“Apa yang kau lakukan di sini? Kau itu masih muda! Seharusnya kau nggak boleh kayak begini,” ucapnya dengan nada tegas, meski ia tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memberikan nasihat.
Wanita itu tak merespons, hanya mendesah kuat, membuat Ali semakin khawatir. Ia menyadari bahwa pertanyaannya tidak akan menghasilkan jawaban dalam kondisi wanita itu saat ini.
Ali melihat jam tangannya sambil memeriksa denyut nadi wanita itu, yang berdetak sangat cepat. “Tahanlah sebentar! Obat itu akan hilang dengan sendirinya,” ucapnya sambil tetap memantau kondisinya.
Di dalam kamar mandi, Ali terus memeriksa tanda-tanda vital wanita tersebut, memastikan ia bisa melewati dampak buruk dari obat yang dikonsumsinya. Ia tahu situasi ini adalah ujian besar, bukan hanya sebagai dokter, tetapi juga sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch ~ {Awal yang baru}
Setelah hari-hari berat di rumah sakit, akhirnya Bunga dan Ali pulang ke rumah. Udara sore yang hangat menyambut mereka saat mobil Ali berhenti di halaman.
Bunga memandang rumah itu dengan tatapan kosong, namun di dalam hatinya ada tekad baru yang mulai tumbuh.
Pintu rumah terbuka, Oyan dan Nani tampak berlari-lari kecil mendekati Bunga.
“Nyonya! Aduh, akhirnya pulang juga,” seru Nani penuh kekhawatiran. “Gimana keadaan Nyonya sekarang? Ya ampun, kenapa bisa kepikiran buat—” kalimatnya terputus saat Nani menggigit bibir, tampaknya ragu melanjutkan.
Bunga hanya tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. “Aku baik-baik aja Bi. Maaf ya buat kalian khawatir.”
Oyan menunduk sedikit nada suaranya penuh perhatian. “Nyonya, kami semua disini cemas banget. Jangan pernah ulangi lagi ya. Kami semua sayang sama Nyonya.”
Bunga memaksakan senyum. “Iya, aku ngerti Bi. Terima kasih ya.”
Namun, di tengah perhatian yang diberikan Oyan dan Nani, tatapan Bunga tak sengaja teralihkan ke sudut ruangan.
Ida dan Sahrini, dua pembantu lain yang selama ini sering menunjukkan sikap dingin padanya, berdiri memandang dari kejauhan. Wajah mereka datar, bahkan sedikit sinis. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum.
Bunga menangkap tatapan itu, dan bukannya merasa tertekan, ia justru merasa garis bibirnya meninggi. Ada sesuatu dalam dirinya yang berubah sejak peristiwa itu. Ia tahu ia tidak bisa terus menjadi lemah.
Dalam hatinya, ia bertekad. Siapa yang jahat padanya, akan ia balas dengan setimpal. Siapa yang baik, akan ia perhitungkan dengan hati-hati.
Ali yang berdiri di samping Bunga, membuat Bunga menoleh. Tatapan pria itu tenang, penuh perhatian, dan Bunga tahu Ali adalah satu-satunya orang yang paling tulus mendukungnya.
Bunga menarik napas dalam-dalam. Dia tidak akan menyia-nyiakan kebaikan pria itu. Jika ada yang pantas dibalas dengan kebaikan, Ali adalah orangnya.
“Nyonya sudah makan belum?” tanya Nani tiba-tiba memecah keheningan.
“Belum Bi. Aku belum lapar,” jawab Bunga singkat.
“Nggak boleh gitu Nyonya. Kesehatan itu yang paling penting,” sahut Oyan cepat.
Bunga mengangguk pelan. “Iya, nanti aku makan.”
Sementara itu, Ida dan Sahrini saling melirik dari kejauhan, lalu mulai berbisik-bisik. Namun, Bunga tidak lagi peduli. Baginya, mereka hanyalah rintangan kecil yang suatu saat akan diatasi dengan cara yang sudah ada di benaknya.
Dengan langkah pelan, ia mengikuti Ali masuk ke dalam rumah, meninggalkan para pembantu di belakangnya. Ini bukan sekadar pulang. Ini awal dari sesuatu yang baru.
Ali dan Bunga menaiki tangga menuju lantai atas. Suasana rumah yang hening membuat setiap langkah mereka terdengar jelas. Bunga sedikit ragu ketika Ali membuka pintu kamar di samping kamar Bunga.
“Mulai malam ini, Kau tidur di sini sama aku,” ucap Ali santai tapi nadanya serius.
Bunga terkejut. “Tunggu Om. Maksudnya aku tidur di sini? Sama Om?”
Ali menoleh menatap gadis itu dengan ekspresi datar namun tegas. “Iya. Aku nggak mau ada kejadian aneh lagi. Aku bakal perhatikan Kau, jadi jangan protes.”
Bunga terdiam. Kata-kata Ali begitu lugas, tapi ia tahu itu penuh perhatian. Tidak ada nada menggoda atau maksud lain. Hanya kepedulian tulus yang membuat Bunga tak bisa membantah.
Ali membuka pintu kamar, mengisyaratkan Bunga untuk masuk. Ketika langkah gadis itu memasuki ruangan, matanya membesar.
Kamar Ali jauh lebih luas dari pada yang pernah ia bayangkan. Interiornya modern dengan nuansa abu-abu dan putih, memberikan kesan bersih dan elegan.
Sebuah sofa empuk berada di sudut, sementara tempat tidur king size terlihat begitu nyaman dengan sprei putih rapi.
Bunga menghirup aroma ruangan itu. Parfum yang biasa digunakan Ali tercium di seluruh ruangan, memberikan kesan tenang dan hangat. Ia tidak bisa menahan diri untuk memikirkan.
‘Parfum ini bikin aku pengen pakai juga suatu saat nanti.’
“Kenapa bengong?” tanya Ali sambil menutup pintu.
Bunga segera tersadar dari lamunannya. “Om kenapa segini perhatiannya sama aku?” tanyanya pelan.
Ali menarik napas panjang. “Karena aku tau Kau punya potensi besar Bun. Aku nggak mau Kau sia-siakan hidupmu cuma karena dendam atau rasa sakit. Besok Kau ada ujian nasional online kan? Malam ini Kau belajar. Aku bakal bantu kalau Kau kesulitan.”
Bunga menunduk. Ia tidak menyangka Ali benar-benar memikirkan masa depannya sejauh itu. Hatinya terasa hangat, tapi disisi lain ada keraguan yang terus menghantui.
“Om yakin? Aku ini nggak layak buat diperhatiin kayak begini Om,” gumam Bunga dengan suara hampir berbisik.
Ali menatap Bunga serius. “Denger ya Bun. Jangan pernah ngerendahin dirimu sendiri. Aku nggak peduli masa lalumu kayak gimana. Yang penting sekarang, Kau harus fokus ke depan. Sukses itu nggak bisa nunggu. Kau harus mulai sekarang.”
Bunga hanya bisa mengangguk. Kata-kata Ali begitu tegas, tapi penuh dorongan.
Ali berdiri dan membuka pintu kecil di sudut kamar. “Oh iya, ini ruang baju kita,” ucapnya sambil melangkah masuk.
Bunga mengikuti dan matanya kembali melebar. Ruangan itu seperti butik pribadi dengan deretan pakaian tersusun rapi di rak dan gantungan. Sepatu-sepatu Ali dan dirinya berjejer rapi di rak bawah, sementara beberapa jas terlihat tergantung di sudut.
“Om…” Bunga hampir tidak bisa berkata-kata. “Om ini benar-benar sempurna. Semua rapi, teratur, kayak hidupnya nggak pernah berantakan.”
Ali tertawa kecil. “Jangan terkejut. Ini cuma tempat buat nyimpen baju. Ayo, lihat-lihat kalau mau.”
Bunga berdiri mematung. Dalam hati, ia merasa semakin kecil di hadapan sosok Ali yang begitu sempurna. ‘Dia pantas dapat wanita yang juga sempurna. Bukan aku.’
Saat kembali ke kamar, Bunga menatap punggung Ali yang memainkan ponselnya. Entah kenapa pikiran tentang masa depan mereka muncul di benaknya.
‘Kalau suatu saat kami bercerai, apa om Ali bakal nemuin wanita lain yang lebih baik?’
Hati Bunga terasa sesak, tapi ia segera menepis pikiran itu. ‘Aku nggak boleh egois. Aku cuma penghalang dalam hidupnya. Kalau nanti om Ali menemukan wanita lain, aku harus rela. Aku cuma sementara.’
Bunga menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir keluar. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Ali.
“Bun,” panggil Ali tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
“Ya Om?” jawab Bunga berusaha terdengar biasa saja.
Ali menatap Bunga dengan senyuman kecil. “Kalau ada apa-apa bilang aja ke aku. Jangan pendam sendiri.”
Bunga mengangguk pelan. ‘Aku nggak akan menyerah Om. Aku akan bayar semua kebaikan Om. Tapi aku juga nggak akan lupa dengan dendamku. Semua ini, aku lakukan untuk bertahan.'
“Kau istirahat dulu sebelum makan siang.”
Bunga mengangguk kecil, tapi matanya tertuju ke tempat tidur besar itu. Sprei putihnya terlihat begitu bersih dan rapi, seolah tidak pernah disentuh. “Aku tidur di sini Om?” tanyanya ragu.
Ali mengangkat alis. “Ya di mana lagi? Masa di lantai?”
“Tapi ini,” Bunga menggigit bibir bawahnya. “Tempat tidurnya terlalu rapi. Aku takut ngerusak semuanya. Kayaknya sayang banget kalau dipakek.”
Ali terkekeh pelan mendekati. “Bun, jangan lebay. Ini tempat tidur, bukan pajangan. Fungsinya buat tidur, jadi pakek aja. Santai.”
Bunga masih berdiri mematung, tampak berat hati untuk merebahkan dirinya.
Ali mendesah sambil menggeleng pelan. “Gini, kamar ini kamarmu juga. Kau boleh ngelakuin apa aja di sini. Mau tidur, mau belajar, atau sekadar duduk-duduk, terserah. Aku nggak bakal protes.”
Bunga menatap Ali dengan ekspresi bingung. “Om serius?”
“Serius. Sekarang rebahan dulu,” perintah Ali tegas tapi ada senyum di wajahnya.
Akhirnya Bunga menuruti. Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur, merasakan empuknya kasur itu di bawah tangannya. Dengan ragu, ia merebahkan tubuhnya. Begitu punggungnya menyentuh kasur, rasa nyaman langsung menyelimutinya. Namun, rasa bersalah juga muncul.
‘Ini terlalu mewah buatku.’
“Aku mandi dulu. Kau istirahat aja. Jangan mikirin hal aneh-aneh,” ucap Ali sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Bunga menatap pintu kamar mandi yang tertutup, lalu kembali memandang langit-langit kamar. Hatinya terasa hangat, tapi juga berat. ‘Om Ali kenapa selalu sebaik ini padaku?’
Bunga mengepalkan tangan di atas dada mencoba mengendalikan perasaan yang mulai bercampur aduk. ‘Aku nggak boleh mengecewakan om Ali. Dia sudah banyak berkorban untukku. Aku harus jadi orang sukses. Aku harus buat dia bangga.’
Tekad itu semakin kuat di hatinya. Bunga tahu perjalanan ini tidak akan mudah, tapi ia tidak akan menyerah. Untuk dirinya sendiri, untuk masa depannya, dan untuk membalas semua kebaikan Ali.
Namun, di sudut hatinya, ada rasa takut yang terus menghantui. ‘Apa aku cukup layak untuk tetap berada di sampingnya? Apa suatu saat aku akan kehilangan semua ini?’
Bunga menarik napas panjang mencoba mengusir pikiran-pikiran itu. ‘Yang penting sekarang aku harus fokus. Satu langkah demi satu langkah. Aku nggak boleh menyerah.’
Ia memejamkan matanya, membiarkan kehangatan tempat tidur itu membantunya rileks. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bunga merasa sedikit tenang.
kutunggu judul baru