Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Favorit
Tao.
Nama itu menggantung di udara lebih lama daripada bunyi petasan di luar gerbang.
Tidak ada yang langsung bertanya. Mungkin karena ruang utama Hartono terlalu penuh orang yang terbiasa menjaga wajah. Mungkin juga karena Kevin berdiri di dekat bingkai itu, dan selama Kevin tidak membuka mulut, semua orang merasa lebih aman untuk ikut diam.
Namun diam tidak pernah bertahan lama di rumah sebesar ini.
Stephanie memiringkan kepala, senyumnya halus. "Tao? Nama senimannya?"
"Nama pena," jawab Kevin.
Seline menekan ibu jarinya ke telapak tangan. Kata itu keluar dari mulut Kevin dengan tenang, seolah ia sedang menyebut nama seseorang yang ia kenal baik. Padahal ia tidak tahu. Ia tidak boleh tahu.
Belum.
"Seniman anonim?" Vivian ikut menatap sudut kanan bawah gambar. "Menarik juga. Biasanya karya seperti ini susah dinilai, ya. Kalau tidak ada nama besar, orang hanya percaya selera kolektor."
Jessica langsung melirik Vivian, tetapi belum sempat bicara, Kevin sudah menjawab.
"Saya tidak membeli nama besar."
Suara Kevin rendah, datar, tetapi cukup membuat beberapa orang menahan napas.
Vivian tersenyum kaku. "Aku cuma bilang secara umum, Ko Kevin."
"Saya juga menjawab secara umum."
Stephanie tertawa pelan, berusaha menyelamatkan suasana. "Selera Ko Kevin memang berbeda. Tapi kalau sampai diberikan untuk Oma, pasti karya ini punya arti khusus."
Oma Mei yang sejak tadi duduk diam akhirnya mengangkat alis. "Kevin, kamu belum bilang. Kenapa lukisan ini?"
Seline ingin mundur. Satu langkah saja. Ia ingin berada di balik pilar, di balik pintu, di mana pun asal tidak berdiri di antara pertanyaan dan jawaban Kevin. Tetapi Darren masih di belakangnya. Kalau ia mundur mendadak, adiknya akan ikut bergerak, dan perhatian orang akan berpindah kepada mereka.
Kevin menatap lukisan itu.
"Ini salah satu favorit saya."
Kalimat itu tidak panjang. Tidak manis. Tidak terdengar seperti pujian yang sengaja dibuat untuk membuat orang tersentuh.
Justru karena itu dada Seline terasa sesak.
Ia pernah menjual gambar itu dengan harga yang menurutnya cukup untuk membayar uang sekolah Darren dan obat batuk Bi Zheng selama sebulan. Ia mengirimnya memakai amplop cokelat murah, membungkus sudutnya dengan karton bekas agar tidak rusak. Malam itu ia bahkan tidak berani berharap pembelinya akan menggantungnya di dinding. Ia hanya berharap uangnya masuk tepat waktu.
Sekarang Kevin Hartono menyebutnya favorit di depan satu keluarga besar.
"Kenapa favorit?" Oma bertanya lagi, kali ini lebih lembut.
Kevin diam sebentar.
"Karena gadis di gambar itu menoleh," katanya. "Di tengah lampion, di tengah keramaian, dia tidak terlihat takut. Dia seperti mendengar sesuatu dari belakang, lalu tetap berani melihat."
Seline menunduk.
Di atas lantai marmer, pantulan lampion merah dari langit-langit bergetar tipis. Ia tahu persis kenapa dulu ia menggambar gadis itu menoleh. Malam itu Darren sedang demam. Di gang sempit dekat kontrakan, anak-anak tetangga menyalakan lampion kertas murah. Seline berdiri di ambang pintu, memegang gelas obat, lalu tiba-tiba merasa seolah ada seseorang memanggil namanya dari tempat yang sangat jauh.
Bukan Seline.
Nama lain. Nama yang tidak ia ingat utuh.
Tangannya menegang di samping tubuh.
"Gadis itu seperti mau pulang," kata Bryan tiba-tiba.
Semua orang menoleh kepadanya.
Bryan tampak sadar ia sudah bicara terlalu cepat. Ia mengusap sisi gelas tehnya, lalu tersenyum tipis. "Maaf. Saya hanya terbawa suasana."
Oma Mei menatapnya lama. "Kamu juga melihat begitu?"
"Ya, Oma." Suara Bryan lebih rendah. "Dia menoleh seperti ada keluarga yang memanggil."
Stephanie meletakkan cangkirnya sedikit terlalu keras di atas tatakan. Bunyi porselen beradu membuat Seline berkedip.
"Ko Bryan hari ini sentimental sekali," katanya manis. "Mungkin karena Imlek."
"Mungkin," jawab Bryan.
Tetapi matanya tidak meninggalkan lukisan itu.
Vivian tiba-tiba menoleh kepada Seline. "Tadi kamu bilang lukisan ini hangat. Sekarang menurutmu bagaimana, Seline? Apa kamu juga merasa gadis itu mau pulang?"
Pertanyaan itu tampak ringan, tetapi Seline mendengar duri di baliknya. Vivian tidak sedang membahas lukisan. Vivian sedang menariknya ke tengah ruangan, membuatnya berdiri di bawah lampu yang sama dengan tanda tangan Tao.
Jessica bergerak hendak membantu, tetapi Seline mengangkat wajah lebih dulu.
"Saya tidak tahu soal niat pelukisnya," katanya pelan. "Saya hanya melihat gadis itu belum selesai berjalan."
Oma Mei memiringkan kepala, tertarik. "Belum selesai berjalan?"
Seline menelan ludah. Ia harus berhenti. Ia harus menjawab cukup dan mundur.
Tetapi lukisan itu adalah lukanya sendiri. Kadang luka bicara lebih cepat daripada kehati-hatian.
"Kalau seseorang benar-benar pulang, tubuhnya akan menghadap ke depan," lanjut Seline. "Gadis itu masih menoleh. Berarti ada yang tertinggal di belakangnya, atau ada yang sedang ia tunggu untuk ikut."
Ruangan menjadi sunyi lagi.
Darren menatap punggung kakaknya. Jessica menutup mulut, seolah takut bersuara akan merusak sesuatu. Bryan memandang Seline, kali ini bukan seperti tamu yang penasaran, melainkan seperti seseorang yang baru mendengar kata kunci dari mimpi lama.
Kevin juga menoleh.
Tatapannya tidak tajam. Tidak menekan. Namun justru tatapan tenang itu membuat Seline merasa lebih sulit bernapas. Seolah ia sudah terlalu banyak membocorkan diri hanya dengan satu kalimat.
Stephanie tersenyum, tetapi matanya dingin. "Seline ternyata peka sekali terhadap seni. Padahal katanya cuma suka menggambar album kecil untuk Oma."
"Kepekaan tidak butuh sekolah mahal," ujar Oma Mei.
Stephanie langsung menunduk. "Saya tidak bermaksud begitu, Oma."
"Oma tahu maksudmu." Oma Mei menyentuh sandaran kursinya. "Dan Oma juga tahu mana kata-kata yang perlu dihentikan sebelum jadi tidak enak didengar."
Wajah Vivian berubah sedikit. Tante Chen segera mengangkat cangkir tehnya, pura-pura tidak melihat.
Kevin memberi isyarat kepada Anton. "Pastikan kaca pelindungnya diganti. Jangan yang memantulkan cahaya terlalu banyak."
"Baik, Pak Kevin."
"Dan atur asuransinya."
Beberapa orang saling pandang. Sebuah karya anonim yang diberi kaca pelindung khusus dan diasuransikan secara resmi tidak lagi bisa dianggap hiasan sentimental.
Stephanie jelas menyadarinya. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Kevin. "Kalau butuh kurator, keluarga Wijaya punya beberapa kenalan. Aku bisa bantu menghubungkan."
"Tidak perlu."
Jawaban Kevin terlalu cepat.
Senyum Stephanie nyaris retak. "Aku hanya menawarkan bantuan."
"Saya sudah punya jalur sendiri."
Seline menunduk lagi. Jalur sendiri. Galeri Surabaya. Akun lama. Alamat surel yang sudah ia ganti dua kali. Semua yang selama ini ia kira cukup jauh dari rumah Hartono tiba-tiba terasa seperti benang yang ditarik pelan ke ruang utama ini.
Oma Mei mengetuk lengan kursi. "Sudah. Lukisan sudah dilihat. Sekarang makan dulu. Nanti angpao dibagikan setelah makan siang."
Suasana bergerak lagi. Kursi digeser. Orang-orang mulai bicara dengan suara yang sengaja dibuat ringan. Aroma kuah hangat dari ruang makan masuk lewat pintu samping, bercampur dengan wangi dupa tipis dari altar keluarga.
Seline baru bisa menarik napas ketika Jessica meraih pergelangan tangannya.
"Kamu pucat," bisik Jessica.
"Aku baik-baik saja."
Darren mendekat dari sisi lain. "Kak."
Satu kata itu terlalu penuh. Seline langsung menatapnya, memberi peringatan tanpa suara.
Darren menggigit bibir. "Nanti aku ambilkan minum."
Seline mengangguk kecil. "Terima kasih."
Jessica menatap mereka bergantian. "Kalian berdua aneh banget hari ini."
"Karena ramai," jawab Seline cepat.
Jessica belum terlihat percaya, tetapi Oma sudah memanggilnya dari ruang makan. Ia akhirnya pergi lebih dulu sambil tetap menoleh sekali.
Seline menunggu sampai Darren berjalan ke arah meja minum. Baru saat itu ia berani menoleh ke lukisan.
Bingkai itu sudah hampir terpasang di dinding timur. Lampion merah di dalam gambar tampak menyala di antara cahaya siang. Di bawahnya, tanda tangan Tao masih terlihat kecil, tetapi tidak lagi tersembunyi.
Seline merasa seperti melihat pintu yang pelan-pelan terbuka.
Ia hendak mengikuti Jessica ke ruang makan ketika suara Kevin terdengar dari dekat pilar.
Ia sedang bicara kepada Anton, tidak keras, tetapi cukup jelas untuk mencapai telinga Seline.
"Hubungi galeri itu lagi."
Langkah Seline berhenti.
Anton menjawab, "Untuk karya berikutnya, Pak?"
Kevin menatap lukisan di dinding timur.
"Tidak. Kali ini saya ingin bertemu Tao."