Caroline Blythe Berasal dari keluarga Broken Home dengan ibu yang harus masuk panti rehabilitasi alkohol. Hidup sebatang kara tidak punya kerjaan dan nyaris Homeless.
Suatu ketika mendapat surat wasiat dari pengacara kakeknya bahwa beliau meninggalkan warisan rumah dan tanah yg luas di pedesaan. Caroline pindah ke rumah itu dan mendapatkan bisikan bisikan misterius yang menyeramkan.
Pada akhirnya bisikan itu mengantarkan dirinya pada Rahasia kelam sang kakek semasa hidup yang mengakibatkan serentetan peristiwa menyeramkan yang dialaminya di sana. Mampukah Caroline bertahan hidup di Rumah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leona Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Julian Bancroft
Caroline’s POV
Pagi itu setelah bangun dan membersihkan diri, aku segera berangkat kerja ke toko roti milik Nenek Luisa. Meskipun badanku masih sangat lemas, karena kemarin aku tidak makan seharian, namun aku berusaha tetap bangkit dan bekerja, karena tanpa bekerja maka aku makin tergantung secara finansial pada Harry dan hidupku bisa jadi lebih berantakan.
Sesampai di Toko Roti, banyak pelanggan sudah antri di depan pintu. Sebagian besar pelancong yang baru saja datang di Ravenmoore dan sedang mencari sarapan pagi. Aku bergegas masuk, membersihkan toko dan segera membantu willy di dapur. Kepalaku berdenyut, badanku teras makin lemas.
Nenek Luisa seperti paham bahwa aku belum makan.
“Caroline, makanlah sepotong kue ini dan minum teh hangatmu dulu, baru setelah itu kau kerja lagi. Biar sementara pekerjaanmu di handle Willy.”
Tak kuasa menolak pemberian nenek luisa, kuambil piring kue itu dan teh panasnya, lalu aku ke pojok ruangan dan makan. Tak terasa air mataku meleleh, sampai kapan aku hidup macam ini. Bisa bisa ini adalah makanan pertama dan terakhirku hari ini. Aku sudah bisa membayangkan jelas aku tidak akan punya uang selain pemberian Harry untuk makan dan minum.
Setelah menyelesaikan makan, mengusap air mataku dan minum teh hangat, segera kuambil sapu dan alat pel ku dan kembali membersihkan ruang duduk pelanggan toko roti. Tiba tiba nenek Luisa memanggilku, “ Caroline, kemarilah sebentar,”
“Ya Nek, ada apa?” tanyaku
Aku melihat nenek sedang duduk dengan seorang pria yang tingginya kurang lebih 190 cm, berbadan kekar, dan berjambang. Dalam hati aku mengira dia adalah tukang tagih atau sejenisnya. Bagiku wajahnya terlihat sangar dan menakutkan.
“Duduklah di sebelahku,” Jawab nenek Luisa.
Aku pun segera duduk di sebelahnya dan sekilas melihat ke arah lelaki berjambang lebat atau yang aku sebut sebagai tukang tagih tadi.
“Kenalkan ini Dr.Julian Bancroft sepupu Willy, dia seorang antropolog sekaligus peneliti fenomena paranormal dari Edinburgh University.”
Dia mengulurkan tangannya, senyuman pria ini sungguh ramah, matanya lembut dan teduh. Irisnya berwarna biru kehijauan. Entahlah apakah karena dia seorang pria berpendidikan tinggi dengan gelar Doktor, atau karena penampilannya yang berwibawa, sehingga membuatku insecure dan merasa kecil.
“Hai, senang berkenalan denganmu,” ujar Julian
“Hallo Julian,” jawabku hampir tak terdengar.
“Dengar Caroline, Julian ini seorang peneliti rumah rumah berhantu. Dia sudah membuat banyak studi tentang hal itu. Dan dia bertanya padaku, apakah di Ravenmoore ada rumah berhantu yang bisa diteliti,” jelas nenek Luisa
Walau aku tahu arah pembicaraan Nenek luisa, tetapi aku seperti enggan untuk menawarkan rumah kakek sebagai bahan penelitian. Aku khawatir jika pria ini nanti bertemu dengan ketiga Lost soul yang ada di sana, belum lagi jika dia sampai tahu bahwa aku bercinta dengan salah satu dari ketiganya.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Tetapi rupanya nenek Luisa seperti tidak putus asa untuk mencoba berbicara denganku tentang rumah berhantu kakek.
“Eh, apakah kau tidak keberatan, jika Julian melakukan penelitian di rumah Reginald? Kau tahu bukan julukan untuk rumah itu?” tanya Nenek Luisa
Biasanya aku tidak malu dengan pertanyaan seputar keangkeran rumah tua itu, tetapi kali ini aku seperti ingin ditelan bumi. Entah mengapa, tetapi kali ini aku seperti merasa, betapa hidupku ini tidak normal, tinggal di rumah yang berhantu dan bahkan mungkin tak layak huni.
“Eh, saya..” aku ingin menjawab tapi Julian memotong perkataanku
“Aku mendengar banyak cerita tentang rumah itu, nona Caroline, aku bersedia bayar mahal untuk bisa membuat penelitian di sana. Kau juga tidak perlu khawatir, identitasmu sebagai pemilik akan tetap terjaga,” kata Julian coba meyakinkanku.
Otakku berputar, aku butuh dana untuk memperbaiki rumah itu dan juga untuk makan. Tawaran ini adalah kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan.
“Berapa lama anda akan melakukan penelitian?” tanyaku
“Aku mencoba satu bulan dulu, jika nanti aku merasa ada hal yang menarik, mungkin bisa lebih. Biasanya aku meneliti rumah bisa sampai 6 bulan,” ujarnya lagi
“Aku mengatakan pada Julian kau butuh uang untuk hidup dan nantinya memperbaiki rumah itu. Dia bersedia membayar untuk semua kebutuhan penelitian dan biaya hidupmu selama ada penelitian, karena kita tidak tahu apakah kau akan terganggu atau tidak karena penelitian itu. Tetapi yang jelas Julian akan tinggal di rumah itu dan membutuhkan kamar untuk meletakkan semua peralatannya. Jadi dia bersedia bayar 3000 pondsterling untuk bulan pertama ini,” jelas nenek Luisa.
Mendengar angka 3000 pound sterling, aku hampir menjerit dan berteriak kegirangan. Namun kutahan dan kutelan ludah untuk membungkam pekik kegirangan itu.
“Eh…saya rasa itu angka yang masuk akal. Hanya saja saya tidak mengijinkan orang lain selain anda Tuan Julian, untuk tinggal di rumah itu, selain tidak ada kamar, juga penghangat ruangan amat terbatas. Dan saya tidak bersedia menyulap ruang tamu sebagai kamar tidur.”
Julian mengangguk setuju dan dengan mata berbinar berkata padaku, “Aku selalu bekerja sendiri Nona, anda tidak perlu khawatir. Tidak akan ada orang lain yang tinggal disana selain aku dan tentunya anda sebagai pemilik rumah.”
Aku mengangguk gembira dan melihat ke arah nenek Luisa. Nenek Luisa pun memandangku sambil tersenyum.
“Oke, jika begitu, maka masalah hari selesai. Kamu bisa segera bersiap mengangkut semua peralatanmu ke Rumah Caroline. Dan kau Caroline, nanti bisa pulang lebih cepat untuk mempersiapkan kamar tidur yang kau sewakan untuk Julian. Sehingga malam ini Julian sudah bisa melakukan setting peralatan yang dibawanya.”
Aku mencuri pandang pada Julian, dan rupanya julian juga melakukan hal yang sama.
“Hemm jika kau tidak keberatan, nanti aku bisa menjemputmu, sehingga kita bisa sama sama bekerja malam ini di rumah mu,” ujar julian.
“Baik…baiklah saya setuju,” jawabku
Setelah itu aku pamit pada keduanya untuk kembali bekerja. Hatiku sangat gembira. Dalam hati aku berharap, semoga ini menjadi awal yang baik, siapa tahu ke depan banyak orang yang akan melakukan eksplorasi mistis di rumah kakek Reginald, sehingga aku bisa jadikan rumah itu sebagai destinasi wisata mistis. Sementara aku sendiri akan tinggal di rumah lain yang lebih nyaman dan layak.
******
Sore itu Julian menjemputku untuk bersama pulang ke Rumah Tua kakek. Aku tidak menyangka bahwa dia membawa Van yang sangat besar. Kupikir peralatan paranormal investigasi atau penelitian tidak sebanyak dan sekompleks yang dia bawa.
“Hai, ayo aku akan antar kau pulang,” ujar Julian.
Aku mengangguk dan sedikit ragu serta canggung masuk ke dalam Van miliknya.
“Kau bawa peralatan cukup banyak,” kataku
“Ya, aku sudah mempersiapkannya sejak lama, dan memang ini adalah peralatan standart yang akan selalu kubawa jika melakukan investigasi atau penelitian terkait fenomena Paranormalisme,” jelasnya
Aku agak ragu bertanya, tapi akhirnya aku ajukan juga,” Apakah kau tidak masalah tinggal di rumah angker itu bersamaku? Rumah itu jauh dari layak, tetapi bisa ditinggali. Ada kamar mandi dan dua kamar tidur. Aku tidak punya televisi, dan kadang sekring sering bermasalah sehingga lampu juga bisa mati sewaktu waktu,”
“Tidak masalah, aku sudah bawa genset, sehingga misal timbul kendala listrik di malam hari, aku sudah siap dan pekerjaan tidak terputus. Rumah berhantu memang rata rata bermasalah dengan kelistrikan mereka.”
Entahlah mengapa langit cepat gelap sore itu. Saat kami tiba di depan rumah, suasana sudah sangat gelap dan sedikit berangin. Aku melihat ke arah Julian ketika kutunjukkan rumah ku.
“Wow…rumah ini jauh lebih menyeramkan dari yang kuduga. Kau berani sekali tinggal disini sendirian,”
Aku tersenyum dan menjawab,” Andai kau menjadi orang miskin tanpa harapan sepertiku, kau pasti akan menganggap rumah ini hangat dan nyaman. Aku terpaksa tinggal di sini, dari pada di jalanan yang beku dan banyak kriminalitas. Penampakan rumah ini yang menakutkan justru merupakan keuntungan bagiku, karena maling, perampok atau apalah, mereka jelas enggan masuk ke mari karena takut.”
Julian tersenyum tipis memandangku seolah turut berempati atas hidupku yang kurang beruntung. Aku lalu membuka pintu pagar dan mempersilahkan mobilnya untuk parkir di dalam.
Saat Julian sibuk memarkir mobilnya, aku melihat ke arah jendela kamarku, tampak ketiga Lost Soul ( Charles, LInda dan Simon ) memperhatikan dengan seksama. Sepertinya mereka bertanya tanya dengan siapa aku pulang.
Namun aku lihat sedikit keanehan dari ketiganya, wajah mereka seperti murung dan tidak suka. Terutama Linda, dia menampilkan wujud yang sangat menakutkan, rambutnya tiba tiba menjadi panjang dan awut awutan, dengan mata merah dan taring yang keluar dari mulutnya, serta air liur yang terus menetes dan lidah terjulur. Ada apa dengan Linda? Apakah dia marah? Ataukah dia tidak suka dengan kedatangan Julian? Tapi mengapa?
*****