue tahu," katanya serak.

Kevin masih marah. "Tahu setelah hampir mati."

"Ko Kevin," Keira memotong pelan. "Nanti aja. Tenggorokannya masih sakit."

Kevin menatapnya.

"Lo masih belain dia?"

"Nggak. Gue cuma nggak mau dia pingsan sebelum mandi."

Cincin Brandon tiba-tiba menangis lebih keras.

"Kak Keira baik banget. Gue mau pindah jari aja boleh nggak?"

Dari balik celana Brandon, suara lelah ikut menyela. "Akhirnya tuan sadar juga. Telat sepuluh episode."

Keira hampir tertawa, tapi bau dari tubuh Brandon membuatnya mundur setengah langkah secara naluriah.

Brandon melihat gerakan itu.

Rasa malu menghantamnya lebih keras daripada bentakan Kevin.

Ia menatap Keira.

Gadis yang selama ini ia sebut pembawa masalah. Gadis yang ia ancam harus pergi dari rumah. Gadis yang selalu Seline gambarkan sebagai iri hati, licik, dan tidak tahu terima kasih.

Gadis itu baru saja memanjat tembok, menyiram preman buronan dengan air comberan, dan menariknya keluar dari gang.

Brandon bergerak.

Perlahan, ia menekuk lutut.

Kevin terdiam.

Keira juga.

Brandon berlutut di trotoar yang masih basah oleh tetesan air kotor dari bajunya. Kepalanya tertunduk, tangan kanannya mengepal di sisi tubuh. Suaranya pecah ketika keluar.

"Maaf."

Keira tidak langsung menjawab.

Brandon menelan sakit di tenggorokannya. "Gue salah. Lo benar dari awal, dan gue nggak dengerin. Gue percaya Bryan. Gue percaya semua yang orang bilang tentang lo. Gue bahkan nggak pernah tanya ke lo langsung."

Matanya merah.

"Gue minta maaf, Keira."

Keira menatapnya beberapa detik.

Lalu ia mundur satu langkah lagi.

Brandon membeku.

Keira berkata datar, "Iya, gue maafin. Tapi lo bau banget, jangan deket-deket."

Kevin menutup mulut dengan tangan.

Brandon menunduk lebih dalam. Bahunya bergetar. Awalnya Keira mengira ia menangis.

Lalu suara tawa lemah keluar dari tenggorokannya.

Tawa itu serak, patah-patah, bercampur air mata dan bau comberan, tapi untuk pertama kalinya sejak Keira masuk keluarga Tanuwijaya, Brandon tersenyum tulus kepadanya.

Cincin Brandon meraung bahagia.

"KITA SELAMAT! KITA PUNYA KAKAK BARU!"

"Jangan teriak," gumam Keira.

Brandon mengangkat kepala. "Apa?"

"Bukan ngomong sama lo."

Brandon tidak mengerti, tapi kali ini ia tidak membantah.

Keira melihatnya masih berlutut, leher memar, mata kacau oleh pengkhianatan Bryan dan rasa bersalah. Ia tahu momen seperti ini tidak datang dua kali.

Maka ia berkata pelan, "Satu hal lagi, Ko Brandon."

Brandon menatapnya.

"Semua yang Seline bilang tentang gue, lo pernah cek kebenarannya sendiri?"

Brandon terdiam.

Wajahnya berubah.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!