Deminya ia rela mempertaruhkan nyawa. Pengabdian dan sumpah setia selalu menjadi prinsip di atas segalanya. Namun ketika pengabdian dan sumpah setia itu diuji dengan penghianatan, akankah ia berpaling dari janjinya?
"Kami mengabdi tanpa menghitung untung, berjuang di atas harapan sang bumi pertiwi, di seluruh penjuru langit khatulistiwa kami mengudara, mengumandangkan sumpah setia pada negri."
Bersama gadis pujaan hati, kisah Lettu Pratama Adiyudha mengudara melintasi cakrawala bumi pertiwi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Mahasiswa versus aparat part 4
Massa sudah perlahan surut membubarkan diri, menyisakan area bekas yang berserakan oleh sampah. Belum lagi fasilitas umum dan pepohonan kota yang rusak karenanya, memang benar yang Clemira katakan, selain kurang efektif, demo begini hanya meninggalkan kesan negatif.
Prasasti ikut mengekor berjalan bersama Tama dan aparat lain, ia berjalan cepat hampir lupa jika di pos masih ada Clemira yang ia suruh tunggu.
"Kamu ngga kira-kira, Tam. Pacarmu disuruh nunggu di pos jaga? Ck...ck...ck, dia ngadu sama bapaknya auto di kill kamu, Tam."
Benar juga, ia memang keterlaluan. Tama melirik jam tangannya yang menunjuk waktu menuju sore. Ia bergegas mempercepat langkahnya.
Rasa khawatir, tak enak hati dan kasihan sudah memenuhi rongga dada.
"Pacar saya masih disini? Aman tah?" ia bertanya dengan nada khawatir.
"Siap, masih bang. Di dalam..." untung saja rekannya itu amanah, dititipin bidadari jadi pada minggat keluar, gelar basecamp di luar pos.
Tama melongokan kepalanya ke dalam, bersiap merangkai kata maaf, namun apa yang ia dapati...gadisnya sedang tertunduk melipat tangan dan menaruh kepalanya berbantalkan lipatan tangan dengan mata terpejam, berantem di atas podium rupanya bikin capek.
"Ambyar," Pras tertawa renyah saat menyusul Tama dan mendapati gadis itu tertidur, bisa-bisanya....orang-orang pada rusuh dia justru bobo dewe'an. Mungkin bagi Clemira, situasi begini sudah tak asing lagi bagi kuping, mata dan hatinya. So doi santuy aja....
"Ajak mulih, Tam. Kasian anak perwira begitu kamu dzolimi...bapaknya tau matamu kena culek." ucap Pras masih menyisakan tawa gelinya, amboyyy! Senangnya liat orang pules....
"Ta ashar dulu, Pras. Biar baliknya lancar jaya." kata Tama mengundang tawa Pras kembali. Tama menutup kembali pintu pos dan menyerbu masjid terdekat, setelah sebelumnya menitipkan kembali Clemira.
Gadis itu bersidekap dengan membuang mukanya ke samping sementara di hadapannya cowok dengan wajah yang lebih segar karena bilasan wudhu tengah duduk membujuknya.
Lihatlah mata juteknya, begitu kontras dengan anak rambut yang sedikit berantakan, Tama mengehkeh gemas, "iler kamu masih nyisa tuh, yok balik."
Clemira hanya menyeka area bibirnya takut jika itu benar, turun kadar kecantikannya, "mana ada! Seingetku, aku ngga pernah ngiler kalo tidur."
Tama menahan kedutan di bibirnya, orang tidur mana inget!
Mata Tama beberapa kali memandang ke luar saat satu persatu kawannya berpamitan pulang.
"*Yok, monggo duluan*!"
"Jadi mau nginep disini?" tanya Tama kembali pada si cantik nakal, "kalo mas sih, ayok aja berduaan sama cewek cantik..." bujuknya setengah menggombali seperti yang sering Clemira lakukan.
"Kebangetan ih..." omelnya menggerutu dengan mata sinis yang mendelik, "dibilangin Cle lapar, malah ditinggal setengah hari gini. Terus nanti kalo sampe hubungan berlanjut sampe rumah tangga, Cle ngga akan dikasih makan kalo mas nugas?! Nunggu mas selesai nugas gitu makannya?!"
Tama terkekeh menggelengkan kepalanya, "ya engga lah. Mikirmu kejauhan, dek. Yo wes, ayok mangan! Mas traktir di warteg."
Kini ia baru mau melihat Tama setelah mendengar kata warteg, meskipun sorot matanya masih jutek, "tapi aku mau makan pake gepuk."
"Kuy! Mau berapa pun kamu mau, ta jabanin..." jawab Tama semangat, biarlah dompet boncos yang penting urusan hati aman.
Clemira ikut berdiri dari duduknya setengah menguap dan menggeliat saking pegalnya ia karena terlalu lama duduk, "gendong!" pintanya.
"Ya?" Tama yang sempat meraih helmnya kini membeo.
"Gendong aku. Dari sini ke jalan gede jauh...truk reo keburu pergi ngangkut yang lain, salah sendiri kelamaan bujuk akunya!" tak habis-habisnya Clemira mengomeli Tama.
Tanpa mendebat, jiwanya sudah lelah duluan, menghadapi si gadis nakal ini. Akhirnya Tama berjongkok dan melapangkan kesabaran, biar urusan cepat selesai.
"Kamu pake helm mas," kini Tama memasangkan helm miliknya di kepala Cle lalu menepuknya sekali membuat gadis ini seketika mengaduh mengerucutkan bibirnya.
"Ih," pelototnya, Clemira menyampirkan rambutnya ke belakang terlebih dahulu lalu naik ke punggung Tama. Sedikit oleng, Tama akhirnya bisa berdiri dan berjalan sembari menggendong anak Rayyan, berjalan dari arah pos aparat yang berada cukup jauh dari jalan utama.
Sampah bekas kain bernada sumbang pembebasan dan beberapa plastik sampah berceceran dimana-mana, manusia emang doyan kalo disuruh ngotorin.
Sepanjang cuaca yang masih terasa hangat disertai angin sore yang mulai menyapu sisa hawa panas siang tadi, keduanya menyusuri jalanan bekas tempat kejadian perkara.
Sesekali pandangan keduanya kompak menatap langkah sepatu delta Tama yang menginjak tanah beraspal nan bersampah.
"Gara-gara ditarik mas tadi, aku jadi ngga sempet ikutan nyanyi...padahal suara aku bagus loh, maunya jadi orator sambil nyanyi tadi..." keluhnya mengomel.
"Apa artinya ikutan demo tanpa ikutan nyanyi mars pembebasan, berasa makan nasi tanpa lauk..." lanjutnya.
Bahunya sempat bergetar karena kekehan sumbang, "jadi kamu ikutan demo tuh karena mau pamer suara?" tanya Tama, badass!
"Ya iyalah, mau ngapain lagi emangnya. Kecuali emang mau ketemu mas Tama." akuinya ngotot. Tama terdiam sejenak memberikan hentakan yang menaikan posisi Clemira karena ia merasa gadis ini sedikit merosot, ditambah tangannya cukup dibuat pegal.
"Ya udah, nyanyi aja mumpung masih disini..." ujar Tama, gitu aja repot.
"Ya ngga bisa lah, mas. Yang lain udah pada pulang. Udah ngga berasa euforianya."
"Coba aja. Masih ada aparat kan disini...setidaknya masih meninggalkan rasa excitednya dong. Lebih baik terlambat, daripada engga sama sekali."
Clemira mengangguk membenarkan, tapi pasalnya ia tak hafal lagu itu, "tapi aku ngga hafal mas, semalem udah ngafalin tapi lupa-lupa dikit." kekehnya.
"*Buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota, bersatu padu rebut demokrasi. Gegap gempita dalam satu suara, demi tugas suci yang mulia, hari-hari esok adalah milik kita, terciptanya masyarakat sejahtera, terbentuknya tatanan masyarakat. Indo.....baru tanpa orba*...." lirih Tama mengambil suara dalam lirik bermakna itu.
Clemira lantas mengikuti, hingga akhirnya keduanya bernyanyi bersama, "*marilah kawan, mari kita kabarkan. Di tangan kita tergenggam arah bangsa, marilah kawan mari kita nyanyikan sebuah lagu tentang pembebasan*."
Keduanya tertawa renyah sejenak namun kemudian meneruskan lirik itu, "*di bawah kuasa tirani kususuri garis jalan ini, berjuta kali turun aksi, bagiku satu langkah pasti*..."
"Psyuttthhhh!" kemudian Tama menirukan peluncuran gas air mata. Clemira tergelak di atas punggung Tama.
"Cukup kali ini aja kamu ikut-ikut beginian. Sudah tau kan, bagaimana resikonya? Jangan lagi---kamu tau gimana perasaan mas tadi?" ucap Tama mengeluarkan isi hatinya. Clemira tersenyum hangat disana meski pria yang menggendongnya itu tak tau.
"Iya. Maafin aku ya," balas Clemira, "mas fasih banget nyanyi lagu begituan...."
Rayyan menatap putrinya sengit yang kini sudah mirip kresek bekas ikan asin, ya lecek, ya bau.
"Dari lubuk hati yang paling dalam, kakak minta maaf, bi...mi..." ujarnya begitu puitis, kini ia duduk di atas kursi dengan rapat, sementara Tama menggeleng di sampingnya.
"Udah pinter bohong sekarang, ya..." ucap Rayyan galak.
"Kalo Tama ngga nemuin kamu disana, mau gimana?!" kini Eyi yang bersuara, tak mengerti dengan apa yang ada di otak Clemira, bagaimana kalo dia dilukai disana tadi siang.
"Iya mi. Cle salah..." akuinya.
"Kalo tau salah berarti tau juga apa resikonya." Jawab Rayyan, ia memang memanjakan Clemira, tapi jika anak gadisnya melakukan kesalahan hukuman tetaplah berlaku untuknya.
"Tau." Angguk Cle.
"Nah, ya udah...nunggu apa lagi? Dua set, durasi 30 detik."
Eyi menoleh pada suaminya, sebenarnya ia kurang setuju jika Rayyan memberikan hukuman fisik begini, tapi mau bagaimana lagi...Rayyan memanglah begitu dan putra putrinya tau itu.
Clemira melirik Tama yang mengangguk seolah memberikan kesetujuannya untuk menerima hukuman abi Ray.
Clemira menghela nafas membuka tasnya dan melengos ke dalam kamar, "aku ganti baju dulu."
"Apa-apaan anak itu," dengus Rayyan tak habis pikir, ia pun segera ke dalam untuk bersiap mendampingi Clemira ke kolam puslatpur.
"Makasih Tama, gimana tadi pas demo? Rusuh?" Eyi membuka obrolan dengan Tama disana sembari menunggu sepasang ayah dan anak itu keluar.
"Engga bu. Aman, masih terkendali." Jawab Tama.
Rayyan sudah keluar dengan memakai kaos dan celana loreng miliknya bersiap memberikan pelajaran untuk putrinya, seperti biasa.
Namun saat terdengar suara langkah menuruni tangga, ketiganya terkejut bukan main.
"Astagfirullah!"
"Kamu apa-apaan?!!"
Tama hampir tak bisa menahan bibirnya untuk tak meledakan tawa melihat kostum Clemira.
"Jam segini tuh kolam puslatpur suka ada taruna yang latihan kebugaran, bi. Kalo aku pake kaos pendek, celana pendek atau baju renang nanti aurat aku keliatan! Sedekah aurat dong jadinya!" ocehnya mendebat.
"Yang bener aja kakak! Masa iya berendem pake mukena!" sewot Eyi, tak dapat menyembunyikan wajah gelinya.
Rayyan menepuk-nepuk jidatnya, kadang ia pun tak percaya jika karma kenakalan dan keusilannya dulu dibalas habis-habisan oleh putra putrinya sekarang.
.
.
.
.
.
cerita yang sangat 👍
Air sulit jalan masih sulit dll fll dll setba sulit