Di dunia yang penuh dengan sihir ini,
seluruh kerajaan besar menerapkan sistem kasta sehingga timbullah kesenjangan sosial di antara seluruh manusia.
Rakyat jelata dan para bangsawan, para pengguna kekuatan dan manusia biasa.
Diskriminasi, penindasan, perbudakan, hingga peperangan memperebutkan kekuasaan sudah menjadi hal yang umum.
"Kau kuat maka kau jaya, kau lemah maka binasa."
Namun seorang bocah dengan kemampuan imajinasi yang tak terbatas muncul dengan kebenciannya terhadap dunia busuk ini.
Teleportasi? Telekinesis? Telepati? Menciptakan nuklir? Apapun itu bisa ia lakukan.
Dengan motto, "Jangan lakukan apapun. Apabila harus, lakukanlah secepat mungkin," akankah dia berhasil merubah dunia dan menjadi penguasa tertinggi?
Namanya Aray Kenzie, dan dia adalah seorang pemalas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesombongan level dewa
[Beberapa saat sebelum pertarungan Aray]
[Di istana]
Didepan istana, seluruh anggota 'The Ten Rulers' berkumpul. Mereka telah mengetahui situasi genting yang sedang terjadi dari penjelasan singkat Avara.
"Tak kusangka akan terjadi serangan selanjutnya secepat ini." Aray memasang wajah tidak mengerti.
"Jadi kita harus berangkat sekarang kan? Kita tak bisa menunggu lebih lama lagi. Semakin lama kita berangkat, semakin banyak korban berjatuhan."
Dana memang memiliki karakter seorang pemimpin. Karena memang dia adalah ketua kelas unver, pemimpin dari anggota kelas terkuat yang ada di sekolahan.
"Tapi mereka ada puluhan ribu, lho! Apa akan baik-baik saja?"
Rania agak cemas akan keadaan ini, dia pikir mereka bersepuluh saja tidak akan cukup untuk menghabisi seluruh pasukan kerajaan utara.
"Kalian terlalu banyak bicara. Hanya pengecut yang banyak bicara. Aku akan pergi duluan."
Aray menatap seluruh anggota the ten rulers rendah. Dia paling tidak suka orang yang terlalu banyak bicara tapi tidak ada aksi.
Ardika yang baru terbangun dari pingsannya tersentak mendengar omongan Aray. Dia agak jengkel mendengarnya.
"Walaupun kau kuat, kau tidak akan bisa menghabisi mereka semua sendirian." Kini Ardika mengakui kekuatan Aray setelah dihajar sekali olehnya.
"Itulah yang akan dikatakan orang lemah."
Lalu seketika tubuh Aray diselimuti oleh gelembung transparan. Saat gelembung itu pecah,
Plop
Aray meninggalkan para anggota 'The Ten Rulers' yang geram mendengar ucapannya.
.
.
.
[Saat ini] [POV Aya]
"Jadi, mana lagi musuhnya?"
Aku, Abner dan seluruh pasukan kerajaan terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Aray.
Bocah ini tak ada habis-habisnya. Jujur saja, kemampuan dan kekuatan sangat hebat sampai-sampai aku pun iri dibuatnya. Padahal dia baru 16 tahun.
"Kau telah menghabisi semuanya."
Abner terlihat agak kaku setelah bertemu teman lama.
"Benarkah? Kalau begitu aku bisa bersantai, kan? Ngomong-ngomong, aku tidak sadar kau ada di sini, Abner. Kau baru tiba?"
Abner meneguk ludahnya sendiri. Tidak tau harus menjawab apa.
Haha. Dia benar-benar tidak memperdulikan sekitarnya.
"Yah ... aku dari tadi hanya menonton pertarunganmu saja, haha .... "
Aku tidak mengerti kenapa Abner tertawa canggung seperti itu. Kupikir dia takut terhadap bocah ini.
"Oh."
Respon yang sangat singkat, aku sama sekali tidak menduganya. Aku tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Aray, itu sangat menarik.
"Kau ... siapa?" Aray menatapku.
Tapi yang benar saja, walaupun dia itu jauh lebih kuat dariku, dia tidak seharusnya bicara seperti itu kepadaku.
Melihat ekspresiku, Aray segera membalas,
"Kalau kau menginginkan hormat dariku karena aku juniormu, kau tidak akan mendapatkannya. Tidak ada kata hormat untuk seseorang yang lebih lemah dariku."
Ugh ... bocah ini sungguh membuat amarahku memuncak.
Dia benar kalau aku lebih lemah darinya, tapi kan ....
Ah, yasudahlah. Tidak ada gunanya berdebat.
"Namaku Aya. Seorang Laksamana Madya, sama seperti Abner."
Wajahnya tidak menunjukkan reaksi tertarik. Apa karena aku lebih lemah darinya? Atau memang dia tak memiliki ketertarikan terhadap apapun?
"Aray!"
Perempuan kecil yang sedang memakan permen memanggil Aray.
Siapa dia? Dan juga, dia terlihat sangat dekat dengan Aray.
Karena aku terlalu fokus pada perempuan itu, aku hampir tidak melihat gerombolan besar yang ada dibelakangnya.
Siapa lagi mereka? Huh, aku akhir-akhir ini aku jarang bersosialisasi sepertinya.
Ini membuatku pusing.
"Oh, Veda dan kalian semua." Aray menyapa datar.
Saat gerombolan itu melihatku dan Abner, mereka langsung menunduk memberi hormat.
"Salam hormat untuk Laksamana Madya Aya dan Abner. Kami, anggota 'The Ten Rulers' siap untuk bertarung!"
Wow. Siapa perempuan cantik ini? Aku tersanjung. Nah, inilah sikap yang harus dimiliki oleh junior.
Aku menatap Aray. Tidak seperti dia yang tak punya rasa hormat pada seniornya.
Aray menatap balikku.
"Apa? Aku tidak akan melakukan hal seperti itu." Lalu dia memalingkan wajahnya.
"Sekarang, mana musuh yang harus kita lawan?" Perempuan cantik itu melihat sekelilingnya, mencari musuh.
Sedangkan aku, Abner dan para prajurit hanya bisa diam saling memandangi satu sama lain.
Saat perempuan itu melihat bekas pertempuran kami, dia langsung menyimpulkan sesuatu.
"Anda sudah menghabisi mereka semua? Hebat sekali, seperti yang diharapkan dari seorang laksamana madya." Perempuan itu mengangguk takzim.
Aku hanya bisa menunduk. Aku jadi malu sendiri ketika dipuji atas hal yang bukan kulakukan.
"Eh ... sebenarnya bukan kami yang mengalahkan mereka semua." Abner mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
Para anggota 'The Ten Rulers' jadi kebingungan. Mereka pikir siapa yang lagi memangnya yang mengalahkan seluruh pasukan kerajaan utara kalau bukan aku dan Abner.
"Lalu, siapa yang membunuh mereka semua?" Anak laki-laki yang agak besar badannya bertanya.
Aku melirik Aray.
"Dia yang melakukannya. Aku bahkan tidak melakukan apapun."
Orang yang kutunjuk tidak memperlihatkan tanda-tanda ketertarikan pada percakapan ini. Dia malah asik mengorek kupingnya sendiri.
"Tidak mungkin. Walaupun dia kuat dia tidak akan bisa melawan semuanya sekaligus." Laki-laki itu tidak ingin mempercayainya.
Anggota yang lainnya pun terlihat tidak yakin.
"Sudah kubilang kan, Ardika? Itulah kata-kata orang lemah." Kata Aray tanpa menatap muka rekan-rekannya sedikitpun.
"Berengsek!" Laki-laki yang disebut sebagai Ardika oleh Aray tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia melangkah maju menuju Aray.
Tapi salah satu temannya menahan langkahnya.
"Hei, kau tidak ingin babak belur lagi seperti sebelumnya, kan? Biarkan aku yang melawannya."
Ha? Aku tidak salah dengar kan? Melawan Aray? Memangnya mereka tidak tau sekuat apa bocah ini?
"Ada lagi ternyata orang bodoh disini. Bukannya datang cepat lalu menghabisi musuh, malah melawan rekannya sendiri. Siapa namamu? Arjuna ya?" Aray menggelengkan kepalanya.
"Aku kira kau tidak peduli, tapi ternyata kau mengingat namaku."
Mereka benar-benar akan bertarung? Yang benar saja.
"Hei, kau tidak perlu bertarung dengan sesama rekanmu. Itu hanya akan memperburuk keadaan." Aku mencoba menengahi mereka.
Sebenarnya aku hanya khawatir dengan bocah bernama Arjuna ini. Aku tidak tau mengapa dia berani menantang Aray, tapi dia akan mati bila bertarung serius dengannya.
Ah ... tidak. Mungkin Aray tidak akan pernah serius melawannya. Dia melawan dua Laksamana Madya dari kerajaan Utara saja masih main-main begitu, bagaimana kalau melawan Arjuna ini.
Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi.
"Hm ... itu benar. Karena Laksamana yang memintanya, akan kutunda pertarungan kita." Arjuna berbalik, kembali berjalan menuju gerombolannya.
Baguslah kalau begitu.
"Oya? Hanya karena dia seorang Laksamana, kau menurutinya? Mental pengecut sekali."
Oi. Kenapa Aray malah memanas-manasinya?
Dan juga, "hanya" seorang Laksamana? Kemana adabnya pergi?
"Kau sungguh manusia kotor. Sangat tidak punya sopan santun. Mengapa kau terus-menerus meremehkan seseorang?" Arjuna kembali meladeni Aray.
"Karena aku sudah terlalu sering diremehkan dalam hidupku, mengapa tidak?" Aray mengangkat bahunya.
Aku melihat Arjuna telah membulatkan tekadnya. Dia memejamkan matanya, menarik nafas panjang lalu menghilang.
Alih-alih bersiaga, Aray malah terlihat malas. Seakan bosan melihat gerakan tersebut.
"Pressure 2x."
Dengan satu kata dari mulut Aray, Arjuna terhempas menabrak tanah tepat di depan Aray. Darah keluar dari mulutnya. Serangannya berhasil digagalkan.
Tapi masalahnya bukan cuma Arjuna yang kena dampak jurus tekanan milik Aray, kami semua juga berakhir tengkui di tanah, tak terkecuali.
Kenapa lagi harus seperti ini? Aray sama sekali tidak peduli pada sekitarnya.
Dadaku sesak sekali. Serasa semua tulangku akan patah sebentar lagi.
Jika sebelumnya, saat dia menggunakan jurus yang sama aku masih bisa bicara, kini aku bahkan tidak bisa mengeluarkan suara bahkan sedikit.
"Hmm, Apa yang harus kulakukan sekarang?" Aray mengusap dagunya.
Setelah itu Aray merentangkan tangannya, berkonsentrasi.
Dia membisikkan sesuatu 4 kali berturut-turut. Dan secara berurutan juga 4 bola besar dengan elemen yang berbeda-beda muncul diatas tubuh Aray.
Bola kegelapan, cahaya, api, dan es. Dua pasang hal yang berlawanan. Pemandangan yang sangat indah dan juga mengerikan disaat yang bersamaan.
Ini gila. Menggunakan empat jurus bersamaan. Yang kutahu, hanya raja zaman dahulu yang bisa menggunakan teknik ini. Tapi siapa sangka dia juga bisa melakukan hal gila ini.
Sudah kuduga, anak ini terlalu aneh. Punya berapa kemampuan dia ini? 4 elemen yang saling bertolakbelakang. Hal normalnya, seseorang hanya bisa mempunyai salah satu kemampuan tersebut, tapi dia bisa menggunakan semuanya.
Karena munculnya 4 bola elemen yang sifatnya saling bertolakbelakang itu, udara jadi tak beraturan, saling bertabrakan. Jadi sulit sekali bernafas, ditambah juga, saat ini kami semua masih dalam jurus tekanan milik Aray juga.
Tapi apakah dia berniat menghabisi kami semua disini? Apa tujuannya?
Tunggu sebentar. Ada hal yang aku lupakan. Para prajurit biasa, bagaimana keadaan mereka? Jangankan bola-bola itu, mungkin hanya dengan jurus tekanannya,mereka semua sudah mati remuk sekarang.
Ugh ....
Aku sama sekali tidak bisa bergerak, ritme nafasku semakin tak karuan. Aku hampir tidak bisa bernafas.
Ketika penglihatanku mulai menggelap, napasku sudah mencapai batasnya, semua jurus Aray menghilang.
Tekanan itu berhenti, bola-bola milik Aray juga menghilang. Apa yang telah terjadi?
"Aku tidak berniat membunuh kalian semua disini." Aray mengibas tangannya yang agak keram.
Kami semua mulai bangkit.
"Apa niatmu yang sebenarnya saat melakukan semua itu?" Perempuan cantik yang sebelumnya memberi hormat padaku bertanya serius.
"Ha? Aku hanya ingin menunjukkan perbedaan kekuatan antaraku dan kalian semua." Aray menatap kami datar.
Sedangkan kami semua terkejut.
Eh, pas lagi buka buka perpustakaan gw ternyata baru tau author balik, tapi pas liat tanggal ternyata juga udah kurleb 2 tahun up nya😔💔
Kira-kira bakal dilanjutin ga thor?👉🏻👈🏻
Btw, time flies so fast ya thor, gw juga ga nyangka udah sampai di titik ini
semangat terus min/Good/