Alika Islamadina. Perempuan 34 Tahun. Memiliki Suami bernama Kevin Aprilio. Keduanya baru saja dikaruniai seorang putra setelah 7 tahun menunggu. Lika-liku pernikahan yang dijalani Alika menjadi seorang Istri bagi Kevin tidaklah mudah.
"Mas, Aku harus jawab apa?" Alika memberikan ponselnya dan memperlihatkan chat salah seorang kerabat Mereka.
Sambil mengambil ponsel Alika dengan tatapan memicing Kevin membaca pesan yang tertulis disana "Udah Aku jawab!" setelah mengetikan sesuatu di pesan yang disodorkan Alika Kevin mengembalikan ponsel milik Alika.
"Mas, kok Kamu jawabnya begitu. Nanti apa tidak akan jadi salah paham. Aku sudah sering jelaskan kalau kerabat Kamu sering menyudutkan Aku, seolah karena Aku Kalian jarang hadir." kedua netra Alika mulai berkaca-kaca terbayang bagaimana selama 8 tahun pernikahan Mereka keluarga besar Kevin sering menyudutkan Alika.
"Ngaklah! Kamu aja yang terlalu baper!"
Begitulah Kevin jika Alika mengatakan kebenaran mengenai perilaku Keluarga besarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pradana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cekcok
Tanpa mengucap salam, Kevin sampai rumah masuk dengan wajah ditekuk meski tetap menerima salim Alika sambil menatap tajam pada sang Istri.
"Mas ga kedengeran salamnya." setelah salim Alika menerima tas kerja Kevin untuk ia simpan dan mengambil air minum untuk sang Suami.
"Kamu ngomong apa sama Mama?" setelah meneguk air hingga tandas pemberian Alika sorot mata tajam Kevin mengarah pada Alika.
"Aku? Emang Aku ngomong apa? Kayaknya tadi pas Mama datang Aku ga bilang apa-apa." Alika mengingat saat sang Ibu Mertua tadi siang datang kerumahnya.
"Kenapa sih Kamu ga bisa sebentar aja akur sama Mamaku? Kamu seharusnya tahu dan paham dong Lika. Jangam selalu jawab kalau Mama lagi nhomong atau nasehatin Kamu. Aku tih pusing setiap hari denger Kalian berdua ribut ga pernah akur!"
Kevin beranjak dari kursi kini ia mencari handuk.
Alika meski terpancing emosi masih melayani Kevin memberikan handuk kepada Kevin.
Tanpa kata terima kasih, Kevin menerima handuk pemberian Alika dan melanjutkan omelannya.
"Aku ga pernah berniat melawan sama Mama Kamu Mas. Oh, Aku ngerti, pasti karena tadi siang?"
"Nah itu! Bagus Kamu sadar!"
"Bukan begitu Mas. Justru Mama Kamu yang selalu saja nyalahin Aku. Selalu bilang Aku boros ga bisa ngatur uang Kamu. Padahal Mas tahu sendiri Aku bagaimana. Aku Ga terima Mas Mama Kamu nyalahin Aku terus."
Sesabar-sabarnya manusia jika terus disudutkan dan lelah pasti akan terpancing juga emosinya. Begitupun Alika.
Lelah dan letih serta memiliki Ibu Mertua yang lisan dan sikapnya luar biasa unik bin ngeselin membuat Alika yang biasanya mampu bersabar kali ini dibuat gerah atas tuduhan Kevin, Suaminya.
"Bisa ga sih Kamu sekali aja, ngalah sama Mamaku? Lagian dia ngomong begitu kan buat kebaikan Kita juga. Kamu kenapa sih Lika, selalu anggap setiap kata-kata Mamaku itu jahat sama Kamu. Mamaku kayak ga oernah benar dimatamu."
"Mas, kurang ngerti apa Aku selama ini menghadapi Mama Kamu? Mas, apa Aku pernah, selama menikah denganmu pernaj membantah Kamu, Bagaimanapun sikap Mama Kamu kepadaku, Aku tidak pernah ceritakan kepada siapapun, bahkan kepada kedua orang tuaku sendiri. Tapi, jangan dikira karena Aki diam selama ini, Mamamu bisa seenaknya saja. Aku capek Mas selalu disalahkan atas apapun. Seolah Aku menantu yang tak pernah dianggap oleh Mamamu." tumpah semua unek-unek di dalam hari Alika.
Selama ini Alika memilih diam. Tak membalas ataupun mengadu bahkan kepada orang tuanya sekalipun bagaimana sang Ibu Mertua memperlakukannya.
Bagi Alika, apapun yanh sudah menjadi urusan rumah tangganya biarlah ia telan sendiri, baik enak maupun pahit.
Tapi, semakin lama, Alika makin tidak tahan dengan sikap dan lisan sang Ibu Mertua yang semakin seenaknya saja memperlakukan Alika yang notabene menantunya.
Brakkk!
Kevin membanting pintu kamar mandi saat ia masuk.
Alika memejamkan matanya. Menahan gemuruh kekesalan atas sikap Kevin yang kembali seperti semula.
"Aku pikir Kamu sudah berubah Mas, kemarin 2 Hari Kamu begitu manis dan perhatian pada Aku dan Adam. Tapi sekarang Kamu begitu lagi. Aku lelah Mas." Alika berkata lirih, pilu hatinya mengingat semua yang terjadi.
Alika menyeret langkahnya menuju kamar Adam.
Wajah polos dan tentram Adam saat tertidur membuat Alika mengatup bibirnya menahan isak tangis.
Jika bukan karena Adam, Alika sungguh ingin pergi meninggalkan ini semua.
"Mama harus apa Sayang?" Alika mengusap lembut surai lebat Adam sambil menahan isak tangisnya agar tak membangunkan Adam.
kumpulin uang biar bsa pisah ma kevin