NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Anak Yatim Piatu / Kaya Raya / Keluarga / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Renko

✏ Season 1: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Ainsley)

Ainsley terpaksa menjalani pernikahan wasiat, menikah dengan suami kakaknya sendiri. Dia yang tidak tau penyebab kematian kakaknya harus bekerja sama dengan sang suami untuk mengusut kematian. Bisakah mereka menemukan pelaku di balik rencana pembunuhan? Lalu, bagaimana akhir dari kisah pernikahan wasiat?


✏ Season 2: Pernikahan Yang Tak Diinginkan (Gavin)

Kisah cinta pertama Gavin harus kandas ketika dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Beberapa tahun setelah itu mereka bertemu lagi dan membuat harapan muncul untuk kembali bersama. Sayangnya pengganggu kecil muncul di tengah itu semua, wanita dengan segudang kecerobohan. Pada siapa hati Gavin akan berlabuh?

___

Semoga novel ini satu selera denganmu 😊

Cek istagram @justrenko untuk informasi novel lainnya~


Terima kasih atas support readers dan NovelToon/MangaToon terhadap novel ini 💛

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah Penyesalan

Pagi itu udara sangat dingin menusuk sampai ke tulang. Lewis mengucek kedua mata dan memperhatikan sekeliling. Begitu senyap di pagi yang sudah sedikit terang itu. Selimut yang berasal entah darimana disibak. Matanya masih enggan untuk menikmati pagi.

Saat Lewis menguap tiba-tiba saja kepalanya disentuh menjalar sampai ke mulut. Lewis terpaku dan berbagai pikiran aneh menyusupinya. Apa tempat yang jarang dipakai itu kini sudah ditinggali oleh makhluk halus, pertanyaan itu sudah mencapai titik kekhawatiran. Lewis ingin berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat itu.

Lewis memberanikan diri memutar kepala. Setelah itu baru lah Lewis bisa bernapas lega setelah melihat siapa makhluk halus yang dianggapnya. Tawa Lexa meledak seiring napas yang menghela. Mata yang sudah melebar sempurna tidak lagi merasa kantuk.

Lewis memarahi Lexa lantaran sudah membuatnya kesal sebanyak 2 kali. Pertama saat berusaha lari dari wartawan dan kedua hari ini, Lexa bertindak sebagai makhluk halus. Siapa yang tidak kesal jika diusili berturut-turut.

"Haruskah aku menebusnya?"

Lexa menyentuh bagian sofa sambil berlalu mendekati Lewis. Mendaratkan pantatnya duduk di sofa yang sama. Dalam keadaan Lewis masih duduk, Lexa semakin mendekati hingga kepala Lewis rebah kembali. Lewis bagaikan lawan yang sudah tersudutkan oleh musuh. Sangat kaku dan tidak bergerak sama sekali, bahkan napasnya tertahan.

Drrt.. Drrt..

"A-aku harus melihat ponsel dan aku tidak bisa melihatnya dalam posisi seperti ini." terbata-bata.

Lexa tidak mendengarkan. Telunjuknya bergerak menyentuh permukaan wajah Lewis dari kening hingga bibir, lalu mengalir ke bawah dagu. Lexa menaikkan dagu itu sedikit. Sudah seperti itu seharusnya Lexa mengambil kesempatan, tetapi niatnya urung setelah melihat ekspresi Lewis yang begitu tegang menghadapinya.

Napas yang tertahan menemui oksigennya kembali. Lewis yang sudah dibebaskan langsung menjauh dari Lexa. Ponsel yang tadi bergetar diraih Lewis. Ada pesan dari seseorang yang bernama loveley, nama kontak Ainsley di ponselnya.

Lewis yang senyum-senyum sendiri melihat ponsel mengurungkan niat Lexa untuk melangkah lebih jauh. Kesadaran sudah dipermainkan oleh hati. Lexa sudah membuat Lewis merasa tidak nyaman. Tidak tau apa yang dipikirkan Lewis mengenai dirinya nanti.

***

Tokoh utama dari topik pembicaraan memang seharusnya tidak muncul di saat sekarang. Meski Lewis sudah melarang Ainsley beberapa hari ini lantaran restoran sangat ramai oleh wartawan, namun kali ini Ainsley berhasil membujuk Lewis. Ainsley harus sibuk untuk melupakan Zack.

"Kau akan pergi kemana?" memperhatikan penampilan Ainsley dari atas sampai ke bawah.

"Aku akan pergi bekerja."

"Dengan tampilan seperti itu? Biarkan Robin mengantarkanmu. Ada banyak orang yang sudah mengenalimu. Kau akan kesulitan nanti."

Sudah bersedia memakai pakaian olahraga sekolahnya, Ainsley tidak ingin usahanya berjalan sia-sia. Topi yang sedaritadi berada di dalam tas dikeluarkan beserta masker untuk menutup mulut. Semua persiapan itu sudah matang sejak tadi malam.

"Untuk itu aku sudah menyediakan ini. Tidak akan ada yang mengenaliku. Kau tidak perlu menyuruh Robin untuk mengantarkanku."

Zack tidak bisa mendengar jelas apa yang Ainsley katakan. Selain dirinya yang berada jauh jaraknya, masker juga menghalangi mereka. Zack melangkah maju mendekati Ainsley untuk memutus ketidakpahamannya.

Ainsley yang melihat Zack berjalan ke arahnya membuat dirinya sadar jika pakaian yang dikenakan Zack sekarang adalah pakaian kantor. Ainsley bertanya apakah kondisi Zack sudah benar-benar pulih. Padahal kemarin saat diperiksa, suhu tubuh Zack masih panas.

Jarak yang semakin lama semakin mendekat membuat Ainsley tidak bisa berkutik. Setelah kemarin mereka menyelesaikan persoalan hati dan Ainsley ditolak, Zack sebaliknya mendekatinya. Sungguh tidak masuk akal bagi Ainsley.

Dibawah topi yang menghalangi pandangan, Ainsley memicingkan mata dan menggenggam erat tali tasnya. Tidak tau apa yang dipikirkan Zack sekarang. Apalagi kini wajahnya disentuh dan maskernya dibuka.

Tidak mungkin pria tua akan menciumku, bukan?

"Aku tidak mendengar jelas ucapanmu karena masker ini."

"Ah, aku akan pergi." memasang kembali maskernya dan berlalu begitu saja.

Ainsley menampar wajahnya sendiri. Menyadarkan diri bahwa apa yang terjadi barusan hanyalah khayalan semata. Tidak mungkin jika Zack akan menciumnya, karena hanya dirinya lah yang berharap pada Zack. Jika terus begini Ainsley akan gila bertemu dengan Zack setiap hari.

Setibanya di restoran, Ainsley tercengang melihat kaum wanita sudah memenuhi restoran. Banyak dari mereka memperhatikan Lewis dari jauh. Bahkan ada yang sengaja menyuruh pegawai memanggil Lewis untuk sekedar meminta nomor. Mereka berhasil membuat Lewis menjadi orang yang sangat sibuk 3 kali lipat dari biasanya.

"Restoran kita punya banyak pegawai, tetapi hanya Lewis yang sangat sibuk." ujar Lexa.

Juni yang juga bekerja hari itu setuju dan menambah perkataan Lexa dengan mengatakan berkat ketampanan Lewis penjualan semakin meningkat. Sedangkan Ainsley hanya bisa mengikuti tawa mereka. Padahal dibalik itu Ainsley merasa bersalah.

Cerita Lewis yang mengatakan jika ingin melihat senyuman tulus saat orang memakan masakannya berubah kini. Mereka tersenyum hanya saat melihat ketampanan Lewis. Sungguh berbeda dari apa yang Lewis harapkan.

Hingga semakin malam Lewis baru menyelesaikan tamu terakhir. Secepat mungkin tanda di pintu dibalikkan agar tidak ada lagi orang yang masuk ke dalam restoran. Lampu pun dimatikan dan hanya lampu belakang tersisa.

"Ainsley? Kau masih belum pulang?" terkejut saat tidak sengaja menemukan Ainsley duduk di ruang pegawai.

Ainsley sengaja menunggu Lewis untuk membicarakan hal yang menyangkut di hatinya. Kesibukan Lewis hari ini sudah membuat dirinya menyesal. Kalau saja hari itu dirinya tidak ikut campur dalam hubungan Zack dan Stella, mungkin Lewis tidak akan kesulitan.

"Maafkan aku, karena kejadian kemarin keadaan restoran jadi seperti ini."

"Seperti apa? Kau membuat penjualan semakin meningkat. Aku berterima kasih padamu. Berkatmu aku tidak melihat senyuman mereka saat menikmati makanan."

Lewis yang hanya berniat bercanda jadi kelabakan saat suara tangis terdengar dari wajah yang menunduk itu. Lewis menenangkan Ainsley agar tidak menangis lagi dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja seiring berita yang memudar.

Hari sudah semakin malam dan mereka pun memutuskan keluar dari restoran. Sebelum pulang Lewis dan Ainsley menutup restoran terlebih dahulu. Setelah itu sekali lagi Ainsley meminta maaf atas kejadian kemarin. Lewis terbahak harus berkali-kali mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda tadi.

Tin tin..

Mobil yang sudah sedaritadi menunggu di depan restoran, tidak tahan lagi dengan penantian. Apalagi menunggu 2 orang yang sedang bermesraan. Malam itu sudah jam 10 dan Ainsley masih belum pulang, sehingga Zack harus menjemput langsung agar Ainsley tidak lagi membuat berita aneh lainnya.

Kedatangan Robin membuat Ainsley harus segera berpamitan. Ainsley bergegas menuju mobil setelah itu dan tidak diduga sebelumnya, Zack juga ada di dalam mobil. Ainsley menutup pintu kembali dan membuka pintu lainnya lantaran Zack sudah duduk di bangku yang akan ditempati tadinya.

Selama perjalanan suasana begitu senyap tidak ada yang membuka suara. Ainsley juga tidak tau harus berkata apa, karena dirinya seakan berada dalam situasi di mana seorang istri sudah ketahuan selingkuh oleh suaminya. Bersama pria lain berdua di malam hari.

Sesampainya di Casa Felise, kini tinggal mereka berdua saja. Mereka masuk ke dalam lift. Ainsley menatap kemana jari Zack menekan tombol. Mengangguk-anggukkan kepala di belakang sana dan bergumam sendiri.

Pintu lift terbuka dan Zack yang tadi sudah maju selangkah, tiba-tiba melangkah mundur. Ainsley mengusap hidungnya yang tidak sengaja terdorong oleh punggung Zack. Sambil meringis kesakitan Ainsley bertanya dengan nada kesal mengapa Zack mundur mendadak.

Pintu perlahan menutup dan Ainsley langsung menahan pintu. Zack menarik baju Ainsley agar tidak melangkah lebih jauh lagi dan membiarkan pintu lift itu. Lantas Ainsley semakin menggerutu kesal, padahal mereka sudah hampir sampai dan kenapa tidak keluar dari lift.

"Kemarilah. Berdiri di depanku."

Seketika Ainsley merona dan tanpa bertanya melangkah ke depan Zack. Menatap pria yang menjulang di depannya. Ainsley tidak bisa berpikir normal lagi. Bagaimana Zack selalu membuatnya berdegup, padahal mereka sudah sepakat sebelumnya tidak ada masalah hati di hubungan mereka.

Zack memutar tubuh Ainsley menghadap papan tombol. Mengajari bagaimana cara menggunakan lift agar tidak terus merepotkan penjaga. Menuntun tangan kecil itu menekan tombol mana dan hal apa saja yang perlu diperhatikan. Mereka harus naik dan turun lantai beberapa kali sampai Ainsley benar-benar mahir.

"Besok malam ada pesta penyambutan rekan bisnis dari luar negeri. Aku ingin kau juga ikut menghadirinya."

"Apa aku harus datang?"

"Kita harus terlihat sering bersama mulai dari sekarang. Bukankah kau yang mengatakan akan menjadi istriku? Inilah yang harus istriku lakukan. Menemani suaminya menghadiri pesta dan acara lainnya."

"Baiklah." meyakinkan diri.

"Mulai dari sini kau yang melakukannya seorang diri. Jemput aku di lantai paling atas." mendorong pelan Ainsley keluar dari lift.

Perlahan wajah Zack tidak tampak lagi. Zack benar-benar pergi ke lantai paling atas. Sekarang Ainsley hanya sendirian tidak ada orang yang menemani. Ainsley mengingat kembali tombol apa saja dan hal apa saja yang didapatnya dari pelajaran singkat tadi.

Ainsley melangkah masuk setelah pintu lift terbuka. Berusaha tenang Ainsley mulai melakukan apa yang harus dilakukan. Sendirian di dalam lift membuatnya tegang. Berulang kali berharap apa yang dilakukannya tidak salah.

Ting..

Ainsley sudah berhasil menemukan Zack dan kini lengannya ditarik keluar. Zack membawa Ainsley ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke apartemen. Atap Casa Felise adalah tempat yang jarang disinggahi dan kesana lah Ainsley dibawa.

Matanya berbinar memandangi langit yang tampak sangat indah malam itu. Hari itu bukan hari istimewa, tetapi Ainsley mendapatkan hadiah terindah. Ainsley tidak berhenti mendongakkan kepala.

Sebaliknya Zack bukan memandang langit, melainkan memandang Ainsley yang kini tersenyum. Zack berpikir mungkin jika membawa Ainsley ke tempat itu akan meringankan sedikit beban penyesalannya karena sudah membuat Ainsley bersedih.

Saking senangnya Ainsley sampai menitikkan air mata. Ainsley berhenti mendongak dan menghapus air matanya. Sesekali Ainsley meminta maaf karena sudah menangis, padahal seharusnya setelah menerima hadiah itu dirinya tertawa bukannya menangis.

Zack melepaskan jasnya dan menutupi bahu Ainsley agar tidak kedinginan, lalu mengusap air mata yang terus mengalir meski sudah diusap. Zack tersenyum memandangi Ainsley bersedih sekarang. Kematian Emily dan penderitaan Ainsley selama ini mungkin selalu disimpan sendirian. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk melepaskan beban itu, begitupula dengan Zack.

"Untuk apa kau melakukan semua ini? Aku jadi tidak bisa berhenti menangis dan aku jadi ingin memelukmu. Seharusnya kau tidak melakukan ini."

Zack mendekap Ainsley tanpa bertanya. Membiarkan Ainsley menangis dan menyebut dirinya sebagai pria jahat. Ainsley terus memukul dan memeluk Zack. Hari ini Zack membuat Ainsley semakin mencintainya.

"Maafkan aku. Kita akan pergi dari sini."

Ainsley berdiam diri di belakang Zack. Menghirup udara dari hidungnya yang tersumbat. Ainsley yang merasa perasaannya seakan dipermainkan bertekad tidak ingin berbicara dengan Zack lagi.

"Tekankan tombolnya untukku, anak kecil."

Mendengar sebutan itu membuat Ainsley menegakkan telinga. Tekadnya runtuh saat dirinya dibuat jengkel. Tubuh pria itu didorong ke samping dan Ainsley melayangkan tatapan tajam pada Zack sebelum menekan tombol.

"Kau anak kecil yang pintar." terbahak.

"Itu lebih baik dibandingkan pria tua yang jahat." cemberut kesal.

Sampai di depan apartemen mereka saling meledek satu sama lain. Menyebut panggilan yang sama-sama mereka benci. Bahkan mereka juga saling mendorong mengekspresikan kebencian mereka.

"Jangan lupa berdandan cantik untuk acara besok." berbicara sebelum menaiki anak tangga.

"Tidak akan! Aku akan membuatmu malu di pesta besok." mencibir dan masuk ke kamar.

Setelah Ainsley masuk, Zack tertawa lebar. Berdebat dengan panggilan itu sangat menyenangkan baginya. Terlebih orang itu adalah Ainsley membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum sendiri.

Di sisi lain Ainsley merebahkan tubuhnya dan memeluk jas itu. Aroma khas milik Zack bisa tercium dari sana. Ainsley berteriak kegirangan sebelum akhirnya tersadar bahwa dirinya sudah ditolak. Bisa jadi hadiah yang tadi dilakukan Zack untuk Emily.

Ainsley menghela napas panjang, dirinya terlalu berharap. Jas yang dipeluk dengan girang tadinya berubah lesu. Ainsley beranjak keluar kamar untuk mengembalikannya pada Zack. Jas itu penuh akan pengharapan yang membuatnya harus segera memberikannya kembali.

"Ada apa, anak kecil?"

"Kau meninggalkan jasmu, pria tua."

Zack meraih jasnya dan di saat itu pula wajah datar Ainsley menghilang. Zack menaikkan kedua bahu tidak tau hal apa lagi yang menyebabkan wanita rumit satu itu memasang tampang sedih. Wanita memang tidak bisa ditebak.

***

Keesokan harinya saat akan menghadiri pesta, Zack mengetuk pintu kamar Ainsley dan menanyakan apakah sudah selesai berdandan. Sudah 1 jam Zack menunggu dan Ainsley masih belum menampakkan diri, membuatnya tersulut emosi.

"Aku sudah selesai." menyunggingkan senyuman.

"Uh-oh! Kalau begitu ayo pergi sekarang."

Zack terpaku sejenak sebelum mengalihkan pandangan. Kemudian bersama Ainsley turun ke lobi. Di dalam lift mereka yang malam ini berdiri sejajar membuat Zack bisa mencuri pandang penampilan Ainsley sekarang, yang menurutnya sangat cantik.

"Hari ini bersikaplah sebagai istriku di depan mereka, bukan sebagai anak kecil."

Ainsley mendengus kesal melihat tingkah Zack yang sangat kekanakan. Bahkan kekesalan kemarin masih dibawa-bawa sampai sekarang. Ainsley teringat benar kata Emily, pria di sampingnya sekarang seperti anak kecil.

"Baiklah, pria tua." memaksa senyum.

1
Kheira Luna
Renkoo aku balik lagi kangen pria tua😍
Justrenko🐣: Wah, senang sekali melihatmu kembali~
total 1 replies
Fransiska Siba
makanya jgn bodoh bergerak sendiri. makan kebodohan mu. sdh diingatkan Zack tp keras kepala
Fransiska Siba
kecewa aku thor, setidak nya ceweknya tahan dlu lahh ini sudah namanya selingkuh
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa asalkan tau kapan waktunya untuk minta maaf dan pasanganmu yg baik pasti akan selalu memaafkan. kalo tidak berarti dia bukan org yg baik.
bagaimana menurutmu tentang ini kk?
Pemburu Cinta Sejati
mengkhianati itu gak papa, asalkan kita tau kapan waktunya untuk minta maaf. Dan wanita yg baik akan selalu memaafkan, kalo tidak memaafkan berarti dia bukan org yg baik.
Pemburu Cinta Sejati: mohon maaf, aku cmn mau bilang cerita kesempatan kedua adalah kebanyakan cerita di novel. itu tidak berbeda
total 17 replies
iis_lintang95
tetiba kangen ainsly sm zack, alhasil baca ulang lage.🤩
Metta R'za
dendam lidya yg bodoh.....
Ijah Sopiah
Apakah tidak ada satupun cowok yang suka sama Anseley
Seelmy Saleem
nyimak dulu thor baru mampir
SRI SETYA
aq bingung banget ini
Dimas Wahyu
kiraain Setelah sekian lama end....ada part tambahan ..😊😊..oklah otw
💞Aam Mulyani💞: makanya sering kontrol...
total 1 replies
Deta Hebalina
o
First Time
apalah dayaku yg bacanya loncat2 tiba2 dah sampe sini mumet😂
Faradilla
kenapa si Ainsley dibuat kayak perempuan bucin gak nyadar diri sih Thor... gak adil banget... Kebagusan amat si Zack jadinya
Faradilla
pasti Ainsley
Dede
8
Si mamahx anak anak
hhhaaahhhhaaa,,akhirx kau merasakn derita hati ainsley zack...
bunda ime
ff
Julia Lia
miris hidup dua bersaudara 😔
Elfi Susanti
bukankah gambar yang ditemukan Emily dilaci meja Zack adalah Ainsley ibunya Gavin... wah makin rumit... saya pamit baca cerita yg lain dulu.... mumet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!